TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 30


__ADS_3

Udara pagi begitu sejuknya. Sang bintang fajar bersinar di ufuk timur memberikan keindahan tersendiri. Angin yang sepoi sepoi membuat Anin dan Ana tertawa riang, menghirup udara yang indah..


Baru kali ini Anin bangun di awal pagi sebelum mentari pagi menyapa bumi. Ia tertawa riang saat dirinya bakal ketemu ayah yang selama ini ia rindukan.


Tapi sebelum ia benar benar meninggalakan desa itu, tiba tiba sebuah mobil menghampirinya, Anin terkesiap saat matanya menatap ayah yang pulang di pagi hari.


"Ayah!" panggil Anin gembira.


Hamdi dengan kerinduan langsung memeluk tubuh Anin. Ia benar benar terharu sekali melihat Anin memeluk tubuhnya, ia beberapa kali membenamkan wajahnya di tubuh Anin.


"Ayah pulang, ayah nggak balik lagi kan?" tanya Anin menatap ayahnya..


"Nggak ayah nggak bakal balik lagi," tekan Hamdi.


"Sebenarnya ada apa kang?"


"Nanti aku cerita sama kamu Bu, lebih baik kita pulang saja." kata Hamdi gembira.


Pagi itu! Anin benar benar gembira kerana melihat ayahnya pulang. Anin tidak tahu sebenarnya kepulangan ayahnya sebagai tugas dari polisi.


Wajah Anin sangat berbinar binar, melihat wajah ayahnya kembali. Ia dengan kerinduan yang sangat meminta digendong oleh ayah nya sedangkan Ana hanya diam saja tapi matanya melirik ayahnya beberapa kali.


Kemungkinan hatinya juga riang melihat ayahnya kembali tapi batita itu hanya diam saja.


"Ayah, apa uwa Darman salah?" tanya Anin menatap ayahnya.


Pertanyaan itu muncul begitu saja saat mereka telah sampai di rumah.


"Anin tahu dari mana uwa Darman salah?" Hamdi pura pura tidak tahu, tapi sekilas ia melirik istrinya yang duduk tidak jauh darinya.


"Uwa Darman sendiri yang bilang!"


"Anin jangan bicara apa apa ya, kalau Anin bicara sama semua orang bisa bisa ua Darman nggak suka sama Anin," kata mbok inem yang tiba yiba datang dsn menghampiri mereka.


"Mbok!"


"Nggak apa apa de, lebih baik dikasih tahu saja siapa yang sebenarnya salah. Nggak mungkin kan ayah anak anak salah!" ketus mbok inem..


Ia merasa kesal pada.hukum yang tidak pernah berlaku adil pada Hamdi. Ayu hanya diam mendengarkan mbok inem mengatakan itu, sedangkan Hamdi meraih tangan mbok inem dengan lembutnya.


Hamdi melakukan itu kerena di depannya ada Anin, tapi mbok inem tidak peduli sama sekali pada sentuhan tangan Hamdi.


"Aku juga nggak ikhlas kalau Hamdi di penjara, semua yang berhubungan dengan Darman harusnya di musnahkan bukan di jaga!" sembur mbok Inem marah.

__ADS_1


"Mbak Yu!"


Hamdi mengingatkan mbok inem.


Anin diam tapi telinganya hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh wanita itu, ya ia melihat di mata mbok inem ada kilatan kebencian saat ia menyebut nama Darman.


"Mbak ada Anin!" seru Ayu.


"Kenapa dengan Anin? dia harus tahu semuanya jangan ditutupi dari dirinya, darman yang harus mendekam di penjara bukan kamu Hamdi. Bukan kamu! Mbak nyakin kalau kamu hanya di fitnah saja." cerocos mbok Inem dengan tajam.


"Bu, kok ada Anin sih! Anin memangnya nggak boleh tahu ya kenapa?" tanya polos Anin menatap wajah ibunya.


"Kalian lebih baik ceritakan semuanya, daripada Anin tahu dari orang lain!" mbok Inem lanhsung meninggalakan mereka..


"Ada apa sebabnya?" tanya Anin heran.


"Malam nanti ayah cerita sama kamu, ya apa yang dikatakan mbok Inem benar, tapi kamu.harus kuat ya." kata Hamdi menatap wajah Anin.


"Cerita apa? Kenapa nggak sekarang saja?" tanya Anin penasaran.


Hamdi tersenyum melihat Anin penuh dengan keheranan.


"Ayah cape, Anin baik dulu ya Sam mbok inem dsn uwa Iyan." kata Hamdi.


"Ayah ingin bicara sama ibumu,"


Anin mengangguk, bocah itu tidak curiga apa apa pada Hamdi dan Ayu. Ia pun meninggalkan Hamdi dan Ayu berdua sedangkan Anin menuju mbok inem, mbok inem yang berada di sana mengerti pada tanda isyarat yang diberikan Hamdi.


"Intinya kalau aku ingin selamat, mencari bukti yang kuat tentang kejahatan kang Darman." ujar Hamdi menghela nafas.


"Aku hanya diberi waktu seminggu untuk mencari bukti itu?" lanjut Hamdi Seperi bertanya pada diri sendiri.


"Ayah setuju? Dengan keputusan polisi? Terus ayah harus mencari bukti apalagi?" berondong ayu menatap wajah suaminya.


"Kakang bakal bantu kamu dek, kalau kamu memang nggak pernah salah. Kakang kamu benar benar serakah!" sembur uwa Iyan menatap Hamdi.


"Kang, kita mencari kebenaran itu dari mana lagi?" tanya Hamdi menatap wajah uwa Iyan.


"Kakang juga nggak tahu kita mencari kemana dulu, masalah nya malam itu hanya kang Tio yang tahu," uwa Iyan merenung dsn seperti memikirkan sesuatu.


"Bagaiamana kalau malam ini kita mencari tahu di kebun dimana pak Rohman meninggal?" tanya Hamdi menetap wajah uwa Iyan tajam.


"Oke! Malam ini ya?" Tekan Iwa Iyan.

__ADS_1


Kedatangan Hamdi kembali ke desa membuat sebagian warga bertanya tanya tentang apa yang dilakukan polisi, sebab merrka merasa heran pada Hamdi yang telah di vonis di penjara tapi masih berkeliaran di ruangan bebas.


"Kang aku heran kenapa kang Hamdi seperti itu?" tanya laki laki berkumis menatap temannya yang berbaju coklat.


"Maksudnya?"


"Aku heran kang Hamdi salah tapi masih berkeliaran saja, apa benar berita itu!" tanyanya diulang kembali.


"Aku sebenarnya sangsi sih kalau dek Hamdi melakukan pembunuhan itu!"


"Sebenarnya semua orang meragukan kang? Ya tapi bagaiamana kades kita tetap menganggap kang Hamdi salah.


"Eh! Kang dengar dengar kang Hamdi nggak salah sih tapi hukum dunia memang kejam." celetuk yang lain.


Pembicaraan hangat itu langsung terangkat keatas, kasak kusuk mereka akhirnya terdengar oleh Tio dsn Darman yang sedang di sawah.


"Bagaiamana ini kang?" tanya Tio ketakutan.


Ia takut kalau misal Hamdi Tahu kebenarannya, bisa bisa ia masuk penjara dan meninggalakan anak istrinya.


"Ah! Kamu kaya gitu juga takut, jangan takut " sanggah Darman..


Sebenarnya apa yang dikatakan Tio pada nya, Darman lebih takut menurut kabar burung pencarian ini dilakukan oleh polisi, untuk mencari pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang pada kematian Rohman.


"Kita jalani rencana ini."


"Rencana apa kang?" tanya Tio gemetar.


"Kita bunuh Hamdi biar ia tidak bakal menceritakan apa pas pada warga!" sembur Darman.


Ya sebenarnya ia berencana membunuh Hamdi tapi kerena polisi menjaga dengan ketat jadi ia tidak berani gegabah melakukannya.


"Tapi kalau sampai ketahuan kembali?" kata Tio.


Ia tidak bisa membanyangkan kalau tragedi itu bakal ketahuan lagi, untung kejadian pembunuhan pak Rohaman biarpun Hamdi yang tahu tapi tidak ada bukti nyata.


"Siapa saja yang tahu ini lebih baik kita bunuh! Biar kita tetap aman, dan hukuman di penjara tidak sampai mengurung kita," tawa renyah Darman.


"Ya biarpun begitu aku masih takut kang!" kata Tio.


"Kamu yang tenang, kamu serangan semuanya padaku yang penting kamu diam dan jangan sampai warga tahu semuanya." ucap Darman menepuk bahu Tio.


Darman bersyukur punya Tio dalam hidupnya, kerena ia bisa melakukan secara diam diam tanpa sepengetahuan warga, Tio bisa di percaya sampai sekarang Tio tidak bicara apa apa pada warga tentang kejahatan dirinya.*

__ADS_1


__ADS_2