
"Maaf! Saya kesini atas perintah komandan untuk menangkap saudara Darman! " Dua polisi.
Keduanya memberitahukan Zahra kalau keduanya atas perintah komandannya untuk meringkus Darman.
"Maaf Pak, bapak tahu darimana kalau pak Darman ada disini? " Tanya Zahra.
"Pak Bram yang memberitahukan semuanya, ia selama ini menyelidiki keberadaan dari saudara Darman. " Polisi itu mengaku kalau yang melaporkannya adalah pak Bram.
Mendengar pengakuan dari salah satu polisi, sukses membuat Zahra san Vito terkejut sekali kerena secara diam diam pak Bram malah melaporkan tindak tanduk Darman.
Zahra sama sekali tidak menduga kalau papanya yang melakukan laporan pada polisi, ada rasa haru yang menyelinap dihati Zahra mendengar dari polisi tentang papanya.
"Papa, " Gumam Zahra.
Hati Zahra bergetar saat mendengar nama papanya di sebut di hadapannya. Tiba tiba hati Zahra terharu sekali pada papanya yang selalu ada untuknya sampai masalah Darman dan Rani, papanya melaporkan.
"Ya, menurut komandan yang melaporkan semuanya pak Bram ayah nona sendiri!" Kata polisi gemuk mengangguk mengiyakan kata kata Zahra.
"Maaf saya dan teman saya mau mengejar saudara Darman dulu. " Polisi itu meminta izin untuk mencari Darman kembali.
Kedua polisi itu membenarkan apa yang di gumam kan oleh Zahra! Kedua polisi itu meninggalkan tempat itu, Zahra dan Vito hanya saling tatap satu sama lainnya.
"Jadi papa kamu yang melaporkan pak Darman dan mama? " Tanya Vito mendekati Zahra.
Dari ucapan Vito ada kata kata yang tidak enak didengar oleh Zahra. Ia hanya mampu mengangguk dan mengiyakan pertanyaan dari Vito. Melihat anggukan kepala Zahra, Vito hanya menghela nafas panjang.
"Aku nggak nyangka kalau papa kamu jahat! " Tiba tiba Vito berkata ketus pada Zahra.
"Maksudmu apa? Papa ku jahat? Jahatan mana mama kamu atau papaku? " Tanya Zahra tidak suka pada pertanyaan Vito yang seenak saja bicara seperti itu dihadapannya.
"Aku rasa bukan papa aku yang jahat! Wajar papa aku melaporkan mama kamu dan uwa Darman kerena keduanya buronan polisi. " Sembur Zahra tidak suka.
"Kalau saja uwa Darman mengatakan kejujuran tentang kematian pak Rohman nggak mungkin ayah meninggal di tangan mereka berdua. " Jelas Zahra pada Vito.
"Kamu tahu, beberapa bulan ayah harus menderita di penjara tanpa tahu kesalahannya. Sampai uwa Darman tahu, Kalau secara diam ayah mencari bukti kebenarannya. "
Cerocos Zahra, tanpa menunggu waktu lagi Zahra langsung meninggalkan Vito, ia tidak peduli lagi sama Vito. Pemuda itu yang melihat Zahra meninggalkan tempat itu langsung mengikuti Zahra kearah mobil.
"Ra, Ra! " Panggil Vito berteriak saat melihat Zahra meninggalkan dirinya begitu saja.
Tapi Zahra tidak menggubris panggilan dari Vito. Gadis itu langsung menuju mobil yang ia parkiran tidak jauh dari sana.
Tanpa Vito Zahra pulang ke rumahnya sendiri, sedangkan Vito mendengus marah melihat Zahra pulang tanpa dirinya.
🦋
"Bajingan! " Rutuk Darman terlihat kesal.
__ADS_1
Ia benar benar tidak pernah menyangka kalau gadis yang ada di hadapan nya adalah orang yang dulu pernah disepelekan olehnya.
"Kang aku takut kalau dia bakal membuat kita susah! Kata Tio padanya dulu 20 tahun yang lalu.
" Ah! Kamu takut sama anak ingusan?" Kekeh Darman sambil tertawa mengejek dan menipiskan tangannya ke udara.
Saat Tio menunjukan bocah umur 6 tahun itu padanya.
"Siapa tahu ia jadi bumerang buat kita kang di masa depan nanti. "
"Alah nggak bakal lupa apa yang terjadi, nggak mungkin mengingat nya," Cemoh Darman mencemohkan gadis kecil yang ditinjukan tadi oleh Tio yang sedang main dengan teman teman nya.
Ya waktu itu ada Anin diantara teman teman nya salah satu nya adalah Ari anaknya Tio yang begitu akrabnya.
"Pak, untung bapak selamat ya! Bagaimana bapak bisa lari dari dua polisi? " Tanya Vito yang tiba tiba menghampiri Darman.
Sejak tadi pemuda itu melihat Darman yang termenung di sebuah bangunsn tua dekat aliran sungai. Secara diam diam ia menghampiri Darman yang menatap kosong ke arah depan sambil memandang aliran sungai yang airnya sudah butek.
"Kamu! " Darman sangat terkejut saat Vito yang tiba tiba datang tanpa permisi lagi.
Darman tanpa ba bi bu langsung memukul baju pemuda itu, sedangkan Vito hanya tertawa renyah.
"Kamu bikin aku terkejut saja." Sembur nya.
"Pak, bagaimana rasanya di kejar polisi, " Senyum Vito.
"Pak Bram yang sebenarnya laporkan bapak dan mama. " Ucap Vito.
Adu nya pada Darman. Vito nyakin kakau pria itu mengenal Bram.
"Bram? Siapa dia? " Tanya Darman heran, ia. Memalingkan wajahnya melihat wajah Vito. Dalam hatinya ingin tahu orang yang dimaksud oleh pemuda itu.
Vito melonggo melihat keterkejutan Darman saat ia menyebut nama Bram, Darman sama sekali tidak pernah mengenal Bram sebelumnya. Jadi wajar kalau pria itu terkejut mendengar kalau pria itu yang melaporkan dirinya ke polisi.
"Papanya Zahra. " Jawab Vito.
Pemuda itu hanya mengangkat kedua bahunya saja mendengar pertanyaannya dari Darman.
"Jadi Zahra itu Anin? " Tanyanya melihat Vito.
"Iya, pak. "
"Bram? Papa nya Zahra? " Kejar Darman.
Ia blank apa yang dimaksud oleh Vito.
"Coba jangan berbelit belit ceritanya, biar aku mengerti apa yang kau maksud, " Kata Darman pada Vito.
__ADS_1
Ya Darman ingin sekali mendengarnya, kenapa Anin bisa menganti nama menjadi Zahra? Dan ia juga terkejut kalau Bram papanya Zahra. Ia benar benar belum mengerti sama sekali.
"Katanya sebelum menjadi anak pak Bram namanya Anin tapi sekarang bernama Zahra, diganti sama pak Bram,"
"Entar, si Bram bisa menemukan Anin dimana sampai gadis itu ketemu sama dirinya? " Tanya Darman penasaran.
Hatinya benar benar heran. Gadis yang disangka meninggal 20 tahun yang lalu kini malah kembali lagi dengan segar bugar.
"Entah! Aku hanya tahu. Memangnya Zahra pernah menghilang ya? " Tanya Vito.
Pemuda itu terkejut kalau Zahra pernah menghilang.
"Ah! Ribet tahu, " Sembur Darman.
Pria itu termenung masa ia harus menceritakan pada Vito tentang kenapa Anin menghilang? Itu sama saja membuka sejarah kelam dirinya dengan Rani ya otomatis kalau diceritakan nama dirinya dan Rani tersebutkan dalam perjalanan kelamnya.
Darman hanya menghela nafas panjang. Ia sama sekali tidak mau menceritakan ya biarpun Darman sangat penasaran pada keberadaan Anin yang tiba tiba menghilang puluhan tahun yang lalu.
Dan yang terkejutnya nama Anin berubah menjadi Zahra, dan menjadi anak dari Bram Wijaya. Darman benar benar buntu sekali.
"Kamu kesini buat apa? " Tanya Darman sengaja pria itu mengalihkan pembicaraannya.
"Aku kesini mencari bapak. " Ujar Vito memandang kearah depan.
"Buat apa? " Tanya Darman heran.
Jarang jarang ada orang mencari dirinya, kecuali pemuda yang baru beberapa hari dikenalnya. Tapi tiba tiba hati Darman berdebar sangat keras sekali, ia takut kalau pertanyaan pemuda itu tentang laki laki yang telah membuat ia hadir di dunia ini.
Tapi ia menepiskan perasaan itu, Darman mencoba berpikir positif saja.
"Kenapa pak Rohman tidak memberikan uang penjualan dari tanah itu! "
Tiba tiba Vito menanyakan hal yang tidak diduga oleh Darman sama sekali. Pria itu sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Vito padanya, yang lebih terkejut nya lagi, ia bertanya dari mana pemuda itu tahu masalah tanah itu, sedangkan Vito waktu itu belum lahir.
"Kamu tahu dari mana? " Tanya Darman sinis.
"Aku punya telinga untuk mendengar pak, " Tegas Vito.
"Jangan jangan dari Anin atau Ana, " Tebak Darman.
"Nggak perlu tahu dari siapapun. Tapi itu yang aku dengar sendiri."
Darman menatap tajam ke arah Vito. Ia sangat nyakin kalau pemuda yang ada di hadapannya pasti tahu semua, tapi untuk bertanya ia sangatlah ragu.
"Untuk apa kau tanyakan itu sama aku? " Tanya Darman ingin tahu alasan yang dilontarkan oleh Vito.
"Hanya ingin tahu saja, kenapa pak Rohman nggak memberikan uang itu pada bapak, sedangkan ia tahu kalau bapak menjual tanahnya pada bapak? " Tanya Vito.
__ADS_1
Darman benar benar tercekat sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Vito. Ia menggelengkan kepala nya beberapa kali, menepiskan pikiran pikiran yang jelek di dalam kepala nya. *