
Rani meninggalkan uwa Iyan di teras rumahnya. Ia malah menuju ke tempat yang pernah ia datangi.
"Ma, kenapa mama kesini?" tanya Zahra mengikuti wanita itu..
Zahra langsung duduk disamping wanita itu yang sedang memandang dengan lurus. Zahra mengejar wanita itu kerena uwa Iyan memberi tahukan kalau Rani pergi ke suatu tebing. Ia langsung menyusul wanita itu..
Rey yang awalnya akan mengikuti Zahra ditarik oleh uwa Iyan supaya membiarkan Zahra dan Rani disana berdua. Ray akhirnya tidak mengikuti Zahra.
"Kenapa ma? Mama nggak suka kalau Rara mengajak mama kesini?" tanya Zahra lirih.
"Kamu hanya mengingatkan pada orang orang yang telah lama pergi." dengus nya.
Zahra melihat dengan jelas kalau ada kekecewaan di wajah wanita itu, tapi ia tidak mengubrisnya.
"Ma, kenapa? Boleh kan Rara tahu?" tanya Rara agak mendesak.
"Kamu harus mencari tahu apa yang ia ingin ceritakan, uwa yakin kalau sebenarnya Rani hanya ingin menceritakan pada orang yang tepat tapi entah siapa?" ujar uwa Iyan pada Zahra.
"Iya uwa, nanti Zahra bakal cerita tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rani. Zahra juga pendaran, terus rencana uwa itu apa sih!" tanya Zahra.
"Nanti kamu juga tahu, Ra. Kamu hati hati ya jangan gegabah juga "
"Kalau dia memang mama kamu yang mengangkat kamu, nggak mungkin ia kenal dengan Darman maupun desa ini Ra," kata uwa Iyan kemudian..
"Iya uwa, mama nggak akan tahu desa ini, kecuali Rani. Dan yang Zahra aneh wanita itu sering banget mengungkit desa ini," kata Zahra heran..
"Awalnya Zahra juga kaget waktu wanita itu tahu desa ini uwa," lanjut Zahra waktu itu.
Ya a sempat terkejut dan heran waktu wanita itu menyebutkan tempat yang pernah ia tinggali, ditambah lagi wanita itu juga mengenal beberapa orang yang telah lama meninggal maupun nama nama yang masih hidup.
Pas Zahra ketemu dengan mamanya ia langsung menanyakan tentang nama nama itu lada mamanya, malah mamanya seperti blank tidak tahu apa apa.
"Tuh,kan kata uwa juga apa? Jadi wanita itu benar benar Rani, maka dengan itu uwa minta bantuan pada kamu untuk mencari tahu apa yang terjadi."
Atas anjuran uwa Iyan siang itu ia mendatangi wanita itu di sebuah bukit yang ada di desa itu, bukit itu memang sangat indah sekali. Pemandangan indah dan sejuk sekali, apalagi banyak pohon yang rindang.
"Ra, jangan gegabah. Kita nggak tahu apa yang terjadi, pokoknya hati hati ya." nasehat uwa Iyan menepuk bahu Zahra.
"Oke Uwa, Zahra bakal hati hati.
"Ma, mama pernah tinggal disini kan, apa yang mama ingat dari tempat ini. Rara juga masih ingat tempat ini." kata Zahra.
"Pasti uwa Darman!" tebak Zahra tersenyum.
""Mama boleh kok cerita apa saja sama Rara, Rara bakal mendengarkan apa yang mama ceritakan," bujuk Zahra.
__ADS_1
Wanita itu hanya diam saja tidak merespon apa diucapkan oleh Zahra, pandangan matanya menatap lurus. Hanya angin yang selalu berhembus kearah wajah wanita itu m, elusan angin begitu lembut.
"Ma, Rara kangen ayah! Ayah yang selalu sayang sama Rara, yang sellau manjain Rara. Rara pernah ke bukit ini dengan ayah," kata Zahra sendu.
Zahra sengaja menceritakan diri pribadinya pada wanita itu, apa yang diceritakan oleh Zahra memang terjadi pada dirinya ketika ia masih kecil.
Wanita itu menatap wajah Zahra dengan tajam nya, ada perasan yang lain dihatinya saat Zahra menyebut kalau dirinya bukan Zahra Anindya tapi Anindya Putri ayah yang ada di gambar kamar rumah.
"Ra, maafkan mama, maafkan mama," tiba tiba wanita itu memeluk tubuh Zahra.
"Ma, kenapa mama minta maaf sama Rara. Mama nggak pernah salah sama Zahra."
"Maafkan mama sayang, maafkan sayang..Mama salah mama yang salah!" wanita itu langsung menangis di dalam pelukan zahra.
"Mama salah apa sama Rara, ma. Apa selam ini mama salah?" tanya Zahra sambil melepaskan pelukan dan menatap wajah wanita itu.
"Mama bukan mama kamu,"
"Mama hanya kesepian ditinggal tiga anak mama, mama hanya ingin kamu menganggap mama sebagai mama kamu, mama nggak mau kehilangan kamu." kata wanita itu dengan lancarnya.
"Mama sebenarnya tahu kamu bukan anak mama, mama hanya itu sama Ani yang punya kehidupan sempurna dibandingkan mama. Kamu juga bukan anak mama, kamu anak Hamdi!" dengan jelas wanita itu menceritakan semuanya.
Zahra hanya diam saja mendengar kan kata kata yang terlontar di mulut wanita itu, ia tidak menyangka kalau wanita itu bakal mengatakan kejujurannya lada dirinya.
"Iya, mama Ani hanya mama angkat kamu sayang." kata Rani menyadap tajam kearah Zahra.
"Mam sebenarnya hanya ingin menyanyangi kamu dan menganggap kamu anak mama," ujar wanita itu.
Zahra termenung sejenak. Ia masih ingat panjang ibunya katakan pada nya.
"Rani nggak akan menyakiti kamu,"
"Kok ibu begitu percaya sama Rani sih!" protes Ana.
"Bagaiman pun Rani menganggap Zahra sebagai anaknya, ya biarpun nggak seratus persen sih!"
"Tapi Ra, ibu percaya kok dengan apa yang ibu ucapakan. Kamu nggak perlu khawatir dengan Rani."
"Bu, kenapa Rani nggak menyakiti Zahra, apa ada sesuatu yang disembunyikan nya?"
"Ibu cuma menyangka kalau kamu sebenarnya telah dianggap anak. Dan Rani sebenarnya ingin menyingkirkan mama kamu." lanjut Ibu Ayu menatap wajah Zahra.
"Nggak mungkin!" terima Zahra terkejut.
"Tapi mudah mudahan nggak bakal terjadi apa apa."
__ADS_1
Zahra termenung sejenak, mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya. Ada perasan yang menyelinap dihatinya sebuah kekhawatiran.
"Percaya apa yang ibu katakan, jangan ragu. Tapi kamu harus tetap waspada apa yang terjadi," nasehat ibu Ayu menepuk bahu Zahra lembut sekali.
Zahra hanya termenung mengingat semua percakapan antara dirinya dengan ibu Ayu. Ana hanya menatap tidak berkedip, melihat semuanya.
"Kenapa harus mama yang mengalami ink semuanya? Ani begitu sempurna memiliki kamu sedangkan mama?"
"Ma, mam juga mama Rara, jadi mam jangan berkata begitu ya. Mama juga mama Rara, Rara sayang sama mam." ungkap Zahra pada wanita itu.
Hatinya berdesir hebat saat ia mengucapkan kata kata itu di hadapan wanita itu, wanita yang tidak pernah ia kenal sama sekali ujug ujug menyuruh dirinya membuat mama.
"Ra, mama kangen sama kamu, mam sayang kamu selamanya." ujar wanita itu tulus.
Zahra hanya tersenyum terharu mendengar ketulusan hatinya wanita itu. Kejujuran hati wanita itu membuat dirinya merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu.
"Ma, Rara nggak bakal berubah. Rara tetap anak mama." ujar Zahra.
"Kamu bukan Rara, kamu Anin." tegas wanita itu.
"Kamu Anin putri pertama Hamdi dan Ayu, kamu ditemukan di sebuah jalan yang sepi oleh pasangan suami istri Bram dan Ani." cerita wanita itu.
Deg!
Hati Zahra bergetar dengan hebatnya saat mendengar apa yang dibicarakan oleh wanita itu!
"Mama tahu ini? Tapi kenapa mama seperti menyembunyikan semuanya dari Rara?" tanya Zahra kaget.
"Sebenarnya bukan mama yang menyembunyikan ink dari kamu, Ra. Tapi mama menjaga perasaan mama Ani, mama tahu rasanya kehilangan, kehilangan yang sesungguhnya."
Zahra terdiam. Ia tidak menyangka kalau wanita yang ada dihadapannya ada sisi rapuhnya.
"Mama sayang kamu Ra, mama Ani juga sayang kamu, hanya kamu nggak tahu kalau mama sering mengantikan posisi mama Ani mu," cerita wanita itu.
"Kenapa mama lakukan itu pada Rara?"
"Mama hanya nggak ingin menyanyangi kamu saja Ra." ungkap wanita itu.
"Jangan rasa sayang itu jangan terlihat seperti itu, itu sama saja bohong. Rara nggak suka sama cara mama menyanyangi Rara," tegas gadis itu menatap wajah wanita itu.
"Ma, apa yang terjadi itu sudah ditetapkan oleh Tuhan." lanjut Zahra.
"Bukan Tuhan tapi tangan manusia yang melakukannya!" sembur wanita itu terlihat kesal sekali.
Beberapa kali Zahra menganggam tangan wanita itu seperti memberikan dukungan pada wanita itu. Sedangkan wanita itu hanya diam saja mendengar apa yang di bicarakan oleh Zahra.
__ADS_1