
"Kalau Darman mau sedikit terbuka dengan kejadian kemarin seharusnya ia menyadari kesalahannya bukan egois." Dengus uwa Iyan.
Uwa Iyan bicara itu di hadapan Zahra, ketika semua orang sudah tidak ada di tempat itu. Ana dan ibu Ayu sedang membereskan sisa sampah yang masih ada di depan rumah.
Rumah yang sederhana itu terlihat kacau sekali, kerena di rusak oleh Darman yang semakin menjadi jadi. Zahra, uwa Iyan dsn pak Arya masih di tempat itu berbincang bincang masalah kejadian tadi.
"Berarti uwa tahu persis kejadian itu?" tanya pak Arya.
"Sedikit!"
"Mungkin kejadian itu saya juga masih ingat tapi nggak begitu jelas masalahnya saya juga masih belia waktu itu." pak Arya berkomentar..
"Dua puluh tahun kejadian yang membuat semuanya melupakan kecuali orang orang yang masih lama disini," ujar uwa Iyan kembali.
"Apa warga menyangka kalau semua kejadian itu adalah Darman pelakunya?" tanya pak Arya menatap uwa Iyan.
"Entah!"
"Pak Iyan, nasib keluarga pak Rohman dan pak Karta bagaimana?" tanya Zahra tiba tiba.
"Sejak kejadian itu mereka pindah ke desa yang lain?"
"Nak Zahra mengenal mereka?" tanya pak Arya heran.
"Cuma dengar nama mereka saja," kata Zahra.
Siang hari benar benar menjadi cerita tersendiri, orang orang mulai saling berbicara satu sama lain tentang kedatangan Anin anak kandung dari pak Hamdi yang menghilang.
"Jadi Anin itu masih ada?" tanya pak Arya
"Ya menurut orang sih masih hidup, tapi keberadaannya masih misterius."
"Tapi kenapa ia nggak ke rumah ibunya?" tanya Zahra seperti merenung.
"Bagaiamana kalau kita mencari tahu tentang Anin, saya juga sudah nggak kuat rindu pada anak itu." ungkap uwa Iyan sendu.
Ia masih ingat ketika bocah 6 tahun itu selalu menemani hari hatinya, main di kebun, bakar jagung dan tidur di pangkuannya. Zahra yang melihat perubahan wajah uwa Iyan hanya diam saja, ia berusaha tersenyum melihat uwa Iyan seperti itu.
"Sabar pak, Anin juga kangen sama bapak."
__ADS_1
"Sedih memang kalau kehilangan orang yang dicintai,"
Zahra dan uwa Iyan langsung kembali ke tempat masing masing, pak Arya pun ke rumahnya. Zahra menghela nafas panjang melihat kejadian itu, kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan sama sekali apalagi pembicaraan dengan uwa Iyan yang membuat hatinya bergetar.
"Kang Darman mengalami itu sejak nak Zahra datang ke desa ini, kemarin kemarin nggak sama sekali." uwa Iyan memandang wajah Zahra.
"Apa kerena itu saya harus dicurigai oleh bapak?" tanya Zahra tersenyum..
Hati Zahra sebenarnya bergetar sangat hebat mendengar apa yang diucapkan oleh uwa Iyan hampir saja pertahanannya bobol saat uwa Iyan bicara itu.
"Nggak cuma bercanda," sanggah uwa Iyan.
Zahra hanya menghela nafas panjang mendengar candaan uwa Iyan. Sampai di tempat kediamannya Zahra bukan langsung masuk ia hanya duduk di kursi depan teras.
'Aku harus bagaikan sekarang, nama Anin sudah terdengar oleh semua warga tapi orangnya masih misterius! Aku bukan ya nggak kangen sama ibu, tapi aku harus masih mencari bukti yang kuat.' bisik Zahra merenung.
"Kenapa melamun, Ra." ujar pak Bram menatap putrinya.
"Pa, papa dan mama lebih baik pulang ke kota lagi." kata Zahra.
"Nggak mama dan papa mau menemani kamu disini!" teriak ibu Ani menatap Zahra.
"Kamu lebih peduli sama wanita itu dibandingkan mama!" jerit ibu Ani tajam.
"Ma, sudah bagaiamana pun juga wanita itu nya. sedangkan kita?" tekan pak Bram tegas pada istrinya.
Pria itu langsung menghampiri istrinya dan memeluk tubuh istrinya yang terlihat Rapuh sekali, Zahra hanya diam saja ia sebenarnya bukan berniat menyakiti wanita yang selama ini mengurus dsn mengasuhnya, tapi ia hanya ingin. dekat dengan ibu itu saja.
"Sebenarnya Rara pernah bilang sama Rey, kalau Rara nggak mau mama dan papa ke sini. Masalahnya Rara tahu kalau mama dan papa kesini pasti seperti ini, Rara ingin menjalani tugas." ungkap Zahra pada mamanya.
"Tapi Ra, kamu," tatap ibu Ani..
"Bu, jangan takut aku putrimu juga, anak pasti pulang ke rumah mamanya." ujar Zahra mendekati mamanya dan memeluk tubuh ibu Ani dengan erat sekali..
"Mama takut kehilangan kamu sayang," ujar ya.
Mendengar ujaran kata ibu Ani membuat Zahra perih sekali, tapi ia menahan perasannya yang tiba tiba muncul begitu saja.
"Mama nggak mau kehilangan kamu kembali Ra, mama nggak sanggup harus kehilangan kamu untuk kedua kalinya, kamu anak mam sayang bukan anak wanita itu!" kata ibu Ani.
__ADS_1
"Ma, mama kalau memang sayang Rara pasti mama dan papa pulang dari desa ini, Rara nggak mau terjadi apa apa pada mama dan papa kalau mama berada disini."
Ujar Zahra melepaskan pelukan, dan menatap wajah mamanya.
"Tapi kaku janji harus pulang kalau misal mama dsn papa pulang."
"Insya Allah Rara pulang itu rumah Rara kok!"
Akhirnya dengan kesepakatan dari Zahra ibu Ani mau balik lagi ke kota bersama suamianya. Zahra mengangguk senang kerena kedua orang tuanya pulang, sebenarnya bukan apa apa kerena ia khawatir kalau terjadi sesuatu pada orang tuanya saat ia melakukan menyelidikan.
Paginya!
Pak Bram dan ibu Ani, akhirnya pulang ke kota dengan perasan yang tidak karuan, ketakutan ibu Ani yang membuat Zahra tidak nyaman sebenarnya.
"Aku bahagia pa memiliki mama yang khawatir pada Rara, tapi jangan posesif seperti ini," keluh Zahra pada pak Bram.
"Wajar Ra, seorang ibu pasti khawatir pada anaknya."
"Pa kalau misal terjadi sesuatu pada Rara jangan tangisan Rara ya, bagaiamana pun Rara adalah anak papa."
Percakapan itu yang begitu menyentuh dihati Zahra, papa beberapa kali memeluk tubuh Zahra, begitu juga dengan mamanya.
"Kamu harus hati hati ya, jangan sampai ada orang yang menyakiti kamu Ra," kata ibu Ani.
"Tenang saja,"
"Ra, balik ya ke rumah."
Zahra mengangguk. Kedua nya langsung naik angkutan umum yang ditunggu di desa lain. ibu Ani mencium pucuk kepala Zahra beberapa kali, hati wanita itu sangat sedih harus meninggalakan putrinya. Putri yang ia sayangi kini bukan anak kecil lagi, tapi telah berubah menjadi seorang wanita dewasa yang telah mandiri.
"Nanti mam kirim Rey ke sini biar menemani kamu!" terik mamanya..
Mobil yang ditumpangi oleh pak Bram dan ibu Ani, langsung menuju sebuah kota. Hati ibu Ani gemericik meninggalkan Zahra putrinya, apalagi saat ia tahu dari suaminya niat Zahra datang ke desa itu hanya ingin mengungkapkan sebuah kebenaran.
"Mama hanya takut kalau Rara kenapa kenapa, mama nggak sanggup harus kehilangan Rara kembali pa."
Ketakutan ibu Ani memang beralasan yang sangat besar sekali, apalagi ia telah mengurus Zahra dengan penuh kasih sayang yang melebihi ibu kandungnya.
Pak Bram hanya bisa menguatkan hati istrinya yang memang sedang gundah dsn gulana.*
__ADS_1