TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 171


__ADS_3

Darman menghela nafas panjang saat mendengar Vito mengatakan itu, ia tidak pernah menduga kalau pemuda itu bakal bertanya hal Itu padanya. 


Pertanyaan yang selama ini ia pendam sendiri. Tapi malah ada orang nyang menanyakan dan orang itu anak dari wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya. 


Sama Rani ia nyakin kalau Rani tidak mungkin menceritakan itu semuanya pada Vito, ia tahu siapa Rani. Jadi Darman percaya kalau Rani tidak mungkin menceritakan pada Vito, Darman curiga pada dua gadis yang pernah ditemukan dirumah Rani. 


"He! Kamu tahu dari mana? " Tanya Darman menarik baju Vito. 


Wajah Darman merah padam. Vito yang melihat itu  jelas sekali perubahan dari wajah Darman, tapi pemuda itu diam saja. Ia berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Darman dari bajunya. 


Darman  benar benar geram sekali mendengar apa yang pemuda itu katakan di depannya. 


"Lho kok bapak marah? Kan aku tanya kenapa pak Rohman nggak membayar pembelian tanah dari bapak? " Tanya Vito heran. 


"Seharusnya pak Rohman memberikan uangnya pada bapak? " Tanya Vito heran menatap wajah Darman. 


Pemuda itu berusaha tenang, ya biarpun hatinya ingin sekali menghajar wajah laki laki itu, ya biarpun ia tahu kalau pria yang ada dihadapannya tidak seratus persen bersalah. 


Darman mendengus mendengar Vito mengatakan itu. Ia melepaskan cengkraman dari baju Vito. Tanpa menunggu lama Darman bangkit dan meninggalkan Vito. 


Pemuda itu menghela nafas panjang, ia mengingat percakapan Ana dan dirinya. Ya ia tidak percaya apa yang gadis itu katakan tapi gadis itu malah menyuruh dirinya bertanya pada Darman! 


"Kamu dan kakakmu sama saja, kamu nggak suka kan kalau aku bersama dengan mama aku? " Tanya Vito naik pitam. 


Ia sudah tidak tahan lagi mendengar kata kata Ana yang selalu menyalahkan mamanya, tanpa melihat kesalahan orang lain. 


"Tapi kenyataan nya seperti itu Vito! Aku juga aneh kamu bertanya tentang apa yang pernah mama kamu lakukan tapi kamu nya nggak pernah percaya apa yang kami katakan!" Ana membela diri. 


"Kamu benar benar ya Na! " Sembur Vito 


Reaksi Vito benar benar ganas saat mendengar kata kata Ana, ia sama saksi gudak leenah menerima kalau mama nya salah. Dengan luapan emosi yang membuncah kuat di kepalanya yang siap tumpah 


PLAK


"Awh! " 


Vito geram seketika juga pada Ana. Ia menampar pipi Ana dengan keras, sampai gadis itu terpekik kesakitan saat tangan Vito mendarat  dengan sukses di pipinya. 


Ana menatap penuh rasa kesal dan sakit hatinya. 


"Kamu nggak percaya sama aku kalau memang uwa Darman adalah uwa aku, dia kakak angkat dari ayahku. Tapi dia jahat menjual tanah ayah! " Teriak Ana. 


"Kamu harus percaya sama aku, kalau kamu ingin selamat dari cengkraman uwa Darman." 


"Kamu nggak mungkin dikasih tahu oleh mama kamu, kerena mama kamu dan uwa Darman sama saja. Sama sama jahat! " 

__ADS_1


"Kalau kamu nggak percaya tanyakan kenapa sampai pak Rohman ngga pernah memberikan uang dari tanah yang dibeli oleh uwa Darman!"


Cerocos Ana memberitahukan pada Vito tentang keadaan keluarganya kenapa sampai ayahnya meninggal dunia seperti itu.. 


Vito tidak menerima kalau mamanya mengikuti jejak Darman. Jadi wajar kalau ia menampar gadis itu dengan kerasnya. 


"Kamu kenal kan sama uwa Darman jadi bicaralah dengan dirinya! " 


"Na, kamu kira aku percaya apa yang kamu bicarakan? Aku nggak percaya kalian hanya ingin melihat mama aku menderita! " Teriak Vito beringas. 


Ya ia tidak ikhlas kalau mamanya di penjara oleh kedua anak itu! Ana sebenarnya sudah menerangkan beberapa kali pada pemuda itu tapi Vito malah menyerang Ana beberapa kali sampai Ana menceritakan alasan kenapa Rani dan Darman membunuh ayahnya. 


Tapi pemuda itu tetap saja bebal hatinya, malah malah terus menyalahkan Ana dan Zahra. 


Akhirnya Ana bicara kalau. Memang pemuda itu tidak percaya tanyakan semuanya pada Darman. 


Tapi sejak kejadian Darman dikejar polisi Vito mulai ingin tahu masalah apa yang sebenarnya yang terjadi. Akhirnya ia mencari keberadaan Darman hanya untuk bertanya masalah yang di bicarakan oleh Ana. 


Melihat reaksi Darman yang demikian rupa, membuat hatinya membenarkan apa yang Ana katakan. Vito mulai merasakan kebenaran, kata kata Ana maupun. Zahra. 


"Kamu tahu alasan kenapa pak Rohman sampai nggak memberikan uang itu pada pak Darman? " Tanya Vito akhirnya. 


"Tanya sendiri pada orangnya, buat kamu tahu siapa uwa Darman itu!" Cetus Ana sambil meninggalkan Ana . 


"Pak! Pak Darman!" 


Vito akhirnya mengejar orang itu. Ada ribuan pertanyaan yang menyelinap dihatinya tentang apa yang ia tanyakan pada darman dan kenpa pria itu bukan menjawab malah pergi begitu saja. 


"Pak! Pak tolong buka pintunya! " Vito mengedor pintu yang tertutup. 


Darman yang berada di dalamnya langsung beranjak dari duduk dan membukanya dengan perasaan yang masih kesal. 


"Kamu tanya itu untuk apa? " Tanya Darman ketus. 


Di wajahnya tergambar kurang nyaman atas pertanyakan yang dilontarkan oleh pemuda itu. 


"Aku tahu dari Ana. Apa yang dikatakan Ana benar, kalau pak Rohman nggak memberikan uang pada bapak? Alasannya kenapa? " Tanya Vito. 


Sebenarnya banyak pertanyaan demi pertanyaan  yang harus dijawab tapi ia masih blank untuk menanyakan semuanya Darman. Tapi satu pertanyaan yang dilontarkan juga belum tentu dijawab oleh Darman, apalagi banyak pweganyaan. 


"Kamu kesini untuk apa? " 


"Aku kesini mencari bukti kebenaran papa! " Ketus Vito. 


"Aku nyakin kenapa pak Rohman sampai nggak memberikan uang itu kerena! " Lanjut Vito  menatap wajah Darman. 

__ADS_1


Plak! 


"Diam kamu! Ku cincang kamu!" Potong Darman marah.


Teriak Darman geram. Dengan kekuatan yang luar biasa darman langsung memukul wajah Vito dengan kerasnya. Bukan itu saja Darman pun langsung mendorong tubuh Vito dengan kasarnya. Darman yang mendengar kata kata Vito seperti itu benar benar membuat hati Darman panas sekali. 


Vito yang di dorong langsung terkejut tapi pemuda itu dengan tangkasnya langsung menghindar dari dorongan Darman! 


"Uwa! " Zahra yang tiba tiba datang berteriak melihat Darman yang memperlakukan Vito tidak baik. 


"Kalian? " Tanya Darman terkejut saat melihat Zahra menghampiri nya. 


Sedangkan Vito hanya tersenyum sinis menatao wajah darman. 


Plak! 


Tangan Zahra langsung melayang menyentuh pipi Darman, Darman terkejut melihat Zahra melakukan itu. Baru kali ini pipinya di tampar oleh seorang gadis yang terbilang muda. 


"Kalian sekongkol! "


Darman hampir saja memuk Zahra, gadis itu menghindar taoi sebelum tangan Darman menyentuh pipi Zahra, Vito telah menahannya. 


"Pria busuk! Jangan sakiti kakak aku! " Teriak Vito mendorong tubuh Darman. 


Zahra melonggo mendengar apa yang dikatakan Vito pada Darman tapi hatinya senang Vito menganggap kakak padanya. Vito juga malah memukul balik Darman dengan tangannya sendiri. 


Bug! 


Bug! 


Vito dengan geramnya langsung tanpa menunggu waktu lagi memukul beberapa kali wajah Darman. 


"Vit, sudah! Vit, hentikan! " Teriak Zahra lanngsung memisahkan Vito dengan Darman. Darman yang tidak menduga kalah telak oleh Vito sendiri. 


"Kurang ajar!"


Tatapan mata Darman marah menatap wajah Vito dan Zahra geram sekali. Giginya sampai bergemetuk menahan gejolak jiwanya. 


Kalau saja Zahra tidak menghalangi Vito mungkin ia telah menghajar Vito habis habisan. 


"Kalau kami sengkongkol bagaimana? " Tanya Zahra puas. 


Gadis itu melirik Vito dengan riangnya, pemuda itu hanya tersenyum manis ke arah Zahra. 


Setelah mendengar kata kata Ana, Vito langsung marah marah dan tidak bisa menerima apa yang dikatakan Ana, Zahra yang melihat  itu langsung menghampiri Vito.*

__ADS_1


__ADS_2