
Bug!
PLAK!
Darman dengan kuat langsung menghajar orang yang dipikirkan oleh Zahra, pak Bram sekarang berada di sebuah taman. Pak Bram yang sedang istirahat tiba tiba di datangi oleh Darman, laki laki itu masih kenal dengan pak Bram.
Pak Bram yang tidak menyangka kalau darman menyerang nya hanya bisa.mwrkngjs dan menatap wajah Darman dengan tatapan mata yang hampir keluar saking kagetnya.
"Kamu? Kamu Darman!" teriak Pak Bram menyadari sesuatu.
"Kenapa kaget ketemu aku disini!" teriak Darman dengan mata melotot ya.
"Pengecut!" sembur pak Bram..
Ia membalas perilaku Darman, tanpa di hindari keduanya malah bergumul. Darman beberapa menghantam kepala pak Bram dengan tanganya, begitu juga dengan.oak Bram memukul, menendang, mencakar dan mengigit.
BUG!
Ah!
Plak!
Bug!
Suara pukulan terdengar, jeritan kesakitan dan rintihan keluar dari dua mulut laki laki itu!
"Aku nggak akan pernah biarkan kamu hidup bebas di dunia ini!" teriak pak Bram sambil menendang tubuh Darman dengan kuat sampai tubuh Darman terpental dan terguling.
"Nggak bakalan aku lepaskan kamu, ku bunuh kamu sekarang!" terima darman dengan beringas nya.
Beberapa orang yang ada disana langsung menghampiri dan memisahkan mereka.beedua, biarpun waktu keduanya dipisahkan sangat susah kerena keduanya selalu menyerang satu sama lain.
Akhirnya beberapa orang memegang tubuh Darman dan pak Bram.
"Kenapa kelian bertengkar di taman, menganggu ketertiban saja!" Dengus salah satu orang yang ada disana.
"Pak, bagaiamana keadaannya?" tanya seseorang yang menolong Pak Bram.
"Pak Darman tidak menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan oleh para penolong.
Tanpa bicara lagi pak Bram langsung masuk ke mobil dan meluncurkan mobilnya ke suatu tempat.
"Kamu, kenapa!" seru wanita gendut menyongsong pak Bram.
"Biasa" celetuk pak Bram.
Wanita gendut itu heran melihat penampilan majikannya yang kusut seperti itu, baju kotor dan terlihat basah oleh keringat.
__ADS_1
"Bi Onah! tolong buatkan saya minuman." perintah pak Bram.
Wanita yang di langit Onah itu langsung membuat kesukaan majikannya.
"Ada apa?" tanya bi Onah.
Wanita itu terlihat akrab sekali dengan pak Bram, wanita itu langsung duduk tidak jauh dari pak Bram.
"Darman, aku ketemu laki laki itu," dengannya.
Bi Onah hanya menghela nafas panjang saat mendengar nama Darman disebutkan oleh pak Bram.
"Bikin ulang lagi?" tanya Wanita itu.
"Iya, gara gara kabur di penjara. kenapa harus kabur sih?" tanya pak Bram protes entah protes kerena apa.
"Siapa sih yang mengeluarkan dirinya di penjara? Seharusnya ia pantas mendekam di penjara!"
"Entah aku juga tidak tahu sama sekali, masalah itu tapi menurut informasi Ani yang melepaskan?"
"Ani? Kata kamu Ani yang memadukan Darman ke panjara kok bisa mengeluarkan kembali!" ujar wanita itu.
"Entahlah bi, aku juga nggak tahu apa apa."
"Semoga saja bisa di penjara lagi, apalagi ia telah membunuh tiga orang yang nggak bersalah." tekan bi Onah..
Wanita itu begitu geram sekali mendengar kalau Darman kabur dari penjara, dan yang terkejut dan tidak menyangka kalau Ani yang mengeluarkan Darman. Sedangkan ia mendengar kalau Ani yang menjebloskan ke panjara.
"Apa mungkin Ani seperti itu?'' tanya bi Onah saat mendengar cerita dari bram.
"Aku juga nggak tahu sih! Tapi beda gitu lah," kata pak Bram..
"Jangan bertindak gegabah dulu, sebelum ada buktinya," nasehat bi Onah mengingatkan.
"Iya, aku juga nggak mau menuduhnya dulu,"
"Lebih baik selidiki aja dulu, pasti ada kesalahan."
Udahlah!" tepis pak Bram.
Bi Onah ingat percakapan itu, ia hanya bisa mwngelangkan kepala saja. Ia berusaha untuk menenangkan pak Bram bagaimana Oun jangan sampai mengambil keputusan yang masih belum jelas.
"Mungkin bukan Ani! Bram tapi orang lain yang ingin menjelekkan istrimu itu." sembur wanita itu.
"Bisa jadi tapi siap yang ingin menghancurkan nama baik Ani, bi?" tanya pak Bram menatap wanita itu tajam..
"Kamu lebih baik telpon Ani," perintah bi Onah.
__ADS_1
"Sudah kemarin, ia juga menceritakan keanehan nya. Ia mengatakan pada aku kaku ia tidak melakukan apa yang aku tuduhkan." Bram memijit keningnya.
""Sudah lah, kamu istirahat." kata bi Onah menyuruh pak Bram untuk istirahat.
Pak Bram akhirnya bernajak dari tempat duduk menuju kamar, diikuti oleh tatapan mata bi Onah yang menatap kepergian dari Bram.
"Kasihan kamu Bram, kamu sudah lama menikah tapi hidupmu seperti ini. Untung dalam hidupmu ada Rara yang menemani kamu dan istrimu." bisik bi Inah sambil menghela nafas panjang.
O,ya bi Onah sebenarnya bibinya dari Bram. Keluarga satu satunya Bram yang masih hidup, ya orang tua Bram telah meninggal dunia akibat sakit. Kalau ibu Bram yaitu kakak dari Bi Onah meninggal kerena sakit, kalau ayahnya meninggal kerena kecelakan kapal terbang saat mau ke London.
"Kalau bibi bisa bertemu dengan Darman ingin rasanya menghajar laki laki itu!" geram wanita itu.
"Tapi bibi juga nggak kenal sama sekali," dengusnya kesal.
Bi Onah langsung ke dapur kerena ada kerjaan yang belum.ia bereskan. Ya ia tinggal di villa itu sendirian suaminya telah meninggal dsn anak anaknya sudah menikah.
Punya anak tiga orang semuanya di negeri orang, ada salah satu yang ingin mengajak dirinya hidup bersama tapi bi Onah tidak mau tinggal di luar negeri, akhirnya Bram mengajak dirinya. Ani mengizinkan tapi ia lebih memilih villa saja.
Sedangkan Zahra yang berada di rumah hanya bisa menghalau nafas panjang mengingat apa yang terjadi lada dirinya..
"Aku nggak bakal melupakan semuanya, apalagi wanita itu nggak pernah memperlakukan ibu dengan baik,"
Suara Ana terhiang di telinganya saat ia dan Ana mau berpisah menuju rumah masing masing.
"Kamu memangnya mau menuntut?" tanya Zahra heran atas apa yang Ana bicarakan.
"Pasti, aku ingin ia merasakan apa yang dirasakan oleh ibu!"
"Itu bagaimana kamu saja dek, kakak nggak.mau ikut campur," senyum Zahra menyentuh pundak Ana.
"Wanita itu juga harus menculik kakak dan menyekapnya," ujar Ana mengingatkan.
"Lebih baik kita jebloskan saja kak," suara Ana meninggi.
"Ya, kakak juga lagi nyari bukti kejahatan wanita itu sebenarnya."
"Apalagi memfitnah Darman. Sedangkan Ana tahu kak, kalau uwa Darman itu Sabtu di kota ini masa punya anak buah?" gerutu Ana.
Apa yang dikatakan Ana memang benar juga sih bisa di maklumi.
"Na, kamu sadar nggak waktu kamu ketemu wanita itu. Kamu bilang kalau wanita itu yang membebaskan uwa Darman?" tanya Zahra menatap Ana.
"Iya memang wanita itu yang melakukannya," ujar Ana membenarkan kata katanya..
"Buat apa dia melakukannya?' tanya Zahra mengejar Ana.
"Kayanya buat memancing kita untuk membenci kita buat benci uwa Darman, biarpun nggak di kompori juga aku nggak suka uwa Darman yang telah menghilangkan nyawa ayah!" ketus Ana.
__ADS_1
"Bisa jadi, atau bisa jadi. Atau pelampiasan dirinya pada Darman yang telah meninggalkannya," kata Zahra mengambil kesimpulan.
Setelah bicara mereka berpisah. Menuju rumah masih masing hanya Rey dsn Dio yang baru turun belakangan.*