
Apa yang dipikirkan oleh wanita itu ternyata benar juga. Sejak kejadian penculikan dirinya dan Ana, dan mereka bertemu di sebuah gubug itu! Ya Awalnya ia menyangka kalau itu Ani.
Tapi waktu Acong dan Teddy menyatakan kalau mereka itu ibu Ani, ia terkejut kerena ia sangat tahu itu bukan Ani, tapi semua mengatakan itu Ani termasuk pak Bram sendiri.
Ibu Ayu hanya bisa memandang orang orang yang lalu lalang di kantinnya. Ingatan dirinya saat ia masih saja sama remaja.
Ya ia masih ingat percakapan yang dengan gadis yang ia kenal suatu waktu.
"Yu jangan pedulikan aku kalau kamu seperti ini?" Kata gadis itu pada Ayu.
"Kenapa? Wajarkan kalau aku peduli sama kamu?"
"Aku harapkan kamu jangan pedulikan aku, begitu juga dengan aku dengan kamu." Kata gadis itu.
"Alasannya apa?"
"Suatu saat nanti juga kamu mengerti, aku nggak bisa bicara ini sama kamu "
"Bicara apa Ran, apa yang kamu ingin ceritakan?" Tanya Ayu menatap sahabatnya.
Tapi gadis itu beranjak pergi meninggalkan Ayu. Ayu yang mengejarnya tapi gadis itu berlari menjauhi dirinya.
"Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud Ran, sepertinya kamu tahu sesuatu?" Tanya nya dalam hati setelah sahabatnya pergi dari hadapnnya.
Ibu Ayu hanya menghela nafas panjang, saat ia mengingat semuanya, ia nyakin apa yang Rani katakan sekarang terbukti tapi ia tidak menyangka kalau semuanya bakal terjadi pada kehidupannya.
'Aku harus mengatakan semuanya, ini fitnah!' bisik hati ibu Ayu.
"Bu, kok melamun sih! Apa yang ibu pikirkan?" Tanya Ana menghampiri ibunya ketika ia melihat ibu nya sedang diam dengan tatapan kosong.
"Eh! Kamu Na, bagaimana pelanggan kita?" Ibu Ayu gugup.
"Apa yang ibu pikirkan?" Tanya Ana kembali secara lembut.
"Nggak apa apa kok Na, ibu cuma ingat desa yang kita tinggali," dusta ibu Ayu tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu Ana ke depan lagi ya. kalau ada apa apa ibu bilang sama Ana." Kata Ana sambil meninggalkan ibunya.
Wanita itu hanya memandang kepergian putrinya.
"Apa jangan jangan Rani!" Ujar ibu Ayu menerawang.
Wanita itu mendengus.
"Ia juga nggak tahu kalau aku adalah bagian dirinya, Yu. Aku juga tahu dari mbok Arni,"
🦋
"Ra, mama bersumpah nggak tahu apa apa dengan apa yang kamu alami ini!" Teriak ibu Ani geram.
__ADS_1
Hatinya sangat geram melihat anaknya tidak percaya pada dirinya, apa yang dikatakan Zahra sama sekali tidak pernah ia berpikir seperti itu.
"Ma, nyatanya seperti itu. Kenapa mama mengelak?" Tanya Zahra mendesak ibu Ani.
"Mama bersumpah mama nggak pernah melakukannya..Mama baru tahu sekarang!" Ketus ibu Ani menjelaskan..
"Tapi Ana?"
"Kamu lebih percaya sama Ana yang baru kamu kenal atau mama yang telah membesarkan kamu?"
Zahra seketika juga terdiam.mendengar mamanya bicara itu.
"Mama nggak tahu apa apa Ra."
"Kalau bukan mama kenapa Ana bilang itu mama?"
"Ibu yakin Ra itu bukan mama kamu? Percaya lah sama mama kamu, nggak mungkin mama kamu melakukan itu pada kamu," tiba tiba ibu Ayu datang ke rumah itu..
Wanita itu datang bersama dengan Rey. Ya ibi Ayu meminta Ana untuk menghubungi Rey, awalnya Ana menanyakan alasannya tapi wanita itu ingin sekali tahu dimana Zahra berada.
Ya sudah Ana menghubungi Rey, dari Rey lah ia mendatangi rumah Zahra. Rey mengantarkan ibu Ayu, sedangkan Ana di rumah menunggu kantin.
Zahra yang sedang berdebat dengan ibu Ani langsung melihat menatap kedatangan ibu Ayu, disampingnya ada Rey yang mengantarkannya.
"Maksud ibu?" Tanya Zahra.
"Percaya lah pada mama mu, nggak mungkin itu mama mu yang melakukannya." Ujar Ibu Ayu menatap Zahra lembut.
"Rani? Siap Rani?" Tanya ibu Ani menatap wajah ibu Ayu.
Ibu Ani langsung mendekati Ibu Ayu ditatapnya wanita itu dengan pandangan yang heran, kerana wwnitanitu menyebut nama orang yang pernah ia dengar tapi sampai sekarang tidak pernah bertemu.
"Dia Rani kan?"
Ibu Ayu lanhsung menyodorkan sebuah fhoto yang di owngangnya dan mengulurkannya pada ibu Ani yabgbada dihadapannya.
Ibu Ani langsung melihat dan mengambil gambar yang disodorkan oleh ibu Ayu dan memandangi gambar itu
"Rani, Kamu kenal Rani?" Tanyanya..
Zahra yang melihat itu langsung melihat gambar yang ada di tangan mamanya.
"Mama,"lirih Zahra terkejut!
"Maksudnya bagaiamana ini?" Tanya Zahra.
"Pantesan saja?" Tanya Zahra kaget.
Ia terkejut saat melihat gambar yang diberikan oleh mamanya. Ia melihat wajah gambar yang samndengan mamanya.
__ADS_1
"Aku kenal dirinya, tapi waktu ketemu denganmu aku heran kenapa dirimu tidak mengenal diriku," kata Ibu Ayu akrab.
"Ibu hanya takut yang jadi sasarannya adalah kamu Ra, kerena kamu ada hubungan dengan ini maupun dengan mama kamu," lanjut ibu Ayu mengapa Zahra.
"Apa papa tahu ini?"
"Mama nyakin kalau papa kamu juga nggak tahu apa apa Maslah orang yang ada di gambar." Kata ibu Ani angkat bicara.
"Ra, ibu takut kalau ia bakal melakukan sesuatu lada kamu, kerena sasaran nya bukan Ana sebenarnya. Tapi kamu,"
"Kok ibu tahu kalau sasaran nya aku?" Tanya Zahra heran.
"Ya kerena ia menginginkan apa yang diinginkan oleh mama kamu." Ungkap ibu Ayu.
BRAK!
Tiba tiba sebuah pintu seperti di pukul beberapa kali, orang yang ada disana langsung melihat apa yang terjadi.
"Papa!" Teriak Zahra terbelalak.
Tubuh pak Bram abruk seketika juga menimpah kursi yang anerada di teras depan. Suara yang berdebu terdengar dengan nyaringnya.
Zahra langsung memburu tubuh pak Bram, laki laki itu menyentuh pipi Zahra dengan lembut.
"Jaga mama kamu, jangan tinggalkan mama kamu Ra apapun yang terjadi," ujar pak Bram suaranya memburu.
"Pa, jangan bilang begitu!" Tangis ibu Ani memeluk tubuh pak Bram yang tiba tiba lemas, dan berada dipangkuan Zahra.
"Pa, apa yang terjadi kenapa ini pa, jangan bilang seperti itu pa," terbata bata Zahra berkata.
"Ra, jaga mama kamu ya," pinta pak Bram.
Semua orang yang ada disana kebigungan kerena melihat pak Bram yang baru tiba dari suatu tempat pas oulang dalam keadaan seperti itu.
Setelah mengatakan itu pak Bram malah pingsan, Zahra dan Rey langsung menidurkan pak Bram ke kursi, ibu Ani panik melihat suaminya pingsan seperti itu.
"Ma, mama sabar ya papa nggak apa apa, mungkin hanya kecapean saja." bibir Zahra.
"Ra, apa sebenarnya yang terjadi papa kamu, kenapa tiba tiba seperti ini?" teriak ibu Ani panik.
Tidak panik bagaiamana melihat suami datang malah tiba tiba jatuh dan pingsan seperti sekarang.
"Papa ngga apa apa kok!" kata Zahra..
Sebenarnya gadis itu juga merasa aneh pada papanya yang tiba tiba seperti ini.
"Papa sebenarnya nggak apa apa sih! kerena di tubuhnya nggak terdapat apapun juga?" tanya Zahra heran.
"Ra, lebih baik bawa ke rumah sakit saja, biar dokter yang periksa papa kamu," Ibu Ayu angkat bicara kerena melihat keadaan pak Bram seperti itu.
__ADS_1
Rey akhirnya membawa tubuh pak Bram ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit, sedangkan Zahra mempersiapkan sesuatunya. Gadis itu sebenarnya panik melihat pak Bram yang tiba tiba tidak sadarkan diri.*