
Tio memuret tubuh Hamdi yang pingsan, di kegelapan malam itu! Anin yang melihat semuanya ketakutan sekali, tapi ia penasaran apa yang dilakukan oleh kedua orang itu!
'Ayah kena nggak teriak, kalau.Anin.yang teriak takut ada orang dengar," bisiknya..
Wajah nya celingukan mencari orang yang lewat tapi malam itu sangat sepi tidak ada orang yang lewat satu pun juga kecuali mereka.
Sampai di kebun tubuh Hamdi langsung dikst oleh Darman dan Tio.
"Lepaskan!" Teriak Hamdi yang baru siuman dari pingsan.
Tapi terlambat tubuhnya diikat di sebuah pohon yang rindang. Di kegelapan malam ia melihat satu sosok kecil yang ia kenal.
'Anin!' bisiknya.
Hamdi terkejut sekali melihat Anin jongkok di semak semak dekat dengan ia diikat. Hamdi dsn Anin saling tatap, saat ia melihat Anin bergerak ia menggelangkan kepala saja. Bocah kecil itu akhirnya diam saja, ia benar benar ketakutan apalagi ia sendirian hanya dengan ayah.
"Kalian melakukan ini mau apa?" Tanya Hamdi menatap wajah Daraman dsn tio.
Hahahaha…
Kedua tertawa puas.
"Kalian?" Tanya Hamdi agak menjerit..
Matanya terbelalak saat ia melihat tubuh Karta yang ada disampingnya telah kaku, penuh dengan darah yang kering.
"Kamu nggak akan mencari kebenaran itu!"
"Kamu yang jadi pancingan biar polisi lah yang bakal penjarakan kami seumur hidup!" Teriak Tio gersm.
"Kang apa salah aku pada mu, sampai kalain melakukan ini?"
"Aku hanya ingin menguasai semua yang kau punya," balas Daraman
"Kang, apa yang aku punya sudah kamu miliki!"
"Aku hanya ingin rumah yang kau tempati!"
"Nggak akan kang! Aku dan keluargaku mau tinggal dimana? Kalau sampai rumah itu kamu.miliki?" Tanya Hamdi agak geram pada kakaknya.
Iantidak menyangka kalau kakaknya bakal melakukan itu pada dirinya, ya sejak kedua orang tua meninggal semuanya jadi kacau dan berantakan. Dan semua milik dan hak dirinya malah menjadi hak dan milik kakaknya sendiri sedangkan ia sama sekali hanya memiliki rumah itu. Rumah itu juga milik kedua orang tuanya, dsn malah diointa lagi.
PLAK!
__ADS_1
"Aku nggak mau kamu menolaknya, kalau dmsaoi kamu menolaknya bakal ku cincangntubuhmu!" Geram daraman..
"Kang! Apa.nggak puas kakang menyiksa dan membuat kehidupan aku hancur Seperi ini, ingat kang itu miliku dan kakang juga sudah diberi warisan." Teriak Hamdi..
Bug!
Sebuah tindu mendarat ke wajah Hamdi. Hamdi meringis kesakitan, tapi hatinya lebih sakit lagi melihat ketamakan kakaknya.
"Aku nggak akan ikhlas!"
"Bagaiaman Oun caranya aku bakal mengambil sumianya dari kamu Hamdi, aku bakal mengambilnya."
"Kang!"
"Aku nggak peduli sama kamu Hamdi! Kamu dan keluargamu mau tinggal dimana pun juga aku nggak akan pernah peduli!"
"Kang Darman lupa, kalau.kang Darman hanya anak angkat ibu dan bapak, tapi kenapa kau begitu ambisi seperti ini, aku tahu kenapa keluargamu sampai membuangmu kerena kamu serakah," sembur Hamdi marah.
Ya ia sangat marah dsn bernafsu ingin memukul wajah kakaknya. Tapi kerena tubuhnya ikat jadi iantidak bisa melakukan apa apa, kecuali berteriak dan mencaciaki Darman.
"Bangsat!"
Daraman yang mendengarkan apa yang diucapkan oleh Hamdi sangat sakit sekali, ia beberapa beberapa kali memukul wajah Hamdi dengan rindunya, bukan itu saja Tio juga memukul atas perintah Darman.
Ada gemuruh di hati bocah itu melihat semua tindakkan keduanya pada ayahnya, ingin rasanya ia menolong ayah ya tapi ia merasa kalau ia menolong ayahnya bakal sia sia apalagi ia hanya seorang bocah kecil saja.
'Ibi nggak cari Anin ya Bu, kasihan ayah sendirian dijahati sama mereka,' rintih Anin.
Mata yang bulat masih melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Aaah!
Anin terkesiap saat telinganya mendengar teriakan ayahnya, ia tergangga saat sebuah pisau mengiris bagian paha ayahnya, darah segar membasahi kaki Darman dengan capat sekali..
"Ayah!"
Hampir mulut kecil itu berteriak keras melihat darah mengalir di kaki Hamdi.
"Pergi!"
Teriak Hamdi! Teriakan itu sebenarnya untuk Anin kerena ia melihat anaknya sedang berjalan menuju tempat itu. Hamdi takut sekali kalau misal Anin menghampirinya dan menjadi sasaran dari Darman.
Jadi ia berteriak keras mengusir Anin. Anin memang akan menghampiri Hamdi ayahnya, tapi saat mendengar teriakan ayahnya pergi ia langsung diam seketika di tempat.
__ADS_1
Tubuhnya bergemetar sekali, Hamdi beberapa kali berteriak pergi. Tapi Darman dan Tio tidak menyadari teriakan Hamdi, mereka hanya tertawa puas sekali melihat tubuh Hamdi berlumuran darah.
Hamdi bukannya mengeluh sakit tapi ia hanya takut kalau Darman dan Tio bisa menemukan Anin, kalau misal Darman dan Tio menemukan Anin bisa fatal akibatnya. Ia lebih baik jadi perisai Anin. Daripada Anin meninggal dihadapannya, itu lebih menyakitkan hatinya.
"Kalian bakal menerima akibat yang kalian lakukan sekarang!" Teriak Hamdi yang berusaha melepaskan diri dari ikatannya..
Melihat Hamdi yang berontak danengstskan perkataan itu, Darman dan Tio hanya tertawa terpingkal pingkal.
"Bermimpi lah kamu dek, siap orang yang melihat kejadian ini?" Tanya Darman sombong.
Ia menyangka kalau kata kata Hamdi hanya sebuah lelucon saja, kerena ia tidak nyakin tengah malam seperti ini ada orang yang melihat semuanya. Jadi Daraman dsn tio leluasa melakukan semua tindakkan yang dilakukan pada Hamdi.
"Kang, bagaimana kalau kita?" Tanya Tio menatap wajah Darman dengan kedipan mata seperti mengisyaratkan sesuatu.
Hahahaha…
Tawa daraman pecah seketika juga. Ia bernajak bahakendengrakan.apa yang Tio katakan. Ia mengangguk dan mengambil pisau kembali di dekatnya.
Tanpa ampun sama sekali, wajah Hamdi di iris dengan berlahan, Hamdi sebenarnya ingin menghindar tapi Tio dengan cepat memengang kepala Hamdi.
"Mampus!" Teriak Daraman sambil.menusukan pisau itu ke perut Hamdi.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Hamdi hanya naam Tuhan yang ia sebut. Darah langsung membasahi tubuhnya, bukan sekali dua kali Darman menusukan pisau ke tubuh Hamdi tapi beberapa kali ia melakukan nya dihadapan bocah kecil Anin.
Laki laki itu berteriak dan Seperiengisir seseorang, ya matanya melihat Anin bergerak sambil membawa kayu yang ada ditangannya. Ia tidak ingin kalau Anin melakukan apapun juga, tapi bacah itu hanya menangis dan tangannya mungilnya mengepal.
Ada gemuruh yang maha dasyat yang menggelora dalam hatinya, ada sakit yang dirasakan oleh bocah itu. Tapi ia hanya diam saja tidak bisa melakukan apa apa, hanya tersirat dalam matanya sebuah kesakitan dan terluka ysng sangat dalam melihat tubuh ayahnya berlumuran darah dan terkulai.
"Mampus kau bangsat, aku bahagia melihat dia mampus!" Tawa kebahagiaan terdengar di mulut Daraman..
Ya tidak ada kesedihan saat melihat tubuh Hamdi terkulai lemas, Darman begitu menikmati malam itu melihat sosok adik yang terkulai lemas oleh beebuatan kejam dirinya.
"Korek!"
Mata Darman langsung melihat kearah belakang saat ia mendengar suara ranting di injak oleh seseorang. aAnin yang tahu ia menginjak ranting dan berbunyi langsung berlari ke dalam kebun.
"Siapa?"
"Kejar!" Teriak Darman menatap wajah Tio.
Keduanya langsung mengejar seseorang, Daraman takut kalau orang itu bakal melaporkan tindak kejahatan yang ia lakukan.
Keduanya masuk kebun, malam yang mulai larut menyembunyikan tubuh kecil Anin yang telah melihat sebuah kejadian yang tidak akan ia.lupakan seumur hidupnya.*
__ADS_1