
Zahra hanya bisa menghela nafas mendengar apa yang wanita itu katakan. Sebenarnya ia berusaha untuk mengimbangi pembicaraan wanita itu! Tapi tetap saja tidak bisa sama sekali.
Semuanya pasti keluar jalur yang dibicarakan.
"Telaten, apa yang harus kamu bicarakan pada Rani, imbangi pembicaraannya."
Kata uwa Iyan terhiang dalam telingganya.
"Kamu tahu, mama tahu semuanya saat mama kamu berada di desa ini. Mama kamu tiba tiba mengirim.uwa Darman mu ke penjara."
Zahra menarik nafas dalam dalam, ya ia ingat ketika mamanya menjebloskan uwa Darman ke penjara, berita itu sangat viral. Ia yang mendengar hanya bisa termenung. ia benar benar tidak menyangka,berkali kalau mama yang melakukan itu.
"Wah benar juga ya kalau gosip itu?"
"Darman melakukan kejahatan,"
"Benar benar laki laki iblis?"
"Pak Hamdi yang jadi korban, bukan hanya pak Hamdi sih!"
"Manusia bejat,"
"Benar benar jahat, nggak punya hati!"
Warga sekitar desa itu berkomentar sangat sadis tanpa memikirkan apa yang terjadi. Zahra hanya mematung waktu itu mendengar semuanya.
"Pak, apa benar semuanya?" Tanya Zahra waktu itu.
"Benar non semuanya."
"Siapa yang melaporkannya?"
"Katanya sih! Wanita terhormat yang melaporkannya, bernama ibu Ani.
Deg! hati Zahra berdetak sangat keras saat mendengar uwa Iyan mengatakan itu lada dirinya. Apalagi mendengar nama ibu Ani yang disebutkan oleh laki laki itu.
"Mama kamu setelah itu pulang mama langsung ke desa ini, untuk bertemu dengan Darman tapi terlambat laki laki itu malah pergi!"
"Mama frustasi kehilangan Darman! Mama kesini juga hanya ingin ketemu dengan Darman, mam nggak setuju apa yang dilakukan oleh mam kamu!" lanjut wanita itu menceritakan semuanya.
"Jadi mama Ani waktu itu sudah pulang?" tanya Zahra kaget.
Ia tidak menyangka kalau waktu itu ia harus bertemu dengan Rani, diwaktu bersamaan. Ia tidak menyangka kalau itu Rani, kalau mungkin ia menyadari semuanya ia tidak akan terperangkap.
"Mama nggak ikhlas Darman masuk penjara!"
"Ma, uwa Darman telah melakukan kesalahan yang fatal. Jadi ia harus mempertangungjawabkan semuanya." tekan Zahra.
"Nggak. Makanya mama mengeluarkan Darman dari penjara supaya ia bebas, dan kembali ke pangkuan mama, tapi sampai sekarang Darman nggak kembali." kata wanita itu sendu.
"Ma, seharusnya malam nggak mengeluarkan uwa Darman. Mama tahu kan uwa Darman telah melakukan kejahatan?" tanya Zahra berlahan.
Ia tidak memojokan wanita itu dengan kata katanya, Zahra hanya takut kalau wanita itu marah ladanya, jadi ia berusaha untuk hati hati bicara dihadapan wanita itu!
"Apa salah ya kalau mama masih mencintai Darman Ra?"
__ADS_1
"Nggak sih! Tapi jangan seperti ini ma, mama seharusnya menerima secara ikhlas keputusan uwa Darman untuk menikah dengan wanita lain.
"Semuanya gara gara ibunya Darman?" Dengus wanita itu terlihat kesal dan geram.
Zahra tahu soal ibunya Darman! Ibu angkat Darman adalah ibu kandung Hamdi! Ya nenek dirinya. Ia juga merasa penasaran kenapa sampai neneknya tidak setuju kalau uwa Darman menikah dengan wanita itu!
"Mungkin belum jodoh, ma."
"Bukan jodo Ra tapi ibunya Darman gila harta!" sembur wanita itu kesal.
Hati Zahra sakit mendengar kata kata wanita itu, ia nyakin kalau sebenarnya wanita itu tahu kalau ia adalah anak dari Hamdi, dsn yang dibicarakan oleh dirinya adalah nenek dari Zahra sendiri.
Zahra hanya bisa merangkul pinggang wanita itu! Dan mengusap usap pungung wanita itu dengan lembut, sebenarnya ia juga butuh untuk memotivasi dirinya.
"Udah yuk! Ma, kita pulang." Ajak Zahra langsung bangkit dari duduk.
Tangan Zahra langsung meraih tangan wanita itu, supaya wanita itu juga pulang ke rumah uwa Iyan.
BRAK!
Rani dengan beringasnya langsung menyerang uwa Iyan. Uwa Iyan yang tidak menduga kalau Rani menyarang hanya begong dan terjungkal dan kepalanya terantuk pohon yang ada di sampingnya.
"Bajingan!''
"Kamu yang bajingan! Nggak tahu diri, mau menang saja!" teriak uwa Iyan tidak kalah sengitnya.
Pria itu melotot matanya, menatap Rani yang sedang menatap nya.
"Apa yang kau katakan aku nggak Meu mendengarnya?" terima Rani..
"Cemburukan kamu kalau aku ceritakan apa yang Datang lakukan lebih keji dari segalanya,"
"Ran, kamu mikir apa yang seharusnya kamu lakukan jangan Seperti ini, "
"Coba apa yang harus aku lakukan sekarang? Semuanya telah berubah? Dan semuanya nggak akan bisa memutar waktu lagi!" bala Rani sengit.
"Se nggak nya, kamu introfeksi diri bukan menyalahkan masa lalu kamu!"
"Kang, jangan ikut campur!
"Bukan ikut campur! aku mengatakan apa adanya sekarang!"
Rani benar benar marah dan emosi pada uwa Iyan.
Zahra yang awalanya akan melakukan sesuatu malah menjadi diam melihat pertengkaran yang terjadi, begitu juga dengan Rey.
"Kamu bukan Ani, kamu orang lain yang mengaku Ani!"
"Mau Ani mau siapa pun juga tetap saja sama.
"Nggak mungkin. Ani tetap Ani, Ani adalah mama dari Zahra bukan kamu!" sembur uwa Iyan menatap wajah dari Rani.
Mendengar apa yang dikatakan oleh uwa Iyan, Rani menatap tidak suka pada uwa Iyan.
"Rey kenapa sih mereka sampai bertengkar?" tanya Zahra agak berbisik.
__ADS_1
"Nggak tahu aku juga nggak ngerti apa yang mereka bicarakan." Rey mengajak kedua bahunya tidak mengerti.
"Aneh kamu kan disini sama uwa Iyan?" tanya Zahra heran.
Ya kalau dirinya wajar kalau ia tidak tahu apa kerena ia tadi diajak oleh mbok Inem ke kebun untuk memetik daun singkong buat makan, pas ia datang Rani dan uwa Iyan sudah bertengkar hebat.
"Dasar!
Zahra agak kesal mendengar jawaban Rey, dari lagi sampai sekarang tidak tahu apa yang terjadi.
"BRAK!"
Rani dengan emosi menyepak ember yang ada di halaman rumah, hampir saja ia juga mengambil golok yang ada di sana. Tapi untungnya uwa Iyan langsung mengambilnya.
"Ku cincang kau tua Bangka!" terima Rani memandang wajah uwa Iyan.
"Jangan bernafsu seperti itu, jangan sampai semuanya terjadi menyesal kamu." ujar uwa Iyan lembut.
"Kau sebenarnya jangan ingin tahu semua urusan,"
"Siap yang mau tahu urusan orang, aku hanya ingin mengingatkan kamu itu salah, Darman yang mungkin kembali lagi, kerena ia juga nggak ada disini!" tegas uwa Iyan memandang wajah Rani.
"Kamu kan yang mengeluarkan Darman! Tapi kenapa kau cari disini, Zahra hanya mengajak kamu kesini hany ingin tahu seberapa jauhnya kamu mengingat desa ini." tutur uwa Iyan.
"Tapi aku juga nggak tahu dia dimana? kenapa harus kamu tanya aku tetang Darman?" tanya Rani..
"Tapi benarkan kamu yang mengeluarkan di penjara, masih kah kamu mencintai Darman? Kamu nggak tahu kan kalau Darman lebih bahaya dari apapun juga?''
"Bahaya? Bahaya maksudmu?"
"Aku nggak pernah memikirkan kalau Darman bahaya buat diriku sendiri," lanjut Rani bertanya dengan nada sinis.
"Kamu nggak tahu cerita Darman, sepak terjang laki laki itu?" tanya uwa Darman menatap Rani.
"Kamu nggak bakal percaya kalau Hamdi meninggal kerena Darman, sedangkan kamu tahu kalau orang tua Hamdi adalah orang tua angkat Darman?" Lanjut Uwa Iyan melanjutkan kata katanya.
"Hamdi? Apa benar Hamdi meninggal kerena Darman, mustahil itu terjadi," kata Rani tidak percaya.
"Terserah kalau kamu nggak percaya?" kata uwa Iyan pasrah. Masalahnya ia tahu kalau cerita darman nggak akan mudah di ceritakan apalagi didengar oleh Rani.
Ada kejut di wajah Rani saat mendengar dari uwa Iyan kalau Hamdi telah meninggal, wajah wanita itu terlihat murung sekali.
"Kamu nggak bakal menduga semuanya telah berubah. Dan kamu malah mengeluarkan penjahat itu!"
"Nggak nggak mungkin Darman.melakukan itu nggak mungkin!" teriak Rani histeris.
Ia berdiri dengan tangan menjambak rambutnya, apalagi mendengar nama Darman yang menjadi tersangkanya.
"Jangan menyesali semua, Darman melakukan itu untuk apa, kita juga nggak tahu apa keinginannya."
Zahra yang tidak jauh di tempat itu hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh uwa Iyan.
"Aku nyakin Rey kalau sebenarnya uwa Iyan hanya ingin menjebak Rani untuk mengatakan dengan jujur seorang pembunuh ya,"
"Apa benar? Aku malah sangsi Rey, kalau uwa Iyan menjebak Rani?" ujar Zahra.
__ADS_1
"Udah jangan ikut campur nanti kita yang kena imbasnya."
Rey langsung mengajak Zahra untuk menjauhi wanita itu dsn uwa Iyan yang semakin sengit."*