TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 62


__ADS_3

Zahra tertegun. Saat ia sampai di kantin, tapi kantin kantor itu tertutup, ia mengetuk dan memanggil nama Ana tapi orang yang dipanggilnya sama sekali tidak menjawab panggilannya.


Ia semakin khawatir sekali, ia menduga kalau Darman laki laki itu sampai tahu tempat ibu dan Ana.


"Na, Ana!" teriak Zahra berkali kali.


"Ibu, ibu! Zahra datang nih!"


Zahra memanggil ibu Ayu dengan nyaring sekali. Ia merasa heran kerena kantin sepagi ini belum buka, kemarin kalau datang ke kantin, kantin selalu buka terus. Dan baru kali ini kantin malah tutup, dan yang lebih anehnya lagi dipanggil juga tidak menjawab.


Zahra langsung menelpon pak Bram--papanya.


📱Pa, ibu dan Ana kira kira kemana ya?


tanya Zahra pada papanya.


📱Kamu dimana memangnya?


tanya pak Bram menanyakan keberadaan Zahra.


📱Di kantin, tapi ibu dan Ana nggak ada sama sekali. Dipanggil beberapa kali juga tidak menyahut.


ungkap Ana pada papanya jujur.


📱Ya sudah nanti papa kesana.


Zahra menganggukkan dan mengiyakan saja. Telpon langsung mati.


Zahra duduk di kursi yang ada depan kantin. Ia melihat jam di hpnya menunjukan pukul 08.00 pagi tapi tidak ada kehidupan sama sekali di kantin.


"Kalian dimana sih!" bisik hati Zahra termenung.


'Apa jangan jangan laki laki itu tahu kalau ibu dan Ana disini?'tanya Zahra dalam hati.


Ia takut apa yang ia khawatirkan jadi kenyataan, Darman datang ke kantor dan menemukan ibu serta Ana lalu di culik atau dibunuh.


'Ya Tuhan jangan renggut ibu dan Ana,'


"Ra, bagaimana?" tanya Rey tiba tiba datang.


"Rey nggak ada."


Bukan hanya Rey saja yang datang tapi ada beberapa teman mereka yang datang ke kantin.


"Kemarin ada kok, sore waktu aku kesini juga masih ada." kata teman Rey..


"Jangan jangan malam mereka pergi?" tanya yang lainnya.


"Pergi? Pergi kemana?"

__ADS_1


"Entahlah."


Kasak kusuk mereka membicarakan ibu dan Ana.


"Rey aku takut kalau pak Darman tahu tempat ibu dan Ana?''


"Kalau tahu, pak Darman tahu darimana ibu dan Ana?" balik tanya Rey.


"Ra, Rey bagaimana?" tanya pak Bram menghampiri mereka.


Sedangkan teman teman yang lain pada masuk ke kantor, sedangkan Zahra dan Rey masih ada di kantin. Tidak lama kemudian pak Bram menghampiri keduanya yang sedang duduk di meja kantin.


"Apa mungkin ibu pulang ke desa?" tanya Zahra menatap kedua pria yang ada dihadapannya.


"Masih untung kalau ibu dan Ana balik ke desa tapi kalau pak Darman menemukan ibu bagaimana?" lanjut Zahra kembali..


"Semoga saja pak Darman nggak pernah menemukan ibu dan Ana, " hibur Pak Bram.


Laki laki itu menerawang memikirkan kemana kita kira ibu Ayu dan Ana perginya tanpa ada izin sama sekali pada dirinya maupun Zahra.


Ketiga orang masih duduk di kursi memikirkan keberadaan ibu Ayu dan Ana yang menghilang dari kantin kantor. Pikiran Zahra melayang kalau kalau Darman yang menemukan ibu, bisa jadikan saat Darman kabur dari penjara.


Ia tidak sengaja melihat Ana yang pergi ke pasar terus mengikuti Ana pulang. Terus menyusun rencana buat menghabiskan Ana dan ibu, itu yang dipikirkan oleh Zahra. Sedangkan Rey berpikir kalau ibu dan Ana pasti ada orang yang membuat tidak nyaman dan menyuruh pergi jauh.


"Jangan jangan mama," ungkap pak Bram.


"Aku juga berpikir kesana sih," kata Rey menatap wajah Zahra.


Ketiganya langsung saling tatap satu sama lainnya.


"Apa mungkin mama tega melakukan itu sama Rara, pa?" tanah Zahra sakit mendengar itu.


"Kita selidiki dulu aja, jangan langsung menuduh!" hibur Rey.


Laki laki itu tahu kalau Zahra tidak nyakin kalau ibu Ani mamanya melakukan itu, memang dihadapan Zahra ini Ani adalah sosok ibu yang baik.


"Kalau mama melakukan itu motifnya apa coba?"tanya Zahra.


"Aku curiga memang mama yang melakukannya masalahnya ibu Ayu disini kenal sama siapa? nggak ada musuh juga," jelas Rey.


"Motifnya."


"Motifnya kamu, mama nggak mau kalau kamu dekat dengan ibu." kata Rey kembali.


Pak Bram mengangguk mengiyakan apa yang dibicarakan oleh Rey. Ia sependapat dengan apa yang dibicarakan oleh Rey.


Zahra menghela nafas panjang. pak Bram yang duduk dekat dengan Zahra langsung mengusap bahu Zahra.


"Papa hanya menduga saja, apa yang dikatakan oleh Rey memang benar. Ibu dan Ana baru beberapa hari disini, nggak mungkin kan kalau mereka punya musuh." kata pak Bram.

__ADS_1


"Papa juga curiga pada mama kerena mama kamu dari awal sampai sekarang Seperi nggak suka sama kedatangan ibu Ayu dan Ana di kantin ini," lanjut pak Bram menjelaskan lebih rinci.


Zahra mengangguk mengerti apa yang disampaikan oleh papanya.


"Pa, Rara hanya ingin mama sadar apa yang dilakukannya salah, Rara juga nggak pernah bakal meninggalkan mama kok!" sendu Zahra.


"Papa juga mengerti,"


"Terus apa sekarang apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Rey meminta pendapat Zahra dan pak Bram.


"Kita cari tahu dulu, jangan menuduh tanpa bukti." kata Zahra.


"Papa setuju apa yang disarankan oleh Rara, Rey.


Apa yang mereka duga memang benar. Tanpa sepengetahuan Zahra seorang wanita kelas elite menemui dua orang anak buahnya yang berada di sebuah bangunan yang tidak jauh dari perumahan elite itu.


Pada pukul 02.30 dini hari.


"Kamu singkirkan wanita itu! Awas jangan sampai ketahuan orang."


"Iya baik kami bakal menyingkirkan wanita itu dan anaknya." ucap kedua laki laki suruhan wanita itu!


Setelah mereka sepakat akhirnya kedua laki laki itu meninggalkan rumah besar. Mereka ada perintah untuk menyingkirkan ibu Ayu dan Ana. Dengan syarat mereka tidak berbuat sesuatu pada keduanya.


Malam itu!


Dengan petunjuk wanita itu, kedua laki laki berkumis dan berbaju hitam langsung mendatangi kantor Rey, kerena mereka diperintahkan oleh majikan untuk menyingkirkan kedua wanita itu ditempat nya.


Kantor terlihat sepi sekali, satpam yang seharusnya jaga di pos ronda entah kemana, jadi keduanya dengan leluasa meringkus kedua wanita yang berbeda umur.


"Tolong!" teriak Ana.


Tapi teriakan Ana dihentikan oleh baju hitam, ia memukul belakang tubuh Ana sampai gadis itu sampai jatuh ke tanah. Ibu Ayu langsung di bekap mulutnya lalu diikat.


Keduanya membawa kedua wanita itu ke sebuah gudang yang jauh dari kantor itu.


Paginya Zahra, Rey dan pak Bram sedang diskusi hilangnya ibu Ayu dan Ana.


"Tadi malam saya dengar teriakan seseorang tapi saat saya ke kantin nggak ada apa apa." kata seseorang..


"Maaf saya nggak tahu masalahnya saya pikir tapi istri saya telpon kalau ibu saya pingsan dan harus ke rumah sakit."


Salah satu satpam yang tadi malam yang seharusnya jaga malah tidak jaga, Zahra hanya menggelengkan kepala mendengar pengakuan satpam itu.


"Bagaiamana keadaan ibu bapak?" tanya Zahra simpatik.


"Alhamdulillah agak mendingan sekarang, maafkan saya bu, atas kecerobohan saya." satpam itu meminta maaf pada Zahra..


Zahra hanya mengangguk saja mendengar alasan satpam itu, ia bisa memaklumi apa yang terjadi pada satpam itu.*

__ADS_1


__ADS_2