
Wanita itu histeris saat melihat cairan mengenai tubuhnya. Ia dengan sekuat tenaga memanggil nama Narti tapi wanita itu terdiam saja tidak ada reaksi apapun juga.
"Ti, Narti!"
"Kamu jangan bercanda!"
"Narti!"
Beberapa kali wanita itu memanggil nama ART nya tapi wanita 30 tahun itu tidak bergeming sam sekali. Wanita setengah baya, berusaha mengoyangkan tangan Narti.
"Narti, Narti Kamu jangan seperti ini nggak lucu!"
"Bercanda sih bercanda tapi jangan seperti ini!"
"Bangun kamu Narti!
"Bangun kamu!"
"Ayo kerjakan segala pekerjaan kamu disini!"
Wanita itu menarik tangan Narti, mengoyangkan tubuh wanita itu itu sampai rambut Narti juga di tarik. Tapi wanita itu tetap saja tidak ada reaksi apapun juga.
Hiks hiks hiks hiks
Wanita itu tiba tiba menangis sambil memeluk Narti.
Narti yang terkulai lemas, tidak mendengarkan teriakan majikannya. Wanita itu tersenyum begitu tenang dalam tidurnya yang kekal. Sedangkan Narti sudah merenggang nyawa tanpa ada dosa apa yang dilakukan oleh art itu.
Narti yang berusaha menolong pak Bram untuk lolos dari wanita itu, bukan pak Bram tidak melihat semuanya ia melihat dengan jelas saat wanita itu memukulkan besi yang di pengang ke kepal Narti.
"Ti kamu jangan seperti ini, kamu jahat kenapa kamu lakukan ini?"
"Kamu suka kalau aku seperti ini, kamu pergi tanpa pesan!"
Wanita itu mengeluarkan kata kata sambil mengusut wajahnya yang penuh cairan bening yang keluar dari matanya.
Wanita itu hanya menatap dengan pandangan kosong, tubuhnya penuh dengan darah segar. Tanpa dosa sama sekali ia langsung membuang tubuh Narti kesebuah solokan di belakang villa milik ya.
"Aku nggak akan masuk penjara gara gara kamu Narti." kata Wanita itu sambil tersenyum sinis.
"Aku harus menyingkirkan mayat ini, kamu kenapa harus mati Narti!" kata wanita itu.
Tanpa ada yang melihat semuanya dilakukan sendiri. Setelah itu ia pulang ke rumahnya tanpa ada satu beban meninggalkan villa itu! Pak Bram saksi kematian Narti kerena melalui kaca spin mobil ia melihat semua yang dilakukan wanita itu.
Ya sekali pukul wanita itu telah mengambil nyawa Narti tanpa teriakan sama sekali dari mulutnya.
Sedangkan di rumah sakit Zahra termenung mendengar kata kata pak Bram.
"Selamatkan mam kamu,"
"Selamatkan mama kamu,"
"Jaga mama kamu dari wanita itu!"
"Jangan biarkan mama kamu bertemu dengan wanita itu kembali."
Suara pak Bram terhiang hiang di telinganya.
"Kamu kenapa?" tanya Rey melihat Zahra yang sedang melamun.
__ADS_1
Ya Rey yang menemani Zahra di rumah sakit. Ibu dan mamanya pulang. Kalau mamanya akan balik lagi ke rumah sakit hanya membawa baju ganti sja sedangkan ibu Ayu pulang ke kantin kantor kerena Ana sendirian disana!
"Kenapa ya pak bicara begitu sih!" kata Zahra.
"Bicara apa?" tanya Rey.
"Papa bicara supaya aku jaga mama dari wanita itu, dan jangan biarkan mama bertemu dengan wanita itu, kira kira maksudnya apa?" tanya Zahra menatap wajah Rey.
Rey bukanya langsung menjawab tapi ia malah berpikir atas apa yang dikatakan pak Bram yang disampaikan oleh zahra..
"Pasti ada sesuatu,"
"Iya sesuatu itu apa?"
"Mungkin Rani." tebak Rey.
"Aku nyakin kalau papa ketemu Rani terus ia melakukan sesuatu di hadapan papa," uang Rey menebak sesuatu.
"Apa coba yang dilakukan Rani?"
"Jangan bikin aku penasaran!" lanjut Zahra menatap heran.
"Aku nggak tahu pasti sih! Tapi aku menduga kalau Rani mendatangi papa dan ia melakukan sesuatu yang kita nggak tahu itu apa."
"Bisa saja."
"Narti, Narti, Narti ya Narti lah!"
Zahra dan Rey langsung memandang ke arah papa yang mengigau menyebut nama Narti. Zahra bangkit dari duduknya mendekati pak Bram.
"Pa, ada apa?"
"Narti, tolong dia tolonglah dia dari wanita itu,"
Zahra terkejut. Saat ia memegang tangan pak Bram, suhu tubuhnya sangat tinggi.
"Rey, papa tubuhnya panas." bisik Zahra panik.
Rey yang berada disana langsung menghampiri pak Bram dan menyentuh keningnya. Memang sangat panas sekali, Rey langsung memanggil dokter.
"Hanya demam saja, mudah mudahan nggak lama lagi turun panasnya." kata dokter setelah memeriksa pak Bram.
"Tapi dok, papa nggak apa apa kan?" tanya Zahra agak panik..
"Nggak apa apa, mengigau juga kerena suhu tubuhnya tinggi." ucap dokter.
Setelah itu dokter meninggalkan tempat itu.
"Papa kamu kenapa Ra?" tanya ibu Ani yang tiba tiba datang dan berkerut wajahnya melihat dokter dari kamar suaminya.
"Papa tubuhnya panas ma, Rar panggil dokter kerena khawatir lada keadaan papa. Tapi kata dokter papa nggak apa apa mengigau kerena suhu tubuhnya tinggi," terang Zahra pada mamanya.
"Mengigau?" tanya ibu Ani heran.
Ia langsung menghampiri suaminya dan memegang dahi pak Bram, memang sangat panas sekali. Di bibir yang pucat terus menyebut nama Narti.
"Narti?" tanya ibu Ani menatap Zahra.
"Itu ART ibu Rani," Zahra menerangkan siapa Narti.
__ADS_1
"Kenapa papa kamu mengigau art itu, Ra?" tanya ibu Ani curiga.
Pikiran wanita itu kemana kemana, ia takut kalau suami nya selingkuh dengan Narti. Terus Narti hamil meminta pertanggungjawaban pak Bram tapi suami nya tidak mau.
"Ma jangan berpikir negatif!" sanggah Zahra yang tahu apa yang dipikirkan oleh ibu Ani.
"Mama nggak berpikir negatif, siapa tahu papa kamu selingkuh dengan Narti terus Narti hamil minta pertanggungjawaban papa kamu?" kata ibu Ani menatap wajah Zahra.
"Mama berpikir apa sih! Nggak mungkin kalau papa melakuakan itu pada mama," sanggah Zahra.
"Iya ma, apa yang dikatakan Zahra benar, masa papa melakuakan itu pada mama. Rey nyakin kalau ada sesuatu selain itu!" imbuh Rey menepiskan praduga mamanya Zahra.
"Mama hanya takut Ra, papa melakukan hal yang dilarang agama." ibu Ani khawatir.
Apalagi dibibir pak Bram masih menyebut nam Narti, bukan hanya Narti tapi wanita itu juga disebut oleh pak Bram sambil bilang hati hati segala.
Zahra merangkul tubuh mamanya dengan erat sedangkan matanya semuanya menatap pak Bram yang masih mengigau. Suaranya jelas sekali oleh tiga orang itu.
"Narti, kasihan kamu."
"Maafkan saya, maafkan saya Narti tidak jsa menolong kamu."
"Narti, terimakasih atas apa kamu lakukan pada saya."
"Maafkan saya,"
"Maafkan saya, saya nggak bisa bantu kamu,"
"Narti jangan pergi!"
"Jangan pergi!"
"Narti!"
Zahra, Rey dsn ibu Ani hanya bisa menatap pak Bram yang sedang mengigau. Zahra sangat khawatir pada papanya, ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang diucapkan oleh papanya itu.
"Maafkan saya,"
"Maafkan saya,"
"Ra, tolong Narti Ra. Jangan biarkan ia berada disana."
"Wanita itu Ra, wanita itu!"
Pak Bram mengigau terus.
"Ra, aku nyakin Narti kenapa kenapa," ujar Rey.
Zahra mengangguk!
"Mama nyakin kalau papa kamu selingkuh dengan pembantu itu!" sembur ibu Ani yang tiba tiba bicara keras.
"Ma, bicara apa sih mama?" tanya Zahra menatap wajah mamahnya.
"Mama nyakin kalau Narti dan papa kamu selingkuh,"ketus ibu Ani.
Terlihat diwajah itu ada kecemburuan terlihat jelas sekali.
"Ma, percaya sama Zahra nggak mungkin melakukan perselingkuhan dengan Narti."
__ADS_1
"Itu buktinya papa kamu mengigau nama Narti?" tanya mama menyudutkan Zahra dan Rey.
Zahra langsung menarik tangan mamanya menuju luar supaya ia bisa menjelaskan ala yang terjadi, Zahra merasa nyakin kalau papa nya tidak berselingkuh.*