TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 102


__ADS_3

Uwa Iyan yang ada di desa juga mendengar kalau di sebuah villa xXXx terjadi pembunuhan yang membuat polisi mencari pembunuhnya.


"Aneh ya polisi nggak bisa menemukan?" tanya uwa Iyan penasaran..


"Bukan yang diketahui tapi kayanya sengaja ditutup!" dengus Mbok Inem kesal.


Ya bukan hanya satu kali saja, ia pernah mengalami peristiwa seperti itu di desanya, misal pak Hamdi yang meninggal sampai sekarang pembunuhnya nihil. Baru terungkap Darman! Tapi kenyataan Darman malah buron.


"Kamu jangan sok tahu sih mbok, jangan bicara ngawur kaya gitu, nggak baik." ingat uwa Iyan.


"Kenapa kalau aku bicara apa ada nya? Memang kenyataannya seperti itu?" teriak mbok Inem merasa kesal..


"Kang, seharusnya polisi harus mencari bukti bukti yang ditemukan. Masa nggak ada bukti, di bunuh pakai tangan juga kan ada sidik jarinya, apalagi kalau di pukul, atau mengunakan alat." celetuk.mbok Inem..


"Kamu mencurigai siapa yang melakukannya?" tanya uwa Iyan.


"Pasti orang yang sama seperti membunuh Hamdi!"


Kamu begitu benci sama orang yang menghilangkan nyawa Hamdi?"


"Kang wajar kalau aku membencinya, Hamdi nggak salah apapun malah jadi korban!" dengan mbok Inem.


"Aku nggak akan ikhlas kalau semuanya belum terungkap!"


"De Hamdi kan datang yang membunuhnya." selidik uwa Iyan..


"Aku nyakin bukan darman!"


Apa yang dikatakan oleh mbok inem membuat uwa Iyan kaget seketika juga, keren abadi kalo ini wanita yang menemani dirinya membela Darman.


Ditatapnya wajah istrinya dengan perasan heran dan aneh. Mbok Inem hanya diam saja melihat suaminya menatap dirinya tidak berkedip sama.sekali.


"Aku curiga sama seseorang, tapi Darman sepertinya di permainkan oleh seseorang?" ujar mbok Inem kemudian.


"Apa yang mendasari kalau bukan Darman pelakunya?"


"Aku lihat di berita kalau salah satu warga menemukan mayat seorang wanita, saat dilihat mayatnya bagian kepal hancur sedangkan bagian yang lain biasa saja."


"Aku hanya ingat mayat Hamdi yang kepalanya menghilang sedangkan tubuhnya di robek begitu keji." lanjut wanita itu lirih.


Mbok Inem menceritakan apa yang terjadi lada wanita yang ditemukan di Solokan, sedangkan uwa Iyan langsung terdiam ketika mendengar alasan dari mbok Inem.

__ADS_1


"Apa mungkin Darman bukan pelakunya?"


"Bisa saja, tapi ada pembunuh lain yang ingin mencoreng nama baik dari Darman?"


"Ah dulu kamu yang menjelekan Darman tapi sekarang malah lain lagi," Dengus uwa Iyan menyesali apa yang terjadi.


Mbok Inem langsung diam mendengarkan Oa yang dibicarakan oleh uwa Iyan suaminya.


"Aku yakin kang, tapi semuanya telah terjadi. Tapi sekarang Darman kabur dari penjara, mungkin ia tahu kalau ia nggak salah." gumam mbok inem.


"Aku merasa heran kenapa sang pembunuh hanya membunuh orang orang yang biasa saja?" tanya mbok Inem melanjutkan apa yang ia katakan.


"Bukan orang biasa mungkin tapi orang yang tahu semua yang terjadi, daripada ketahuan lebih baik dibunuh."


kata uwa Iyan. Memang yang dikatakan oleh istrinya benar. Orang orang yang meninggal dalam orang yang seperti nya tahu semua yang terjadi lada orang itu maka dengan jalan dibunuh untuk menutup keadaan dirinya.


"Kita nggak tahu kan apa yang terjadi lada Hamdi maupun wanita itu!" ujar mbok Inem menatap wajah suamianya.


"Tapi kalau kakang sih menduga pembunuh kenapa bisa membunuh Hamdi, keren Hamdi bisa jadi saksi kematian dari pak Rohaman, apalagi di dukung oleh saksi lain." ujar uwa Iyan mengingat kejadian Hamdi, Rohman dan Karya.


"Kang, aku dapat berita kalau bukan hanya aku saja yang menduga kalau bukan pak Rohman di bunuh oleh Kang Darman," kata Hamdi waktu beberapa tahun yang lalu..


Percakapan itu seperti baru kemarin saja, sebenarnya sudah lama.


"Pak Karya, ia sebenarnya melihat kejadian itu dengan jelas sekali," adu Hamdi pada uwa Iyan.


"Masa?"


"Iya kang, mungkin dua hari ini aku bakal kedatangan pak Karya untuk bicara hal ini."


"Dek, lebih baik kamu ceritakan sekarang siapa pembunuh pak Rohman?'' tanya uwa Iyan.


"Kang, kang karya belum cerita apa apa pada ku, ia mengajak ketemuan dan ia bakal datang ke rumahku." jelas Hamdi.


"Disangka sudah ngomong. Memangnya kang karya mau bilang sama kamu itu bilang apa?"


"Entah lah kang, menurutnya ia juga melihat siapa pembunuh dari pak Rohaman, aku hanya ingin tahu saja siapa yang membunuhnya?" ujar Hamdi seperti bertanya pada dirinya sendiri.


"Katanya kamu melihat kakang mu yang memegang arit, dan kakang mu juga yang memberikan pada kamu," ujar Uwa Iyan heran.


Ya ia mendengar semuanya dari Hamdi, tapi Hamdi malah berkata begitu. Jadi wajar kalau dirinya heran atas apa yang terjadi pada Hamdi.

__ADS_1


"Iya, aku melihat kalau arit di tangan kang Darman. Tapi kenapa hanya ada sidik jariku waktu itu!"


"Dan Kang karya malam ini mau datang ke rumahku mau bicara masalah yang terjadi malam malam itu!" jujur Hamdi pada uwa Iyan.


"Jadi kamu belum tahu siapa yang membunuh pak Rohman?" tanya Uwa Iyan.


"Iya, masalahnya waktu kemarin ketemu juga kang karya bilang dia akan ke rumah, saat aku tanya ada apa? Ia hanya ingin menceritakan di rumah saja." kata Hamdi.


"Aku nyakin kalau kang Karya tahu siapa yang sebenarnya pembunuh pak Rohman."


"Kenapa pak Rohman nggak cerita kalau dia melihat pembunuhnya, ya biacara saja satu dua patah kata," dengus ua Iyan menatap Hamdi.


"Sudahlah kang, mungkin biar aman." kata Hamdi.


Hamdi mengatakan itu sebenarnya memang benar, Karya sebenarnya melihat kejadian itu! Dan ia ingin sekali meluruskan semuanya kesalahpahaman yang ada. Jadi Karya memanggil Hamdi ingin bicara di rumahnya, niatnya ingin memberitahukan pembunuhnya..


Apalagi saat Karya mendengar kalau Hamdi d ia penjara. Jadi seperti ia hanya ingin meluruskan semuanya, tapi naas Karya malah dibunuh oleh Darman malam itu!


"Kang kenapa melamun!" teriak mbok Inem meras disepelekan oleh suamianya.


"Ya ada apa?"


"Kamu melamun apa kang, masa aku bicara kesan kemari nggak didengar sih!" mbok Inem langsung cemberut.


Uwa Iyan hanya garuk kepala tidak gatal saja, kerena ia sama sekali tidak mendengar apa yang diceritakan oleh istrinya, uwa Iyan malah mengingat percakapannya dengan Hamdi pada malam itu mereka mau bertemu..


Malam yang sama, hanya beda waktu saja, keduanya merenggang nyawa bersamaan di tempat yang berbeda. Malam itu juga seorang bocah usia 6 tahun menghilang raib ditelan malam yang kelam.


"Kang!" terik mbok Inem sambil memeluk bahu suamianya.


Wanita itu merasa kesal sekali melihat suamianya bukan mendengarkan malah diam membisu seperti mengingat sesuatu.


"Kang ada panjang kamu pikirkan?" tanya mbok Inem.


"Akang hanya ingat percakapan dengan Hamdi tentang Karya." uwa Iyan terbuka.


"Percakapan apa yang dek Hamdi bicarakan?" tanya mbok inem seperti ingin tahu.


"Kang karya ingin ketemu dan bicara masalah terbunuhnya pak Rohaman dan ia jadi saksi pembunuhan yang terjadi." cerita Uwa Iyan.


"Sarapan pasti, kerena Darman yang ada disana. Terus kerena ingin dianggap sebagai pahlawan ia malah memfitnah Hamdi!" sembur Mbok Inem.

__ADS_1


Uwa Iyan hanya menghela nafas mendengar kata kata ketua dari istrinya, ya hampir semuanya seperti itu. Semua menduga pasti Darman, tapi semuanya tidak ada yang tahu siapa dibalik Darman yang sebenarnya.


__ADS_2