TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 221


__ADS_3

"Apaan sih kak! Main tarik tangan Ana saja! " Teriak Ana sambil berusaha melepaskan tanganya.


Dari depan kantor tangan Ana di pengangguran oleh Zahra, gadis itu langsung menghentakan tangannya dari tangan Zahra, ia langsung melepaskan tangan Ana, gadis itu meringis kesakitan saat tangannya di. lepas oleh tangan Zahra ia mengusap beberapa kali pergelanggan tangannya yang terasa sakit akibat ganggaman tangan Zahra.


Zahra hanya meliri saja, kerena ia fokus ke jalan.


"Kamu yang apa apaan? Kenapa datang ke kantor papa? " tanya Zahra menjalankan mobil menuju suatu tempat yang nyaman sekali.


Saat mobil sudah parkir, Ana yang tidak menjawab pertanyaan dari Zahra langsung langsung keluar saat mobil yang ditumpangi berhenti, ia langsung pergi begitu saja tidak peduli dengan panggilan dari Zahra.


Zahra menghela nafas panjang dan mengelengkan kepala melihat Ana seperti itu? ia juga langsung turun dari mobil dan mendekati Ana yang duduk di kursi yang ada di tempat itu. Mereka duduk dengan melihat deburan ombak yang indah sekali, serta angin yang sejuk. Pemandangan pantai yang teduh mebuat mereka nyaman sekali.


"Na, apa yang terjadi?" tanya Zahra lembut.


Ketika ia telah duduk di samping Ana, gadis itu nyakin kalau Ana pasti bakal menceritakan tentang keberadaan Rani pada dirinya, sedangkan ia sendiri juga tidak tahu apa apa tentang Rani.


"Kamu jangan bilang sama Ana dulu ya, kalau ibu sebenarnya merasa nyakin kalau Rani ada di desa itu. " kata ibu Ayu waktu itu pada Zahra.


"Memangnya kenapa bi kalau Anin bilang sama Ana amasakh uwa Rani? " tanya Zahra heran.


Gasia itu menatap ibunya tajam, atas apa yang dikatakan pada dirinya tentang Ana.


"Kalau Anaa tahu pasti ia bakal mwtusuhkan kita lagi, jadi kamu diam saja ya pura pura nggak tahu apa yang terjadi." kata ibu Ayu.


"Memang Anin nggak tahu kalau uwa Rani itu ada dimana? Memangnya ibu tahu? Ibu +ga hanya menduga kan kalau uwa Rani ada di desa itu? " tanya Zahra.


"Iya ini hanya dugaaan saja sih! Nggak tahu benar nggak tahu nggak sih makanya kamu jangan bilang dulu sama Ana. " pintar ibu Ayu tegas.


"Iya bu, Anin ngak bakal ceritain kok sama Ana, ibu tenang saja. Iya ini hanya dugaan saja. Anin sangka ibu tahu keberadaan iwan Rani yang sebenarnya" senyum Zahra lembut.


"Ibu takut kalau Ana tahu pasti ia bakal menyusul Rani, dan ibu nggak mau kalau Ana kena masalah." ungkap ibu Ayu menatap lembut pada Zahra.

__ADS_1


Suara ibu Ayu terhiang hiang di telinga Zahra memberikan pesan pada dirinya kalau dugaan ibu Ayu kalau Rani sekarang ada di desa itu. Zahra hanya bisa mengangguk saja, kerena ibu Ayu tidak mau terjadi apa apa pada Ana.


Zahra mengiyakan permintaan ibunya, ia nyakin kalau ibunya tidak ingin Ana melakukan apapun juga pada Rani, dan sekarang Ana di hadapannya pasti akan bicara tentang Rani.


"Ana ingin gomong sama om Bram masalah tante Rani," lirih Ana.


Tuhkan dugaan Zahra tidak meleset sama sekali, tapi ia tidak langsung mengatakan sesuatu pada Ana, Zahra hanya menunggu apa yang akan dikatakan Ana pada dirinya.


"Om Bram kan kerja, mungkin nggak bisa diganggu oleh kamu Na, apa sih yang kamu ingin bicarakan pada om Bram? " tanya Zahra.


Ana menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan begitu saja.


"Menjebloskan wanita itu ke penjara! " tegas Ana.


"Tapi kan uwa Rani nya nggak ada, kamu mau menjebloskan uwa Rani bagaimana? "


"Sejatinya sih polisi mencari tante Rani masa nggak bisa ditemukan, kan bisa dilacak atau bagaimana sih! " suara Ana terdengar kesal sekali.


"Kakak cuma bela wanita itu! " serang Ana.


"Terus kakak harus berbuat aoa? Kakak dan ibu nggak tahu keberadaan uwa Rani. " ujarnya.


Zahra mengatakan itu benar, ia sama sekian tidak tahu keberadaan Rani, tapi kalau menduga pasti dugaannya hanya pada desa itu. Tapi untuk melancaknya ia sama sekali belum, kerena Vito harus ujian semester dulu jadi ia thdak. meja ambil gegabah.


Ya Zahra, Vito dan ibu Ayu sudah menduga kalau Rani berada di desa itu. Ketiganya bukan melindungi Rani bukan, tapi ketiga ya hanya ingin bicara dengan Rani hati ke hati kalau tidak seperti ini ketiganya tidak akan bisa bicara. Ya biarpun misalkan Rani tinggal di desa itu, ketiganya mungkin tidak berdosa biarpun tidak melaporkan Rani kerena ini hanya dugaan saja.


"Ya seharusnya cari jangan berhenti seperti ini, enak saja orang yang salah seharusnya di penjara bukan di bebaskan begitu saja! " dengus gadis itu agak kesal.


Zahra hanya bisa menarik nafas panjang mendengarkan apa yang di dengar dari mulut Ana.


"Polisi sampai sekarang juga masih mencari keberadaan uwa Rani, kamu lihat kan banyak poster yang ditempelka di sepanjang jalan untuk mencari uwa Rani. " tanya Zahra mengingatkan Ana.

__ADS_1


Ana hanya mengangguk saja, ia juga sepanjang jalan melihat banyak poster yang di tempel semuanya poster itu berisikan wajah Rani, tapi sama oia sekarang biarpun poster banyak tersebar tapi keberadaan Rani tidak ada seperti nya raib entah kemana.


"Nanti juga polisi bisa menemukan uwa Rani kok! Kita bersabar saja," hibur Zahra mengusap tangan Ana lembut.


"Kamu kalau mau bicara sama papa jangan di kantor lebih baik di rumah lebih leluasa dibandingkan dengan kantor, malu kalau di kantor bakal menyebar lagi, " ujar Zahra santai.


"Terus kita sekarang gimana? " tanya Ana.


"Sekarang lebih baik pulang saja dibandingkan kita disini juga buat apa."


Zahra tidak menunggu jawaban dari Ana, ia. langsung beranjak dari duduknya pergi menuju mobil yang tidak jauh di parkirkan, Ana yang melihat Zahra yang pergi begitu saja langsung berjalan menuju Zahra.


🦋


PLAK!


"Na, jaga mulut kamu! "


Zahra berteriak keras dan dengan sointan ia. langsung memanpar muka Ana dengn keras sekali sampai gadis itu meringis kesakitan saat tangan Zahra menyentuh pipinya.


"Kak! Kakak hanya bela tante Rani saja, dia bukan siapa siapa kakak. Kenpa harus bela tante Rani! " Terima Ana emosi.


Ana menatap tajam ke wajah Zahra yang ada di hadiahnya, ia tidak menyangka kalau Zahra akan melakukan itu pada dirinya sampai berani memukulnya.


"Na, dengan kakak. Bukan kakak bela uwa Rani bukan tapi berpikir realita dong!"


"Realita ala? "


"Kamu tahu kakak dulu datang ke desa itu! kamu tahu tujuan kakak ke desa itu! " teriak Zahra.


Ia berusaha mengingatkan Ana tantang apa yang ia datangi dulu, desa yang mebgangal dirinya benar benar zahra. Mendengar teriakan dari Zahra, Ana hanya diam seketika juga.

__ADS_1


Ia tidak bisa menjawab apa yang dikatakan Zahra sekarang. Gadis itu hanya menatap wajah Ana dengan tajam sekali menunggu Ana untuk berkata tapi Ana mwnghela nafas panjang.*


__ADS_2