
Sedangkan di klinik.
Akhirnya Ana harus dirujuk ke rumah sakit yang lengkap fasilitasnya, Zahra yang mengetahui itu langsung menyetujui rujukan kerena melihat Ana yang sangat membutuhkan peralatan lengkap. Ibu Ayu hanya diam saja mendengarkan semua prosedur yang diberikan oleh perawat disana.
Uwa iyan langsung menyeret tubuh Darman supaya mengikuti ke klinik. Awalnya Darman tidak mau, tapi kerena ia sudah babak belur ia akhirnya mengikuti ajakan uwa Iyan, ia tidak menduga kalau kekuatan uwa Iyan masih muda, kerena pukulan uwa Iyan masih terasa kuat dan terasa sakit sekali menghantam tubuhnya.
Mau tidak mau akhirnya Darman ke klinik bersama dengan uwa Iyan dengan wajah yang berlumuran darah akibat pukulan dari tangan uwa Iyan sendiri.
Sebelum ke klinik uwa Iyan mengikat tangan Darman ke belakang kerena takut kalau di klinik laki laki itu membuat ulah pada Ayu dan Zahra. Darman tidak berkutik saat tangannya diikat oleh uwa Iyan mengunakan tambang.
Melihat Darman yang diseret oleh uwa Iyan, Ayu benar benar sangat emosi darahnya langsung naik ke ubun ubun melihat Darman yang berada disana.
“Kang sampai kapan kamu menganiaya keluarga aku? Dari kematian kang Hamdi, hilangnya Anin dan kamu sekarang mau menghilangkan nyawa Ana? Kamu benar benar nggak punya hati!”
teriak Ayu marah. Wanita itu beberapa kali memukul bahu Darman berkali kali.
"Aku nggak mencoba mencelakai dia sih!" Ujar Darman pelan.
"Buktinya?" Tanya Ayu melotot.
"Aku nggak akan pernah memaafkan kamu kang kalau sampai Ana kenapa kenapa?" Lanjut Ayu berang.
Zahra mencoba menghalangi ibu Ayu untuk tidak menyakiti Darman, kalau misal ibu Ayu menyakiti Darman bisa bisa rencananya gagal.
“Kamu tahu sekarang Ana harus dirujuk ke rumah sakit, kalau sampai Ana kenapa kenapa kamu yang harus mempertangungjawabkan!"
Lanjut Ayu berapi rapi.
"Salah nya sendiri kenapa harus ikut campur aku kan hanya ada urusan dengan anak itu!" Bela Darman sambil menunjuk pada Zahra.
Sebenarnya bukan Ana yang jadi sasaran Darman, tapi Zahran yang akan dijadikan sasaran Darman. Tapi takdir berkata lain Zahra selamat dan malah Ana terbaring tidak bergerak sama sekali dengan luka yang cukup dalam.
__ADS_1
"Kang, apa yang kamu lakukan tetaplah salah,"ingat uwa Iyan.
"Sudah begini bagaimana? Ingat bini mu kang lagi hamil, seharusnya kamu memikirkan jangan sampai kejadian tadi terulang lagi!" Lanjut uwa Iyan mengingatkan Darman.
Darman hanya hanya diam saja. Sedangkan Zahra yang mendengarkan percakapan mereka tidak berkomentar sedikitpun juga.
Zahra lebih fokus mengurus semua keperluan Ana, ia juga sebenarnya khawatir apa yang terjadi pada Ana. Melihat ibu Ayu yang marah dan emosi pada Darman Zahra berusaha untuk mendinginkan hati ayu.
Sedangkan uwa Iyan diam mendengar apa yang diucapkan oleh Ayu. Ia mengakui apa yang diucapkan oleh Ayu benar sekali. Uwa Iyan telah memukul kepala Darman dengan keras sekali, Darman hanya diam membisu kerena mulutnya benar benar sakit akibat ditonjok oleh uwa iyan.
“Aku hanya ingin polisi memeriksa semuanya!” cerca Ayu.
Wanita itu benar benar sangat emosional, dari dulu memang ada saja kelakuan Darman tapi untuk saat ini ia sama sekali tidak memiliki kesabaran lagi. Ia sudah bertahan bertahun tahun sejak kejadian pak Rohman, kematian suaminya dan kehilangan Anin yang menurut kabar dalang nya adalah Darman.
Tapi untuk kali ini wanita itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Ana, baginya Ana adalah anak satu satu peninggalan suaminya, sedangkan Anin ia mulai mengikhlaskan sedikit demi sedikit.
BUG!
Tanpa uwa Iyan yan duga, sebuah pukulan melayang ke kepala Darman. Bukan hanya uwa Iyan yang kaget, tapi Darman juga lebih kaget lagi kerena tanpa ia duga sebuah tamparan beberapa kali melayang diwajahnya.
"Ah"
Hanya itu yang keluar dari mulur Darman.
“Nggak apa apa dia harus merasakan apa yang ayah Ana rasakan!”Teriak Ayu keras.
“Bu, kalau ibu peduli sama Ana lebih baik ibu tungguin Ana di ruangan, sebentar lagi kita pergi menolong Ana,” ujar Zahra natural.
Ya sebenarnya bukan hanya ibu Ayu saja yang marah dan emosi dirinya lebih lebih lagi, di hadapan matanya Darman telah melukai Ana dengan pisau yang dibawanya. Ingin rasanya membalas apa yang Darman lakukan pada Ana tapi ia sadar kalau posisi dirinya adalah Zahra.
__ADS_1
Jadi ia berusaha untuk menahan gejolak hati yang tiba tiba muncul begitu saja.
Hari itu juga tubuh Ana yang telah diberi cairan infus dibawa oleh kendaraan dari klinik menuju kota.
Zahra yang menjadi petunjuk ke kota kerena ia lebih tahu situasi kota, mobil yang membawa Ana harus ditempuh selama dua jam menuju kota kabupaten, ditambah lagi jalan yang belum diaspal membuat perjalanan terhambat, uwa iyan ingin ikut mengantarkan Ana ke kota untuk di periksa.
"Sudah biarkan dia disini, percuma kalau ikut juga nanti jadi pengacau," ujar Zahra ketika mobil akan berangkat menuju kota..
Uwa Iyan minta izin pada Zahra untuk mengizinkan Darman untuk ikut ke kota, kerena bagaiamana pun Darman harus mempertangungjawabkan keselamatan dan biaya untuk Ana.
Ia tahu kalau Ayu pasti butuh biaya untuk Ana maupun dirinya, apalagi di kota. Mendengar itu Zahra mengelengkan kepala, ia tidak mengizinkan kalau Darman ikut alasan keselamatan Ana lebih baik dijaga.
Mendengar itu, uwa Iyan hanya mengangguk saja. Ia tidak bisa membantah nya. Akhirnya ketiga orang yaitu Zahra, ibu Ayu dan uwa Iyan ikut dengan mobil ambulan yang membawa Ana ke rumah sakit.
Tapi sebelum berangkat ke kita, Zahra ingin bicara dengan Darman. Uwa Iyan ragu tapi Zahra mengangguk, akhirnya uwa Iyan mengizinkan Darman dan Zahra bicara.
Zahra mengambil tempat yang sepi keren abis tidak ingin kalau ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi sebelum bicara Zahra menyuruh uwa Iyan membuka ikatan tangan Darman.
"Aku mungkin nggak akan percaya warga bicara apapun padaku, melihat ini aku lebih percaya kalau kamu benar benar orang yang menghilangkan nyawa pak Rohman, pak Karta dan pak Hamdi!"
Darman terbelalak matanya saat Zahra mengucapakan tiga orang itu, ia langsung menatap wajah Zahra.
"Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu tahu nama nama itu?" Tanya Darman bergetar.
"Kamu nggak perlu tahu siapa aku sebenarnya, aku nggak nyangka Kamu bakal melakukan ini pada Ana, ponakan kamu sendiri!" Kata Zahra tegas.
"Kamu jangan harap aku tinggal diam melihat kejahatan kamu lada Ana, tinggi lah waktu itu akan terbukti dan kamu harus mempertangungjawabkan semuanya di hadapan hukum," lanjut Zahra.
Gadis itu tidak menunggu jawaban yang dilontarkan oleh Darman. Langsung pergi begitu saja, sedangkan Darman mengejar Zahra tapi Zahra dengan tenang masuk kedalam ambulan.
"Siapa dia sebenarnya? Apa jangan jangan? Nggak mungkin kalau ia adlah," gumam Darman merinding.
__ADS_1
Ia gagal mengejar Zahra kerena mobil yang ditumpangi gadis itu telah pergi meninggalkan depan klinik.
"Kata katanya mirip Hamdi!"*