
“Ibu tahu, ibu merasakan apa yang dirasakan sama mama kamu. Mamamu harus kehilangan anaknya, ibu tahu rasanya," Zahra ingat kata kata ibu Ayu.
Ia tidak menyangka kalau ibu bakal mengatakan itu lada dirinya, di tatap wajah wanita yang telah melahirkan itu dengan pandangan yang lain.
"Ibu ikhlas, ibu masih punya Ana," ujar nya tulus.
Zahra menggelengkan kepala saja mengingat apa yang ibu katakan pada dirinya. Dan sekarang dihadpannya telah ada wanita yang sering ia pangg mama, ia hanya mengusap tangan mamanya dengan kasih sayang.
"Apa orang yang bernama Darman yang melakukan itu!" Ujar pak Bram menatap wajah Zahra. Sebenarnya ia ragu untuk membicarakan tentang pak Hamdi apalagi dihadapan istrinya.
Bukan sekali dua kali sih sebenarnya pak Bram mennayakan tentang kematian pak Hamdi, tapi kalau kedengaran oleh istrinya pasti wanita itu marah dsn mengamuk jadi seolah olah Ani tidak ingin mendengar apa yang dibicarakan oleh Zahra.
"Iya pa, ia yang menghabiskan ayah dan kedua rekannya." Jawab Zaahransmbil matanya melirik mamanya.
"Itu harus segera diusut sampai tuntas, biar nggak ada korban lagi," cetus Ani yang diam saja.
Zahra terkejut mendengar apa yang dibicarakan oleh ibu Ani, tidak menyangka kalau wanita itu ikut membicarakan masalah pak Hamdi.
"Rara akan lakukan itu ma, Rara hanya ingin kebenaran ditegakkan. Jadi Rara mohon ya izinkan Rara untuk kembali ke desa itu, kerena hanya Rara yang bisa menegakkan kebenaran," kata Zahra pelan tapi pasti.
"Iya ma apa yang Rara katakan itu benar, kalau Rara tinggal disini ia nggak bakal mengungkapkan kebenaran nya ma," lanjut pak Bram melanjutkan apa yang Zahra katakan dihadapan mamanya.
Ani hanya diam saja, ia mulai tenang dengan apa yang terjadi. Zahra mengusap bahu mamanya lembut sekali, ia menunggu apa yang dibicarakan oleh mamanya.
Tapi wanita itu meninggalkan keduanya menuju teras rumahnya, setelah keadan membaik semuanya, ibu Ani ke kamar untuk istirahat diantar oleh Zahra. Zahra yang melihat mamanya tertidur ia langsung meninggalkan kamar mamanya, untuk mendekati pak Bram yang sedang membaca koran. Ia sebenarnya heran kenapa mama bisa tahu keberadaannya?
"Pa, kenapa mama tahu kalau Rara ada di rumah sakit?” tanya Zahra ingin tahu,
Ya sejak ia berada di rumah sakit ia sama sekali tidak memberikan khabar pada kedua orangtuanya tentang keadaan Ana. Ia sengaja melakukan itu kerena takut ada sesuatu pada mamanya, apa yang ditakutkan terbukti mamanya malah mengamuk.
Papanya langsung menurunkan koran yang dibacanya melihat pada Zahra yang duduk disampingnya. Ia otomatis memutar tubuhnya menghadap pada Zahra.
“Papa tahu dari teman mamamu, Ra.”
Akhirnya pak Bram menceritakan asal muasal ia dan istrinya mendatangi rumah sakit itu, Zahra hanya diam saja mendengarkan apa yang di ceritakan oleh papanya. Ia sama sekali tidak menduga kalau ada teman mamanya yang melihat dirinya di rumah sakit itu.
"Mungkin semuanya akan terungkap di rumah sakit," dengus Zahra.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, ada jalan yang baik buat kamu."
Sedangkan di rumah sakit uwa iyan agak menyalahkan ibu Ayu.
“De, kenapa kamu izinkan Anin pergi? Aku akan menyusul dia dan nggak kan pernah mengembalikan Anin.”
“Kang, aku tahu kehilangan anak, aku nggak ingin mamanya Anin kehilangan anaknya,” kata Ibu ayu.
“Tapi lihat kamu sendiri,”
“Kalau ia kembali ke pangkuanku berarti itu anakku tapi kalau ia tidak ada di pangkuanku berarti ia bukan anakku,”lanjut Ayu pasrah.
Ia merasa senang melihat Anin masih hidup, jadi ia hanya bisa berdoa apa yang jadi keingian dari ayahnya jadi kenyataan melalui tangan Anin. Itu saja keinginan dirinya semata. Uwa Iyan hanya diam mendengar apa yang diucapkan oleh wanita yang ada dihadapannya, di lihat wajah wanita itu ada sebuah ketegaran dihatinya melalui sorot mata yang tajam
“Aku hanya butuh Anin hidup, dimana pun keberadannya ia tetap Anin putrinya kang Hamdi.” Wanita itu mengatakan itu dengan tersenyum.
“Kamu nggak takut kehilangan Anin untuk kedua kalinya?” tanya uwa Iyan.
“Nggak, Anin pasti kembali kepangkuanku, buktinya sekarang? Ya biarpun aku harus kehilangan Anin beberapa tahun tapi sekarang Anin kembali lagi ke desa kita kembali dengan nama yang lain,”
"Aku takut wanita itu nggak pernah mengizinkan Anin,"dengusnya.
Uwa Iyan langsung terdiam mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Ayu, apa yang diceritakan Ayu memang benar sekali. Laki laki itu hanya mengangguik anggukan kepal saja.
“Kang, aku ingin rahasiakan keberadaan Anin di desa itu saat kita kembali, aku nggak ingin kalau Anin mengalami nasib yang sama dengan ayahnya,” ucap Ayu.
"Aku takut kalau misal semua tahu Aninasih hidup kang Darman bakal melakukan sesuatu pada dirinya," lanjut ibu Ayu menghela nafas panjang.
Uwa Iyan menghela nafas Panjang. Ia menatap wajah Ayu dengan tajam.
“Aku akan berusaha demi keselamatan Anin, dan kamu juga.” ujar uwa iyan tulus.
Keduanya langsung menuju kamar Ana kerena mereka telah lama meninggalkan Ana.
"Bu, mana kak Zahra?" Tanya Ana ketika mereka telah sampai di kamar Ana.
"Zahra pulang dulu ke rumahnya,"
__ADS_1
"Aneh ya Bu, kenapa hatiku sakit mendengar kak Zahra pulang ke rumahnya?" Tanya Ana menatap wajah ibu.
Wanita itu hanya bisa menghela nafas apa yang didengar oleh telinga dirinya.
"Kamu jangan pikir macam macam, lebih baik.banyak istirahat,"
"Tapi kenapa Bu aku rindu kak Zahra?" Tanya Ana kembali.
"Wajar rindu juga kalian pernah bersama sama," timbal ibu Ayu tersenyum.
Uwa Iyan hanya diam mendengar percakapan itu, sebenarnya hatinya ingin mengatakan pada Ana kalunzajra itu Anin. Tapi ia masih ingat kata kata Zahra sewaktu belum pergi.
"Zahra harap Ana nggak tahu dulu masalah ini, Zahra takut kalau ia shock mendengar kalau aku adalah," kata Zahra yang tidak melanjutkan perkataannya.
Akhirnya mau tidak.mau uwa Iyan tidak bicara masalah Zahra pada Ana, untuk menjaga kondisi kesehatan Ana.
"Kakak ada disini de," kata Zahra yang tiba tiba datang dengan wajah ceria.
Mendengar kata kata Zahra ibu Ayu hanya menahan perasaannya,'ya dia kakak kamu Na,'bisik ibu Ayu getir sekali. Ia tadi belum sempat memeluk tubuh Zahra dengan erat. Ana yang tahu Zahra datang langsung tersenyum.
"Bagaiamana keadaan kamu?" Ujar Zahra duduk dimkursi dekat Ana.
"Aku sudah sembuh kak,"
Kedua pihak orang uwa Iyan dan ibu Ayu membiarkan saja Zahra dan Ana berbicara satu sama lain. Malah uwa Iyan meninggalakan mereka, begitu juga ibu Ayu, ia membiarkan Zahra berduaan dengan Ana.
"Kak, kakak kemnaansih tadi?" Tanya Ana cemberut.
"Ada keperluan mendadak jadi nggak bilang dulu sama kamu de."
"Mama kakak?"
Zahra mengangguk.
"Kak, mau nggak kalau kak Zahra jadi kakaknya Ana, Ana pengen punya kakak." Lirih Ana menatap wajah Zahra berharap.
Zahra langsung memeluk tubuh Ana."Kakak mau jadi kakaknya Ana, Asala Ana cepat sembuh dan kakak bakal menjadi kakak buat Ana untuk selamanya," jawab Zahra terharu.
__ADS_1
'De, aku kakak kamu, kakak yang sebenarnya,' bisik hati Zahra sambil melepaskan pelukan tubuh Ana.*