
Setelah mendengar apa yang dikatakan wanita yang mengaku Nining, Bram langsung menuju desa itu! Desa dimana Ani dan Zahra berada. Masih terhiang hiang apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Saya percaya kalau anda bisa dan mempunyai menyelamatkan Zahra dari Darman. Bagaimana pun Darman memang ingin Anin celaka, Darman tahu kalau Anin adalah saksi hidup dirinya. Sebenarnya bukan hanya Anin yang saksi hidup Darman. Saya dan majikan saya Mirna juga bisa dijadikan saksi hidup Darman. " Kata Nining panjang dan lebar menyudahi ceritanya.
"Saya bicara ini kerena saya nggak ingin ada korban lagi selain majikan saya, suami saya dan pak Hamdi. Sudahkah tiga saja yang jadi korban keganasan Darman dan Rani! " Lanjut wanjta itu.
"Anda tahu Zahra disini dari mana? " Selidik pak Bram.
"Saya mengenal Dio, saya bekerja disana sekarang. Dio banyak cerita tentang sama Zahra, dan ia juga mengatakan kalau Zahra itu Anin putrinya pak Hamdi. Awalnya saya nggak percaya sama sekali kerena saya menyangka kalau Anin benar benar meninggal. " Ujar Nining.
Ya memang wanita itu dan marni awalnya menganggap kakau Anin telah meninggal kerena ia dan majikannya mencari keberadaan Anin tapi nihil sama sekali tidak ditemukan.
"Apa anda sudah benar benar mencarinya? " Tanya pak Bram menanyakannya.
"Ya saya benar benar mencari Anin tapi bocah itu hilang lenyap ditelan malam yang gelap. "
Pak Bram hanya bisa menghela nafas panjang mendengar pengakuan dari Nining wanita yang menemuinya.
"Saya malah mendengar kalau Anin memang diurus dan diasuh oleh bapak dan istri bapak, kami sebagai warga desa itu mengucapakan terimakasih atas apa yang bapak lakukan pada Anin. " Ujar Nining tulis.
Pak bram bisa melihat raut wajah Nining yang begitu tulus saat mengucapakan kata kata itu padanya.
"Itu hanya kemanusiaan saja, bagaimanapun saya juga baru kehilangan anak." Ujar pak Bram.
"Bu, maaf apa yang sebenarnya terjadi pada Darman? Benarkah Darman hanya anak angkat dari orang tua Hamdi? " Tanya oak Bram bertanya.
"Iya ia hanya sebatas anak angkat saja, anak aslinya yaitu pak Hamdi yang menikahi dengan Ayu. ".
" Apa Darman punya saudara atau orang tua lalu orang tua Darman kemana? "
"Menurut kabar Darman ditemukan di perbatasan desa itu oleh orang tua Hamdi, saya juga tidak tahu pasti. Orang tua Darman meninggalkan atau memang sengaja meninggalkan Darman disana. "
"Ibu tahu orang tua asli dari Darman? "
"Saya nggak tahu pasti sih orang tua Darman berada tapi menurut berita orang tua Darman yang asli adalah pemilik tanah yang sekarang dekat sebelah kiri perbukitan. " Kata Nining menjelaskan.
Pak Bram termenung saat mendengarkan apa yang Nining katakan tentang tanah itu!
Akhirnya setelahnya mendengarkan perkataan Nining ia langsung meninggalkan kantor menuju desa itu!
Pak Bram mengajak Nining untuk ikut ke desa itu! Tapi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Saya nggak akan ikut tapi bolehkah saya tahu tentang Anin kenapa sampai bapak menemukannya Anin? Sedangkan saya dan. Ibu Marni sudah mencarinya tapi anak itu nggak ditemukan sama sekali. " Kata Nining yang ingin tahu tentang perjalanan Anin sampai bertemu dengan pak Bram.
Pak Bram sebelum pergi ke desa X akhirnya menceritakannya pertemuan dengan Anin.
"Malam itu saya dan istri saya pergi ke puncak untuk menangkan diri kerena anak kami Zahra telah meninggal dunia, kami belum bisa melupakan Zahra. " Cerita pak Bram.
__ADS_1
Nining terdiam seketika juga ketika oak Bram memulai cerita tentang perjalanan dirinya ke puncak bersama istrinya.
"Satu minggu kami di puncak dan sorenya kami pulang, berarti sudah 3 minggu kami kehilangan Zahra. Kami pergi ke puncak waktu itu saat Zahra sudah 1 minggu meninggal." Lanjut pak Bram mengingat kejadian itu!
"Pa, bagaimana kalau kita jalan alternatif saja pulangnya. Jangan ke jalan utama, mama pengen lihat kerkebunan dimalam hari" Kata ibu Ani
Pak Bram masih mengingat percakapan antara ia dan istrinya--Ani.
Akhirnya malam malam itu pak Bram mengikuti keinginan istrinya untuk mengambil jalan meminggir.
Saat pak Bram sudah menempuh 2 jam perjalanan ia dan ibu Ani menemukan satu sosok yang tergeletak di jalan.
"Ma, apa itu? " Tanya pak Bram sambil menghentikan mobilnya.
Ia tidak menunggu lagi langsung turun dan mendekati sosok itu! Ibu Ani juga turun dan menghampiri suamianya.
"Ma, ini anak siapa? " Tanya pak. Hamdi saat tahu kalau sosok tubuh itu anak umur 6 tahun yang pingsan di tengah jalan.
"Kasihan sekali pa, udah bawa ke mobil saja pa. " Suruh ibu Ani amtusias.
"Akhirnya kami bawa anak itu ke rumah dan kami urus anak itu dengan identitas Zahra Anindya, itu nama anak saya yang telah meninggal, "pak Bram mengakhiri ceritanya.
Nining saat mendengarkan cerita hanya menahan nafas, kerena ia tidak menduga kalau Anin bakal terlepas dari tangan DarmanDarman. Tapi hatinya sangat bersyukur kerena Anin bisa selamat dari Darman maupun Rani.
🦋
Teriak Zahra saat matanya melihat pak Bram yang memarkirkan mobil didepan rumah uwa iyan.
Zahra langsung memeluk pak Bram dengan wrat, sedangkan Ana hanya mwngigit bibir bagian bawah. Ia merasakan hatinya sakit melihat Zahra yang begitu akrab dengan pak Bram yang telah dianggap oleh Zahra sebagai papanya.
Ia hanya menghembuskan nafas panjangnya. Tapi Ana tidak bisa melakukan apapun.
"Kalian harus pulang hari ini juga! " Tegas pak Bram melepaskan pelukan dari tubuh Zahra.
"Pulang? Kenapa pulang pak!" Seru Zahra heran.
"Uwa Rani kaburkan, jadi buat apa kalian disini lama lama lebih baik kalian pulang. Dan satu hal lagi tadi ada yang datang ke kantor papa namanya ibu Nining mencari kamu. " Kata pak Bram sambil duduk di kursi bambu.
Istrinya telah menyiapkan minuman hangat buat suaminya, serta menyuguhkan singkong rebus.
"Nining? Nining yang suaminya meninggal pada malam itu! " Tanya ibu Ayu menatap wajah pak Bram.
"Iya ia juga mengatakan itu sama saya. "
"Sekarang ia dimana? "
"Sebenarnya sekarang ibu Ayu jadi art di rumahnya dio. Ia tahu Zahra juga dari dio. " Kata oak btam bicara jujur.
__ADS_1
Ibu Ayu melonggo mendengar apa yang dikatakan pak Bram. Bukan hanya ini Ayu nyang terkejut tapi Zahra sangat teekwjit saat telinganya, mendengar perkataan papanya, ia tidak menyangka kalau orang itu bakal bekerja di rumahh Dio.
Zahra baru menyadari kalau memang wanita itu sering mencuri pandang saat ia tidak melihat dirinya.
"Mama sudah cerita semuanya?'' tanya Zahra.
Pak Bram mengangguk mendengar pertanyaan putrinya.
"Nining menyusul ke kantor buat apa? " Kejar ibu Ayu penasaran.
"Ia hanya ingin menceritakan apa yang ia ketahuk tentang kematian suami ibu. " Tutur pak Bram.
"Garis besarnya sama seperti yang diceritakan oleh Marni pada kalian. "
"Mama cerita banyak pada papa? " Lirik Zahra pada mamanya..
"Iya." Angguk ibu Ani.
"Oya, uwa iyan dan mbok inem kemana, kok seperti nya nggak ada ya mereka berdua? " Tanya pak Bram celingukan seperti mencari mbok inem dan uwa iyan.
"Mereka sedang ke kebun. Sebenarnya kami. Juga mau menyusul tapi papa keburu datang ke sini. "
🦋
"Ayo bu, ibu tinggal disana lagi! " Rajuk Zahra pada ibu Ayu.
"Kamu saja ikut mama dan papa kamu, biarkan obj disini bersam Ana. Ibu senang melihat kamu kembali. Kamu baik baik disana ya.
" Tapi bu, "
"Apa yang dikatakan Zahra benar kok bisa, diam di kantin lagi. " Kata pak Bram.
"Maafkan saya bu, mungkin saya yang salah kemarin kemarin memisahkan Zahra dan ibu, " Kata ibu Ani merasa bersalah.
"Nggak apa apa saya merasa senang sekali melihat Zahra sehat, tumbuh sehat, " Kata ibu Ayu tersenyum.
Akhirnya Zahra tidak bisa memaksakan ibunya dan Ana untuk ikut.
"Ana tunggu ibu kasihan telah tua, " Kata Ana.
Zahra hanya tersenyum saja, hatinya tersindir dengan kata kata Ana. Uwa iyan yang ada disana meluk tubuh Zahra dengan eratnya.
"Kamu harus jaga diri baik baik ya, jangan lenggah dari Rani. " Kata uwa iyan.
"Uwa kalau semuanya sudah selesai mungkin Zahra bakal menetap di desa ini. Pengen bareng bareng lagi sama ini ndan Ana.
Zahra mengucapakan itu sambil melirik ibu Ani, tapi wanita itu hanya menghela nafas panjang mwndengar apa yang dikatakan Zahra dihadapannya. *
__ADS_1