TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 83


__ADS_3

Pagi itu!


Mentari pagi bersinar dengan cerianya, memancarkan sinar yang begitu hangatnya, suara bising telah terdengar dengan jelas sekali suara kendaraan yang hilir mudik.


Dio datang ke kantor dengan perasaan bahagia kerena telah menemukan Zahra, ia ingin memberitakan semuanya pada Rey dan sekalian minta maaf kerena ia tidak mengajak Rey ikut menyelamatkan Zahra. Wajahnya terlihat berseri seri sekali.


Rey yang lebih dulu datang! Keget ketika para karyawan disana membicarakan Zahra yang telah tiba dengan selamat. Ia mulai ingat waktu Dio meminta izin untuk pergi dari kantor, tanganya mengepal kesal mengingat itu semuanya.


"Wah! beruntung ya Dio yang menyelamatkan Rara kemarin, kalau nggak mungkin Rara nggak pulang sekarang." ujar salah satu karyawan..


"Iya, kata nya Dio yang berhasil menyelamatkan nya."


"Mereka juga pulang berdua dari rumah itu!"


Komen demi komen dari teman teman terdengar secara langsung oleh Rey saat ia akan masuk ke ruangan nya.


Ia yang mendengar langsung geram kerena mendengar nama Dio yang menyelamatkan Zahra, akhirnya tanpa menunggu lagi ia langsung ke ruangan Dio.


"Hai bro bagaiamana kabarnya?" tanya Dio basa basi menyambut Rey yang tiba tiba muncul. Ia sebenarnya ingin langsung ke ruangan Rey ingin memberitahukan, tapi keburu orangnya tiba.


Dio berkerut keningnya melihat Rey seperti marah, kerena wajahnya ditekuk begitu rupa.


Rey tidak menjawab ia langsung menghampiri Dio dan,


BUG!


BUG!


PLAK!


Tanpa Dio duga sama Rey terlihat marah pada Dio, langsung meninju pipi Dio beberapa kali, ia melihat wajah Rey yang merah padam akibat marah yang mendidih di kepalanya.


"Rey apa apaan sih kamu, main pukul saja!" teriak Dio heran.


BUG!


Rey bukan menjawab pertanyaan dari Dio, ia tetap menghajar Dio tanpa memberikan kesempatan untuk Dio bicara sepatah katapun..


"Diam kamu! Kamu kemarin pergi kemana?" tanya Rey emosi.


Rey mencengkram kerah Dio dengan kasarnya diangkat ke dekatnya.


"Oh itu ya Rey, maaf aku nggak bilang kalau aku," kata Dio menyadari kalau Rey marah kerena masalah Zahra.


Ia bergidik melihat Rey se marah itu pada dirinya.


"Kenapa kamu nggak bilang!" teriak Rey.


Ia melepaskan cengkraman kerah baju Dio.

__ADS_1


"Maaf Rey aku buru buru, dan hanya mikirin nasib Rara."


"Alah! Kamu hanya ingin jadi pahlawan saja di mata Rara!"


"Kamu suka kan sama Rara!" lanjut Rey..


Pria 27 tahun itu hampir saja menampar pipi Dio, tapi keburu Ana datang dsn mencegah tangan Rey menyentuh pipi Dio.


"Kak, seharusnya kakak yang berterimakasih pada kak Dio, bukan seperti ini!" Ana melabrak Rey.


"Kamu bela dia?"


"Ya aku bela kak Dio, kerena ia yang jadi penyelamat kakak, seharusnya kamu yang menyelamatkan kak Zahra!"


"Tapi kenyataannya apa? Kamu hanya marah marah pada ibu Ani, menyalahkan ibu Ani tanpa tahu apa yang terjadi!" lanjut Ana sambil mendorong tubuh Rey.


"Na, aku juga mencari Zahra!"


"Mencari Zahra! Mana buktinya? Kamu hanya bisa marah dan marah saja," pojok Ana kembali.


Gadis itu menyerang Rey dengan kata katanya. Ya tanpa Rey ketahui sebenarnya Ana memperhatikan tindak tanduk Rey selama berada di kantor.


Dio yang melihat Ana marah, langsung menarik tangan Ana supaya tidak menyerang Rey.


"Kamus nggak pernah kan mencari kak Zahra, ngaku! aku tahu kalau kamu hanya mencari Kaka di rumah ibu Ani, sedangkan kakak nggak pernah pulang ke rumah ibu Ani!" jelas Ana tajam.


"Maksudnya?" Rey bertanya sambil menatap wajah Ana.


PLAK!


Melihat gelagat itu Dio mencoba menarik tangan Ana, tapi gadis itu menepiskan tangan Dio.


"Kamu nanya? Kamu bertanya tanya!" Seru Ana kasar.


Mungkin kalau tidak ada Dio, Ana sudah menghajar Rey menjadi rempeyek saking kesalnya mendengar teriakannya Rey yang menyudutkan Dio.


"Kamu mencari dimana?" tanya Ana teriak.


Ya Ana kesal dsn marah pada Rey. Kerena apa? Rey tanpa bertanya apapun langsung menghajar Dio.


Tadi waktu ia akan ke ruangan Zahra ia melihat Rey berjalan menuju ruangan Dio, kerja penasaran ia mengikuti Rey ke ruangan Dio. Ia kaget saat sampai di ruangan itu, ia melihat kalau Rey menghajar habis habisan Dio.


"Kamu datang ke rumah ibu Ani'kan? Kerena kamu menyangka kalau ibu Ani melakukannya, kamu tahu siapa yang melakukannya. Bukan ibu Ani!" tekan Ana tajam.


Rey terdiam dan melirik wajah Dio yang menatapnya. Pria itu tetap memegang tangan Ana supaya tidak mengamuk.


"Seharusnya kamu bersyukur ada orang yang masih peduli sama kamu, kalau nggak aku nggak tahu nasib kak Zahra." kata Ana menghempaskan tubuhnya ke kursi.


"Rey maafkan aku kerena kemarin nggak menceritakan niatan aku mencari Rara, aku butuh jitu." kata Dio menatap Rey.

__ADS_1


Rey diam. Matanya melirik wajah Ana dsn wajah Dio bergantian satu sama lainnya.


"Malam mereka datang! Kamu nggak tahu kan ceritanya yang sebenarnya?" tanya Ana.


Rey akhirnya duduk di kursi depan Ana.


"Dio maafkan aku, aku keburu bernafsu memukul kamu," ujar Rey menatap Dio.


"Nggak apa apa, aku mencari Rara juga supaya kamu nggak berburuk sangka pada ibu Ani," uang Dio tersenyum.


Laki laki itu langsung mengulurkan tangan.oada Rey meminta maaf. Rey yang melihat itu langsung menyambut tangan Dio dengan rasa bersalah.


Sedangkan Wanita itu! Mendengarkan semua yang diceritakan oleh Narti! ia benar benar tidak menduga kalau ada orang yang tahu tempat yang ia diami.


"Kamu tahu siapa pria muda itu?" tanya Wanita itu menatap Narti.


Keduanya akhirnya duduk di teras rumah belakang, setelah Narti dilepaskan dari ikatannya oleh wanita itu!


"Tinggi, ramping, putih, rambut lurus, wajah cakep!" kata Narti mengingat wajah Dio


"Kamu ingat kan wajahnya?"


"Iya ingat kalau ketemu lagi!"


"Kmu sampai kecolongan bagaiamana ceritanya?"


"Ia ingin ketemu ibu, dan mengatakan kalau sudah janji sama ibu."


"Lalu?"


"Ya sudah aku buka kunci pintunya, tapi pria itu malah membekap mulutku sampai lemes banget," kata Narti.


"Aku nggak ingat lagi apa yang dilakukan pria itu sampai non Zahra Kabir!" Dengus Narti.


Kalau bakal begini ceritanya mungkin ia tidak bakal membuka pintu pagar rumah itu! Tapi nasi telah menjadi bubur dsn tidak akan terulang lagi, Zahra telah pergi.


"Kamus benar benar nggak bisa dipercaya!" ketus wanita itu kesal.


"Maafkan saya bu, saya salah telah percaya pada orang itu!"


Wanita itu hanya menarik nafas dalam dalam, hatinya seperti ada luka yang menyayat hatinya terasa perih sekali.


"Bu, beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Janji saya nggak bakal melakukan hal yang ceroboh itu lagi." ujar Narti merasa bersalah.


"Sudahlah! kamu beresin semua barang yang berserakan di ruangan!" perintah Wanita itu sambil meninggalakan teras belakang rumah.


Ia menuju kamar dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan pikiran Keman mana.


"Aku bakal melakukan apapun demi kebahagiaan yang aku kaan raih biarpun kamu harus meninggal juga," gumam wanita itu sinis.

__ADS_1


Ia menatap langit langit kamar dengan tatapan kosong sekali.*


__ADS_2