
Darman sang pembunuh tiga orang nyawa kini kabur dari penjara dan ia diduga kabur hanya ingin melampiaskan dendam pada seorang wanita yang telah menjebloskan dirinya ke penjara. Polisi juga mencari keberadaan tersangka.
Mata ibu Ani yang kini menyetel tv terbelalak mendengar berita yang disiarkan. Wajah wanita itu benar benar pucat sekali.
"Pa, papa!" teriak ibu Ani nyaring sekali.
Wanita itu beberapa kali berteriak memanggil suaminya. Pak Bram yang mendengar teriakan dari istrinya langsung berlari menghampiri istrinya.
"Ada apa ma, main teriak teriak!" ujat pak Bram kesal.
"Darman kabur dari penjara." kata ibu Ani memberitahukan pak Bram.
Pak Bram langsung melihat tv, bola matanya hampir keluar saat pembawa berita menyampaikan beritanya.
"Gawat kalau begini ma," ucap pak Baram menatap wajah istrinya.
"Pa apa yang kita harus lakukan kalau begini, kenapa dia bisa kabur?" tanya ibu Ani.
"Zahra mana?" tanya pak Bram.
"Sedang di rumah Rey tadi bilangnya."
Pak Bram langsung menelpon Zahra.
📱Ra, kamu Dimana?
tanya pak Bram saat sambungan hpnya menyambung dengan Zahra.
📱Lagi di rumah Rey pa, kenapa?
tanya Zahra, ia mendengar jelas saat telingganya mendengar pertanyaan pak Bram yang terdengar rusuh sekali.
📱Darman kabur dari penjara, papa takut dia bakal mencari kamu.
Pak Baram tanpa menunggu waktu lagi langsung memberitahukan semuanya pada Zahra.
📱Apa? kok bisa?"
Tanya Zahra bertubi tubi. ia sangat kaget saat mendengar Darman kabur dari penjaranya. Pikirannya langsung pada Ana dan ibu Ayu, ia sangat mengkhawatirkan keduanya.
📱Papa juga lihat dari tv, kamu hati hati ya,
Kata pak Bram sambil menyentuh Zahra pulang, setelah di iyakan akhirnya sambungan hpnya dimatikan..
"Nin, ada apa?" tanah Rey.
Memang Rey dari kecil menyebut nama Anin kalau berdua tapi kalau banyak orang sering memanggilnya Rara atau Zahra.
"Uwa Darman kabur kata papa juga,"
"Kok bisa sih kabur?" tanah Rey menatap.
__ADS_1
"Entah!"
"Aku khawatir sama ibu dan Ana." ungkapnya.
"Ya udah lebih baik kita ke ibu saja yuk!" ajak Rey sambil bangkit dari duduknya.
Keduanya langsung meluncur ke kantor nya Rey, kerena hari itu hari Minggu mereka berdua tidak masuk ke kantor. Jadi Zahra dan Rey ke sana hanya ingin mengetahui kalau ibu Ayu dan Ana baik baik saja.
"Kak Anin tumben hari Minggu kesini?" tanya Ana heran.
"Ibu dimana?" tanya Zahra tidak peduli pertanyaan Ana.
"Di dalam, ada apa kak?" tanya Ana heran melihat Zahra terlihat ingin menyampaikan sesuatu.
"Nak Zahra ada apa?" ibu Ayu lupa.
"Ibu!" jerit Anin.
Gadia itu menjerit saat ini Ayu memanggil nama Zahra, ibunya hanya tersenyum melihat putri pertamanya merajuk. Ya ia sering lupa menyebut nama Anin, ia sudah terbiasa dengan sebutan nama Zahra.
Ana dan Rey hanya tersenyum.
"Oh, Iya lupa," senyum wanita itu menatap putrinya.
"Ada apa?"
"Uwa Darman kabur dari penjara."
"Anin takut kalau laki laki itu datang kesini, Anin nyakin kalau uwa Darman pasti mencari kita semuanya."
"Nggak mungkin uwa Darman menemukan kita disini, masalahnya siapa yang tahu ibu dan Ana berada di sini?" ujar ibu Ayu menghibur Anin..
"Tapi Bu, ibu tahu kan uwa Darman orangnya bagaimana? Pasti dia nekad bakal mencari kita apalagi ia tahu kalau aku Anin."
"Sudah kamu jangan berpikir apa apa yang penting kita selamat semuanya."
"Iya Bu apa yang dikatakan oleh Anin benar, pasti uwa Darman mencari ibu," kata Rey ikut bicara.
"Nggak mungkin sih kalau di pikir pikir uwa Darman tahu tempat ini?" tanya Ana memastikan.
"Kecuali kalau ada orang yang memberitahukan kita berdua disini?" kata Ana.
Zahra langsung memasang wajah Rey. Apa yang dikatakan oleh Ana memang benar sih! tempat yang didiami Ana dan ibu Ayu aman dari apapun juga, termasuk pencurian apalagi di kator ini ada satpam yang jaga selama 24 jam.
🦋
Setelah mendengar berita kalau Darman kabur dari penjara, ibu Ani langsung meluncur ke rumahnya Rey tapi saat ia kesana ibunya Rey yang menerima kedatangan orang tua Zahra, dan mengatakan kalau Zahra ke kantor.
"Mang, kita langsung ke kantor, jangan jangan ke kantin itu!" kata ibu Ani tersendat.
Dengan perasaan geram sekali ibu Ani langsung menyuruh supir pribadinya ke kantornya Rey.
__ADS_1
Ibu Ani yang tiba di kantin langsung menyeret tubuh Zahra dengan kasarnya. Rey terkejut dan membantu Zahra. Tapi sebuah pukulan langsung mendarat di pipinya Rey.
"Ma, jangan seperti ini coba ma!" teriak Zahra.
Gadis itu sangat terkejut ibu Ani datang tiba tiba dsn menarik tanganya kalau memukul wajah Rey dengan kasarnya..
"Seharusnya kamu yang jangan begini Ra, kamu yang salah kenapa kamu diam diam harus mendatangi ibu Ayu dan Ana?" teriak Ibu Ani berang menatap wajah Zahra.
"Ma, apa salah Rara mendatangi mereka. Rara hanya ingin ngasih tahu kalau pak Darman kabur dari penjara!"ketus Zahra pada ibu Ani..
"Aku nggak mau kalau ibu dan Ana kenapa kenapa, itu sja kok ma," ujar Zahra memberitahukan.
"Ah! nggak mungkin kamu tujuannya memang ingin ketemu mereka, kenapa bukan papa yang bilang bukan kamu?" tanya ibu Ani menyemburkan kata katanya.
"Papa yang menyuruh!" seru Zahra.
"Nggak percaya!'
"Terserah mama mau percaya mau nggak juga," Dengus Zahra..
"Papa yang lakukan ini, Ma." bela pak Bram yang tiba tiba datang.
"Kenapa Pa, kenapa papa lakukan ini sama mama, Zahra bukan ada wanita itu tapi anak kita!" jerit ibu Ani frustasi.
Wanita itu langsung meninggalkan ruangan itu. Ia seperti tidak ikhlas kalau ibu Ayu harus berada di kantor itu dengan Ana, terlihat wajah ibu Ani begitu ketakutan kalau Zahra pergi jauh dari sisinya. Hatinya masih belum bisa menerima kalau Rara bukan anaknya.
"Pa, terus bagaimana?" tanya Zahra menatap wajah papanya.
"Kamu sabar saja ya Ra, pasti ada jalan lagi." ujar pak Bram.
Zahra hanya mengangguk saja. Ibu Ayu mendekati Zahra dan memegang tangan gadis itu, ditatapnya wajah Zahra dengan lembutnya.
"Ibu nggak apa apa kok, kamu lebih baik kejar mama kamu. Wajar kalau misal mama kamu sangat khawatir sama kamu. Kamu adalah anaknya." senyum Ibu Ayu.
"Maafkan mama ya Bu,"
"Iya ibu telah memaafkan nya,"
"Terimakasih Bu,"
'Ya Tuhan kenapa aku susah sekali untuk mendekati dengan ibu juga adikku.'bisik hati Zahra sendu.
Zahra langsung mengejar ibu Ani di ikuti oleh Rey dsn pak Bram. Sedangkan Ana dsn ibu Ayu hanya bisa memandang kepergian mereka ada saja..
"Ana sih aneh sama wanita itu egois, udah tahu anaknya mati tapi nggak mau menerima kematiannya," Dengus Ana kesal.
"Ana jangan ngomong kaya gitu, seorang mama atau ibu itu seperti itu nggak mau anaknya kenapa kenapa." ibu nya mengingatkan Ana.
"Tapi kan kak Anin bukan anaknya," sembur Ana..
"Tapi Anin diurus dan dibesarkan olehnya. Otomatis jadi anaknya,"
__ADS_1
Ana hanya cemberut saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibunya. Ibu Ayu tersenyum melihat wajah Ana seperti ditekuk, ia merangkul putrinya sambil menggodanya. Keduanya akhirnya tertawa berdua seperti membuang perasaan yang kecewa dihatinya.*