
Plak!
Sebuah tangan melayang tepat di pipinya Rey, laki.lai.muda itu sangat terkejut ketika ibu Ani berdiri de depannya dengan tatapan mata beringas siap menerkam.
"Kamu tahu semuanya tapi kamu diam saja, mau kamu itu bagaimana?" Terima ia Bu Ani gusar.
Pagi itu! Ia mendatangi kantor Rey.
Rey saat itu sedang mengerjakan pekerjaan sangat kanget kerena tiba tiba ia melihat ibu Ani datang ke kantor tanpa pemberitahuan sama sekali.
Belum sempat Rey bertanya apa keperluan dari ibu Ani, tapi tiba tiba wanita itu melayangkan tanganya ke pipinya Rey.
Rey hanya meringis kesakitan saat tangan wanita itu menyentuh pipinya, ada sensasi panas dan sakit yang dirasakan pipinya.
"Maksud nya apa ma, aku nggak ngerti apa yang mama katakan?" Tanya Rey.
Ia terbiasa menyebut mam pada wanita yang ada dihadpannya.
"Cih! Kamu sekarang bohong sama mama, kenapa kamu merahasiakan semuanya dari mama tentang Anin!" Terima ibu Ani geram.
"Ma, mama sudah tahu kan Anin, kenapa mama mempermasalahkan nya lagi?" Tanya Rey tertegun..
Ia baru mendengar dari bibir ibu Ani menyebut nama Anin. Ya selama ini wanita itu jarang sekali menyebut nama Anin dalam keadaan apapun juga, taoinsekarang malah wanita itu yang menyebut nama itu.
"Diam kamu! Jangan sebut nama itu. Perlu kamu tahu anak itu sudah meninggal dsn nggak pernah hidup lagi!" Cerca ibu Ani mendidih mendengar Ray menyabut nama Anin.
"Taoi benar kan nama Zahra belakangnya naam Anindya apa.salahnya aku juga menyebut nam Anin pada Zahra?" Tanya Rey.
Plak!
Dua kali pipi Rey terkena tamparan tangan ibu Ani. Pria muda itu melihat wajah ibu Ani penuh bara api yang siap membakar siapa saja didekatnya.
"Ma, apanyang terjadi sebenarnya?" Rey bertanya pada mamanya.
Ya ia sebenarnya bertanya tanya dalam hatinya tentang apa yang terjadi, dan kenal ibu Ani datang dengan kondisi seperti ini. Tapi Rey hanya bisa bertanya didalam hati saja.
"Ma, mama kenapa seperti ini? Rey nggak tahu apa yang mama katakan seebnatnya?"
Rey berjalan menghampiri ibu Ani dan mengajak wanita itu untuk duduk di kursi yang ada di ruanganya.
Wanita itu mengikuti apa yang di perintahkan oleh Rey.
"Rey kamu harus bantu mama, mama nggak mau kehilangan Zahra untuk kedua kalinya."
__ADS_1
Rey tidak langsung menjawab apa yang diutarakan oleh ibu Ani, ia menunggu apa yang akan diceritakan oleh wanita yang ada dihadapannya.
"Rey, mama takut kehilangan Zahra. Zahra kembali ke keluarganya."
Akhirnya dari informasi Zahra kemarin ibu Ani menceritakan tentang Ana yang menolong Zahra dari keberutalan Darman. Rey hanya mendengarkan saja, ia mengangguk anggukan kepala saja.
Ibu Ani juga cerita kalau ibu Ayu tahu tentang Zahra, dan wanita itu takut kalau Zahra bakal balik lagi ke wanita itu, Rey hanya mengelengkan kepala saja.
Disis lain ia menyalahkan wanita yang ada dihadpannya, ya bagaimana pun Zahra memang berasal dari desa itu, ibu Ani yang ada dihadapannya hanya lah orang yang membesarkan Zahra saja.
"Terus apa yang mama inginkan dari Rara, Rara disana kerja ma, bukan kembali."
"Buktinya sekarang Rara nggak pulang malah balik kembali di desa kumuh itu," sembur wanita itu emosi.
"Mama, Rara disana kan kerja? Kenapa sih yang mama ributkan?" Ujar Rey lembut.
"Kamu nggak ngerti aja ya Rey. Mama hanyantakut kalau Zahra bakal menetap disana, mama nggak rela Rey. Memang ada apa sih disana?
"Ma, maafkan Rey. Sebenarnya Rara punya tugas penting disana," cerita Rey ragu.
"Tugas penting? Maksudnya?" Tanya ibu Ani berkerut wajahnya.
Rey menarik nafas panjang. Sebenarnya ia ragu untuk cerita, tapi kelau tidak cerita ia nyakin ibu Ayu lasti bakal mengejar ngejar dirinya.
"Papa juga tahu ma, maafkan Rey ya mama. Rara dan papawmyuruh Rey tidak bilang sama mama." Rey menyelesaikan ceritanya.
Ibu Ani yang mendengarkan cerita Rey langsung darahnya mendidih, ia tidak menduga kalau Zahra mempunyai Maslah seperti itu dan yang paling parahnya dirinya tidak tahu apa apa tentang Zahra.
"Sejak kapan? Kamu tahu cerita itu!" Terima ibu Ani gusar..
"Waktu Rey masih SMA, Rara banyak cerita itu ma sama Rey." Kata Rey jujur.
Pria 28 delapan tahun itu mengatakan perkataan jujur kerana ia mendapatkan cerita dari Zahra itu sendiri.
"Apa dari SMA? Jadi kamu tahu semuanya!" Jerit wanita itu frustasi..
"Iya ma, papa juga tahu. Tapi papa lah yang melarang Rara dan aku untuk cerita semuanya," akhirnya Rey jujur.
Wanita itu benar benar gusar sekali mendengar pengakuan dari Rey. Jadi selama beberapa tahun ia tidak tahu apa apa tentang cerita Zahra.
"Aku bakal mencari cara supaya Rara kembali ke sini lagi, aku bakal penjarakan daraman dengan syarat Zahra ikut kembali ke sini!" Gertak wanita itu marah.
Tanpa menunggu waktu lagi, ibu Ani dengan emosi yang meluap luap langsung meninggalkan kantor Rey.
__ADS_1
Rey mengejar ibu Ani, taoinwnakya itu dengan keras mendorong tubuh Rey dengan kekuatan tinggi, sampai tubuh Rey sempoyongan dan menabrak pintu. Wanita itu langsung masuk lift dan meninggalkan Rey.
"Maafkan aku Ra, aku terpaksa cerita semuanya tentang kamu pada mama," bisik Rey menyesal.
Rey langsung ingat.
📱Ra, maafkan aku ya.
Rey yang ingat langsung telpon Zahra yang sedang di perpustakaan. Untung Zahra langsung mengangkat dan menyambungkan panggilan Rey.
📱Rey ada apa, maaf untuk apa?
Tanya Zahra heran mendengarkan apa yang Rey katakan.
📱Mama tadi kesini Ra, marah marah sama aku dan mencari tahu kenapa kamu harus di desa itu.
📱Terus?
Zahra mengejar Rey dengan pertanyaan. Ia hanya.bids.menghela.nafas saat mendengar kalau mama nya datang ke kantor Rey.
📱Intinya mama ingin bantu.kamu menjebloskan pak daraman dengan syarat kamu pulang ke kota.
Kata Rey menceritakannya pokok permasalahannya yang terjadi.
📱Apa, mama sudah tahu?
Gadis Itu terkejut. Rey hanya mengucapkan kata iya saja, mendengar itu Zahra menghela nafas. Ia tahu mamanya seperti apa, mama nya pasti bakal melakukan cara demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Di kejauhan Zahra hanya menghela nafas mendengar kalau mamanya ke kantor Rey.
"Kak, ada apa?" Tanya Ana melihat Zahra yang termenung seperti itu.
"Nggak apa apa kok dek," senyum Zahra.
"Kakak dapat telpon dari siapa? Kenapa pas sudah menerima telpon kakak kaya berubah gitu?" Selidik Ana.
"Rey telpon kalau mama kakak nyari kakak."
"Kan mama kakak tahu kalau kakak itu disini kerja?"
"Sudah yuk kita beresin lagi bukunya." Ajak Zahra beranjak dari tempat duduknya dan mengambil beberapa buku yang acak acakan.
Ana akhirnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Zahra, keduanya membereskan buku yang tergeletak di lantai dan di susun lagi ke rak buku seperti semula.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Ana, sebenarnya Zahra memikirkan apa yang akan dilakukan mamanya pada keluarga Ana. Ia takut kalau mamanya akan nekad melakukan sesuatu tanpa kompromi lagi.*