TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 36


__ADS_3

"Jadi benar kalau Daraman yang membunuh ayahmu?" tanya Rey shock atas mengadukan gadis yang ada dihadapannya..


Gadia itu mengangguk.


"Aku nyakin sekali Rey, sejak aku datang ke desa ini, aku sudah menduga kalau laki.laki.itu yang sudah membuat keluarga aku kacau seperti ini." tangis gadis itu.


"Anin, kamu harus langsung bergerak..


"Tapi apa bukti itu sudah ada, lengkap?" lanjut Rey bertanya..


"Harus ada saksi yang benar benar pernah hidup tahun itu Rey, polisi nggak akan bisa segampang itu mengungkap kebenaran kalau nggak ada saksi," kata Anin menatap wajah Rey.


"Apa uwa Iyan nggak bisa dijadikan saksi? Ia seperti tahu semuanya?" Tanya Rey menatap wajah Anin..


"Nggak uwa Iyan hanya menceritakan secara harus besarnya saja, bukan sebagai saksi atau orang yang tahu kejadian itu." tegas Anin.


"Terus kita bagaimana mencari kebenarannya?" tanya Rey.


Gadis itu terdiam seketika juga. Memang dalam cerita uwa Iyan, tidak secara detil menceritakannya. Tapi Anin yakin kalau ada orang atau saksi lain selain pak Tio yang diceritakan oleh uwa Iyan.


"Orang yang masih hidup sih uwa Darman. Misal kalau aku bisa mencari bukti kebenaran ayah, mungkin uwa Daraman sampai kapanpun nggak mungkin menceritakan nya," gumam Anin.


"Makanya dengan itu, kita harus mencari bukti, aku nggak mau nasibku sama dengan ayah, dan jangan sampai semuanya tahu kalau aku adalah Anin!" tegas gadis itu.


"Aku trauma Rey, melihat ayah yang meninggal di hadapanku," lanjut gadis itu sendu.


"Ana bisa nggak ya?" tanya Rey.


"Nggak Ana nggak akan bisa jadi saksi." geleng Anin.


"Disini banyak orang orang yang baru sih! Jadi nggak bisa diointa kesaksian atas pembunuhan yang terjadi!" sengaja Anin kesal.


Gadis itu sebenarnya merasa geram sekali atas apanyang terjadi pada ayahnya, ya tidak geram bagaimana ia harus kehilangan ayah dan berpisah dengan ibu juga adiknya dengan waktu yang lama. Sampai ia datang kembali identitas dirinya hilang dan tergantikan dengan nama orang lain.


"Aku hanya ingin menyelesaikan tugas ini Rey, setelah itu mungkin aku bakal tinggal di sini selamanya."


"Mama dan papa kamu?"

__ADS_1


"Entah lah, aku hanya ingin berang sama ibu dan ade aku Rey. Mungkin di rumah mama dan papa penuh dengan fasilitas penunjang, tapi hati dan perasan aku tetap disini." lanjut Anin.


"Papa dan mama kamu bakal datang ke sini, Nin." kata Rey menatap wajah Anin.


"Buat apa?" tanya Anin agak ketus.


"Kamu nggak bahagia mereka berkunjung ke desa ini?" tanya Rey heran.


"Bukan nggak senang Rey tapi aku takut melukai hati ibu."


"Ibu nggak tahu kan kalau kamu itu Anin?" tanya Rey.


"Biarpun nggak tahu juga Rey aku hanya ingin menjaga perasaan ibu itu saja, memangnya nggak boleh ya aku jaga perasaan ibu?" tanya Anin menatap wajah Rey.


"Nggak sih!"


"Rey jangan bahas papa dan mama sih! aku hanya ingin bahas ayah dan ibu saja," dengus Anin menatap Rey.


Rey hanya menghela nafas panjang, mendengar apa yang Anin katakan padanya. Ya sejak dulu Anin tidak pernah mau menceritakan tentang kedua orang tua angkatnya. Lebih banyak cerita tentang keluarganya di desa yang kini ditempati oleh ya kembali dengan identitas lain.


"Nin, menurutku kamu bisa saja cerita tentang diri kamu.lada ibu dan Ana."


"Nggak Rey aku takut saat aku cerita bakal ketahuan siapa aku yang sebenarnya, itu tidak mungkin kerena aku tahu siapa uwa Darman. ua Darman malah membunuh pak Karya dan ayah saat ia tahu pak Karta ingin jadi saksi kebenaran pembunuhan pak Rohman."


Anin mengelengkan kepalanya mendengarkan usulan dari Rey. Sebenarnya ia bisa saja mengakui kalau ia adalah Anin tapi gadis itu berpikir ulang untuk melakukannya kerena pasti semuanya tidak.menyangka kalau Anin bakal muncul dengan tiba tiba.


"Bisa saja tapi banyak resiko yang harus ditanggung oleh aku sih sebenarnya. Dan aku nggak aku nggak mau ada resiko yang bakal membahayakan aku Rey." ujar Anin.


🦋🦋🦋


Zahra terkejut melihat kedatangan papa dsn mama yang tidak ia duga, memang jauh jauh hari ia mendengar kalau mama dan papa akan datang berkunjung ke desa itu! Tapi menurut Zahra terlalu cepat kedatangan mama dan papanya.


"Pa, apa.kita nggak salah berkunjung ke desa ini? Desa ini kan?" tanya Bu Ani sambil menatap wajah suaminya pak Bram.


Paka Bram hanya mengelengkan kepala, dan menyuruh sang istri diam saja. Apa yang dikatakan oleh ibu Ani membuat hati pak Bram gemetaran.


"Mama!" Zahra terkejut melihat kedatangan mama dan papanya yang tiba tiba sekali..

__ADS_1


"Kamu betah disini sayang?" tanya Ibu Ani.


"Ya betah nggak betah sih! Semua kerena tugas mah,"


"Kamu nggak bisa mengajukan pindah dari sini?" tanya Ibu Ani hatinya berdebar sangat tidak karuan.


"Nggak ma, Zahra masih beberapa bulan disini masa harus mengajukan pindah sih!" protes Zahra cemberut.


"Seharusnya kamu cepat cepat menikah dengan Rey dan hidup bahagia di kota dari pada disini."


"Ma, Zahra hanya ingin disini saja. Udaranya sejuk, nggak bising," lanjut Zahra..


"Ra, kamu benar benar ingin meninggalkan mama di kota? Kamu anak mama sayang." Ibu Ayu merangkul Zahra dengan lembutnya.


Beberapa malam ini, ia selalu mimpi buruk tentang Zahra. ia merasa Zahra meninggalakan dirinya kembali pada kehidupan awal nya. Sampai ibu Ani meminta pada suaminya ingin mendatangi Zahra, awalnya pak Bram tidak setuju sama sekali tapi istrinya Ani memaksa supaya mendatangi Zahra di desa itu.


Pertama datang ke desa itu, Ibu Ani shock sekali kerena desa yang di tempati oleh Zahra adalah desa yang pernah beberapa tahun ia kunjungi. Ia sangat ketakutan sekali kalau Zahra bakal mengetahui semuanya.


"Ra, kenapa kamu ingin di sini?" tanya Ibu Ani berlahan lahan mengorek keterangan dari Zahra.


"Rata hanya ingin mencari kebenaran ma, Rara ingin menepati janji Rara pada Ayah. Bolehkan ma?" tanya Zahra.


Tiba tiba sebuah perasaan yang menyeruak di hatinya, membuat matanya berkaca kaca.


"Rara nggak bisa lupakan semuanya, maafkan Rara ma, Rara ingin melakukan sesuatu buat ayah."


"Jadi kedatangan kamu untuk itu, Ra?" tanya mama menatap wajah Zahra.


"Bantu Rara ma, Rara nggak bisa tenang kalau pembunuh itu masih berkeliaran di desa ini." kata Zahra.


"Pa," kata mama menyapa wajah pak Bram.


"Ma, biarkan saja ma. Apanyang dilakukan Zahra itu demi.kepenyingan ayahnya," hibur pak Bram merangkul tubuh istrinya.


"Tapi kamu janji ya kembali ke pelukan mama sayang, mama nggak mau kalau kamu menghilang kembali. Kamu hanya anak mama," ujar ibu Ani.


Ada sebuah ketakutan kalau Zahra benar benar kembali lada seorang wanita yang pernah melahirkan Zahra, ia takut kaku Zahra memilih wanita itu! Ya sih kalau dipikir pikir mana ada seorang anak yang mau kehilangan ibunya, apalagi harus menghadapi segala sesuatu yang harus ia alami sendiri.*

__ADS_1


__ADS_2