
Pak Bram akhirnya mengikuti wanita itu! Ia menganggap kalau wanita itu adalah istrinya, jadi ia mengikuti nya, tanpa bertanya apa apa lagi. Sedangkan wanita yang disangka oleh pak Bram itu Ani, hanya tersenyum saja. Sebenarnya ia telah mengatur rencana supaya pria yang dibawa nya berada dalam.lwngatuhnya.
'Aku nggak senang kalau istrinya bahagia sedangkan aku ngga, ya biarpun aku tahu wanita itu adikku!' bisik hati wanita itu dengan senyum sinis nya.
Ya pak Bram hanya menyangka kalau wanita yang disangka oleh Bram sebagai istrinya. Wanita itu mengajak Bram ke sebuah villa yang tidak jauh dari SPBU.
Wanita itu mengajak pak Bram untuk masuk ke villa, nuansanya nyaman sekali, mereka akhirnya duduk di kursi yang telah disediakan.
Di wajah Bram ada keheranan yang terlihat saat ia masuk ke villa itu! Dalam hatinya ia sama sekali tidak pernah membelikan atau Ani bilang kalau ia beli villa.
"Ini villa siapa?" tanya pak Bram mengkerutkan wajahnya keheranan. Seingatnya ia tidak pernah membelikan villa di bagian ini.
"Aku yang beli mas, maaf aku nggak bilang bilang sama kamu." ujar wanita itu.
"Mas, apa nggak sebaiknya kita menginap di sini dulu, sambil menunggu Zahra ke tempat ini, masalahnya ia bilang kalau mau ke villa ini." lanjut wanita itu sambil menatap Bram.
"Memangnya kamu punya uang darimana sampai beli villa ini ma?" tanya pak Bram mengkerutkan wajahnya.
Seingatnya Ani tidak pernah punya villa di daerah sini kecuali yang digunakan oleh BI Onah, dan kalau memang Ani membeli villa itu, kenapa tidak bicara dulu dengannya?
Itu pertanyaan yang terlontar di hati Bram.
"Kamu beli villa kapan?" tanya Bram heran..
"Iya, masa mas lupa sih." kata wanita itu sambil mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin? Nggak aku nggak pernah lupa kalau aku yang beli atau kaku yang beli, kecuali yang ini!" Dengus Bram.
Terlihat ada emosi diwajahnya saat ia tahu Ani membeli villa itu!
"Maafkan aku mas, mas jangan marah ya," kata Wanita itu mendekati pak Bram.
Tapi pria itu menepiskan tangan wanita itu dengan kasar, kerena ia tidak menyangka kalau istrinya membeli villa tanpa bilang bilang dulu lada dirinya.
"Lebih baik aku pulang!" ujar Bram.
Pria itu langsung beranjak dari duduknya sambil meninggalkan wanita itu, tapi wanita itu dengan cepat langsung memengang tangan Bram. Bram berusaha melepaskan tangan wanita itu, tapi wanita itu langsung memukul Bram dengan kasarnya..
PLAK!
"Ma, sakit!" teriak Bram melotot pada wanita itu.
"Mas, dengar aku dulu! Kita mengapa pulang, Rara juga bakal kesini kok!" wanita yang dikira Ani oleh Bram merajuk.
__ADS_1
"Aku nyakin kaku Rara bakal menyusul kita kesini, kamu jangan seperti ini ni kasihan Rara kalau dia kesini kamu nggak ada bagaimana?" tanya wanita itu menatap wajah Bram dengan khawatir.
Ya wanita itu takut kalau Bram bakal meninggalakan villa itu dan ke rumahnya.
"Kamu sekarang kasar!" Dengus Bram yang melepaskan tangan wanita itu.
"Aku hanya takut kamu pergi dari sini." rajuk nya.
"Aku kecewa sama kamu, coba sih kalau mau beli apa apa bilang dulu!"
"Iya aku bakal bilang kalau aku ingat."
"Jangan begitu.
"Mas, lebih baik kita masuk yuk! disini dingin banget," wanita itu menarik tangan Bram untuk masuk ke dalam villa.
Mau tidak mau akhirnya Bram masuk ke dalam villa dan duduk di kursi yang tadi.
Sedangkan di rumah Zahra ibu Ayu datang sambil menunjukan fhoto Rani kehadapan Ani, Ibu Ayu tidak tahu kalau sebenarnya Ani sudah tahu kalau fhoto itu benar benar gambarnya Rani. Bagitu juga dengan Zahra yang tidak terkejut sama sekali.
"Ra, mama bersumpah nggak tahu apa apa dengan apa yang kamu alami ini!" Teriak ibu Ani geram.
Hatinya sangat geram melihat anaknya tidak percaya pada dirinya, apa yang dikatakan Zahra sama sekali tidak pernah ia berpikir seperti itu.
"Ma, nyatanya seperti itu. Kenapa mama mengelak?" Tanya Zahra mendesak ibu Ani.
"Tapi Ana?"
"Kamu lebih percaya sama Ana yang baru kamu kenal atau mama yang telah membesarkan kamu?"
Zahra seketika juga terdiam mendengar mamanya bicara itu.
"Mama nggak tahu apa apa Ra."
"Kalau bukan mama kenapa Ana bilang itu mama?"
"Ibu yakin Ra itu bukan mama kamu? Percaya lah sama mama kamu, nggak mungkin mama kamu melakukan itu pada kamu," tiba tiba ibu Ayu datang ke rumah itu..
Wanita itu datang bersama dengan Rey. Ya ibu Ayu meminta Ana untuk menghubungi Rey, awalnya Ana menanyakan alasannya tapi wanita itu ingin sekali tahu dimana Zahra berada.
Ya sudah Ana menghubungi Rey, dari Rey lah ia mendatangi rumah Zahra. Rey mengantarkan ibu Ayu, sedangkan Ana di rumah menunggu kantin.
Zahra yang sedang berdebat dengan ibu Ani langsung melihat menatap kedatangan ibu Ayu, disampingnya ada Rey yang mengantarkannya.
__ADS_1
"Maksud ibu?" Tanya Zahra.
"Percaya lah pada mama mu, nggak mungkin itu mama mu yang melakukannya." Ujar Ibu Ayu menatap Zahra lembut.
"Pasti ini ulah Rani."ucap ibu Ayu.
"Rani? Siap Rani?" Tanya ibu Ani menatap wajah ibu Ayu.
Wanita itu lupa kalau dirinya pernah bertemu dengan Rani, sedangkan Zahra hanya menghela nafas saja mendengar mamanya bicara seperti itu.
Ibu Ayu mendekati Ani, dan meberikan gambar Rani, saat ia melihat gambar itu ibu Ani hanya mengenakan nafas keren aja juga pernah bertemu dan bicara dengan wanita yang mengaku kakaknya.
"Aku sudah tahu."
"Rani seperti nya itu sama mama Ra jadi ia melakukan supaya keluarga kalian hancur."
"Apa mungkin?"
"Ibu sudah menyelediki semuanya?" kata ibu Ayu.
Mata Zahra terbelalak mendengar penuturan ibu Ayu, ia tidak menyangka kalau ibu Ayu menyelidiki tentang ibu Rani, seingat Zahra ibu Ayu tidak tahu daerah ini tapi tiba tiba wanita itu malah bilang menyelidiki Rani..
"Maafkan ibu Ra, sebenarnya sebelum ibu ketemu kamu di desa ini sering ke tempat ini." jawab jujur ibu Ayu.
"Dan sekarang papa kamu ada di villa xXXx bersama wanita itu. Ibu sebenarnya sudah ke desa untuk cari tahu keberadaan papa kamu, tapi kata uwa Iyan papa mu sudah pulang." jelas ibu Ayu.
Zahra hanya begong mendengarkan penjelasan dari ibu Ayu, wanita itu mengangguk.
Ibu ayu merangkul tubuh Zahra dengan lembut sekali.
"Apa yang kamu katakan benar katakan benar kalau suami saya berada di villa?" tanya Ani menatap ibu Ayu.
"Aku nggak bohong!''
"Daripada kita disini dan menebak apa yang terjadi lebih baik kita ke sana," kata Rey yang tadi hanya diam saja.
Apa yang dikatakan ibu Ayu memang benar kalau pak Bram berada di villa bersama dengan wanita itu. Sebenarnya pak Bram sejak berada di villa itu kurang nyaman sekali, kerena wanita itu agresif sekali.
''Mas, lebih baik kamu minum dulu, aku buatkan."
"Aku nggak haus." tolak pak Bram..
Pria itu langsung masuk kamar untuk istirahat, tapi wanita itu mengikutinya. Sampai pak Bram melotot.
__ADS_1
"Ma, papa ingin istirahat," pinta pak Bram..
Intinya ia tidak ada yang menganggu Sam sekali. Tapi wanita itu malah mengikuti pak Bram ke kamarnya.*