
Ani hanya temanggung melihat Ayu yang meninggal akn rumah uwa Iyan sebenatnya ia datang kesini juga hanya ingin ketemu dengan Zahra bukan ketemu siap siapa, hanya ingin membawa Zahra pulang ke rumahnya kembali. Taoi malah Ayu yang diizinkan bertemu dengan Zahra itu pikiran dari Ani.
Pak Bram berusaha menarik tangan istrinya dengan. lembut dan menyuruh duduk disampingnya.
Ana juga hanya menatap kepergian ibunya, hatinya bertanya tanya kenapa uwa iyan tidak mengizinkan tante Ani. untuk. menyusul ke perbukitan, sedangkan. perbukitan itu sangat dekat.
Tapi pertanyaan itu hanya di dalam hati tidak dikeluarkan.
BRAK!
Ibu Ani memukul amben di depannya, matanya menatap wajah uwa iyan dengan. tajam, uwa iyan juga menatap wajah Ani.
"Bu, kalau anda ingin ribut di sini. lebih baik. anda dan yang lainnya pergi saja! " kata uwa iyan tegas.
"Saya lakukan ini hanya untuk kebaikan kalian, ikuti aturan saya disini! " teriak Iwa iyan marah.
Saat laki laki itu tahu kalau wanutanyangbada dihadapannya memgwbrak amben yang ia duduki.
"Saya kesini bukan ingin bicara dengan. anda, saya ingin ketemu dengan anak saya Zahra.! " sembur ibu Ani marah.
"Biarkan mereka disana dulu, dengarkan saya. Mereka bakal kesini, saya nyakin Ayu bakal mengatakan kalau ia datang bersama kalian! "
"Kalau nggak bagaiamana? " tantang Ani.
Pak Bram langsung mwnarik tangan istrinya, mwnyuruh diam.
"Papa bela dia! "
"Tante! Jaga kesopanan kalau disini! " Terima Ana tudak suka melihat ibu Ani ribut dengan. uwa iyan.
Ana yang sudah duduk di amben langsung berangkat kenteoindan berdiri dihadapan ibu Ani dengan tatapan tudak suka pada wanita itu!
"Tante, nggak dengar nya apa yang tadi Ana katakan sebelum berangkat? Tante, Ana minta kakau kita sampai di desa tante jangan bikin onar dulu. "
"Taoi tante pengen. ketemu dengan Zahra, kenapa ibu kamu diizinkan beetemu dengan Zahra sedangkan tante nggak boleh ketemu dengan Zahra? " tanya Ibu Ani teetahan.
"Tante nggak ngertinya, sebenarnya kak Zahra ke bukit itu hanya ingin mendekati tante Rani untuk bertanya bayak hal." ujar Ana.
__ADS_1
Mau tdak mau akhirnya Ana. menceeitakan tujuan Zahra sampai datang ke desa itu! Ya Ana kemarin kemarin waktu ada sinyal Zahra menelpin kenAna. mencaritakan semuanya.
Wanita itu terpurik, pak Bram teemwnung mendengarkan Ana yang bercerita tentang kedatangan Zahra punya misi tertentu.
"Bukit itu bukit kenangan anatar ibu dan wanita itu. Kenoa harus kak Zahra menjadi pendamping wanita itu kerena kak Zahra pernah mengalami apa yang sedang di alami oleh wanita itu.
Uwa iyan hanya diam. mendengarkan uraian kata kata Ana, ia tidak mwyangka gadis itu beditu dewasa sekali dan mengerti posisi Zahra saat ini.
"Apa yang dikatakan Ana benar kok! Saya tidak bisa mwnjamin kakau orang lain bisa mendampingi Rani. "
"Saya hanya mendengar apa yang Ayu pernah katakan, wanita itu nggak akan menyakiti kakakmu Anin, biarkan ia pergi! " kata uwa ihan. mengulang kata katanya pada semua orang yang ada disana..
"Tapi kenapa harus Zahra? " tanya Ani lirih mentap uwa iyan.
"Zahra bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Rani, sedangkan Ana nggak akan bisa kerena ia nggak pernah merasakan kehilangan kasih sayang ibunya."
"Zahra mendapatkan kasih sayang dari ibu yang lain, yang kehilangan anaknya. Zahra sebenarnya dalam hati kecil ia juga merindukan sosok ibu apalagi ayahnya.
Uwa Iyan menguraikan kata kata tentang Zahra dan Rani dihadapan Ani, Bram dan Ana. Wanita itu hanya diam, sebuah kehilangan, ia bisa merasakan sebuah kehilangan. Ya ia juga harus kehilangan tiga anaknya. Dan menerima satu anak dari orang lain, Ani terdiam. membisu.
"Ma, mama boleh kok khawatir sama Rara, tapi jangan seperti ini ya. Jangan berlebihan," kata Pak Bram memberikan pengertian pada istrinya.
Sebenarnya Ana akan angkat bicara tapi keduluan sama pak Bram, ia akan mengatakan senada dengan pak Bram.
"Benar tante apa yang dikatakan oleh pak Bram, tante nggak boleh khawatir sama kak zahra tapi tante nggak boleh berlebihan, ibu pernah kehilangan kak Anin juga. " akhirnya Ana angkat bicara.
"Sebenarnya saya melakukan ini karena Zahra atau Anin punya kehidupan yang sama dengan Rani. Sama sama terpisah dengan. keluarganya, mungkin Rani lebih jauh melangkah lagi dibandingkan Zahra. "
"Saya hanya ingin tahu saja apa yang pernah dialami oleh Rani, serta hubungan dengan. pembunuhan Narti. Saya lakukan itu hanya itu saja nggak berlebihan kok menurut saya. "
"Kenapa bukan orang lain, sama saja kan anda mengorbankan Zahra. Kalau dipikir pikir kamu hanya mementingkan diri kamu dibandingkan Zahra! " Terima ibu Ani gusar.
Ia sama sekali tidak setuju kalau Zahra yang harus jadi korban dari Rani, ya biarpun dalam. pengakuan nya Rani kakak kandung dirinya, tapi ia sadar biarpun Rani kakak kandung dirinya taoi kakaknya sangat benci pada orang tuanya sendiri.
Itu yang ditakutkan oleh Ani sebenarnya.
"Percayalah sama saya, saya yang akan mwnngung kalau Zahra kenapa kenpa, nyawa saya yang jadi taruhannya. " kata uwa iyan tegas.
__ADS_1
"Anda jangan berpikir buruk pada Rani, kerena Rani sebenarnya orang yang baik hanya ia ditelantarkan oleh orang lain termasuk kedua orangtuanya. " lanjut Uwa Iyan.
"Kenapa semuanya harus menyalahkan mama dan papa, mereka juga ngak tahu kalau mereka punya anak kembar. Oke! Kalau. misal tahu kemungkinan ada orang yang mengatakan bayinitu meninggal dunia.
Tegas Ani yang tidak suka pada orang yang menyalahkan orang tuanya. Ya ia pernah mendengar kabar kakau ia mempunyai kakak kembar tapi. mereka mengatakan kalau saudara kembarnya meninggal dunia saat di lahirkan.
Mama melahirkan secara cesar kerena terjatuh dari tangga, dari pada terjadi apa apa akhirnya ia di operasi dan mengeluarkan kedua bayinya di dalam kandungan. Tapi vonis dokter mengatakan salah satu bayinya meninggal.
"Tapi kenyataannya sekarang Rani muncul di hadapan anda. " sudut uwa iyan.
Sebenarnya uwa iyan juga masih samar samar tentang keluarga Rani yang membuangnya. Ya ke sebuah panti asuhan yang tidak jauh dari desa itu. Dan yang jadi pertanyaan keberadaan orang tua Rani sampai sekarang masih misteri dan. sekarang malah jadi pertanyaan panjang. Siapa keluarga Rani, apa memang berasal dari desa itu juga atau bukan?
"Tapi yang jadi pertanyaan kenapa opa dan oma menitipkan Rani ke panti asuhan dekat desa ini? kalau memang mereka bukan asal desa ini? " tanya uwa iyan pada Ani.
Ani teepekur begitu juga dengan pak Bram dan Ana.
"Saya nggak tahu opa dan oma adalah mana, tapi saya tahu asal nenek dan kakek."
"Nenek dan kakek asal dari X, saya pernah mengunjungi kesana. Sedangkan waktu saya kecil saya ke rumah opa tapi bukan dareha sini. " Ani terpancing untuk menceritakan asal usul dirinya.
"Papa, Mama! " panggil Zahra yang tiba tiba datang dan langsung memeluk tubuh mamanya.
"Kenapa papa mama nggak duduk? " tanya Zahra heran.
"Tadi ada masalah tante datang malah marah marah melihat ibu menyusul kakak ke bukit itu! " ujar Ana.
Ayu dan Rani langsung duduk di dekat uwa iyan. Sedangkan oak Bram dan ibu Ayu duduk dekat Ana dan Zahra.
"Kalian.lama amat sih disana? " ketauan Ibu Ani menatap ayu, Rani dan Zahra.
Zahra dan tiga orang itu hanya saling tatap, mereka tidak. mwyangka akan ada pertanyaan seperti itu dari ibu Ani.
"Ma!" kata Zahra.
"Nggak perlu dibahas lagi! Kalau misal ingin buat onar disini lebih baik pulang saja. Taoinsaya harap Rani dan Zahra jangan. pulang n sebelum. menyelesaikan semuanya di sini! " suara uwa Iyan lantang.
Zahra langsung melirik kearah mamanya, ia menyadari kalau kata kata uwa iyan lagi twetuju pada mamanya. Ayu pun secara diam diam menatap wajah Ani.*
__ADS_1