
"Kenapa diam? Kamu sebenarnya tahu nggak sih papa aku? " kejar Vito.
Pemuda itu seperti ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh Zahra. Tapi gadia iyunhanya diam saja, seperti memikirkan baik buruknya.
"Vit, kamu nggak percaya sama aku? " aku bilang kalau papa kamu sudah meninggal, " jelas Zahra.
Zahra berusaha menatap mata Vito yang sedang melihat dirinya.
"He! Jangan bohong kalau papa aku sudah meninggal ya, papa aku. masih hidup. Masa papa bohong sama aku? " teriak Vito geram.
"Ya papa kamu sudah meninggal. " ujar Zahra menjelaskan.
"Nggak!
"" Vit, kamu harus sadar apa yang aku bilang itu benar!" Zahra geram.
Gadis itu tidak habis pikir pada Vito yang menganggapnya kalau papa Hamdi masih hidup. Vito menatap kasar pada Zahra.
"Kalau.kamu.nggak tahu papa aku lebih baik kamu dkam jangan ikut bjcara, kamu nggak tahi kan kalau papa aku. masih hidup! " cerca Vito.
"Terserah!
" Kamu bisa bicara ini pada mama kamu, supaya kamu tahu faktanya kalau papa kalau sudah meninggal. "
"Bajingan! "
PLAK!
"Awh! " jerit Zahra.
Ia langsung memegang pipinya yang terasa panas sekali, akibat layangan tangan Vito yang tiba tiba menghantam pipinya. Bibir Zahra mwnjerit tergahan saat merasakan sakit yang terbakar di pipinya.
Dio dari kejauhan langsung menghampiri keduanya.
PLAK!
Dio langsung melayangkan tanganya kearah pipi Vito, pria muda itu sedikit teekanut saat tangan dio melayang dan mengenai pipinya.
"Kak!" jerit Vito teriak.
"Kamu jangan sekali kali menampar pipinya! " teriak Dio.
"Dio sudah!"
"Sudah jangan layani dia." kata Dio meraih yang zahra untuk diajak pergi.
"Dio aku belum selesai. " kata Zahra.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, sambil tanganya memegang tangan Dio dan menatap wajahnya.
"Okelah,"
Dio akhirnya nya mengangguk kerena melihat tatapan mata Zahra yang masih ingin bicara dengan Vito.
Dio meninggalkan mereka berdua, ia menuju tempat dimana ibu Nining duduk disana..
"Maaf mungkin kata kataku menyinggung kamu, nantinya juga bakal tahu kebenaran yang ada. Aku harap kamu. jangan kecewa kalau. misal papa kamu sudah tiada. " Zahra meg ulang kata katanya.
__ADS_1
"Kalau misal kata kata aku salah silahkan kamu marah sama aku, tapi kalau kata kata aku benar jangan temui aku kapanpun kamu mau. " Zahra melanjutkan kata katanya setelah menarik nafas dan. menatap wajah Vito.
Gadis itu. langsung beranjak dari duduk nya, dan. akan meninggalkan Vito.
''Oke! Aku. percaya sama kamu, lalu kamu tahun dari mana kalau. pala. aku. meninggal? Ada kah bukti yang kuat supaya aku. percaya sama kamu!"lantang Vito menatap wajah Zahra.
Zahra hanya membuang muka saja mendengar apa yang Vito katakan.
"Aku.memang ngak ada bukti kalau kalau kamu. meninggal, tapi aku harap kamu tanyakan semuanya pertanyaan kamu. pada mama kamu. Mungkin aku nggak bisa cerita lagi tentang papa kamu. " kata Zahra tegas.
Tanpa menunggu waktu Zahra meninggalkan Vito. Pemuda itu langsung beranjak dari duduknya mengejar Zahra.
"Kamu tahun desa itu? " tanya Vito meraih tangan Zahra.
Tapi Zahra langsung menepiskan. tangan Vito lembut.
"Buat apa kamu tanya desa itu? " tanya Zahra ditatap muka pemuda itu.
Hatinya berdesir kuat sekali. Tapi ia. berusaha dengan kuat menahan semuanya gwjolak. hatinya.
"Aku.hanya.inhin tahu kalau benar papa sudah meninggal dimana kuburnya?"
"Suatu saat nanti. kamu. juga pasti kesana. "
Zahra langsung melangkahkan kaki menuju dio, ia tidak menyangka bakal bertemu dengan Vito yang mengaku anak hamdi.
"Jadi uwa nggak keenah cerita kalau ayah telah meninggal di hadapan Vito, kasihan banget kamu dik! " bisik hati Zahra.
Vito hanya menghela nafas panjang menatap kepergian Zahra, banyak kecamuk yang harus ditanyakan tentang sosok papanya, tapi gadia itu sepertinya tidak ingin menceritakan pada dirinya tentang papa.
"Ma, sebenarnya papa Vito kemana?" kata Vito waktu dulu.
"Papa kami ada di suatu desa, kamu pasti bertemu dengannya. " suara mama terhiang di telinganya.
"Tapi kenapa Vito nggak boleh ketemu papa? "
"Papa kerja sayang suatu waktu nanti papa pulang, peluk Vito kok! " ujar Rani.
"Ma, kapan papa pulang? " tanya nya pada Rani.
" Suatu waktu kalian bisa bertemu, kamu jangan pesimis ya. " mamanya bicara lembut.
"Kapan, ma? Vito kagen papa. Vito nggak mau teman teman Vito bicara kalau Vito anak yang nggak keenah diinginkan. " rajuk Vito.
Ia mengatakan itu kerena ia mendengar nynyitan. orang orang yang mengatakan kalau ia adalah anak yang tidak keenah diharapkan oleh kedua orang tuanya termasuk papanya. Jadi ia takut apa yang dikatakan teman teman ternyata benar, itu yang ia takutkan.
Tapi mendengar pengakuan dari mamanya Vito bernafas lega apalagi nanti kata mama papa bakal pulang menemui dirinya. Dan, sekarang ia mendengar pengakuan dari orang lain, kalau papala meninggal. Vito awalnya tidak percaya tapi saat ia melihat wajah hadiah itu memang seperti bohong!
"Vito marah? " tanya ibu Nining pada Zahra yang duduk disamping dio.
"Dia nggak lwecaya lalu ayah sudah meninggal. Tadinya aku ingin. mwngorwk keterangan twmtang uwa Rani padanya taoi kanya dia ngak tahu apa apa. " kata Zahra menghela nafas panjang.
"Jangan jangan. ia pura pura saja. "
"Nggak dia nggak bohong, aku. lihat tatapan matanya sangat jujur biarpun keras kepala. "
Apa yang dikatakan oleh Zahra memang benar. Vito tidak tahu kabar hamdi sama sekali, Rani sebenarnya sengaja tidak bilang kalau papa nya Vito meninggal dunia, ia hanya mengalihkan pertanyaan buat Vito.
__ADS_1
Tapi menurut Zahra, kesalahan fatal Rani tjdak berkata jujur pada Vito masalh kematian Hamdi, kerena bagaimana pun Vito harus tahu masalah kematian papanya, kerena papa nya tidak meninggal dalam keadaan hina.
"Saya hanya mendengar saja sih! dari majikan saya ibu marni" kata ibu Nining jujur.
"Rara udah tahu kok bu, ibu mirna ada di desa itu dan Rara waktu itu kesana. Rara ketemu uwa Rani. " kata Zahra menjelaskan sedangkan dio meninggalkan mereka berdua.
Dio hanya ingin Zahra dan ibu Nining bicara lelauasa bicara tanpa ada ngangguan darinya.
"Buat apa wanita itu ingin mengambil Rara? "
Ya gadis itu menyebut Rara buat ibu Nining. kerena wanita itu mengenal nama yang diberikan oleh mamanya.
"Ia hanya ingin kamu menyebutkan mama karena dirinya hamil dari kelakuan dirinya."
"Nggak tahu malu! "
Zahra langsung menyimak apa yang diceritakan oleh ibu Nining apalagi tentang keluarga uwa Darman dan Rani. Memang ada kesalahpahaman yang terjadi tanpa ada penjelasan yang tepat membuat Darman dan Rani berprasangka buruk. Dan itu yang membuat jatuh korban.
PLAK!
"Mama!" teriak Ningsih terkejut saat mamanya menampar pipinya.
"Mama nggak mau melihat anak itu! " teriak wanita 50 tahun itu dengan ganasnya memukul wajah Ningsing.
"Tapi ma dia anak Ningsih! " tangis wanita itu!
Tapi mau tidak mau wanita tua itu memaksa Ningsing buat membuang naka umur 10 tahuan itu.
Maryati tidak suka sama Andika anak dari Ningsih dengan suami yang dulu. Tapi Ningsih mempertahankan Andika kerena bagaimana pun Andika anak kandungnya.
"Ma, Ningsih nggak bakal membuang Andika, Andika adalah anak Ningsih kenapa mama lakukan ini pada Ningsih." kejar Ningsing meraung raung kerena tidak ingin dipisahkan dari anaknya.
"Kurang ajar!
teriaknya dengan keras. Ia tidak terima kalau Ningsih putrinya melawan pada dirinya.
Ya Ningsih sebenarnya putri dari Maryati, suami Ningsih telah meninggal dunia akibat kecelakaan yang mengakibatkan suaminya dipanggil Tuhan begitu cepat.
"Ma, kenapa mama nggak suka sama bapaknya. Andika kenapa?" teriak Ningsih.
Ningsih mengakui kalau mamanya membenci dirinya kerena mungkin ia menikah dengan. pilihan sendiri. Ya ia. memilih menikah dengan. pilihan dirinya, sedangkan mamanya punya pilihan lain.
"Kamu sekarang berani bentak mama? "
PLAK!
Wanita setengah baya itu menerjang njngsing dengan kekuatan full sampai Ningsih terjatuh dan terbentur ke kursi dengan kerasnya.
"Aduh! perut Ningsih sakit! " teriak Ningsih mwngasuh sambil tangannya memegang bawah perutnya. "
Ningsih menjerit kesakitan yang luar biasa kerena perutnya sakit.
"Ningsih! " panggil mamanya terkejut.
"Mama jahat! Ma, Ningsih hamil ma! " tangis Ningsih.
Ia heran kenapa mama nya harus memperlakukan dirinya seperti itu? Waktu nikah dengan bapak nya Andika mama nya menentang, dan sebenarnya ini pernikahan keduanya. Dan sekali lagi mamanya tidak merestui nya.*
__ADS_1