
Siang hari pak Bram menelpon Ana mengajak gadis itu ketemuan di tempat yang telah di janjikan oleh dirinya. Ana mengiyakan ajakan dari Pak Bram.
"Kwnla nggak ketemu disini saja? " protes ibu Ayu menatap putrinya.
"Entah bu, pak Bram ingin ketemu di tempat lain, mungkin supaya nggak ada orang yang tahu. "
"Ibu cuma heran sajaa sama pak Bram kok mwngajak ketemu ditempat lain, nggak disini? "
"Sudahkah bu, Ana oeehi dulu ya bu. "
Gadis itu langsung meninggalkan ibunya dan langsung mwnuju tempat yang telah dijanjikan oleh pak Bram. Sedangkan ibu Ayu hanya menghela nafss panjang mwlihat kepergian Ana.
Ia langsung menghempaskan tubuhnya di kursi sambil menghela nafas panjang.
"Bu, tadi Ana telpon pak Bram bjcara masalah kak Zahra. "
"Mungkin kalau pak Bram setuju lebih baik kota ke desa itu! Ana juga ingin tahu apa yang terjadi, Ana nggak tega kalau mwlihat kak Zahra disana sendirian tanpa kita, " kata Ana mwlnajutkan perkataannya setelah tadi ia menelpon
"Mungkin kalau ibu mau kita besok atau kuda kesana, kita nggak tahu kan kak Zahra dan kam Rey disana. Apalagi siyal disana jelek. Sudah dihubungi. " Ana menambahkan kata katanya keena melihatnya ibunya diam.
"Na, sebenernya rencana ini sudah mantap kita ke desa itu lagi atau hanya sementata? " tanya ibu Ayu menatap menatap wajah Ana.
"Itu bagaikan kak Zahra saja bu, kita kesana hanya ingin tahu keadaan kak Zahra saja. "
"Kalau misal kita kembali kesana, bagaiaman kantin ini siapa yang mengelola nya?" tanya Ana menerangkan pada ibunya.
"Ya itu bagaimana kamu saja ibu mengikuti. "
"Hari ini jam bakdza dzuhur insha Allah Ana dan oak Bram mau. ketemu tapi belum fix tempatnya." kata Ana memberitahukan ibunya masalah pertemuan Ana dan oak Bram yang akan diadakan.
Tapi gadis itu belum menyebutkan nama tempatnya kerena masih belum tahu, ditambah lagi lak Bram juga belum menyebutkan tempatnya hanya mengajak ketemuan saja dulu.
Ibu Ayu hanya teemwnung saat mengingat percakapan anatara Ana dam dirinya, sejujurnya kalau. mau bjcara ia hanya ingin mwnetap di desa itu lagi!
"Kita bicarakan hal itu nanti saja ya bu, Rara bakalan mengatakan kok kalau Rara sudah balik dari desa itu, " itu kawwbna Zahra.
Ya sebelum zahta ke desa itu ia sudah mwnya kan lada Zahra dan mengutarakan maksud dan tujuannya.
__ADS_1
Dan bukan hanya Zahra saja yang kalau ditanyaasakh desa itu seperti menghindar. Ia hanya mwnghela nafas panjang. Lalu masuk ke dalam ruangan ia hanya ingin istirahat di dalam.
Sedangkan Ana dan pak Bram telah bertemu di sebuah caffe yang tidak jauh dari rumahnya pak Bram.
"Bagaiamana? " tanya pak Bram menatap Ana.
"Ibu selalu mengajak Ana pwegi lak, menyusul kak Zahra! " kata Ana.
Apa yang dikatakan gadis itu memang benar sekali, ibu Ayu tiap jam selalu bertanya kapan Zahra pulang. Pak Bram hanya mwnghela nafas, tapi dihadapannya, ibu Ayu bwgitu tegar sekali malah bersikap dewasa menghadapi semuanya.
"Ana hanya menyarankan kalau kita harus bantu kak Zahra apalgai kak Zahra disana sendirian. Oke lah ada kak Rey dan uwa iyan taoi lebih bagusnya sih kita yang kesana."
"Pak, enutit bapak kenapa polisi malah menutup kemagian Narti? Seharusnya mereka mwngusut kematiannya apalagi mungkin polisi tahu pemilik villa itu? " tanya Ana menatao lak Bram.
Ia merasa heran sekali, berita pembunuhan yang seharusnya ditindak dan di selisiki malah dibuatkan begitu saja oleh pihak berwajib.
"Masa pihak berwajib kalah sama uang sih! " cetus Ana agak kesal.
ia hanya khawir apa yang terjadi pada Narti bisa terjadi juga pada Zahra.
"Pak, benarkah ibu Rani yang melakukannya? " tanya Ayu.
Ya kerena ia mendengar kalau Narti datang ke villa itu menolong pak Bram dari Rani, dan Ana menyangka kalau sebenarnya pak Bram pasti tahu apa yang terjadi di billa itu!
Pak Bram hanya tertegun mendengar kata kata Ana tentang Narti, ditatapnya hadia yang ada di hadapannya.
"Saya melihat tidak jelas kerena waktu saya melarikan diri ke tempat aman bersama Narti, Rani mengikuti saya dan Narti." kata pak Bram menceritakan pada Ana.
"Narti menyuruh saya untuk kabur dari tempat itu, awalnya saya nggak mau taoi wanita itu mendoring saya untuk menghampiri mobil yang tidak jauh dari saya dan Narti." ujar pak Bram melanjutkan cerotanya.
Ana hanya diam saja mendengarkan apa yang diceritakan oleh pak Bram pada dirinya. Pak Bram menceritakan secara detail saat iw meninggalkan villa memang dirinya melihat Rani. menghantamkan bwak yabg di pengang nya.
Tapi lak Bram memang tidak begitu jelas mwliaht kejadian itu dan yang blebih terkejut nya ia. mendengar Narti dk berita kalau wanita itu telah meninggal.
"Jadi saya juga nggak tahu pasti Rani atau bukan yang melakukannya, taoinsaya mwnyangka kalau Rani yang melakukannya kerena tidak ada orang lain selain Rani dan saya. " plak Bram. menjelaskan lada Ana..
"Bapak hanya curiga pada tante Rano? "
__ADS_1
"Iya kerena saya melihat hanya Rani dan Narti disana? Dan nggak mungkinkan kalau Narti bunuh diri? " tanya lak Bram.
"Pak kalau misal Narti bunuh diri motifnya apa ya? " tanya Ana malah balik tanya kembali.
Kedua nya diam satu sama lain memikirkan apa yang terjadi pada Narti dan Zahra yang di desa itu. Kalau mwgikiti kata kata ibu ayu, pak Bram masih sangsi kerena bagaimana pun antara Zahra dan Rani tidak ada ikatan apapun juga hanya sebatas teman dari Ayu.
Sedangkan Ana lain lagi pikirannya. Ia hanya memikirkan kemana anak anak Rani sampai sekarang belum jelas keberadanannya.
"Entah ibu juga nggak tahu, masalahnya waktu ibu punya Anin, Rani belum punya suami atau anak pun." kata Ibu Ayu memberitahukan.
"Tapi ibu kenapa percaya begitu saja pada tante Rani membawa kak zahra? "
"Ibu hanya ingin memberikan kepercayaan pada dirinya saja. "
"Saya hanya takut kepercayaan ibumu itu disalah gunakan oleh Rani. "
"Terus kesimpulan yang kita bicarakan itu sekarang bagaimana? " tanya Ana..
Sebenarnya ana dan ibunya telah sepakat sih bakal menyusulnya ke desa itu, ya biarpun tanpa pak Bram dan ibu Ani.
"Bagaiamana kalau kita besok kesana. " usul pak Bram.
"Oke! nanti Ana bicara lagi dengn. ibu. "
Setelah ada kesepakatan anatara Ana dan pak Bram kalau besok merka ke desa yang didatangi oleh zahra . Akhirnya mereka pulang dengan hati ruang sekali.
Sedangkan Ibu Ani yang tahu kalau suaminya ada janji dengan Ana di lain tempat, ia mendatangi ibu Ayu yang berada di kantin kantor. ibu Ayu kaget melihat kedatangan la milik kantor itu, dan lebih kagetnya ia lagi sendirian tanpa didampingi sang supir pribadi.
"Lebih baik kita pergi dari sini! " kata ibu Ani menatap wajah Ayu dengan tajam.
"Kamu sepertinya lebih peduli dengan Rani dibandingkan dengan zahra! " sembur ibu Ani pada Ayu.
"Rani teman aku, zahra juga anak aku. Apa sih ditakutkan? " tanya Aibu Ayu heran.
"Jangan pura-pura oura! Saya tahu anda juga khwatuekan sama Anin, tapi anda munafik! " cerca Ani geram.
Tante! " Terima Ana yang tiba tiba datang, di belakangnya terlihat pak Bram yang ingin menyampaikan sesuatu pada ibu Ayu. ibu Ani keterkesiap mendengar suara Ana yang nyaring. *
__ADS_1