TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 39


__ADS_3

"Bu!" teriak Zahra saat melihat ibu Ayu yang balik kanan mau pergi.


Zahra melepaskan pelukan di tubuh Ana, Ana yang mendengar teriakan Zahra memanggil.ibunya langsung menoleh pada ibunya yang berada di belakang.


"Ibu!" ujar Ana.


Ibu Ayu langsung menghentikan gerakannya, ia menatap wajah Zahra lembut.


"Ibu ganggu kalian ya?" tanya Ibu Ayu.


"Nggak kok, ibu bawa apa itu?" tanya Zahra.


"Oya ibu bawa makanan buat nak Zahra kata Ana kemarin nak Zahra ingin sekali makan masakan ibu?" ujar Ibu Ayu memperlihatkan bawaannya.


Wanita itu langsung menghampiri Zahra dan Ana, ketiga wanita itu tersenyum bahagia sekali.


"Wah ada Pete, aku suka banget sama Pete," sorak Zahra.


Ya biarpun makanan sederhana yang dibuat oleh ibu Ayu, tapi makanan itu kesukaan Zahra semuanya.


Di balik jendela dua pasang suami istri melihat adegan anatar Ibu Ayu dan Zahra begitu akrabnya membuat hati ibu Ani terasa perih sekali saat melihat ibu Ayu begitu dekat dengan putrinya seperti tidak ada jarak sama sekali.


"Pa" lirih ibu Ani merengek.


"Nggak apa apa, Ma yang penting Zahra bahagia," ujar pak Bram.


Pria itu berusaha menenangkan hati istrinya. Ia tidak ingin kalau kebahagiaan Zahra bakal terusik kerena istrinya.


"Kita lihat sja, papa nyakin kok ibu Ayu nggak akan mencelakakan Zahra, ia kan punya anak." ucap pak Bram.


"Pa, aku takut kaku Zahra,"


"Zahra milik kita Bu, Zahra nggak akan meninggalkan kita untuk selamanya,"


"Kalau Zahra kembali kepada ibunya? Dan melupakan kita?" cerca ibu Ani.


"Nggak bakal, Zahra milik kita Bu, hanya kita yang bisa memilikinya."


Ibu Ani benar benar ketakutan sekali, saat ia melihat ibu Ayu menutupi Zahra dan Ana bergantian. Ia begitu perih saat melihat semuanya, tanpa menunggu lama lagi ia langsung keluar ke teras perpustakaan.


"Zahra, mama saja yang suapi kamu ya, Kam kamu kan anak mama," kata ibu aAni.mwminta lada Ayu..


Zahra hanya memandangi wajah ibu Ayu dan melihat wajah mamanya dengan tajamnya?

__ADS_1


"Ayo kesini kita makan bersama," sambut ibu Ayu ramah.


Ibu Ani hanya mengangguk saja, melihat sopan santun ibu Ayu, timbul rasa segan dihati ibu Ani.


"Ibu bahagia sekali melihat ibu menyuapi Ana, Ra mama juga menyuapi kamu.makan.ya," pinta ini Ani memohon.


Zahra mengangguk.


Ibu Ani melakukan itu hanya bisa menahan perasannya, ia ia tahu kalau wanita yang ada dihadapannya adalah wanita dimana mempunyai anak bernama Anin dsn sampai sekarang mencari putrinya..


"Ma, jangan egois, bagaiamanapun juga Anin memilih ibunya.


"Pa, jangan sebut nama itu dihadapan ku.lagi! Nama itu sudah mati, nggak akan kembali lagi!"


"Ma, sadar apa yang yang kau ucapkan itu, Anin kembali pada.keluarganya."


"Nggak jangan sebut mana itu lagi, aku benci nama itu aku benci nama itu!"


"Pa, jangan seperti ini, ikhlaskan saja!"


"Pa, aku nggak kan pernah memberikan anakku, dia anakku bukan anak wanita itu!" jerit nya histeris.


Sang suami hanya bisa merangkul tubuhnya saja, ia tidak menyangka kalau wanita yang ia sayangi masih terbayang tentang anaknya, anak yang telah lama pergi dan istrinya belum pernah melepaskannya sampai sekarang juga..


Kejadian yang terulang kembali, ya tadi malam anak nya meminta izin pergi ke rumah wanita itu! istrinya baru menyadari kalau putrinya menghilang, istrinya.mwbgamuk dan kalang kabut mencari putrinya.


Setelah dijelaskan baru, sang istri menyadari dsn berhenti menangis. Ya sejak putrinya pergi ke desa itu sang istri kadang suka emosinya tidak labil.


Dan siang itu! ibu Ani melihat semua adegan yang begitu membuat hatinya teriris saat tahu kalau wanita yang ada di hadapannya adalah wanita dari putrinya.


"Nak Zahra anak yang baik, pasti bangga nak Zahra bangga punya ibu seperti ibu.." puji Ibu Ayu.


"Zahra bangga pada ibu juga kok! Ibu begitu ikhlas mengurus Ana sendirian, Zahra kagum dsn salut sama ibu," senyum Zahra membalas pujian Ibu Ayu.


"Ah! Masa nak Zahra bangga pada ibu, apa yang kamu banggakan sama ibu nak?" tanya wanita sederhana itu tanpa berkedip..


"Ibu wanita kuat, melahirkan anak anak yang kuat. Ibu juga sumber kekuatan bagi anak anak ibu, Zahra bangga lihat ibu." ucap Zahra tulus.


"Mendengar kat kata, Zahra seperti itu membuat ibu Ani tidak ceria. Zahra menangkapnya dengan mata.


"Zahra juga bangga kok sama mama, mama lah wanita yang selalu berada di samping Zahra, selalu bahagiakan Zahra." lanjut Zahra tersenyum menggodanya.


Mendengar godaan Zahra ibu Ani langsung memeluk tubuh Zahra, dalam hatinya ia hanya ingin memiliki Zahra secara utuh saja..Pak Bram yang melihat itu langsung menghampiri mereka.yang sedang berkumpul.

__ADS_1


"Papa bahagia melihat kalian bahagia seperti ini, semoga kita jangan terpisah ya," pinta pak Bram pada istri dan anaknya Zahra.


"Kalian keluarga yang lengkap, nggak seperti aku yang harus kehilangan kakak dan ayah." keluh Ana.


Ia sangat iri pada keluarga Zahra yang lengkap, sedangkan keluarganya hanya dirinya dan ibu saja.


"Jangan bilang begitu dek, keluarga kakak juga keluarga kamu dek," kata Zahra.


"Dek Ayu, dek Ayu gawat! gawat!" uwa Iyan berlarian menyongsong Ibu Ayu.


Semua orang yang ada di teras perpustakaan langsung melihat apa yang terjadi, uwa Iyan langsung menuju Perpustakaan dan berteriak gawat segala..


"Uwa ada apa?" tanya Ana


"Gawat! Gawat! Gawat!" ujarnya sambil mengatur nafas yang naik turun akibat berlari ia kencang..


"Kang Darman! Kang Darman!" mengamuk gara gara mendengar kabar burung kalau Anin bakal sampai ke rumah ini!" dengan lancar uwa Iyan berkata.


"Kata siapa? Jangan ngawur!"


"Ya Anin katanya bakal pulang dan menuntut balas kematian ayahnya, kang Darman sekarang sedang berada di rumahmu merusak segala yang ada di rumahmu itu!" cerita Uya Iyan..


"Kak Anin datang? uwa kata siapa?" tanya Ana heran.


Baru kali ini kabar terdengar kalau Anin bakal datang ke desa ini, sebenarnya kabar itu membuat hati Ana riang sekali kerena ia bisa bercanda kembali dengan kakaknya.


Zahra hanya terdiam, ia hanya melirik wajah pak Bram, pria itu hanya bisa mengelus tangan Zahra dengan lembut sekali..


"Memangnya sudah datang ya pak, Anin nya? Sampai pak Daraman seperti nya mendengar nama Anin bakal kembali lagi," kata Zahra agak sinis pada Darman..


"Mungkin ia merasa bersalah nak," jawab uwa Iyan.


"Kalau memang ia salah kenapa nggak melaporkan semua kebenaran yang ada," gemas Zahra pada Darman.


Ya ia juga heran sudah beberapa kali Darman melakukan seperti itu, kalau memang ia menyadari seharusnya Darman menyerahkan ke polisi saja, polisi juga kalau tahu tidak akan main tangkap saja ada prosesnya kembali.


"Uwa, apa.yang dikatakan kak Zahra memang benar jga sih! Seharusnya uwa Daraman mendatangi kantor polisi!" sambut Ana antusias.


"Ana! jangan bilang begitu nggak ada bukti yang kuat, Kalau sampai salah kita kita yang bakal di penjara," ibu Ayu angkat bicara.


"Tapi kan memang benar uwa Darman yang melakukannya, hanya ia pura pura tidak tahu saja. Fix sebenarnya itu uwa Daraman salah!" cerocos Ana gemas.


Zahra langsung diam, mendengarkan apa yang dikatakan ibu Ayu pada dirinya dan Ana. Ya mereka hanya butuh bukti yang cukup saja.*

__ADS_1


__ADS_2