
Malam yang dingin.
Zahra dan ibu Ayu masih berdua saling mencurahkan perasaannya tentang kasus kematian empat orang yang dengan jarak beda waktu jam dan tahun.
Sedangkan di rumahnya uwa iyan semuanya telah berkumpul dan siap untuk. makan, Ana menyusul ibu dan kakaknya. Tadinya mau rey taoi Ana menolak ia yang akan menyusul keduanya.
Tanpa keduanya sadarinAna sebenarnya mendengarkan apa yang mereka katakan. Ada oweasan yang beehemutuh dihatinya saat mendengarkan uwa Rani tersangka dari pembunuhan ayahnya.
"Jadi tante Rani yang jadi dalang semuanya! " lengking Ana.
Zahra dan ibu Ayu yang tidak menduga kedatangan Ana langsung menoleh.
"Ana! " keduanya hampir berbarengan saat tahu Ana telah berada di belakang mereka.
"Pantas kalau selama ini kakak belain tante Rani. nggak tahunya? "
"De, kakak nggak belain siapa siapa de. " ujar Zahra.
"Buktinya! "
"De, dengarkan semuanya. "
Ana merajuk. Gadis itu sebenarnya tidak semuanya mendengarkan apanyangbdi bicarakan oleh Zahra dan ibunya. Ia hanya mendengar kan yang terakhir saja.
"Ana datang kesini buat menyusul kakak dan ibu, tapi kenoa ibu dan kakak bicara masalh tante Rani? Sebenarnya kenoa? "
Ana cemberut!
"De, besok kita bicara berdua saja ya. Biar nggak ada yang ciriga kita lebih baik ke rumah uwa iyan saja sekarang." kata Zahra.
Mau tidak mau akhirnya Ana mau mengikuti apa yang dikatakan oleh Zahra, malam itu merka merayakan pesta dengan bakar jagung, singkong, serta makan dengan bakar ikan asin, ikan di sawah serta lalapan yang di letik di kebun.
Malam yang indah membuat kenangan tersendiri buat Zahra di malam itu, kerena tidak mungkin semuanya bakalan terjadi kembali.
🦋
Pagi hari udara di desa itu sejuk sekali! Guring kecil berkicauan dengan merdunya membuat hati nyaman sekali.
Pagi yang indah tjdak bisa ditemukan di kota kota, tapi di desa masih terdengar suara burung yang menyambut kedatangan mentari pagi.
"Ibu Ayu lihat Zahra? " tanya ibu Ani saat. ia melihat ibu Ayu yang sedang memetik daun singkong buat lalapan siang hari.
__ADS_1
Wanita itu menghampiri ibu Ayu, ia duduk dan membangun wanita itu.
"Aku nggak melihat Zahra. " dustanya.
"Apa jangan jangan sama kak Rani? " gumam ibu Ani seperti pada dirinya.
"Entah! Dari tadi juga aku nggak melihat mereka." ujar ibu Ayu.
Sedangkan Zahra dan Ana menuju perpustakaan yang pernah Zahra tempati, ya menurut Zahra di dalam perpustaakaan itu aman buat bicara serius dengan Ana. Jadi tjdak ada orang curiga kalau ia dan Ana bicara masalah yang akan di selidiki.
Sedangkan Rani, wanita itu sendirian di perbukitan seperti merenungi apa yang terjadi pada kehidupan dirinya sendiri.
"Kak, benar kalau tante Rani terlibat? Dalam pembunuhan pak Rohman, pak Karya dan ayah? Kenapa kita nggak langsung melaporkan semuanya pada polisi? " tanya Ana yang merasakan penasaran.
"Sssst! Jangan keras kerasnya bicaranya! Biasa saja, " kata Zahra menyuruh Ana merendahkan suaranya.
"Kakak hanya mwnduga saja kweena kakak juga nggak melihat korban pak Rohman maupun ayah. Sedangkan kasus kwmatian Narti juga kakak nggak. melihat langsung."
"Kakak juga menurut polisi yang menangani kasus kematin Narti, nggak tahu polisi iti juga menangani kasus ayah."
Zahra memberikan pengertian pada Ana tentang kasus pembunuhan yang terjadi pada ke empat orang itu, jadi salah satu polisi mengatakan kasus kematian Nartinsama dengan tiga korban nya, yang membedakan adalah kwmatian Narti yang ditemukan di solokan, sedangkan kwmtian tiga korbannya di atas tanah tergeletak bwgitu saja.
"Kakak tahu kenpa tante Rani melakukan itu pada ayah? " tanya Ana.
"Kakak sebenarnya nggak mau bahas ini juga kerena rentan terdengar oleh orang lain Ana, makanya kakak hanya diam diam saja. "
Kata Zahra menjelaskan tentang percakapan anatar ibu Ayu dan dirinya pada malam hati. Zahra hanya menceritakan harus besarnya saja dari percakapan dirinya dengan ibu Ayu.
"Tapi nggak. mungkin sih kalau tante Rani? " tanya Ana berpikir.
"Nggak mungkknnya? "
"Ibu pernah cerita kalau tante Rani teman ayah dan ibu, masa ia membunuh ayah? Mustahil kan?" tanya Ana.
"Na kita berpikir pahitnya, kalau. misal tante Rani adalah pembunuh ayah bagaiamana? " pancing Zahra.
Sejujurnya apa yang dikatakan oleh Ana memang benar, ia juga sebenarnya berpikir sama dengan Ana. Tapi ia juga berpikir realitanya kalau misal Rani yang jadi dalang pembunuhan ayahnya. Ia pasti akan mencari motif apa sampai Rani. mengambil nyawa ayahnya?
Apa kerena Hamdi akan membuka kasus kematian pak Rohman? Terus ia takut kalau aksinya ketahuan oleh semua orang?
"Kalau tante Rani pelakunya, apa karena ia takut kwtahian karena kakak mendengar kalau ayah akan melaporkan kalau dirinya nggak bersalah? " tanya Zahra.
__ADS_1
Ia ingat waktu dulu ayahnya pulang ke rumah dan menghilang lagi. dan. kata uwa iyan kalau Ayah di penjara juga sebenarnya polisi melindungi ayah, kerena memang di arit yang dipegang oleh ayah ada tiga sidik jari.
"Berati kalau begitu uwa Darman dan tante Rani saling berhubungan ya kak? " tanya Ana.
"Kata ibu, uwa Darman dan tante Rani sudah nggak ada hubungan lagi setelah uwa Darman menikah."
"Lalu kak kalau misal tante Rani nggak ada hubungan dengan uwa Darman buat apa ia datang lalu bunuh oak Rohman? " celetuk Ana heran.
"Itu yang harus kita cari Na, sebenarnya kita harus cari tahu keno uwa Darman membunuh pak Rohman? " tanya Zahra pada Ana.
"Katanya pak Rohman yang membeli tanah milik ayah. Tanah itundi jual oleh uwa Darman? " tanya Ana
Ia tahu masalah itu kerena mendengar cerita warga tentang kebun milik uwa Darman. "
"Iya, tapi yang jadi pertanyaannya kenapa tante Rani membunuh pak Rohmah, kalau. memang tersangkanya adalah tante Rani. Sedangkan tanah itu milik telah milik. uwa Darman yang biarpun statusnya milik ayah? "
"Apa mungkin tante Rani terlibat kerena ia membela uwa Darman? tanya Ana cepat.
"Oke! Bisa jadi."
Zahra menghentikan kata katanya menatap wajah Ana dengan tajam.
"Apa jangan jangan tante Rani takut ketahuan maka ia. membunuh ayah kerena ayah dan pak Karya malam itu akan bertemu. Tapi pak Karya malah dibunuh, dan uwa Darman mancing ayah untuk dibunuh! " urai Zahra mwnatap Ana dengan tajam.
"Iya kak, bisa jadi bwgitu. Jadi tante Rani membunuh ayah kerena takut ayah mencari bukti bukti yang ada. " Ana menyetujui apa. yang dikatakan Zahra.
"Jadi seolah olah. malam itu uwa Darman yang membunuhnya, " duga Ana.
Zahra hanya menghela nafas. Ia sama sekali tidak melihat ada orang lain selain uwa Darman san twmannya waktu. kejadian itu, apa kerena ia langsung ketahuan oleh uwa Darman atau apa? Ia sama sekali tidak tahu menahu.
"Kakak hanya melihat uwa Darman dengan temannya sih! Nggak ada orang lain lagi selain mereka berdua. " kata Zahra ragu.
"Tapi, bisa jadi waktu kakak meninggalkan tempat itu tante Rani datang ke tempat itu! " duga Ana.
"Kalau saja Ana tahu masalah itu mungkin Ana bakal pukul tuh uwa Darman biar kapok! " dengus Ana kesal.
Ia benar benar kesal sekali pada uwa Darman yang telah membuat ia harus kehilangan sosok ayah yang ia rindukan.
"Jadi buat sementara kita diam saja, jangan sampai semua tahu apa yang terjadi dan apa yang kita bicarakan, biar nggak ada berita yang mwn gemparkan lagi! " kata Zahra mengingatkan Ana.
"Iya kak, Ana akan. mengingat semuanyan kak, Ana juga ingin tahu siapa yang melakukan pembunuhan yang keji pada ayahnya.
__ADS_1
" Kamu dan ibu harus merahasiakan ini dari siapa pun ya, jangan ada yang tahu kecuali uwa iyan. Uwa Iyan juga sama dengan kakak mwnduga kalau tante Rani, " ujar Zahra mwnwouk bahu Ana.
Gasia itu langsung mengangguk dengan cepat ia mengerti apa yang dibicarakan oleh Zahra. Dalam hatinya ia berniat untuk mengungkapkan kasus pwmbunuhan ini, supaya tidak nada kita bantu lagi setelah Narti! *