TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 214


__ADS_3

"Mama, mama apa apan sih! Datang bukannya permisi atau apa ini malah marah marah seperti ini? " tanya Vito. 


Sambil menatap wajah mamanya yang sedang duduk bersandar ke kursi, sambil menghela nafas berat. Ada keheranan di mata nya Vito melihat mamanya seperti itu, ia sama sekali tidak tahua apa yang mama lakukan dan sampai pulang marah marah seperti ini. 


"Kenapa diam, ma. Vito kan nggak tahu apa yang mama rasakan sekarang?" tanya Vito heran pada mamanya. 


Ia merasa terganggu oleh kedatangan mamanya yang seperti itu, kerena ia  sekarang sedang konsen ke ujian yang akan dilaksanakan di kampusnya, dan sekarang ia malah mendengar keributan yang mamanya lakukan di rumah. 


"Kamu nggak bakal mengerti apa yang mama rasakan? " sembur Rani  marah menatap wajah Vito tajam. 


Rani hanya bisa menghela nafas panjang saja mendengar apa yang dikatakan oleh Vito anaknya, ada perasaan kesal dan frustasi di wajahnya. 


Vito hanya menyengir mendengarkan apa yang ibu Rani, ia tidak mengerti apa yang wanita itu katakan. 


"Maksud mama apa? " 


Pemuda itu yang awalnya akan meninggalkan wanita nyang telah melahirkan itu di ruangan tamu akhirnya ia tidak jadi kerena ia penasaran apa yang akan dikatakan mamanya.


"Bram! " ujar Rani. 


Rani hanya menyebut nama Bram di hadapan Vito, ketika melihat anaknya langsung duduk di hadapannnya. 


Vito akhirnya menatap wajah wanita itu dengan tajam. Rani yang ditatap oleh Vito sedemikian rupa hanya menghela nafas panjang. 


"Om Bram? Kenapa om Bram, ma?" kata Vito heran. 


Pemuda itu semakin penasaran apa yang dikatakan Bram pada mamanya. Melihat Vito yang penasaran pada apa yang terjadi membuat Rani hanya menghela nafas kesal, tapi itu yang membuat Vito tersenyum manis melihat mamanya seperti itu. 


"Mama nggak ngerti apa yang dikatakan Bram! " ketusnya. 


"Memangnya mama bicara apa sih pada om Bram sampai om Bram bicara itu pada mama? " 

__ADS_1


"Mama hanya bicara kalau mama misalkan di penjara kamu tinggal dimana? " 


"Om Bram kenapa? Mama ketemu dimana dengan om Bram?" cerocos Vito membrondong pertanyaan. 


Pemuda itu seperti tidak fokus apa yang diucapkan oleh mamanya, ia hanya fokus pada nama om Bram saja. 


"Mama nggak boleh bicara dengan Ayu." 


"Di larang bicara sama ibu Ayu? Kok bisa?" 


"Semua gara gara Ana sih! dia seharusnya nggak ikut nimbrung apa yang dikatakan mama, nyatanya malah sebaliknya. " Rani kesal. 


"Alasannya? Kenapa mama ingin bicara dengan ibu? " kejar 


Kerena Vito masih mengejar dengan pertanyaan  demi pertanyaan yang akhirnya Rani menceritakan yang lebih detailnya pada Vito, pemuda itu hanya menghela nafas panjang saat mendengar apa apa yang dikatakan mamanya. 


Sebenarnya Vito tidak masalah kalau mamanya di penjara ia bisa tinggal di rumah mama angkatnya saja, tapi malah Rani seperti nya tidak ingin kalau pemuda itu diam di rumah orang tua angkatnya. 


Pemuda itu tidak mencari alasan kenapa mamanya seperti tidak mau kalau dirinya tinggal di rumah orang tua angkatnya, ya bukan sekali dua kali sih mamanya melarangnya. Jadi untuk menghindari pertengkaran Vito lebih memilih mamanya. 


"Ma, seharusnya mama yang mikirin diri sendiri sih bukan mikirin Vito. Vito nggak jadi masalah kalau aku sendiri yang penting mama menyerahkan diri pada polisi. " ujar Vito lirih. 


"Nggak! Mama nggak mau kalau begitu. Mama lakukan ini kerena kamu Vit!" teriak Rani keras. 


"Ma, kalau mama lakukan ini kerena Vito, seharusnya mama menyerahkan diri pada polisi bukan seperti ini! " sembur Vito tidak suka. 


Sejujurnya Vito ingin kalau mamanya menyerahkan diri pada polisi itu lebih baik lagi, tapi perinsip dirinya dengan Rani benar benar berbeda. 


"Ma, Vito bisa sendiri di sini atau Vito  bisa dengan ibu atau tante Ani! " pemuda itu menjelaskan pada mamanya. 


"Kalau mama nggak mau? Apa yang bakalan kamu lakukan?" 

__ADS_1


" Vito bakal pulang ke rumah mama dan papa, buat apa Vito punya mama kaya mama!" Vito langsung beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan mamanya. 


"Vito! " 


Rani berteriak dengan merasnya sampai ruangan itu bergema dengan suara yang keras oleh Rani, wanita itu kesal melihat Vito seperti itu! Pemuda itu bukan ya tidak mendengar kalau mamanya berteriak dengan keras nya, tapi ia tidak memperdulikan nya. 


Vito langsung masuk kamar nya, Sedangkan Rani ketika melihat Vito menjauhinya langsung beranjak dari tempat duduk mengejar Vito yang masuk kamar Rani berusaha mengetuk. Pintu kamar Vito tapi dang pemilik kamar hanya diam tidak ada niatan membaik pintunya. 


Melihat itu, Rani menghela nafas panjang dan kembali lagi ke meja sambil mulutnya seperti komat kamit 


🦋


Darman pagi itu langsung datang ke persidangan yang digelar dan reka ulang pun terjadi, Darman pun melakukan reka ulang pembunuhan pak Rohman, pak Karya dan pak Hamdi. Semua yang melihatnya adegan reka ulang yang dilaksanakan di pengadilan agama jakarta. 


Zahra, Ana, ibu Ani, ibu Ayu, Vito dan pak Bram juga ada disana. Zahra juga minta bantuan ibu Marni dan ibu Nining untuk melihat adegan reka ulang pembunuhan  pak Rohman, ibu Marni mau melihat dan menjadi saksi atas semua yang dilakukan Darman dan Rani. 


Biarpun Rani  tidak ada di tempat tapi reka ulang tetap dilakukan dengan penganti wanita lainnya. 


Awalnya Darman digantikan oleh orang lain tapi Zahra hanya ingin Darman tidak digantikan sebenarnya kalau Rani ada mungkin reka ulang ini menghadirkan Rani sebagai pembunuh wanitanya tapi Rani tidak ada maka digantikan oleh orang lain. 


"Uwa hanya ingin membuat apa yang uwa lakukan pada semuanya. Uwa menyesal telah melakukan dan mengikuti hawa nafsu saja, " kata Darman sebelum adegan reka ulang terjadi. 


"Tuhan sudah tahu apa yang uwa katakan, Tuhan sudah menerima tobat uwa. " kata Zahra terharu. 


"Maafkan uwa ya Nin, kalau saja uwa nggak ikut terbawa nafsu mungkin uwa bakal menjadi uwa yang baik. " senyum darman sedih. 


Bukan sedih kerena ia bakal masuk penjara tapi sedihnya kerena ia terbawa nafsu sedangkan orang tua angkatnya telah memberikan yang terbaik buatnya tapi nyatanya ia tidak bersyukur apa yang Tuhan berikan melalui orang tua angkatnya. 


"Nin kalau waktu bisa di luar lagi, uwa nggak mungkin bakal melakukan hal ini lagi. Tapi waktu nggak akan bisa di putaran lagi Nin, ya uwa harus terima semuanya."


"Sudahkah uwa, yang penting uwa sudah menyerahkan semuanya pada kisi semoga polisi bisa meringankan masa tahanan uwa. " kata Zahra menguatkan hati pria yang ada di hadapannya. 

__ADS_1


"Maksih ya Nin, uwa sayang kamu! " iska Darman sambil menarik tubuh Zahra dalam pelukannya. 


Gadis itu tidak menyangka kalau ia bakal di peluk oleh darman, dengan ragu Zahra membalas pelukannya Darman  dengan lembut. Ia merasa terharu sekali ketika pria itu mengatakan ucapan terimakasih pada dirinya. Zahra hanya mengangguk di dalam pelukan itis itu, Darman mengecup pucuk kepala Zahra dengan lembutnya. *


__ADS_2