
Setelah mendapatkan telpon dari istrinya, pak Bram langsung pamit ke uwa Iyan dan mbok Inem. Apalagi mendengar cerita tentang istrinya, ia langsung meluncur meninggalakan Desa itu diiringi tatapan uwa Iyan dsn mbok Inem.
"Apa mungkin mamanya Zahra akan mencelakakan anaknya?" tanya uwa Iyan saat pak Bram menceritakan tingkah laku istrinya pada uwa Iyan.
"Bisa jadi sih! Kerena istri bapak sayang pada Zahra dan nggak ingin kehilangan, wajar bagi seorang ibu." sambung mbok Inem.
"Wajar tapi ini menurut saya berlebih masa harus menyekap ibu Ayu dan Ana?" tanya uwa Iyan kemudian.
"Bisa jadi kalau ibu Ani menyekap Ana dan Ayu, kerana ibu Ani takut mereka bertemu dsn Zahra meninggalkan ibu Ani begitu saja," ulas mbok Inem.
Percakapan keduanya terus berlangsung, sedangkan pak Bram hanya diam menimbang nimbang apa yang mereka katakan. Tapi dalam hatinya sih ia lebih percaya pada istrinya, tapi sebagi pembuktian nya apa?
"Uwa, sebenarnya saya sependapat sih sama uwa tentang istri saya, tapi saya ragu kerena saya mendengar dan melihat sendiri kejadiannya," ungkap pak Bram.
Ya akhirnya laki laki itu menceritakan kalau istrinya seperti tidak mau kehilangan Zahra, dan malah mengamuk. Kalau dipikir pak Bram merasa heran atas sikap istrinya seperti itu.
"Baru kaki ini saya merasa heran apa yang dilakukan istri saya, apalagi saat ia melihat dsn mendengar Darman kabur di penjara." kenang pak Bram.
"Dan anehnya kenapa Darman menyuruh kedua bangsat itu menculik Ana dan ibu Ayu?"
"Katanya bukan Darman tapi ibu Ani," desak uwa Iyan.
"Iya itu pengakuan Ana."
"Apa mungkin Ana salah lihat gitu?" lanjut pak Bram berpikir.
"Pak kalau misal Darman melakukannya ia nggak tahu keberadaan Ana dsn Ayu, biarpun kabur juga tapi ia nggak pulang." bantah uwa Iyan menatap wajah pak Bram tajam.
"Ditambah lagi Darman nggak punya hp, maaf kalau saya bela Darman." ujar uwa Iyan.
"Ya nggak apa apa sih!"
"Saya kira ada dalang dari semuanya ini."
pak Bram hanya menghela nafas panjang saat mengingat sebuah percakapan dengan uwa Iyan Masalah Ani istrinya. Dan ia juga terkejut saat istrinya telpon dan menceritakan semuanya pada dirinya.
Sedangkan disisi lain. Zahra dan Rey sedang istirahat mereka menuju kantin kantor yang ada di samping.
"Rey biarpun aku dekat sama ibu tapi aku masih rindu ingin dekat ibu," ungkap Zahra pada Rey saat makan di kantin..
Matanya sedang menatap seorang wanita setengah baya yang sedang melayani, tatapan matanya diikuti oleh Rey. Pria itu langsung memegang tangan Zahra dengan lembut.
"Rara kangen ibu!" Hela nafas Zahra sambil mengalihkan perhatian pada Rey yang menganggam tangannya.
"Kalau kangen ya sudah peluk beliau," suruh Rey.
__ADS_1
Zahra mengelengkan kepalnya, ia menunduk..
"Kenapa? Nggak ada yang melarang kok kamu meluk ibu," uajar Rey tersenyum.
Zahra mengangguk. Gadis itu langsung menghampiri wanita itu! dari belakang ia langsung memeluk ibu Ani dengan lembut. Ibu Ayu yang sedang membereskan piring terkejut saat melihat tangan Zahra memeluk tubuhnya.
"Bu, jangan lepaskan, sebentar sja Bu," bisik Zahra di telinga kanan ibu Ayu.
Wanita itu yang tadinya akan melepaskan pelukan tangan Zahra, akhirnya terdiam saja saat telinganya mendengar bisikan Zahra.
Wanita itu terharu sekali, mendengarkan ya. Ana yang akan mengambil piring langsung terdiam saat melihat pemandangan di depan matanya.
Tanpa disadari, air matanya keluar dengan berlahan, Ana langsung mengusut cairan bening yang keluar itu dengan tanganya. Tiba tiba ia terharu saat melihat Zahra memeluk wanita itu, teduh sekali.
"Adegan romantis!" teriak seorang wanita sambil bertepuk tangan.
Wanita itu langsung menarik tangan Zahra dengan kuat hampir saja Zahra yang sedang memeluk ibu Ayu terjatuh.
"Ma, mama apa apaan?" teriak Zahra yang tahu ibu Ani yang menarik tanganya..
Zahra berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan ibu Ani, tapi genggaman tanganya terasa kuat sekali.
"Ibu, lepaskan!" perintah Ibu Ayu menatap tajam.
"Lepaskan? Seharusnya kamu yang lepaskan Rata untukku. Kamu nggak berhak untuk memiliki Rara!" sembur ibu Ani tajam.
"Kita pergi dari sini!" teriak ibu Ani langsung menyeret Zahra untuk mengikuti nya..
"Bu, jangan kasar!" teriak Ana geram.
Tapi ibu Ani mengubris apanyang Ana katakan. Ia menyeret tubuh Zahra dengan kasar sampai gadis itu berteriak tapi Ibu Ayu tidak bisa berbuat apa apa, Rey yang akan menolong juga malah kena hantam.oleh wanita itu.
Ana yang akan mengejar Zahra ditahan oleh ibu Ayu.
"Bu, aku ingin menolong kak Zahra!"
"Sudah biarkan saja, wanita itu tidak akan menyakiti Zahra."
"Ibu percaya pada wanita itu?"
Ibu Ayu hanya mengangguk. Ana hanya mengeram kerena tidak bisa menolong Zahra sedangkan Rey hanya bisa melihat kepergian dari Zahra.
"Sudah kamu diam saja biar kakak saja yang mengejar nya," kata Rey..
Rey akhirnya meninggalkan kantin dengan perasan heran, sedih melihat kelakuan ibu Ani seperti itu.
__ADS_1
Rey langsung menuju rumah Zahra.
"Ma, mama!" panggil Rey mencari ibu Ani.
"Hai Rey kenapa kamu manggil manggil mama?" tanya ibu Ani heran.
"Rara kemana?" tanya Rey tajam.
"Kan sama kamu?"
"Mama yang mengajak Rara pulang kenapa ma, mama lakukan ini sama Rara?" tanya Rey.
"Mama di rumah saja Rey mama nggak ke kantor!" ketus ibu Ani
"Bohong!"
Rey langsung memeriksa semua kamar yang ada di rumah itu, tapi nihil keberadaan Zahra memang tidak ada sama sekali.
Sedangkan ibu Ani menatap heran sama tingkah laku Rey yang tiba tiba datang, teriak dan menanyakan keberadaan Rara. Menurutnya heran saja kerana tadi pagi Rey lah yang menjemput Zahra.
"Rey kenapa Rara Rey?" tanya ibu Ani.
"Seharusnya Rey yang bertanya pada mama bukan mama yang bertanya lada Rey!" terik Rey gusar dan geram.
Kerena memang Zahra tidak ditemukan dimana mana. Ibu Ani heran sekali kerena mendapatkan teriakan dari Rey.
"Rey nggak mengerti apa yang kamu maksud?" tanya wanita itu.
"Mama jangan pura pura deh! Mama yang lakukan ini pada Rara dan mama jahat!" teriak rey emosi.
Ia tanpa menunggu waktu lagi langsung meninggalakan wanita itu, ibu Ani ingin rasanya menyakan semuanya tapi Rey keburu pergi lagi.
"Sebenarnya ada apa dengan Rara?" tanya ibu Ani bigung.
Ia langsung mengambil hp dan menghubungi Rara, tapi hp Zahra malah mati. Itu membuat dirinya gelisah dan cemas pada Zahra
"Aneh! Kenapa mama seperti ini?" tanya Rey di jalan ia sama sekali heran pada tingkah laku mama Zahra yang seolah oleh tidak pernah terjadi apa apa pada Zahra.
Sedangkan Zahra yang diseret oleh wwnitanitu langsung dimasukan ke mobil dibawa ke sebuah rumah megah.
"Mama? Ma Rara dibawa kemana?" tanya Zahra blank.
"Mama nggak suka ya sama ibu dan Ana, kamu lebih baik disini sama mama."
"Tapi, ma!"
__ADS_1
"Nggak kamu aman disini," sanggah ibu Ani menatap Zahra.
Zahra hanya terdiam mendengar sanggahan dari mamanya.*