TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 58


__ADS_3

"Kasihan banget!" Ujar ibu Ayu getir saat ia mendengar cerita dari pak Bram.


"Setalah Zahra meninggal kerena kecelakan, istri saya Seperti gila kehilangan putri satu satunya. Ya Zahra adalah anak yang dinantikan oleh kami, tapi Tuhan lebih sayang padanya makanya Allah mengambil dirinya di saat usia 6 tahun."


Pak Bram menceritakan kalau Zahra meninggal kerena kecelakan yang terjadi. Kejadian itu terjadi di puncak saat mereka liburan.


"Ma, kejar Rara dong!" Teriak bocah itu riang.


Pagi yang indah itu memang mereka mengadakan liburan kerena tahun ini Zahra yang dipanggil Rara akan masuk sekolah SD.


Bocah itu berlari saat kedua orang tuanya mengejarnya, tapi naas saat gadis kecil itu berlari tidak melihat sebuah mobil dengan.kecaoatan tinggi sedang berjalan dengan cepat sekali.


Dan


BRAK!


Tubuh kecil itu terpelanting dan jatuh ke jalan dengan berlumuran darah. Pak Bram dan ibu Ani yang melihat itu langsung terpekik seketika juga.


"Rara!" Panggil ibu Ani langsung menubruk tubuh kecil itu. Tubuh Zahra terkulai lemas sekali, tangannya langsung terasa dingin.


Tidak lama kemudian sebuah ambulan datang, tubuh Zahra langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi naas Zahra Anindya meninggal di perjalanan, mendengar itu ibu Ani menjerit histeris.


"Nggak mungkin! Ra, bangun Ra kamu jangan tinggalkan mama. Kamu hanya tidurkan Ra jangan bercanda."


Raung wanita itu meraung tidak menyangka kalau putrinya harus meninggal dengan tragis seperti itu.


"Setelah Zahra meninggal, saya ingin membawa istri saya ke sebuah tempat yang tidak mengingatkan istri saya pada Rara. Tapi pas pas pulangnya kami menemukan bocah kecil yang seusia Zahra."lanjut pak Bram membanyangkan kejadian penemuan Anin waktu malam itu.


"Anin dimana? Kok ada disini? Ayah!" Tangis bocah itu.


Bocah 6 tahun itu terkejut saat ia bangun ia sudah berada di rumah yang besar. Dan ada dua orang yang asing baginya, Anin sangat ketakutan sekali saat pak Bram dan ibu Ani mendekati.


"Ayah!"


"Ibu,"


Tangis bocah itu. Ibu Ani yang melihat itu langsung memeluk Ani.


"Sayang sayang jangan menangis sayang, kamu jangan mennagisnya. Kamu bukan Anin, kamu Zahra." Ujar ibu Ani sambil melepaskan pelukan dan menatap wajah Anin tajam.


"Nggak, aku bukan Zahra aku Anin. Aku anaknya pak Hamdi, tapi ayah," berontak gadis kecil itu sedih.

__ADS_1


"Sayang jangan paksa dia dengan nama Zahra!" Ingat pak Bram pada istrinya.


Pak Bram merasa kalau istrinya memaksa kehendak bocah kecil itu, sampai bocah itu berontak dan tidak mau dipeluknya.


Tapi ibu Ani tidak mengubris permintaan dari pak Bram suaminya. Ia mengubah nama Anin menjadi Zahra Anindya. Awalnya gadis itu berontak tapi ini Ani juga keukeuh memberikan nama itu lada Anin.


"Nggak aku Anin bukan Zahra!" Terima nya.


"Bukan, kamu Zahra. Anin sudah lama meninggal!" Teriak ibu Ani ketus.


"Ma, biarkan dia dulu," pak Bram mengingatkan istrinya.


Gadis kecil itu berontak dan tidak mau di peluknya, sampai gadis kecil itu berontak melepaskan pelukannya dari wanita asing.


"Ibu Anin dimana pak, ibu mana? Adik juga dimana?" Tanyanya agak bigung.


"Uwa Iyan, mbok Inem?" Tanya nya bertubi tubi.


Bocah itu langsung berlari menuju pintu depan, ingin pulang. Tapi pak Bram langsung mengejar dan menangkap Anin kecil itu dengan lembut.


"Anin!" Panggilnya.


"Pak, siapa wanita itu? Kenapa bapak dan wanita itu bawa Anin ke rumah ini?" Tanyanya bertubi tubi.


Pria itu langsung jongkok dihadapan Anin yang sedang berdiri, kedua tangan pria itu memengang kedua bahu bocah itu. Ditatapnya wajah bocah itu dengan lembut sekali.


"Iya pak, aku pengen pulang ke rumah, adik sakit dibawa ke klinik, ayah!" Anin langsung diam.


Wajahnya terlihat murung sekali saat ia menyebut ayah.


"Ayah Anin kenapa sayang?" Tanya pak Bram sambil mengusap pipi Anin..


"Ayah ayah Anin dibunuh pak, Anin takut," tiba tiba bocah itu langsung menangis.


Pak Bram tertegun mendengar cerita bocah yang ditemukan tadi malam itu. Tapi ia langsung menguasai keadaan hatinya.


"Ayah Anin dibunuh? Oleh siapa?" Tanya pak Bram.


Ditatapnya wajah bocah itu dengan tajam, ia tidak melihat kebohongan, yang ada sebuah kejujuran yang keluar dalam hatinya. Pak Bram dengan lembutnya langsung memeluk tubuh Anin, saat ia melihat mata Anin berkaca kaca.


"Pak, Anin takut takut kalau uwa Darman menemukan Anin, Anin takut dibunuh sama uwa Darman." Tangisnya dalam pelukan pak Bram.

__ADS_1


"Anin tenang ya, kalau Anin mau tinggal disini." Kata pak Bram melepaskan pelukannya.


"Anin sembunyi di ruang ini biar uwa Darman nggak menemukan Anin, tapi Anin dengan syarat harus mengunakan nama anak bapak ya." Pinta pak Bram.


"Maksudnya?"


"Bapak takut kalau uwa Darman kesini nanti uwa Darman tahu kalau Anin masih hidup. Jadi bapak ingin nama Anin diubah menjadi anak bapak ya," pak Bram menjelaskan.


"Lalu Anin pakai nama siapa?" Tanya Anin heran.


"Sekarang Anin pakai nama Zahra." Ucap pak Bram.


"Kok Zahra!" Protes Anin.


"Biar uwa Darman nggak mengetahui kalau Anin masih hidup. Biar Anin bisa pulang lagi ke sana jemput ibu dan adik Anin." Bujuk pak Bram.


"Anin mau kan kalau namanya Zahra?" Tanya pak Bram menatap wajah Anin.


Bocah itu terdiam beberapa menit, ia mencerna apa yang dibicarakan oleh pak Bram, akhirnya bocah itu mengangguk. Melihat anggukan bocah yang ada dihadapannya, pak Bram tersenyum kalau ia memeluk kembali tubuh Anin.


"Oke, kalau namanya Zahra berarti panggil bapak sebutan papa, dan mama ya." Kata pak Bram.


"Papa!" Panggil Anin tegas.


Bocah itu langsung menubruk tubuh pak Bram dengan keharuan yang membludak dihatinya. Tapi kerinduan itu hanya untuk sang ayah.


"Rara, ya kamu Rara anak papa." Haru pak Bram.


"Akhirnya Anin dikasih nama Zahra." Kata pak Bram mengakhiri ceitanya.


"Tapi masih untung kak Anin mau dikasih nama Zahra ya biarpun ia sendiri awalnya berontak"ujar Ana prihatin.


Ia tidak bisa membayangkan kalau misalkan ia menjadi kakaknya yang harus mengunakan nama orang lain ya biarpun nama Zahra juga ada Anindya tetap saja panggilannya Zahra bukan Anin atau Nindy.


"Untung ada Rey, Rey yang selalu jadi teman Anin waktu itu sampai sekarang. Rey yang tahu Anin," ungkap pak Bram sambil menunjukan Rey pada ibu Ayu dan Ana.


"Rey yang selalu menyebut nama Anin saat mereka berdua," kata pak Bram.


"Maafkan saya bu, kerena sayang lancang mengubah nama Anin menjadi Zahra." Lanjut pak Bram.


"Nggak apa apa pak, malah saya yang berterimakasih pada bapak dan istri yang telah mengutus Anin seperti sekarang ini," kata ibu Ayu terharu.

__ADS_1


Ia tidak menyangka kalau Anin yang disangka olehnya dan warga telah meninggal, kini masih hidup dan telah dewasa.*


__ADS_2