
Ana memikirkan pembicaraan Rey dan Zahra di depan kantor saat ia mengantar makanan, ia benar benar tidak menyangka kalau ibu Ani bakal melakukan itu pada dirinya.
"Ibu nyakin ibu Ani bakal melakukan apapun demi ambisi dirinya, jadi biarpun kita bicara sama Zahra percuma ia bakal memberikan alasan untuk menjatuhkan diri kita." Terdengar suara ibunya terhiang hiang di telinganya.
"Makanya ibu nggak mau cerita sama zahra juga itu, sudah kamu jangan memikirkan apa apa?" Lanjut ibu Ayu sambil bernajak dari duduknya.
"Tapi benar kan itu ibu Ani, mamanya dari kak Zahra?" Tanya Ana pada ibunya ketika ibunya akan beranjak pergi.
"Ibu nyakin kaku itu ibu Ani," tekan ibu Ayu.
"Kalau ia jujur penjara bakal penuh, apalagi waktu itu kita hanya berdua. Ditambah lagi anak buahnya juga bilang kalau menyuruhnya adalah ia kamu." Ujar ibu Ayu tegas.
Ana hanya bisa mengangguk membenarkan apa yang diucapkan oleh ibunya, ia memikirkan apa yang Zahra dan Rey bicarakan.
"Bu, apa Ana datangi ibu Ayu saja untuk membuktikan kalau ia yang melakukannya?" Tanya Ana seperti pada dirinya.
"Buat apa? Wanita seperti itu nggak bakal bisa mengalah pada kamu, apalagi kamu bukan siapa siapa nya." Tolak ibu Ayu.
Ana hanya bisa menarik nafas panjang, mendengar ibunya mengatakan itu.
"Sudah jangan melakukan apa apa, ibu ikhlas kalau Zahra disana. Bagaiman pun ibu Ani melakukan itu kerena ia benar benar sayang lada Zahra." Kata ibu ayu kembali.
Ana langsung terdiam. Ia tidak menyangka sama sekali ibunya bakal mengatakan itu lada dirinya, ya biarpun ibu Ani menyakitinya tapi ibu nya tetap tegar dan malah membiarkan Zahra tinggal disana.
"Ibu Ani nggak mungkin menyakiti Zahra, ibu nykin itu Na, yang penting ibu hanya ingin melindungi kamu dari nya saja, itu sudah cukup buat ibu." Gumam wanita itu menatap wajah Ana.
Ana mengangguk. Ia langsung membantu ibunya menyiapkan makanan yang dipesan oleh para pembeli.
Sedangkan Zahra dan Rey masih asyik membicarakan ibu Ani, ya perubahan dan sikap ibu Ani menurut Zahra biasa saja.
"Apa mungkin mama punya kelainan?" Tanya Rey merenung.
"Kelainan apa sih maksud kamu Rey!" Ketus Zahra kesal.
"Punya kepribadian ganda gitu," celetuk Rey.
Zahra diam.
Tanpa mereka sadari ibu Ayu menguping semuanya pembicaraan mereka, ia sama sekali tidak menduga kalau dirinya melakukan itu lada ibu Ayu.
"Kapan ya aku melakukan itu? Aku juga baru sekarang ke kantor Rey kok malah ada berita yang nggak mengenakan?" Bisik hati wanita itu dalam hati.
"Apa ada sesuatu yang nggak pernah aku tahu?" Bisiknya.
__ADS_1
Ibu Ani bukannya menghampiri Zahra dan Rey taoinwwniya itu langsung menuju kantin, ia ingin melihat apa yang dibicarakan oleh Zahra tadi malam pada dirinya.
Ketika ia sampai di dekat kantin, matanya terbelalak kaget. Apa yang dikatakan oleh putrinya benar kalau di kantin itu ada ibu Ayu dan Ana yang sedang melayani pembeli.
"Ana!" Panggilnya tegas.
"Ibu!" Gumam Ana kaget..
"Bisa kita bicara?" Tanya wanita itu.
"Nggak Ana nggak boleh meninggalkan kantin ini!" Teriak ibu Ayu yang tiba tiba ada di samping Ana.
"Saya hanya ingin bicara beberapa mata saja dengan Ana." Pinta Ibu Ayu.
"Kalau ingin bicara disini saja nggak boleh jauh jauh, apa lagi keluar dari area kantin maupun kantor!"
"Oke! Saya ingin bicara di sini." Tegas ibu Ani menatap wajah ibu Ayu.
Akhirnya kedua wanita itu duduk saling berhadapan satu sama lainnya, sedangkan ibu Ayu melihat keduanya dari kejauhan.
"Apa yang kamu biacrakan lada Zahara sampai Zahra menyalahkan saya tentang kejadian kemarin?" Tanya ibu Ani tanpa menunggu waktu lagi.
"Aku bicara apa adanya pada kak Zahra. Bahwa ibu yang menyuruh anak buah ibu menculik aku dan ibu itu kenapa?" Tanya Ana balik tanya.
Ia merasa kalau gadis itu mengada ngada saja.
"Aku nggak percaya kalau ibu nggak melakukan ya, kerena saya lihat sendiri apa ibu lakukan pada ibu dan aku sendiri," Ana kekeh pada pendiriannya.
"Kamu kenal kan sama Acong dan Teddy, orang suruhan kamu. Kalau kamu sekarang jujur pasti penjara penuh!" Ketus Ana tidak suka.
Ibu Ani mengepalkan tangannya merasa tersudutkan oleh gadis yang ada dihadapan nya.
"Bu, aku dan ibu mengucapakan terimakasih apa yang ibu lakukan pada kami. Ibu yang membantu kami, menjebloskan uwa Darman." Kata Ana lirih.
Ia menarik nafas dalam dalam mental wanita yang ada dihadpannya.
"Tapi kami nggak akan pernah dan nggak akan pernah terpisahkan dengan kak Zahra. Ya biarpun ibu kekeh dengan pendirian ibu," lanjut Ana.
Wanita itu hanya diam saat mendengar apa yang Ana katakan, memang benar kalau ia yang menjebloskan Darman ke penjara hanya tujuannya ingin menyelamatkan Zahra dari kejahatan Darman ya biarpun ia juga salah.
"Mama! Kok mama ada disini?" Tanya Zahra yang tidak menyangka kedatangan mamanya di kantin.
Zahra langsung menyelidikan kedatangan ibu Ani ke kantin itu.
__ADS_1
"Mama hanya ingin ketemu Ana dan bicara," uajar ibu Ani.
"Ra apa sih yang terjadi?" Tanya mamanya malah bigung..
Ya ia blank sejak kejadian itu! Sepertinads rekayasa tentang dirinya, ia menatap wajah Ana dengan tajam, ia melihat ada kejujuran saat menceritakan apa yang pernah terjadi.
"Ra, kalau bisa bawa Ana ke rumah dengan ibunya." Kata ibu Ani langsung beranjak dari duduknya.
Wanita itu langsung meninggalkan mereka, Zahra tidak bisa melakukan apa apa lagi hanya bisa menatap kepergian wanita yang telah membesarkannya.
"Mama melakukan apa pada kamu tadi, dek?" Tanya Zahra.
"Nggak melkaukan apa apa hanya ia merasa heran kalau ia pernah melakukan sesuatu." Kata Ana jujur..
"Kak, apa ini hanya taktik ini Ani saja ya?" Tanya Ana ragu.
"Maksudmu?"
"Maksudnya, ibu Ani hanya pura pura nggak tahu dan mengada ngada supaya kakak nggak tahu kalau ia pelakunya?" Tanya Ana heran sekali.
"Daripada kaya gini lebih baik kita selidiki apa yang sebenarnya terjadi " kata Rey kemudian.
"Itu lebih bagus lagi,"
Ibu Ayu yang tahu kalau Zahra ada di akntin hanya diam saja, ia memikirkan apa yang dikatakan oleh ibu Ani tadi, tapi ia menepiskan semuanya.
'Ngg mungkin terjadilah," tepisnya menolak hatinya.
"Mama menyangkal semuanya kan?" Tanya Zahra.
"Ya menyangkal..Kalau nggak menyangkal pasti penjara penuh nak Zahra." Kata ibu Ayu yang langsung menghampirinya.
Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu tapi hanya dipendam saja, wanita itu takut salah apa yang ia akan katakan.
"Kok ibu bilang begitu sih sama mama?" Tanya Zahra agak kurang suka pada apa yang dikatakan oleh ibu Ayu pada dirinya.
"Ibu bukan nggak suka tapi aneh aja sih!" Dengusnya.
"Anehnya kenapa?"
"Kata mafia kalau siang baik taoinkalau malam ganas!" Sindir ibu Ayu..
"Bu!" Ana langsung menatap wajah ibunya.
__ADS_1
Wanita itu akhirnya meninggalkan tempat itu. Diiringi tatapan mata Ana, Zahra dan Rey yang merasa heran atas apa yang dilihatnya. Mereka hanya saling tatap satu sama lain, Ana dan Zahra keduanya hanya mengangkat kedua bahu mereka. Setelah itu Zahra meninggalkan kantin diikuti Rey, dan Ana membantu ibunya kembali.*