
"Kang saya lebih baik panggil warga lebih enak kalau ada apa apa nya." mang Tio pamit pada Hamdi.
Hamdi tidak curiga apapun ia mengangguk, kerena apa yang dikatakan oleh Tio bakal menjadi penolong bagi dirinya kalau misalnya terjadi apa apa.
Hamdi langsung melangsungkan perjalanan menuju kebun pak Rohman, yang sebenarnya kebun itu adalah kebun yang di jual oleh Darman pada pak Rohman. Tapi itu tidak dijadikan permasalahan buat dirinya, kerena bagaimanapun Darman adalah kakak dirinya.
"Kang Darman!" teriak Hamdi terbelalak matanya saat ia melihat secara langsung kakaknya.
Darman yang tidak menyangka kalau adiknya bakal datang shock kerena dihadapannya terlihat Hamdi menatap dengan wajah yang tajam sekali.
Hamdi terkejut kerena Darman dengan tega membunuh pemilik tanah itu yaitu pak Rohman yang telah terkapar lehernya hampir putus. tubuh pak Rohman merenggang nyawa malam itu juga!
"Kang kamu harus bertanggungjawab kan semuanya!" kata Hamdi.
"Apa mempertangungjawabkan semuanya, nggak bakal itu nggak bakal terjadi!" tawa Darman renyah.
"Kamu kamu lah yang harus mempertanggungjawabkan semuanya ini, bukan aku!" teriak Darman sinis..
Laki laki itu dengan secepat kilat memberikan pisau yang dipengang oleh tanganya. Awalnya Hamdi menolak tapi Darman berhasil menyentuh tangan Hamdi dsn memengang kan pisau itu ke tangan Hamdi.
Sampai Hamdi pun memegang pisau itu! pisau yang telah berlumuran darah. Sedangkan Darman sebenarnya mengunakan sarung tangan untuk proses pembunuhan jadi sidik jari yang tertera di kasus pembunuhan adalah Hamdan..
Belum sempat Hamdi menelan diri, beberapa warga datang dan melihat apa yang terjadi. Dan salah satu warga tanpa bertanya lagi langsung menghajar Hamdi dengan ganasnya.
"Tangkap dan bawa ke balai desa, saya menemukan dia yang memenuhi Rohman!" tuduh Darman dengan mata berkilat.
"Nggak saya nggak melakukan apa pun juga!" teriak Hamdi berontak.
Ditatap wajah kakaknya ia hanya ingin kakaknya jujur, tapi Darman tidak jujur ia hany ingin adiknya mendekam di penjara. Malam itu! Hamdi digiring ke kantor desa, sampai di desa semuanya heboh mendengar nama Hamdi sebagai pembunuh dari Rohman. Jasad Rohman pun di kuburkan malam itu, sedangkan Hamdi malah mendekap di kantor desa.
Di rumah!
Anin terbangun, ia mencari ayahnya..
"Ayah!"
"Ayah!
Ayu terbangun mendengar Anin yang memanggil nama ayahnya. Wanita itu juga ikut bangun dan menghampiri gadis kecil itu..
Tapi sebelum Ayu menghampiri Anin, terdengar pintu digedor dengan kerasnya. Ayu langsung membuka pintu terlihat uwa Iyan berdiri di ambang pintu dengan tubuh bergemetar.
__ADS_1
"Dek, kita sekarang ke kantor desa Jang Hamdi suami mu ada di sana." gugup Uwa Iyan.
"Ada paa kang,? Kenapa dengan kang Hamdi?"
"Menurut orang kang Hamdi membunuh orang!" ujar kang Iyan jujur..
"Apa? Nggak nggak mungkin ayah anak anak melakuakan itu kang! Itu fitnah!" terima Ayu shock.
Tubuh Ayu langsung limbung, ia tidak menyangka kalau suami nya melakukan itu. Untung uwa Iyan langsung dengan cepat memengang tubuh Ayu kalau tidak bisa fatal.
"Ibu, ayah kenapa? Aku pengen ketemu ayah!" ujarnya polos.
Anin yang tadi berada di kamar langsung menghampiri ibunya yang sedang menerima tamu. Ditatap wajah uwa Iyan dan ibunya dengan tajam.
Ayu menatap putrinya, ia tidak bisa mengatakan apa apa pada bocah itu, terlalu kecil untuk tahu urusan orang dewasa.
"Nggak apa apa kok! Kamu sama uwa Iyan saja ya, ibu mau ke bale desa." kata ayu melihat matanya Anin.
Anin yang kenal dengan uwa Iyan hanya mengangguk. Ya ia sering sekali tidur di rumah uwa Iyan, hanya malam ini Anin tidur di rumahnya kerena ada ayahnya saja. Tapi malam ini bocah 5 tahun itu kaget waktu bangun ayahnya tidak disampingnya.
Ayu melirik uwa Iyan, laki laki itu hanya mengangguk. Ia melihat kepergian ayu ke bale desa, sedangkan Anin bersamanya..
"Ayah dimana uwa, boleh Anin ketemu ayah?" kata Anin menatap wajah uwa Iyan..
Pria yang belum memiliki anak itu langsung memeluk tubuh kecil Anin, ia begitu sayang lada Anin kerena Anin lah yang selalu menemani dirinya dan istri di rumah.
Setelah menitipkan Anin ke uwa Iyan, Ayu langsung menuju bale desa yang tidak jauh dari rumahnya. Di bale desa sudah ramai dengan orang orang yang berkerumun di luaran, Ayu langsung meminta izin untuk masuk bela desa, semua orang disana menatap dengan pandangan benci.
"Kang ada apa?" tanya Ayu menghampiri Hamdi yang duduk terikat dipojok.
Ayu sudah tahu sebab suamianya di ikat, tapi ia pura pura saja tidak tahu.
"Aku di fitnah Bu, kamu jaga anak anak kita ya Bu, mungkin.."
"Ya, aku nggak nyangka kalau suami mu melakukan kesalahan seperti ini!" suara sinis Darman terdengar.
"Aku tahu kalau suamiku nggak akan melakukan itu!" teriak Ayu menatap wajah Darman.
Tatapan mata Ayu bagaikan menguliti semua tubuh Darman. Pria itu sebenarnya gugup di tatap Seperi itu oleh adik iparnya tapi kerena banyak orang jadi ia berusaha sekuat tenaga untuk bertahan supaya tidak gugup.
"Jangan bela dirinya!"
__ADS_1
"Jangan jangan kamu yang melakukannya!" geram Ayu.
"Bangsat!
"Bu, sudahlah!" seru Hamdi mengingatkan ayu.
Akhirnya Ayu diam saja.
Darman menatap sinis pada Ayu, hatinya sangat puas sekali melihat keluarga adiknya terpuruk.
"Uwa jahat! uwa jahat apa yang uwa lakukan dengan ayah Anin!" seru bocah kecil yang tiba tiba datang ke bale desa.
Anin dengan tangan mungilnya langsung memukul Darman.
Darman yang tidak menyangka kalau ada bocah kecil yang ikut campur tanpa menunggu lama lagi laki laki itu mendorong tubuh kecil itu sampai terjatuh. Ayu yang melihat Anin langsung membiru tubuh kecil itu. Dipeluknya Anin dengan penuh kasih sayang.
"Uwa jahat!" tangisnya sambil memeluk tubuh ibunya.
"Kang!" teriak Hamdi menatap kakaknya.
"Apa kamu nggak suka? Ku cincang dia kalau ikut campur!"
Anin ketakutan memeluk tubuh ibunya dengan eratnya. Gadis itu tidak berani menatap uwa nya, tubuh kecilnya ketakutan mendengar suara Darman yang menurutnya mengelengkan.
"Bu, bawa pulang! Jangan sampai Anin melihat apa yang terjadi." ujar Hamdi..
"Ayah! Aku ingin menemani ayah disini!" Anin yang akan diajak oleh Ayu pergi menolak, ia langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat nya.
"Anin, ayo kita pulang! Kasihan ade kamu sendirian," kata Ayu memengang tangan Anin yang merangkul tubuh ayah ya.
"Nggak! Aku nggak mau pulang, ibu aja yang pulang aku ingin sama ayah! Ade ada dengan uwa Iyan," Anin menepiskan tangan ibunya, ia mengatakan kalau adiknya bersama uwa Iyan di rumah.
"Ayah pulang! Aku ingin bareng ayah," Anin masih memeluk tubuh ayah nya dengan erat sekali.
"Anin, nurut ya sama ayah. Sekarang Anin pulang bareng ibu nanti ayah pulang disini ayah banyak urusan," kata Hamdi memohon pada Anin.
Anin mengelengkan kepala."Aku nggak mau, kenapa ayah diikat seperti itu?" tanya bocah itu.
"Ayah diikat kerena mau petak umpet sama uwa Darman." dusta Hamdi.
Anin mengangguk."Tapi ayah janji cerita lagi tentang nabi Musa," pinta Anin.
__ADS_1
"Iya sayang."
Biarpun masih ada pertanyaan dihatinya, Anin akhirnya gadis kecil itu pulang bersama ibunya. Sang ibu hanya bisa mengeluarkan cairan bening di mata nya, memikirkan nasib yang bakal terjadi di masa depan.*