
Vito mengikuti apa yang Darman katakan. Pria itu menyuruh diri ya istirahat di ruangan dwpan, sepeninggalan Darman Ia tidak langsung istirahat ia malah melihat kesekeliling ruangan yang berukuran 6x6 meter.
Ia bangkit dari duduknya melihat lihat ruangan itu, ada satu kamar dan satu wc di dalam rumah dan dapur. Ia kembali lagi ke tempat semula, tempat yang ia tempati ada sebuah tikar dan bantal yang disiapkan oleh pria itu.
"Rani sayang sama Darman ia selalu memberikan apa yang Darman butuhkan, hanya cara mama mu salah." kata Ayu terhiang di telinganya.
"Ayu sepertinya memyalahgunakan perhatian Darman dan perhatian pria itu sampai pria itu mau melakukan apa saja demi Rani," lanjut Ayu pada dirinya.
Vito hanya mendengarkan apa yang ibu Ayu katakan tentang mamanya, ia tidak menyanggah lagi kerena ia tahu semuanya tentang mama.
Bukn hanya ibu Ayu yang mengatakan itu pada dirinya, Zahra dan Ana juga sering mengatakan sedangkan ibu Ani hanya diam saja mungkin wanita itu tidak tahu Rani biarpun saudara juga.
"Baik, perhatian pada teman dan selalu ada untuk ibu," itu yang dikatakan ibu Ayu pada dirinya.
Vito hanya menarik nafas panjang dalam dalam mengingat perkataan ibu Ayu. Ia hanya ingin melihat mamanya berubah sepeeir mama yang lainnya.
🦋
Sedangkan pria itu langsung menemui Rani yang badan di rumahnya, atas apa yang dikatakan Vito Darman tidak susah mencari Rani.
Pagi itu memang Rani berasa di kamarnya untuk menyelesaikan baca novel tentang percintaan yang ditentang oleh orang tuanya, isi novel itu mengenai sekali dalam hatinya. Tapi kalau dipikir jalan ceritanya beda dengan dirinya, ia dan tokoh utama di novel itu beda sekali.
Kalau ia dan Darman tidak direstui kerena ada pertalian saudara sedangkan tokoh di novel itu tidak ada persaudaraan. Sedang asyik asyik membaca ia dikagetkan oleh kedatangan oleh kedatangan Darman yang tiba tiba datang tanpa ba bi bu lagi pria itu menampar pipinya beberapa kali.
Apalagi saat ia mendorong tubuhnya sampai ia tersungkur mencium tanah. Ia bangkit tapi Darman langsung memegang tangan nya dengan keras sampai ia merasakan sesakitan yang luar biasa.
Rani benar benar sewot sekali. Mendengar apa yang Darman katakan tentang Vito. Ia sama sekali tidak bisa menerimanya, Vito anak nya tapi pria itu malah ikut campur urusannya.
"Tapi jangan siksa Vito!" teriak Darman marah.
"Kang, lebih baik kamu pergi saja. Aku bakalan siksa anak itu kalau ia nggak turuti apa yang aku katakan. "
Plak!
__ADS_1
Tangan Darman langsung melayang dengan cepat menyentuh pipinya Rani sampai wanita itu menjerit kesakitan saat tangan Darman mengenai pipinya.
"Kamu ngusir aku? Kamu sadar apa yang kamu lakukan pada Vito?"
Cerca Darman beringas mendengar apa yang dikatakan oleh Rani.
"Sakit!" jeritnya.
"Kang! Aku sadar apa yang aku lakukan pada Vito aku sadar lalu apa masalah kamu. Kang!" Terima Rani marah.
"Kalau kamu sadar lalu kenapa kamu memukul Vito, kamu sakiti dia, seharusnya kami sadar apa yang Vito katakan pada kamu itu benar!"
"Aku sadar kang! Sadar kang, kalau akang nggak pernah setia? " teriak Rani keras.
Rani malah mengatakan itu pada Darman membuat pria itu memandang wajah Rani dengan hwrannya kerena ia tidak mengerti sama sekali.
"Maksudmu? "
"Kang Darman, yang mengatakan itu pada aku, kang tapi nyatanya malah akang menyerahkan diri akang pada polisi! " hardik wanita itu geram.
Darman hanya menatap wajah Rani, ia tidak lupa apa yang ia katakan pada Rani tapi sekarang ia malah punya pikiran yang jernih. Memang dulu ia mengatakan itu, kerena ia masih punya pegangan yang kuat. Tapi sekarang tidak lagi.
Darman ingat apa yang dikatakan Ageng pada dirinya, Ageng lah yang selalu bicara pada dirinya arti kehidupan di tambah lagi Ani juga menyadari.
"Aku ingat Ran, tapi itu dulu. Sekarang aku ingin berubah kita seharusnya sama sama berubah, kamu harus ingat Vito bagaimana pun Vito butuh kamu, " nasehat Darman menatap Rani yang masih dihadapannya..
"Nggak, aku hanya ingin hidup sama Vito untuk saat ini. " ujar Rani. Menolak.
"Dalam keadaan kamu dikejar polisi?"
"Nggak apa apa," kata Rani enteng.
"Kamu harus berpindah pindah bersama Vito, kalau terjadi apa apa pada Vito bagaimana, apa kamu akan menjamin kehidupan Vito? " kejar Darman.
__ADS_1
"Nggak masalah, aku akan lakukan itu asal dengan Vito. "
"Oke! Tapi kalau misal ada apa apa dengan Vito? "
"Kang! Aku nggak mau terjadi apa apa dengan Vito. Aku yakin aku bisa menjaga dengan baik Vitoku! " teriak Rani marah.
Ia tidak pernah berpikir sama sekali. Kalau misal Ia berpindah pindah dengan Vito dan terjadi apa apa pada anaknya, Rani tidak pernah berpikir itu.
Ia hanya berpikir kalau ia hidup pindah pindah akan aman asal dengan Vito, tapi Darman menepiskan anggapan Rani. Wanita itu langsung meninggalkan Darman yang ada di luar, kerena dari tadi gengaman tangan nya dilepas makanya wanita itu bisa pergi dari hadapan Darman.
"Aku akan tetap menunggu kamu Ran, tapi kalau kamu tetap nggak mau jangan salahkan aku. Kalau terjadi apa apa terhadap kamu! " teriak Darman.
"Aku nggak akan menolong kamu lagi, mungkin ini terakhir yang baku katakan padamu Ran, kerena akun sayang kamu!" lanjut kata kata Darman pada Rani.
Pria itu langsung meninggalkan rumah itu, ia tidak menunggu jawaban yang akan diberikan Rani untumnya. Rani tertegun mendengar teriakan Darman, teriakan terakhirlah yang menyentuh hatinya tapi ia menepiskan perasaan yang tiba tiba muncul.
🦋
"Bapak nggak akan menolong mama kamu lagi, Vit." ujar Darman.
Pria itu mengatakan itu seperti termenung sendirian mengingat apa yang pernah terjadi pada dirinya dan Rani.
Darman duduk di samping Vito, pria itu menghela nafas saat ia duduk di samping pemuda itu.
Setelah bicara dengan Rani dan wanita itu tidak pernah mengubrisnya apa yang dikatakannya, akhirnya pria itu meninggalkan Rani yang masuk ke dalam rumahnya. Darman tidak tahu teriakan nya di dengar atau tidak itu masalah Rani sendiri yang penting ia sudah menyampaikan nya.
Darman pulang ke rumah pemberian Rani, dan melihat Vito yang menyadarkan punggung nya di dinding.
"Maksud bapak? " tanya Vito mengkerutkan wajahnya tidak mengerti.
"Ini terakhir kali Vit, bapak menolong mama kamu. Jadi kalau terjadi apa apa pada mama kamu mungkin bapak nggak akan menolong lagi!"
Darman mengatakan kalau ia tidak akan menolong mamanya Vito untuk sekarang, Vito hanya mendengus apa yang dikatakan oleh Darman.*
__ADS_1