TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chaptee148


__ADS_3

" Mungkin kalau ibu tahu keberadaan adikmu ibu bakal bilang sama kamu ya bagaimanapun  ia juga adikmu, adik biologis mu. " Lanjut ibu Marni.


Zahra hanya mwngangguk mendengarkan apa yang ibu marni katakan. 


"Bu, katanya anak anak uwa Rani nggak mau mau mengurusnya? Benarkah? " Tanya Zahra. 


Ibu Mirna hanya menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan Zahra. Zahra melihat gelengan kepala ibu Marni, ia menghela nafas panjang. 


"Bu, kalau ibu tahu Anin mohon kasih tahu ya." Zahra memohon. 


"Iya nanti ibu hubungi kamu kok! "


"Makasih ya atas semuanya yang ibu ceritakan pada Anin. 


" Jadi apa? Jadi kamu jangan sampai ikut campur ya atas urusan mama? " Tanya Vito beringas


Entah kenapa saat ia mendengar mamanya disebut oleh gasia yang dikenalnya ada perasaan tidak sukanya pada gadis yang berbincang dengan sepupunya. 


"Sudah kalian kenapa harus bertengkar? " Dio melerai Vito dan Zahra. 


"Memangnya mama kamu nggak bilang apa apa tentang dirinya ke kamu? " Tanya ibu Nining sinis. 


Ia juga terkejut saat Vito menyebut Rani mamanya, jadi ibu Nining malah membuat supaya Vito merasa malu dan bersalah. 


Zahra yang mendengar Dio seperti itu hanya melirik Vito. Ia tanpa menunggu waktu lagi langsung menarik tangan ibu Nining , diikuti oleh tatapan mata Vito yang kepoo. 


Vito hanya menatap saat Zahra menarik tangan wanita itu, dengan tatapan mata yang penuh penasaran, ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh hadia itu dengan dio. Tapi untuk mengikuti ia ragu, hatinya merasakan nyakin kalau gadis yang menarim  tangan wanita itu ada sesuatu yang dibicarakan. Apalagi gadis itu menyebut nama Rani. 


"Non, ada apa? " Tanya ibu Nining heran melihat Zahra yang menarik tanganya sampai belakang rumah. 


Belum sempat Zahra angkat bicara pada ibu Nining, Dio menyusul Zahra dan ibu Nining sedangkan tadi sebelum ke Zahra dio melarang Vito menghampiri nya. 


"Vito sepupu kamu atau bukan sih!" Tanya Zahra saat dio datang. 


"Kok kamu bilang begitu sih! " 


"Nggak apa apa kok! Itu Vito kok kenal dengan uwan Rani? " Kata Zahra bertanya. 


"Aku nyakin pasti Vito ada apa apa nya dengan Uwa Rani? "


"Maksudmu? " Tanya Dio. 


"Kenapa Vito menyebut mama pada uwa Rani? Aku nyakin kakau Vito bisa jadi anaknya uwa Rani. " Kata Zahra menjelaskan. 


Akhirnya tanpa menunggu waktu lagi Zahra menceritakan apa yang pernah diceritakan oleh ibu Marni pada dirinya tentang kehamilan yang terjadi, sebenarnya ia menceritakan bukan menceritakan aib uwa Rani tapi Zahra menceritakan tentang Vito yang disangka anaknya Hamdi. 


Ibu Nining yang ada disana hanya mengangguk kepalanya membenarkan apa yang diceritakan oleh Zahra. 

__ADS_1


Dio yang mendengarkan cerita Zahra hanya teediam saja, sebenarnya ada kejutan diwajah pria berusia 26 tahun itu, ia tidak pernah menyangka kalau itu terjadi pada uwa Rani dan Zahra. 


"Jadi mereka nggak menikah kerena uwa darman dan uwa Rani saudara kok bisa? Trus kok bisa kalau uwa Rani punya anak dengan. Ayah kamu? " Tanya Dio penasaran. 


"Aku juga nggak tahu masalah itu, tapi itu memang terjadi pada uwa Rani. " 


"Terus anak anaknya kenapa berpisah dan nggak satupun sama dirinya? " 


"Mungkin ada hal lain yang mengharuskan mereka berpisah dengan uwa Rani. Ada kisah dibalik semuanya. " Kata Zahra. 


"Miris semuanya nggak mendapatkan kasih sayang ibunya. " Ujar Dio menerawang. 


Ia masih bisa bersyukur kerena ia masih bisa hidup bersama kedua orang tuanya yang biarpun hidup dalam kesederhanaan, sedangkan uwa Rani dan anak anaknya? 


"Tapi ia pernah bilang kalau ia rindu ibu. Tapi kenapa kejadian itu terulang lagi ya, kejadian dirinya yang kehilangan orang tuanya. Kan ia tahu bagaiamana rasanya kehilangan kasih sayang orang tua, " Gumam Dio miris. 


Gumaman Dio terdengar sangat jelas di telinga oleh Zahra, gadis itu hanya mengangguk ia mengiyakan apa yang dikatakan Dio. 


Ibu Nining hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua orang tanpa ikut mw nimbrung bicaranya. 


"Aku juga Dio merasakan rindu pada ibu dan ayah. Tapi rasa rinduku. Masih terobati sama ibu tapi sama ayah? " Getir Zahra menatap lurus. 


Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan gejolak hatinya yang tiba tiba muncul menyeruak di hatinya. 


"Kamu sabar! Kamu. Masih beruntung dibandingkan uwa Darman dan uwa Rani." Ujar ibu Nining mengusap baju Zahra dengan lembut sekali. 


Tanpa mereka sadari Vito mendengar kabar apa yang dibicarakan oleh keduanya, ya tadi. Ia sangat penasaran apa yang dibicarakan oleh Zahra dan Dio. 


Ia sengaja untuk menguping pembicaraan mereka, saat telinganya mendengarkan nya hatinya bergejolak kerena cerita yang ia dapatkan dan cerita yang ia dengar jauh berbeda sekali. 


"Kamu kalau mau cerita jangan ngarang ya, jangan jangan menjelekan mama dan papa! " Teriak Vito dengan wahai merah padam. 


"Kamu menguping? " 


"Aku curiga kamu bicar sama kakak Dio sembunyi sembunyi dariku, oh ternyata kamu hanya menjelekan papa dan mama! " Sembur Vito menghampiri Zahra. 


Plak! 


Cowok 20 tahun itu langsung menampar pipi Zahra, gadis itu terkejut  mendapat kan tamparan sama orang yang baru beberapa menit ketemu. 


"Awh! Kamu! " Teriak Zahra marah. 


Gadis itu menatap wajah Vito tajam sekali. Vito bukannya mengalah tapi malah melawan dengan tatapan tajamnya ia menatap gadis yang ada dihadapannya. 


Dio dan ibu Nining yang melihat adegan Vito dan Zahra langsung melerai keduanya supaya tidak bertengkar di tempat. 


"Vito! " Teriak Dio mendorong nyubuh cowok itu. 

__ADS_1


"Kak! Seharusnya kakak yang usir dia bukan mendorkng aku? " Protes Vito marah. 


"Kamu nggak tahu apa apa masalah ini jangan ikut campur! " Sembur Dio tegas. 


"Tapi dia membicarakan mama dan papa! " Teriak Vito nggak suka. 


"Vit, mama dan papa kamu siapa? " Tanya Zahra kemudian. 


"Mama Rani dan papa Hamdi! " Tegas Vito tajam


Deg! 


Hati Zahra berdetak dengan kerasnya sekali, ia menganggam tangannya ada rasa kesal pada cowok yang baru di kenalnya. 


"Papa  kamu sekarang dimana? " Tanya Zahra menahan gejolak hatinya. 


Gadia itu berusaha menahan perasaan hanya untuk tahu apa yang bakal di ceritakan cowok itu! 


"Kamu ngapain tanya tanya? Kaya wartawwn saja! " Ketus Vito tidak suka. 


"Ya sudah kalau kalau nggak mau cerita nggak apa apa. " Kata Zahra lirih. 


"Vit, aku ingin tahu papa kamu yang kami ceritakan itu kemana? " Tegas Dio menatap wajah Vito. 


"Alah kak, buat apa kakak ingin tahu segala, " Cemoh Vito mengejek. 


"Baik lah. " Lanjut Vito kerena melihat mata dio melotot kearahnya. 


"Aku nggak tahu papa dimana? Tapi kata mama, papa di desa X, sampai sekarang papa nggak pernah  pulang. " Kata Vito menghela nafas. 


Zahra mengigit bibir bagian bawah mendengarkan apa yang Vito ceritakan, Dio melirik  wajah Zahra yang terlihat muram tapi berusaha untuk tegar. 


"Ada apa sih dengan mama Rani? " Tanya Vito menatap wajah Zahra san dio saling bergantian. 


"Nggak ada apa apa kok!" Saut Zahra menggelangkan kepala saat dio melohat dirinya. 


Gadis itu tidak ingin kalau Dio menceritakan apa yang terjadi. Dio hanya mengangguk saja melihat gelangan kepala Rani. 


"Kak, apa yang terjadi pada mama Rani? Apa mama Rani melakukan kesalahan yang Vito nggak tahu? " Tanya Vito penasaran. 


Tiba tiba hati cowok itu punya firasat pada apa yang diceritakan oleh Zahra ada hubungan dirinya sendiri. 


"Kak, aku tadi mendengarkan apa yang diceritakan teman kakak, sangat jelas. Tapi aku ada pertanyaan pada kalian? " Kata Vito. 


Wajah cowok itu memang terlihat keheranan sekali, apalagi masalah Hamdi. 


"Sebenarnya kalian tahukan keberadaan papaku?" Tanya Vito. 

__ADS_1


Zahra hanya diam. Dio menghela nafas panjang. Ibu Nining juga yang diam saja langsung membuang  muka ken sebelah kiri saat Vito menanyakan keberadaan papanya. *


__ADS_2