TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 180


__ADS_3

"Kang! Aku tahu kamu bela aku tapi jangan pukul Vito dia anakku! " 


Jelas Rani, wanita itu tidak mau ada kesalahpahaman diantara mereka berdua kerena Vito. 


Vito yang melihat keduanya bertengkar akhirnya meninggalkan tempat itu! Tapi dengan cepat Darman menghalangi Vito untuk pergi. 


"Kamu mau kemana? " tanya Darman tajam. 


Pria itu langsung meraih tangan Vito dengan dengan cepat sekali, ia tidak tidak ingin kalau Vito pergi begitu saja di gubug itu. 


"Pulang! " ketua Vito. 


Pemuda itu langsung menghentakan tangannya yang digenggam oleh Daraamn. Tapi pria itu tidak melepaskan gengaman tangan dari tangan Vito. Sampai pemuda itu medelik menatap wajah Darman dengan tajam. 


Tapi Darman tidak memperdulikan delikan Vito yang menatap ke arah wajahnya. 


"Bohong! Aku tahu kamu bakal bilang sama Zahra apa yang kami bicarakan ini kan? " tanya Rani yang tiba tiba ikut bicara pada Vito. 


Darman yang tadinya ia bakal bicara akhirnya hanya diam saja, sebenar ya ia ingin sekali bicara tapi keburu Rani bicara akhirnya Darman hanya diam saja. 


"Ma, kenapa mesti aku bohong sama mama? Kalau memang mama nggak percaya lebih baik mama pulang! Ngapain coba cewek mau nyamperin cowok! " sembur Vito. 


"Kamu lupa kami saudara! " tanya Darman tegas. 


"Alasan! Kalau memang kalian saudara kenapa dulu kalian pacaran! Nggak tahu diri saja, " sunggut Vito. 


"Anak kurang ajar! " teriak Darman. 


"Kang!" teriak Rani. 


Wanita itu langsung berteriak sangat kertasnya saat ia melihat tangan Darman hampir saja mengenai wajah Vito, ya  Darman hampir saja memukul wajah Vito lagi, kalau saja Rani tidak langsung menghampirinya dan memegang tangan Darman. 


"Anak kurang ajar! Seharusnya kamu gigirkan saja dia dulu! " sembur Darman kesal. 


"Seharusnya yang di gugurkan itu kamu pak? Kalau saja di gugurkan mungkin nggak ada korban yang meninggal gara gara kamu! " Teriak Vito beringas. 


"Mungkin kalau bapak di gugurkan, mungkin juga papa nggak akan dibunuh oleh kalian berdua! " sambung Vito meluap marahnya.

__ADS_1


Vito masih menyebutkan bapak pada Darman sedangkan ia tahu kalau Darman sebenarnya kakak dari mamanya, tapi untuk menyebut uwa ia tidak mau sama sekali ia masih tetap menyebutkan bapak saja pada pria yang kini ada dihadapannya. 


Plak!


"Terus ma, pukul Vito. Sekalian mama bunuh Vito seperti mama bunuh pak Rohman dengan arit yang mama bawa! Vito ikhlas kalau mama bunuh Vito di sini, dari pada Vito mendengar mama melakukan kejahatan lagi!" Teriak Vito. 


Pemuda itu bicara dengan lantang ketika pipinya di pukul Rani beberapa kali. Mendengar itu Rani hanya diam saja ada perasaan sakit saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vito. 


"Kenapa ma? Kenapa mama diam saja! Cepat bunuh Vito sekarang juga, atau bapak juga bantu mama buat bunuh aku. Kenapa kalian diam saja? " teriak Vito marah. 


Ditatap wajah keduanya yang hanya diam saja, Darman yang beringas langsung menundukan kepalanya saat Vito mengatakan perkataan  itu, hatinya tiba tiba sakit sekali. 


Rani juga shock dan hanya bisa menjatuhkan diri ke lantai. Ia tidak meyangka kalau Vito bakal melakukan itu pada ya. Keduanya saling tatap dan helaan nafas terdengar di mulut keduanya. 


"Kenapa kalian diam saja, sekarang bunuh Vito! Apa yang kalian tunggu sekarang? " ujar Vito memandang keduanya. 


Darman langsung meninggalkan tempat itu sedangkan Rani diam saja. Sedangkan Vito juga menjatuhkan badannya di samping wanita yang telah melahirkannya. Wanita yang ia benar benar sayangi, wanita yang jadi teladannya maupun motivasinya. 


Darman entah pergi kemana meninggalkan keduanya di tuang tamu. Sedangkan di ruangan itu. Hanya ada Rani dan Vito. Keduanya duduk berhadapan satu sama lain, ditatap wajah Rani dengan tajam. 


"Ma kenapa mama seperti ini? Kenapa ma, Vito hanya ingin. Mama yang baik, yang lembut dan yang sayang sama semuanya. " kata Vito lembut. 


Hati Vito sebenarnya tidak peduli sama kejadian mama ya di masa lalu, yang ia  inginkan kalau Rani bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya supaya tidak jadi buronan polisi. Dan ia hanya ingin punya mama yang tidak punya sangkut paut ya dengan hukum. 


Rani hanya diam saja mendengar apa yang Vito katakan. 


"Ma, Vito hanya ingin mama nggak pernah mengulangi perbuatannya dimasa lalu mama lagi, apalagi kalau mama bisa membuat pak  Darman juga bisa mempertangungjawabkan perbuatan kalian ke polisi! " lirih Vito. 


"Ma,  Vito ingin supaya papa tenang disana, mama sayangkan sama papa? " tanya Vito mwmgwnggam tangan mamanya dengan. Lembut sekali. 


"Kalau mama sayang papa, Vito ingin mama menyerahkan diri pada polisi bagaimana pun mama harus ma. " lanjut Vito. 


Sebenarnya Vito berharap dengan sangat pada mamanya untuk menyerahkan pada polisi, ia berkata lembut juga supaya mamanya luluh


Tapi apa yang dikatakan Vito tidak sepenuhnya didengar oleh Rani. Wanita itu masih dendam pada Zahra yang telah membuat dirinya sengsara, setelah Vito pulang Rani langsung mendatangi  Darman. 


"Anak itu? " tanya Darman ketika ia melihat Rani duduk tidak jauh dari nya. 

__ADS_1


"Pulang! " 


"Kang maksud akang tadi Ayu dan Ana sekarang pulang? Bagus tuh buat sitaan kita," ujar Rani. 


Kata Rani membuka pembicaraan. Daraamn menatap wajah Rani ia belum fokus apa yang dibicarakan oleh Rani. Akhirnya Darman mengantuk angguk setelah beberapa menit berlalu. 


"Iya, katanya hari ini pulang. Anin yang bakalan mengantarkan ke terminal, terus rencana kita bagaimana? " tanya Darman menatap wajah Rani. 


"Kita lakukan sesuatu pada mereka. " 


"Dia tahu darimana kalau aku punya anak dari Hamdi? " tanya Rani seperti bertanya pada dirinya sendiri. 


"Kayanya dari Ana, dia'kan tahu semuanya tentang  kamu. " 


Rani mengepalkan tangannya mendengar nama Ana disebut oleh Darman. Ia sejak dulu juga sama Ana benar tidak menyukainya, dan sekarang malah Ana pembuat onar yang telah memberitahukan dirinya pada Ayu. 


Rani sebenarnya tidak tahu kalau bukan Ana yang memberitahukan kalau Rani  punya anak dari Hamdi tapi dari mbok Inem. Ana sengaja tidak memberitahukan ibunya ia ingin menjaga peradangan ibunya apalagi yang melakukannya bukan orang lain tapi Rani yang telah ibunya anggap sebagai saudara. 


Masa Ana tega mengungkapkan pada ibunya, tapi Rani menyangka kalau Ana yang melakukannya. 


"Aku yakin supaya Ayu marah dan kalian bertengkar! " kata Darman. 


Duga  Darman sambil menganggukan kepala mengiyakan dugaaan yang disampaikan oleh Rani pada dirinya. 


"Bajingan juga tuh anak! " gerutu Rani tidak terima. 


"Kita lebih baik lakukan sesuatu sekarang! " sambung Rani mengajak Darman. 


Darman langsung mengiyakan ajakan dari Rani, akhirnya keduanya langsung pergi meninggalkan gubug menuju arah terminal dimana Ayu dan Ana akan melanjutkan perjalanan menuju desa itu! 


"Tante!" Teriak Ana saat melihat mobil Rani berhenti di depan angkutan yang digunakan oleh Ana dan Ayu. 


Gadis itu berdebar sangat keras jantungnya saat mobil yang ditumpangi disalib oleh Rani, wanita itu, ketika Rani keluar Ana yang melihat terkejut sekali. 


Mobil Rani tepat di depan bus yang dinaiki oleh Ana, wanita itu langsung masuk ke bisa dan meraik tangan Ayu. Gadis itu melihat ibunya ditarik langsung memberikan perlawanan pada Rani. Ana meminta tolong pada kenek mobil. 


"He, lepaskan!"Teriak kenek mobil saat melihat Rani yang tiba tiba masuk dan menyered ibu Ayu dengan kasarnya. 

__ADS_1


" Kamu jangan ikut campur!. Kalau tidak mau mampus! " hardik Darman yang tiba tiba datang langsung menghajar kenek itu. 


Melihat keributan  semua orang hanya diam saja saat mendengar Ana minta tolong. Penumpang semuanya takut saat Darman mengajungkan sebuah arit di atas. Ada beberapa penumpang yang lari kocar kacir saat melihat arit yang dipegang oleh Darman.*


__ADS_2