
Rani yang dipikirkan oleh Zahra sebenarnya ada di sana. Tapi ia mengunakan tutup wajah supaya orang orang yang disana tidak melihat dirinya secara langsung. Ia melakukan itu kerena banyak orang yang kenal dengan wajah nya apa lagi poster poster wajahnya dijadikan baliho oleh Zahra.
Mungkin kalau ia tidak menyembunyikan wajahnya, ia bakal ketahuan begitu saja oleh orang orang yang ada disana, itu yang ia takutkan sebenarnya ketahuan oleh orang lain maupun oleh semuanya termasuk Zahra dan keluarganya.
Masih untung kalau mereka mendengarkan penjelasan yang ia kemukan kalau tidak bisa bisa ia sendiri yang kena getahnya. Dari pada terjadi sesuatu lebih baik ia mengunakan tutup kepala saja untuk mencari aman ya sementara saja sih!
Ada geram di wajahnya dan tangannya mengepal saat melihat banyak poster yang ada gambar dirinya di tamat itu, apalgi saat ia juga melihat adegan yang diperagakan oleh Darman tentang pembunuhan pak Rohman.
"Uwa Rani memangnya nggak kesini ya? " tanya gadis itu pada diri.
Matanya mencari cari kesana kemari melihat kerumunan orang orang yang melihat adegan ulang, wanita yang dicarinya sebenarnya ada di kerumunan itu.
"Kenapa kakak tanyakan itu? " jawab ketus Ana yang berada disampingnya.
"Apa kakak mengharapkan dia datang ke sini?" tanya Ana menyambung perkataannya.
"Bukan, kalau misal ia ke sini bisakan melihat apa yang diperagakan oleh uwa Darman dan semoga saja hatinya luluh oleh semuanya. " dengus Zahra.
Sejujurnya Zahra hanya ingin kalau Rani menyadari apa yang dilakukan olehnya pada ayah dan yang lainnya. Tapi mungkin wanita itu tidak pernah berpikir apapun juga.
"Kamu sabar ya, mama nyakin kalau uwa Rani suatu waktu nanti menyadari semuanya," kata Ibu Ani.
"Wanita kaya gitu jangan mudah di percaya deh! " sanggah Ana.
Perasan Ana dan Zahra untuk saat ini sangat berbeda jauh sekali. Kalau Ana sinis pada Rani, kerena gadis itu beranggapan kalau Rani tidak bakal berubah sampai kapanpun tidak seperti uwa Darman.
Sedangkan kalau Zahra, ia malah mengharapkan Rani berubah dan menjadi baik lagi. Apa yang dirasakan oleh Zahra di rasakan oleh ibu Ani dan Ayu, ketiga orang ini inilah yang menginginkan Rani berubah seperti dulu lagi.
"Rani orang baik, tapi banyak kebaikan dirinya nggak pernah dihargai oleh semua orang. Jadi Rani seperti ini, kasihan Rani. " kata ibu Ayu pada Zahra yang masih teringat oleh gadis itu
"Mungkin penyebab Rani seperti itu salah satunya mungkin ibu dan ayah yang nggak kwenah menganggapnya ada di rumah itu, sedangkan beliau selalu menganggap ini ada." kata ibu Ayu.
__ADS_1
Wanita itu masih mengingat bagaimana perilaku ibu mertuanya pada Rani, ditambah lagi hubungan mereka juga ditentang oleh mertuanya. Tapi disisi lain ibu Ayu juga bersyukur karena mertuanya tidak mengizinkan mereka menikah. Hanya penyampaian saja yang terkesan salah itu menurut Ayu.
Ibu Ani dan Zahra hanya diam seketika juga. Kalau di telaah lagi memang sih ibu mertua dari ibu Ayu kemungkinan tidak. Pernah menyampaikan kalau mereka berdua adik dan kakak.
"Mungkin kalau uwa Rani tahu dirinya adiknya uwa Darman nggak mungkin sih ia marah dan sampai melakukan hal yang tidak pernah dipikirkan orang, "
"Uwa Darman juga salah juga, sudah menikah dan ibunya anak tapi masih tetap mengikuti apa yang Rani katakan. " lanjut ibu Ani.
Ya memang Zahra sama sekali tidak melihat Rani. Sedangkan wanita itu melihat Zahra dengan jelas sekali, kerena Zahra berada di tempat yang tidak dipenuhi oleh ribuan orang sedangkan dirinya? Jadi wajar kalau misal Zahra tidak melihat Rani.
"Kak, kakak masih ingat dirinya? " tanya Ana mendengar gumaman dari Zahra.
Ana sepertinya benci mendengar nama Rani di sebutkan oleh Zahra. Gadis itu yang mendengarkan apa yang di katakan hanya menghela nafas panjang tidak nyangka kalau kata lirihnya di dengar oleh Ana.
"Iya de kakakenhingat nya, kalau saja uwa Rani disini. "
Ana menghela nafas panjang.
Biarpun di depan persidangan tapi Rani berusaha menahan marah, emosi, benci melihat semuanya yang di peragakan oleh Darman. Kalau saja tidak banyak orang mungkin ia bakal menyerang Darman dan yang lainnya tapi ia tidak melakukannya kerena ia sadar bakal terjadi keributan apalagi banyak laut anak manusia yang melihat adegan reka ulang itu.
Rani secara diam diam langsung meninggal akan tempat itu dengan perasaan yang tidak dapat dilukiskan sama sekali, apalagi reka adegan itu benar benar hidup seperti apa yang terjadi apalagi kalau misal reka adegan di tempat dimana pak Rohman meninggal.
Di tambah lagi dialog dialog antara Darman dan Rani di reka ulang itu sama dengan kejadian telah lampau, semua yang melihat adegan itu hanya bisa mwngewrutu atas apa yang twrjadi.
Disaat pwmbunihan pak Hamdi, Zahra selaku saksi pembunuhan itu juga terjun langsung mencari orang yang tepat menjadi dirinya ketika ketika kejadian itu terjadi.
Dan Zahra merasa puas sekali kerena reka ulang yang dilakukan oleh bocah 6 tahun sebagai pengganti dirinya menguasai adegan yang diperankan nya.
"Kak, apa yang dilakukan sama bocah itu sama dengan apa yang dilakukan kakak? " tanya Ana.
"Iya, kakak juga nggak tahu kenapa bocah itu menguassi begitu saja." senyum Zahra terharu.
__ADS_1
"Kakak masih mengingat semuanya, aku salut sama kakak," kata Ana memuji Zahra.
"Nggak juga semuanya atas dukungan uwa iyan dan mbok inem juga. "
Sedangkan Rani yang berada di kerumunan langsung keluar dari kerumuna itu dan meninggal akan ribuan manusia nyang melihat nya. Ia benar benar geram dan kesal sekali.
"Mama Rani! " Rey berteriak.
Pria yang tidak pernah kelihatan selama ini tiba tiba muncul begitu saja mengangetkan Rani yang telah berusaha menghindar dengan menggunakan topi, dan masker. Tapi Rey mengenalnya.
"Rey! Kamu mengapa di sini? " tanya Rani.
Wanita itu terkejut sekali kerena Rey bisa mengenali wajahnya yang tertutup dengan topi dan masker.
"Seharusnya Rey yang bertanya kenapa mama disini? Seharusnya mama juga berada di dekat uwa Darman? " tanya Rani.
Rey masih tetap memanggil nama Rani dengan sebutan mama, Rani membiarkan pria muda itu menyebut dirinya mama juga.
"Uwa, Rey sudah tahun semuanya dari Anin kalau uwa juga terlibat dalam masalah pembunuhan pak Rohman lalu sekarang uwa mau kemana?" kejar Rey tajam.
Pria itu sebenarnya kesini juga hanya ingin meringkus Rani, karena biarpun ia tidak disisi Zahra kerena melanjutkan kuliah tapi komunikasi antara Zahra dan keluarganya tidak pernah terputus begitu saja.
"Apa yang kamu inginkan? " tanya Rani tidak gentar.
"Seharusnya mama ikuti apa yang uwa Darman katakan, sebelum terlambat! "
"Buat apa? Buat masuk penjara?"
"Mama nggak bakalan lakukan ini Rey, kamu perlu tahu mama nggak bakal melakukan ini!" Teriak Rani.
Wanita itu berteriak di tempat yang sepi kerena Rani sengaja menarik tangan Rey ke tempat tidak banyak manusia, ia hanya takut kalau mereka bicara di kerumuan orang pasti mengundang kecurigaan pada semua orang, Jadi Rani sebelum bicara banyak telah menarik tangan Rey terlebih dulu. Mencari tempat yang benar benar hanya untuk mereka berdua saja.*
__ADS_1