TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 147


__ADS_3

Jam 10.00 Zahra menuju rumah Dio kerena ia penasaran dengan wanita yang datang ke rumahnya beberapa minggu yang lalu. 


"Sudah lebih baik kamu datangi rumah Dio, papa lihat wajahnya memang ingin ketemu dengan kamu. " Kata pak Bram ketika melihat Zahra sedang membaca koran. 


"Dio yang telah menceritakan tentang dirimu padanya, papa nyakin kalau ia memang ingin ketemu denganmu. " Lanjut pak Bram duduk di samping Zahra. 


"Iya pa, Rara bakal datang ke rumah Dio, mungkin jam 10.00 Rara kesananya." 


Pas pukul 10.00 gadia itu! Meninggalkan rumahnya untuk bertemu dengan ibu Nining yang diceritakan oleh papanya. Ia juga penasaran pada wanita yang diceritakan oleh papanya. 


Zahra merasa senang sekali bisa bertemu dengan ibu Mirna, yang menceritakan semua kisah tentang pembunuhan yang terjadi pada pak Rohman. Bukan ia senang mendengar pak Rohman suami dari ibu Mirna meninggal tapi ia telah menemukan fakta baru twntang kematian ayahnya. 


Ya ayahnya yang seharusnya masih hidup kini telah meninggaal, dan kerena meninggalnya ia juga meninggalkan desa itu bersama dengan luka hatinya. 


Waktu datang ke rumah tiba tiba ia melihat wanita yang kena gampar dari laki laki ya kita kita 20 tahunan. 


"Hai! " Teriak Zahra langsung menghalangi wanita itu supaya tidak kena pukul lagi. 


"Kamu itu apa apaan? Sama orangtua jangan singgung! " Bentak Zahra emosi. 


Dengan cepat Zahra langsung mendorong tubuh cowok itu kasar. 


"He! Jadi cewek itu lembut bukan kasar! " Sembur cowok itu. 


"Sudah non sudah, saya yang salah! " Kata wanita itu sambil menarik tangan Zahra dengan kuatnya. 


"Ngak, dia sudah keterlaluan sama ibu, seharusnya ia yang minta maaf! " 


"Enak saja! Dia yang teledor masa bawa minuman saja harus jatuh! " Hardik cowok itu. 


"Kamu sadar nggak seharusnya kamu yang mengambil sendiri! " Teriak Zahra tidak suka. 


"Apa? Mengambil sendiri? Dia pembantu disini seharusnya dia yang melayani aku! " Congkak nya. 


"What? Lalu kamu bisa bayar dia berapa? Jangan bisa merendahkan orang! " Hardik Zahra emosi. 


"Sudah non saya yang salah, maafkan saya den saya yang salah! " kata wanita itu. 


"Jangan takut bu, dia juga bukan pemilik rumah ini belagu! " Ketus Zahra. 


"Kamu kesini mau apa? Cari onar atau cari sensasi! " Teriak seseorang mendorong tubuh zahra dengan kasarnya. 


Tapi Zahra langsung menepiskan tangan cowok itu dengan cepatnya, jadi cowok itu tidak bisa mendorong tubuh zahra. 


"Kamu siapa main dorong saja! " Teriak zahra menatap pada pria yang ada dihadapannya. 


"He! Kamu. Mau ngapain? Mau menyorobot saja! " Sembur pria muda itu. 


"Ini rumah Dio kan? Aku mau ketemu Dio bukan ketemu sama kamu! " Ketus Zahra. 


Zahra menarik tangan wanita itu supaya meninggalkannya. Tapi cowok itu tidak membiarkan Zahra untuk pergi dari tempat itu, ia dengan cepat langsung meraih tangan Zahra. 


"Lepaskan! " Teriak nya sambil menepiskan tangan cowok itu. 


"Berhenti! " Teriak cowok itu! 


Tapi Zahra tidak menuruti perintah cowok itu, ia berjalan terus  menuju halaman rumah Dio. 

__ADS_1


"Oh mau ketemu kakak Dio bilang mau ketemu kakaka gitu, " Teriak pria itu. 


Pria muda kira kira umur 20 tahun langsung meninggalkan Zahra yang ada di depan rumah, pria itu masuk tanpa mempersilahkan Zahra untuk masuk kedalam rumah. 


Tapi Zahra biarpun tidak ditawarkan duduk ia duduk saja di kursi yang ada didepan. Sedangkan wanita itu malah duduk di lantai. 


"Bu, jangan di lantai! " Teriak Zahra sambil mengangkat tubuh wanita itu untuk duduk di kursi. 


"Tapi non saya cuma! " 


"Nggak! Ibu sama saya sama saja. " Kata Zahra cepat. 


Akhirnya wanita itu duduk di kursi yang ada dekat Zahra. 


"Maafkan saya non, saya yang salah. " Ujar wanita itu meminta maaf. 


"Kerena saya non malah dimarahin sama aden itu," Lanjut wanita itu. 


"Nggak apa apa bu, ibu jangan minta maaf sebenarnya itu yang salah kok, bukan ibu. " Bela Zahra tersenyum. 


"Non mau ketemu den Dio, maaf untuk apa ya? " Tanya wanita itu sopan. 


"He! Kalau belum ditawarin duduk jangan duduk dulu, apalagi orangnya juga baru mau datang! " Teriak cowok itu keras. 


Zahra yang belum sempat menjawab pertanyaan dari wanita itu kaget sakali, mendapatkan teriakan kasar dari cowok tadi. Ia menatap pria itu dengan tatapan heran apalagi mendengar kata kata pria itu seperti itu padanya. 


"Ha! Duduk juga dipermasalahkan? " Tanya Zahra blank. 


"Dio dimana? Kenapa kamu lagi yang muncul?" Zahra heran. 


"Vito! " Panggil Dio cepat. 


Ia langsung mwninggalkan  Dio dan Zahra di teras rumah, sedangkan Zahra hanya mengangkat kedua bahunya saja. 


"Dia siapa sih? " Tany Zahra heran. 


"Anak bibi aku. " 


"Belagu baget sih! Ngapain dia kesini? " Tanya Zahra. 


"Cuma main saja sih! Eh, ada apa sih kamu. Kesini Ra? " Tanya Dio mengalahkan pembicaraannya. 


"Ibu Nining ada? " Tanya Zahra menatal wajah Dio. 


Ia datang hanya ingin bicara dengan wanita itu yang telah datang ke rumah menayakan dirinya ke langit palat, ia juga oendatan apa yang akan disampaikan Nining pada dirinya. 


"Buat apa? " Tanya Dio heran. 


Sedangkan wanita itu langsung menatap wajah Zahra dengan tajamnya, hatinya bertanya tanya apa getangan yang dicari gadis itu. 


Dio melirik wanita yang ada di samping Zahra, ia hanya garik garuk kepala saja.. 


Bukannya langsung menjawab Zahra hanya diam dan menghela nafas panjang, sedangkan Dio masih manatap  wajah Zahra. Gadis itu mengangkat kedua bahunya tjdak mengerti. 


"Bu Nining pernah mencari aku ke kantor papa kwteoka aku didesa igu! " Kata Zahra. 


"Oh! Iya iya aku ingat, maaf aku pernah cerita tentang kamu kok tentang kamu padanya. " Dio hanya mengangguk kepalanya. 

__ADS_1


Pria itu sengaja tidak memberitahukan Zahra twntang ibu Nining, sedangkan wanjta yang ada di samping Zahra hanya diam saja. 


"Sudah ketahuan siapa dalangnya? " Tanya Dio. 


"Uwa Rani!" Kata Zahra. 


Wanita itu langsung menatap Dio dan Zahra bergantian. 


"Ra, ia ini ibu Nining kau cari. " Dio akhirnya memberitahu kan kalau wanita yang ada di samping Zahra adalah ibu Nining. 


"Ibu! Jadi?" Zahra terkejut. 


"Zahra Anindya! " Seru wanita itu tersentak. 


Zahra hanya mengangguk. 


"Anindya! " Ujarnya tegas. 


"Iya aku Anindya, bu anakanya pak Hamdi. Ibu tahu aku dari Dio kan? " Tanya Zahra. 


"Bu jadi benar uwa Rani yang membunuh pak Rohman? " Kejar Zahra. 


"Iya, tapi kalau ayahmu di bunuh oleh Darman! "


"Iya Rani lah yang terlibat dari kejadian itu, tapi sebenarnya Ranj juga ingin membawa kamu tapi kamu mwnghilang. 


" Rani yang jadi permasalahan semuanya ini, ia yang membunuh pak Rohamn. " Jelas Ibu Nining. 


"Siapa kamu bilang? Mama ? Nggak. Mungkin. Mama melakukan itu! " Teriak Vito tiba tiba datang menghampiri keduanya. 


"Mama? " Tanya Dio dan Zahra berbarengan. 


"Kamu anaknya Rani? " Tanya ibu Nining sinis. 


"Iya mama kamu Rani yang membunuh pak Rohaman, " Sembur wanita itu. 


"Nggak mungkin! " Teriak Vito histeris menatap wanita itu marah. 


Dio hanya bisa diam saja kerena  ia tahunya dari dulu juga Vito adalah anak dari adik mama, jadi ia dan Vito sepupuan. Tapi saat Vito menyebut Rani mama mata Dio terbelalak heran termasuk Zahra yang sedang bicara dengan Dio. 


Keduanya shock, apalagi Zahra yang telah tahu kisah tentang Rani dari ibu Mirna. 


"Aku nggak percaya apa yang kalian katakan! Kalian mau ngapain sama mama Rani? Kalian mau mau. Menyakiti mama Rani! " Teriak Vito tidak suka. 


"Jadi? " Tanya Zahra kaget. 


Ia tatap wajah laki laki yang ada di hadapannya dengan tajamnya. 


"Rani melahirkan anak Hamdi, tapi entah kemana keberadaannya saya juga nggak tahu sih! Semenjak kematian Hamdi, Rani menghilang sampai sekarang. " Terhiang kembali penuturan Marni. 


"Jadi anak itu kemana? " Tanya Zahra menatap Marni demgan tajam. 


"Entah! Ibu hanya mendengar itu saja. Apa Rani melahirkan atau digugurkan ibu nggak tahu." Kata Marni menceritakan tentang Rani yang menghilang bersama kandungannya. 


"Mungkin kalau bayi itu lahir usianya 20 tahuan kerena kalian hanya beda 6 tahun saja lebih tua kamu, " Lanjut Mirna. 


"Tapi katanya uwa Rani punya anak tiga, satu laki laki dan dua perempuan? " 

__ADS_1


"Mungkin saja, kerena ia juga menikah dan. Melahirkan anak yang lain. Tapi salah satu anaknya adalah anak biologis ayahmu, "


"Ya biarpun ayahmu sampai saat ini nggak tahu kalau Rani hamil tapi itu tetap adikmu, " Lanjut Mirna. 


__ADS_2