TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 26


__ADS_3

"Uwa memangnya ayah jahat ya? Sampai bunuh orang?" tanya Anin menatap  uwa Iyan. 


"Anin kata siapa?" 


"Banyak orang bilang ayah bunuh bapaknya Zien? Kata orang ayah membunuh ingin tanah yang dijual oleh uwa Darman?" tanya polos Anin. 


Uwa Iyan hanya bisa menelan ludah, mendengra apa yang diucapkan oleh Anin. Gadis kecil yang seharusnya bermain dengan tenang dan damai, malah memikirkan apa yang belum seharusnya dipikirkan..


"Anin cepat besar ya, biar uwa cerita semuanya." 


"Anin udah besar uwa, sudah bisa jalan, makan sendiri, ade yang masih kecil," protes Anin kesal. 


"Tapi belum waktunya Anin, biarpun Anin sudah besar tapi Anin seumur segini harus main nggak boleh memikirkan hal hal lain deh!" kata uwa Iyan. 


Pria itu janji pada dirinya bakal menceritakan apa yang terjadi pada Anin, ya mungkin saja Hamdi juga bakal cerita keluh kesahnya lada Anin dan Ana kalau mereka sudah remaja, tapi untuk saat ini tidak bakal. 


Kerena otak Anin masih terjadi perkembangan yang pesat, kalau misal ia cerita kemungkinan besar otot otot yang berhubungan dengan otak bakal putus dsn berakibat fatal buat Anin. Jadi untuk menunggu supaya otot otot itu kuat menahan beban maka harus dijaga dulu. 


"Anin maunya sekarang!" rengek Anin. 


"Anin sudah besar uwa, udah bisa minum sendiri. Sudah bisa menyebut huruf R," ujar Anin.


"Ia bentar lagi uwa cerita nya kalau Anin sudah sekolah."


"Sekolah?"


"Iya sekolah! Anin kan belum sekolah, Anin belum gede," alasan uwa Iyan.


Sedangkan Hamdi dsn Ayu sedang bincang bincang tentang kelanhsingsn.kehiduoan mereka, apalagi Ayu mengutarakan kalau misal suaminya bakal masuk penjara kalau sang suami tidak menemukan bukti. Ya malam itu tidak ada saksi yang memberatkan Darman.


Hamdi sebenarnya sudah mendatangi Tio, orang yang memanggil dirinya tapi kesaksian Tio hanya sebatas mengatakan kalau ia hanya disuruh mendatangi rumah Hamdi dsn memanggil warga.


"Entahlah Bu, aku juga buntu."


"Terus nasib aku dsn kedua anak kita bagaimana?"


"Aku hanya ingin Anin sekolah tinggi, Bu kalau terjadi apa apa padaku jaga Anin. Dan berikan perpustakaan yang aku miliki jadi milik Anin," ungkap Hamdi menerawang.


Hamdi memikirkan kelangsungan Anin, kalau ia sirih memilih ia ingin sekali menemani hari jati bersama Anin dan Ana. Apalagi ia juga memiliki perpustakaan yang bakal ia kelola, tapi Hamdi sadar kalau misal ia meninggalkan rumah dan ditahan kembali kerena tidak bisa menemukan bukti. Maka ia lah yang akan di penjara kembali, dan perpustakaan bakal terbengkalai begitu saja.


"Mungkin kalau Maslah perpustakaan aku bisa beresin tapi masalah sekolah Anin aku pikirkan dulu." cetus Ayu.


"Harus Anin harus sekolah Bu, apapun yang terjadi. Anin bakal jadi orang yang hebat!" antusias Hamdi.


Hatinya bergolak ingin Anin menjadi wanita hebat."Aku nyakin kalau Anin bakal menjadi penyelamat ayahnya," lanjut Hamdi.

__ADS_1


"Aku juga berharap Ana juga bakal jadi wanita hebat dimasa depan. Tapi Ana masih kecil sekarang, dan tidak tahu apa apa," kata Hamdi meraih tangan Ana yang tertidur dipangkuan ibunya.


Hamdi dsn Ayu tidak menduga kalau membicarakan nya dikuoinhkan.oleh bocah kecil, ya Anin tadi pamit pulang ke uwa Iyan buat pulang ke rumah. Tadinya uwa Iyan bakal mengantarkan Anin pulang tapi bocah itu mengelengkan kepala tidak mau diantar oleh uwa Iyan.


Disaat Anin akan masuk kedalam rumah, telinganya menguping pembicaraan ibu dan ayahnya. Bukannya langsung masuk tapi ia malah berhenti di luar dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang tuanya..


"Ayah dipenjara lagi?"


"Memangnya ayah kenapa ya harus di penjara lagi?"


"Katanya main petak umpet tapi kenapa ayah harus di penjara?"


"Memangnya uwa Darman kenapa?"


"Jahat kah?"


Pertanyaan demi pertanyaan demi pertanyaan menyelimuti benak mungil Anin. Ia belum bisa mencerna keseluruhannya yang terjadi. Hanya sepotong sepotong saja yang muncul di memory nya.


"Ayah bakal sekolahkan Anin, berarti sebenarnya lagi Anin besar dong!" bisik hati Anin gembira.


"Memangnya sekolah harus ada biaya ya?"


"Kalau nggak ada biaya Anin nggak sekolah dong!"


"Perpustakaan buat Anin dan Ade?"


"Yah, kenapa kang Darman seperti ini?" tanya Ayu mengeluh.


"Memang kang Darman belum puas ya merebut aoanyabg menjadi hak kita?" Lanjut Ayu.


"Sudah bu, jangan dibahas."


"Jangan dibahas bagaimana Ayah! kang Darman sudah keterlaluan sama kita, seharusnya ia bersyukur pada Tuhan kerena ibu telah mengangkat dirinya menjadi anak!" sembur Ayu tidak terima.


"Bu! jangan bicara itu lagi."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Kita bersabar saja bu,"


"Sabar juga ada batasnya, buktinya kita tetap bersabar tapi kang Darman semakin menjadi jadi!" Dengus Ayu kecewa.


Wanita itu kecewa kerena suamianya yang anak dari ibu tidak mendapatkan apa apa, bukan ibu yang tidak adil tapi Darman yang menguasai semua milik ibu.


Hamdi menatap wajah istrinya. Ia mendekati istrinya dirangkul tubuh ayu dengan.lembitnya.

__ADS_1


"Kita pasti bisa melewati semuanya, kamu tetap bersabar ya. Kita pasti menang setelah ini."


"Kapan? Aku hanya ingin sekarang tuhan melihatkan kebenaranNya." ketus Ayu.


"Bu, kita sedang diuji, tuhan lebih mencintai kita." Hamdi mengingatkan istrinya..


"Aku cape bicara sama kamu!" Dengus Ayu langsung beranjak dari tempat duduk.


Tapi matanya menatap seseorang yang ada di depan pintu. Matanya hampir saja keluar saat ia melihat Anin duduk menatap dirinya.


"Anin!" seru Ayu kaget.


"Ibu, ibu dan ayah bicara nya sudah?" tanya Anin melihat kedua wajah orang tuanya saling bergantian.


Hamdi dsn Ayu langsung saling tatap satu sama lainnya, lidah keduanya terasa Kelu mendengar apanyang Anin ucapakan.


"Anin kapan pulang?" tanya Hamdi menyongsong Anin.


"Sudah lama, waktu ibu bilang; bagaiamana nasib aku dan kedua anakku?" ujar Anin polos.


Deg!


Hati Hamdi bergetar sangat keras sekali, mendengar perkataan Anin. Keduanya tidak menduga sama sekali kaku Anin menguping pembicaraan mereka.


Bukan sekali dua kali gadis kecil itu menguping pembicaraan mereka,alah sering sekali. Ditatap wajah polos Anin.


"Anin mwndengrakan apa yang ayah dan ibu bicarakan?" tanya Hamdi hati hati.


Anin mengangguk mengiyakan apa yang ayah katakan.


Deg!


Hati Hamdi bergetar melihat anggukan Anin.


"Aku janji ayah bakal bantuin ayah kalau Anin udah gede." ujarnya renyah.


Hamdi hanya tersenyum kecut.


"Ayah percaya." Hamdi mengangguk mendengarkan Anin bicara.


"Anin bakal bela ayah kok, bela ibu dan ade."


"Ayah nggak salah tapi rela disalahkan itu pahlawan." lanjut Anin tersenyum.


Gadis kecil itu langsung memeluk tubuh Hamdi dengan eratnya. Mendengarkan kata kata Anin Hamdi dsn Ayu terharu sekali, ayu sampe mengelus rambut Anin dengan.lembutnya.

__ADS_1


"Ade juga bakalan belain ayah kok! Nanti Anin dsn Ana bakal menyatakan kebenarannya pads semua orang kalau ayah nggak salah." semangat Anin masih dalam pelukan Hamdi.


__ADS_2