TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 27


__ADS_3

Di kebun yang tidak jauh dari pemukiman penduduk dua.laki.laki sedang duduk berdua melepas lelah, angin sepoi sepoi mengelus lembut kedua tubuh itu. Keringat yang tadinya bercucuran kini lenyap tanpa bekas sama sekali.


Kedua laki laki yang berada di kebun itu Darman dan Tio yang sedang melepas lelah kerena mereka sedang membersihkan rumput rumput yang tumbuh liar disana.


Mereka duduk sambil bersantai, di depan mereka tersedia kopi hitam dan singkong bakar hasil dari kebun serta jagung bakar. Itu makanan yang mereka makan.


"Tio aku harapkan semuanya baik baik saja!" gelegar suara Darman menatap wajah Tio..


"Baik kang, aku nggak bakal bicara sama siapapun kasus itu!" Tio sangat ketakutan sekali.


"Kalau sampai kamu berkicau dam siapapun, leher kamu yang bakal jadi korbannya!" ancam Darman mendelik.


"Baik kang. Terus kita harus lakukan apa lagi siapa kang Hamdi masuk penjara?" tanya Tio takut takut.


"Kita atur siasat kembali, seolah oleh ia yang melakukannya."


"Siasat apa kang?" tanya Tio penasaran.


"Kamu tahu kan tanah yang aku miliki adalah hak dari Hamdi, aku takut ia kembali menguasainya," Darman membuka suara kembali.


"Aku takut kalau sampai Hamdi bakal merebutnya kembali, aku nggak ikhlas kalau itu sampai terjadi!" Dengus Darman.


"Aku berharap polisi yang menangani kasus ini dapat memenjarakan dirinya kembali!" lanjutnya.


"Terus kalau begitu kita harus bagaimana? Aku juga nggak mau kalau.itu Samapi terjadi?" ujar Tio.


Kerena sadar tidak sadar ia juga terseret dalam kasus menyembunyikan buronan.


"Gampang!"


"Anin! Kamu.lagi apa?" tanya Uwa Iyan menatap Anin yang tidak jauh dari kedua orang itu!


Darman dan Tio saling tatap satu sama lain.


"Kang!" bisik Tio agak pucat.


Darman mengangkat tangan. Ia melihat kecemasan di wajah Tio, tapi Darman hanya menganggap biasa saja.


Anin tersenyum. Ya hari itu Anin ikut uwa Iyan ke kebun. Kebun Darman dan kebun uwa Iyan saling dekat satu sama lainnya.


Uwa Iyan kehilangan Anin dsn mencari bocah itu, tapi bocah itu sedang mencari bunga yang ada di kebun Darman. Anin menatap wajah Darman lembut.


"Uwa, aku petik bunga ini ya!" ujarnya riang.


Bocah itu sebenarnya dari sejak tadi mendengarkan pembicaraan Tio dan Darman, ia hanya diam saja tidak komen atau melakukan apapun juga.


Hatinya yang lembut dan halus benar benar tersakiti oleh kata kata Darman tentang ayahnya, dan ia juga tidak menyangka kalau ayahnya lah yang jadi korban.


'Aku harus menolong ayah!" bisik hatinya rapuh.


"Petik bunga jangan jauh jauh!" ujar uwa Iyan.

__ADS_1


"Uwa disini aja, Anin suka bunga ini," pinta bocah itu.


"Mau hujan lebih baik kita pulang."


Anin mengangguk. Sekali.lagi.ia melihat Darman dan Tio, setelah itu bocah kecil langsung meninggalakan tempat itu!


"Kang bagaiamana?"


"Nggak bahaya, cuma bocah kecil ingusan lagi!" ejek Darman tenang.


Ya ia bersikap tenang kerena tidak mungkin anak seumuran itu dapat membela ayahnya. Apalagi untuk sekarang.


Darman menasehati Tio supaya bersikap tenang dsn jangan terpengaruh oleh keadaan apalagi kata katanya di dengar anak kecil yang belum merasakan bangku sekolah..


Sedangkan Anin yang pulang hanya memendam perasaannya saja. Banyak pertanyaan yang tidak bisa ia katakan dihadapan uwa Iyan.


'Aku masih kecil,' ujarnya pahit.


Sampai di rumah, ia langsung menuju ke dalam rumah. Di ruang keluarga ia melihat Ana sedang bermain sendirian, batita itu tersenyum manis melihat kedatangan kakaknya.


"Kak!" celotehnya.


"Ade!"


Ana hanya tersenyum.


"Ade, uwa Darman jahat sama ayah, ayo kita cepat besar. Biar bisa bantu ayah," Anin pilu.


Ana hanya merespon itu. Anin langsung memeluk tubuh Ana, seperti ingin mencurahkan hatinya pada Ana tapi batita itu tidak mau di peluk, ia dengan lincahnya malah memukul Anin sambil tertawa.


Anin diam saja. Kecamuk hati kecilnya bertanya tanya yangbtidak ada ujungnya sama sekali.


"De, ayah nggak salah de, kenapa harus di penjara!"


"Main kak, main,"


"Kakak nggak mau main, kakak hanya ingin memenjarakan uwa Darman!"


"Nih!" ujar Ana sambil memberikan boneka.


Ana tidak mengerti apa yang diucapkan oleh kakaknya. Ia hanya menyangka kalau kakaknya mengajak bermain, dsn ia memberikan boneka. Tapi Anin menyimpan boneka itu, tapi Ana memberikan boneka berkali kali sambil tersenyum.


"Ade, uwa Darman jahat! Jahat SMA ayah, jahat sama kita, kakak juga nggak ngerti kenapa uwa Darman jahat." kata Anin seperti mengungkapkan hatinya lada sang adik.


Tapi adiknya hanya diam dan malah mengajak main.


"Kalian disini?" tanya Ayu menatap.kedua putrinya.


"Aku ketemu uwa Darman di kebun! uwa Darman jahat! Mau masukin ayah ke penjara lagi!" ujar Anin polos sambil menatap wajah Ayu.


Deg!

__ADS_1


Hati Ayu berdenyut perih, mendengarkan apa yang terucap di mulut Anin.


"Anin jangan bicara begitu!' tegas ayu membalas tatapan mata Anin.


"Iya Bu, aku tadi dengar pembicaraan mereka?" kata Anin.


"Ayu langsung duduk disamping Anin. Ia meraih tangan Ayu dengan lembutnya ditatap mata Anin lembut, bocah itu membalas tatapan ibunya kembali.


"Anin kata siapa?"


"Aku ketemu di kebun!" ulang bocah itu.


"Anin ketemu langsung?" tanya Ayu.


"Iya, uwa Darman ketemu sama mang Tio,"


Deg!


Hati Ayu berdetak. Tio adalah orang kepercayaan dari Darman, tiba tiba wanita itu merasakan sesuatu yang menjalar dalam hatinya. Dan ia menyangka kalau Tio adalah orang yang memiliki hubungan yang istimewa dengan Darman Samapi mereka bicara masalah ayah anak anak.


"Uwa Darman nggak mau ia di penjara, katanya ia bakal memasukan ayah ke penjara Bu," ujar polos Anin.


"Kamu mendengarkan?"


"Iya, uwa Darman bilang itu! Aku takut Bu kalau uwa Darman jahat sama kita. Jahat sama Anin, jahat sama Ana dan jahat sama siapa saja."


Ayu hanya termenung mendengarkan apa yang diucapkan oleh Anin. Ia mau menampik kata-kata dari Anin, tapi ia nyakin kalau bocah itu masih murni dan tidak mungkin ia mengarang cerita.


"Kamu mendengarkan semuanya?"


Anin mengelengkan kepalnya.


"Uwa Iyan ngajak Anin pulang, jadi Anin nggak tahu kelanjutan cerita itu!" sendu gadis itu.


Ayu langsung memeluk tubuh Anin, ia mendekap tubuh Anin. Dalam hatinya hancur mendengar apa yang putrinya katakan, putrinya harus merasakan apa.yabg ia rasakan. Ya seharusnya Anin tidak tahu saja masalah ini tapi kenyataannya tidak sama sekali.


Ayu langsung mengusap pipinya yang tiba tiba mengalir cairan bening yang hampir jatuh, ia tidak mau kalau Anin tahu dirinya menangis.


"Anin jangan bicara itu lagi ya sayang,"


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan dulu, ini sayang Anin.


Ayu takut kalau apa yang dikatakan suaminya benar benar terjadi, kalau Anin mengungkapkan kebenaran ini.


"Bu, kamu harus percaya suatu nanti Anin bakal mengungkapkan kebenaran yang ada." ungkap Hamdi.


"Anin bakal tahu semuanya, ia anak pintar dan cerdas." lanjut Hamdi.


"Jangan sia sia kan kecerdasan Anin! Aku ingin sekali melihat Anin sekolah, jadi orang yang lurus."

__ADS_1


Ayu hanya diam saja mendengarkan apa yang suaminya katakan, ia hanya bisa termangu saja.*


__ADS_2