
"Bapak kayanya pernah amnesia deh! " Tuduh vito.
"Kurang ajar! Jangan main tuduh kalau nggak ada bukti! " Ketus Darman sewot.
"Bukan kurang ajar, ya nggak ada bukti sih kalau bapak amnesia, tapi kalau memang bapak tahu anaknya Hamdi kenapa harus menyebutkan nama orang lain?" Tanya Vito.
"Anin! Bukan Zahra! " Teriak Darman agak kesal dengan Vito.
"Terserah! "
Darman beberapa kali mendengus mendengar jawaban dari Vito.
"Pak, apa benar kalau aku anak biologis pak Hamdi? " Tanya Vito yang tiba tiba menanyakan sesuatu pada pria yang baru ketemu dengannya.
Darman hanya memandang hamparan krikil yang ada di hadapannya. Pertanyaan pemuda yang ada dihadapan tidak langsung dijawab oleh Darman, ia hanya mendengus mendapati pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda yang baru dikenalnya.
"Aku tadi ngebut bawa mobil gara gara Zahra menceritakan kalau aku bukan anak papa Hamdi, aku hanya anak biologis saja. " Lirih Vito memberikan penjelasan tentang dirinya yang hampir saja menabrak Darman.
"Itu kelakuan mama kamu Rani! " Kata Darman.
"Maksudnya? "
"Mama kamu sengaja hamil dari Hamdi kerena ia nggak suka sama neneknya Anin. " Darman menjelaskan.
"Jadi? "
"Iya mama kamu jahat, berjalan sendiri saja menanggung semuanya sendiri! " Dengus Darman kesal.
Ya di wajah Darman terlihat sebuah kekesalan yang terpangpang jelas di wajahnya. Vito yang lihatnya hanya menghela nafas panjang, ia merasakan hatinya perih saat mendengar kenyataan yang ada di hadapannya.
"Vit, aku nggak membohongi kamu kalau kamu anak biologis ayah. Ayah juga nggak tahu kalau kamu berada di perut mama kamu, ayah meninggal sebelum mama mu cerita kakau ada anaknya! " Suara Zahra begitu jelas di teling Vito.
"Nggak mungkin kamu jangan mengarang cerita mama aku. Kalau memang kamu benci mama ku silahkan tapi jangan sampai menjelekan mama aku! " Teriak Vito.
Ia sama sekali tidak mau mengubris kata kata dan penjelasan yang diungkapkan oleh Zahra. Vito tidak meu menerima kejujuran Zahra yang telah berusaha menjelaskannya. Tapi Vito hanya menggelengkan kepala saja.
"Apa kamu menyesali Darman semuanya? " Tanya Darman.
"Aku nggak pernah menyesali pak. Aku hanya menyesal kenapa mama nggak pernah jujur padaku, mama seperti menyembunyikan sesuatu pada ku sampai detik ini. "
"Mama kamu seperti nya nggak mau kamu terluka, jadi lebih baik memendam perasaannya demi kamu. " Ujar Darman menepuk bahu Vito lembut.
"Bapak bicara itu kerena bapak membela mama kerena mama pernah mengisi hati bapak! " Ketus Vito mendengar pembelaan dari pria itu untuk mamanya.
"Aku nggak pernah membela mama kamu, bukan kerena dia wanita yang pernah mengisi hari indahku, tapi. " Ujar Darman.
__ADS_1
"Tapi apa? Kerena cinta bapak nggak pernah di restui oleh! "Ketus Vito.
Ia sama sekali tidak suka kalau pria itu membela mamanya dihadapannya, ya biarpun pria itu pernah mengisi hari hari mamanya, tapi buat dirinya pria itu tetap orang lain.
Sedangkan Zahra yang masih berada di kantor sedang menyelesaikan tugasnya tiba tiba mendapat telpon dari ibu angkatnya Vito.
Zahra hanya menghela nafas panjang melihat nama yang berada di layar hpnya. Hatinya tidak karuan saat menerima telpon dari ibu angkat Vito.
Pikirannya tertuju pada Vito, ya gadis itu menduga kalau Vito pasti telah mengadukan omongannya pada ibunya. Tapi Zahra mengangkat panggilan telpon dari ibu angkat Vito.
📱Ra, ketemu Vito nggak? Masalahnya dia bilang pagi ini mau mengajak kamu ke desa itu! Tadinya ibu mau ikut, tapi katanya Vito mau ngajak kamu dulu.
To the point ibu angkat vito mengatakan rencana tentang kepergiannya pada Zahra. Zahra yang tidak tahu apa apa hanya melonggo saja mendengarkan suara ibu angkat vito.
📱Iya memang Vito tadi kesini tapi nggak bilang apa apa karena sebelum. Bilang vito ngamuk duluan lalu pergi begitu saja! "
Zahra mengatakan hal yang sebenarnya. Ia sangat terkejut saat ibu angkat vito mengatakan kalau Vito menyusul dirinya untuk mengajak dirinya ke desa itu.
Zahra tidak tahu kalau Vito bakal mengajaknya, tapi Vito terlanjur marah mendengar apa yang ia katakan lalu pergi begitu saja tanpa bilang dulu padanya.
📱Waduh! Kenapa Vito nggak bilang sama kamu? Kamu bilang apa sih sama Vito sampai ia marah sama dirimu?
Tanya ibu angkatnya Vito dengan. Nada heran sekali. Di sebrang HP Zahra hanya menarik nafas panjang mendengar apa yang ibu angkat vito katakan, kalau ia berkata jujur ia pasti kena masalah.
Zahra berdusta.
Mendengar kata kata Zahra, ibu angkat Vito hanya menghela nafas panjang. Memang dari dulu juga Vito tidak pernah menerima kalau pria yang ditanyakan oleh Vito sesudah meninggal.
Sebenarnya bukan hanya Zahra saja yang merasa pusing oleh pertanyaan Vito, dirinya juga sering diamuk oleh Vito kalau mengatakan kalau papanya meninggal.
📱Rara bilang kalau ayah telah meninggal tapi Vito nggak percaya pada Rara.
Sambung zahra menjelaskan pada ibu angkatnya Vito. Ibu angkat Vito hanya bisa menghela nafas panjang.
Wanita itu hanya diam hatinya ketat ketir lalau modal. Vito sampai tahu kalau sebenarnya keberadaannya tidak pernah diinginkan oleh hamdi ayah biogisnya.
"Kasihan kami Vito! " Bisik hati ibu angkatnya.
Zahra tidak tahu sebenarnya ibu angkatnya Vito juga sudah tahu kalau Vito lahir tanpa diketahui oleh hamdi. Wanita itu tahu dari ibu Ani, dan ibu angkat Vito tidak tahu kalau Vito mendengar dari Zahra.
Ibu angkat Vito langsung memutuskan hubungan telponnya pada Zahra. Wanita itu benar benar melamun memikirkan bagaimana supaya Vito tidak marah dan frustasi mendengar tentang dirinya.
"Kenapa ma? " Tanya suaminya ayah angkat Vito menghampiri istrinya.
"Tadi aku telponnya Zahra mengatakannya kalau Vito ke kantornya mau mengajak Zahra ke desa itu, tapi kata Zahra Vito marah karena nggak percaya kalau ayahnya meninggal. " Kata ibu angkat vito.
__ADS_1
"Itu kesalahan Rani sebenarnya nggak pernah menceritakan kejujuran tentang papanya. " Sesal papa angkat Vito.
Pria itu hanya menghela nafas panjang mendengar semuanya dari istrinya.
"Apa Zahra tahu kalau Vito anak biologis ayahnya? " Tanya papa angkatnya Vito menatap wajah istrinya tajam.
"Aku juga kurang tahu la, masalah itu! Mungkin saja tahu tapi Zahra mungkin belum menceritakan pada Vito! " Kata nya menatap suaminya.
"Pa, kasihan. Vito! " Ujar ibu angkatnya Vito.
"Sudahlah ma, itu sudah nasib dan takdir yang harus Vito hadapi. " Papa angkat Vito angkat bicara.
Kedua pasangan suami istri saling diam satu sama lainnya.
🦋
"Ni, bantu aku. Aku ingin terlepas dari semua ini Ni."
"Maaf, kak aku nggak bisa bantu apa yang kakak lakukan itu perbuatan kakak sendiri. Kaka seharusnya kasihan sama Vito kalau kakak seperti ini, " Ujar Ani.
Wanita itu sangat terkejut atas kedatangan Rani yang tiba tiba telah berada di teras depan rumahnya.
Sebenarnya tadi ia sedang membersihkan pekarangan rumah, tapi tiba tiba ada orang yang marik tanganya. Awalnya ia ingin menghindar tapi gagal.
Rani menarik tangan Ani menuju gazebo, Ani sangat terkejut melihat Rani yang tiba tiba menarik tangannya.
"Kenapa? Ni, aku lakukan ini kerena aku sayang Vito. Aku nggak mungkin masuk penjara kalau Vito tahu masa lalu aku aku nggak bisa memaafkan diriku."
"Kak, itu masalah kakak dimasa lalu kenapa harus aku yang kakak sered dalam masalah ini? Aku nggak mau menangung apa yang nggak pernah aku lakukan! " Teriak Ani tegas.
"Percuma kita ganti peran, Zahra tahu siapa aku dan siapa kamu? Zahra bakal tahu dan nggak akan pernah membiarkan kamu bebas." Lanjut Ani.
Ani menolak apa yang direncanakan oleh Rani. Ya Rani ingin mengganti posisinya menjadi dirinya dan dirinya menjadi kakaknya. Otomatis Ani tidak mau sama sekali, alasan Rani ingin berada di posisi Ani hanya ingin dekat dengan Zahra dan Vito itu hanya alasan.
Ani langsung meninggalkan Rani yang masih berada digezebo. Rani akan mengejar Ani tapi dengan tiba tiba Bram datang dan menghalangi Rani.
"Aku setuju dengan istriku, kamu egois kamu melimpahkan kesalahan kamu pada istriku, aku nggak ikhlas!" Teriak Bram tegas.
"Jangan ikut campur!"
"Jangan ikut campur! Seharusnya kamu yang nggak boleh masuk dalam rumah tangga ku! " Sembur Bram.
Bram langsung menarik tangan Rani untuk keluar dari halaman rumah nya. Wanita itu berusaha beeontak tapi Bram tidak melepaskan tangan Rani. Ia dengan kasarnya mendorong tubuh Rani, dan Bram mengunci pintu pagar rumahnya.
Melihat itu Rani geram. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa, akhirnya meninggalkan tempat itu dengan hati tidak karuan*
__ADS_1