
Rani hany termenung di perbukitan yang sejuk. Apalagi udara pagi yang benar benar membuat dirinya nyaman sekali. Burung kecil bernyanyi dengan riangnya menambah keindahan perbukitan yang ada di desa itu! Desa yang tentram, sejuk, indah dan banyak kenangan yang tidak akan pernah diulang lagi.
"Kamu betah ya disini? Ayo. kita pulang, jangan lama lama disini nya? " tanya Ani.
Wanita itu menyusul Rani ke perbukitan yang sering didatangi oleh Rani ndan Zahra, Ani datang kesana hanya ingin bicara dengan Zahra tapi anak itu tidak ada di tempat.
Akhirnya Ani menghampiri Rani dan duduk disamping wanita itu. Sedangkan Rani hanya diam saja saat tahu ada orang yang menghampirinya.
"Kamu nggak suka sama aku? Kerena akun datang ke sampingmu? " tanya Ani melirik wajah Ani.
"Sebenarnya yang aku ingin kan hanya seperti ini, kebersamaan seperti Anin dan Ana. Kita nggak pernah melakukan nya selama ada disini, " kata melanjutkan perkataannya.
"Kerena kita terpisah jadi kita nggak akan pernah. melakukan seperti apa yang Anin dan Ana lakukan, mereka begitu akrab biarpun merka sempat berpisah bertahun tahun. " sindir Rani tajam.
Ia tahu kalau Ani mengatakan itu menyindir dirinya kerena melihat keakraban antara Ana dn Zahra, dalam hatinya mengatakannya kalau Ani mwngatakan itu lastiningin merasakan apa yang Ana rasakan sebagai adik yang punya kakak.
"Kak kok bicara kaya gitu?" tanya Ani.
"Iya kenyataannya begitu kan? "
"Taoi bjaroun mereka berpisah mereka tetap akrab! "
"Iya kerena mereka pernah dekat waktu balitanya, sedangkan kita? Apa?"
"Kak! "
"Kakak. Dulu aku merindukan panggilan itu dari seorang adik, tapi itu dulu bukan sekarang! "
"Jadi aku harus manggil namun dengan apa ? "
Apa aku harus manggil dengan sebutan nama? Kita satu umur nggak pantas sih kita menyebutkan adik dan kakak kerena kita lahir hanya beda jam! " sengit Ani.
Rani langsung teediam. mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ani. Kata kata wanita yang ada dihadapan menorehkan luka dihatinya.
"Kalau kamu maunya begitu oke lah. Atau kita nggak pernah saling kenal lagi! "
Wanita itu langsung meninggalkan Rani, tapi Rani dengan cepat memegang tangan Ani. Ani berhasil menepiskan tangan Rani dengan kasarnya. Tapi dengan cepat mengejar Ani supaya tidak pergi.
"Dek!" panggi Rani spontan.
Ani yang mendengar Rani dengan sebutan dek langsung berhenti dan membalikan badannya untuk melihat Rani.
"Dek, mamaafkan kakak. Kakak hanya terbawa suasana hati kakak, yang nggak karuan. "
Kata Rani sambil meraih tangan Ani yang akan pergi dari tempat itu, Ani terdiam ditatap wanita yang ada dihadapanya. Ia melirik tangan Rani yang memegang tangannya, akhirnya ditatap juga wajah Rani dengan tajam.
__ADS_1
"Maafkan kakak ya de, maafkan kakak. Kakak salah," ujar Rani menatap Ani.
"Kak, pada sebenarnya yang terjadi? " tanya Ani.
Sebenarnya ia tahu dari suaminya peristiwa tentang Narti dan kemarin ia menyuruh wanita yang ada dihadapannya untuk menyerahkan diri pada polisi. Setelah dipikir pikir olehnya ia merasakan bersalah, ya biarpun Rani salah tapi ia tidak harus melakukan itu pada Rani.
Jadi hari itu ia ke tempat dimana Rani yang sering berada di bukit itu, sedang merenungkan dirinya di perbukitan yang sejuk dan damai.
"Nggak ada apa apa. kok," elak Rani.
"Kalau ada masalah ceritakan saja, Ani bakal mendengarkan apa yang kakak ceritakan, " ujar Ani sambil sambil menepuk tangan Rani.
Sebelum menjawab pertanyaannya dari Ani, Rani hanya menghela nafas panjang. Akhirnya keduanya duduk di bawah pohon yang rindang, sedangkan disana juga ada gubuk yang tidak jauh dari sana.
Tapi Rani memilih bawah pohon, dan mereka duduk berhadapan satu sama lainnya.
"Aku hanya kangen mama, dek. "
Ani terdiam.
Ya itu yang selalu Rani ucapkan pada Ani tentang kerinduan dirinya pada mamanya.
"Mama tahu'kan alasan kenpa uwa iyan menginginkan Zahra selalu ada di samping uwa Rani? Ya kerena apa yang uwa Rani rasakan Rara juga rasakan yaitu sebuah merindukan, kerinduan sosok ibu, sosok ayah! Apalagi sekarang Rara sudah nggak punya ayah kandung lagi! " terhiang percakapan dirinya dengan Zahra.
"Uwa iyan nggak memilih Ana, kerena Ana masih bisa. merasakan kasih sayang ibu, ma. Oke! Rara juga merasakan kasih sayang mama, taoi itu maaf berbeda dengan ibu. " kata Zahra menjelaskan lada mamanya..
Zahra berusaha dengan sekuat tenaga menjelaskan kenapa uwa Iyan memilih dirinya untuk terus bersama dengan Rani.
"Ma, tahu nggak setiap ketemu Rara atau siapa saja pasti uwa Rani mengungkapkan perasaannya kalau ua Rani rindu ibu. "
Ani hanya terdiam, ia ingat kata kata Zahra tentang apa yang terjadi pada Rani, dan ingat kata kata Zahra twntang kerinduan seorang ibu. Kalau dengan Zahra mungkin Rani bakal bisa jadi sahabat kerena ia pernah berpisah dengan. ibunya.
"Kalau saja, "
"Kalau saja semuanya nggak terjadi mungkin Rara akan menjadi Anin dan nggak akan pernah ketemu papa dan mama,"
Tiba tiba Zahra dan Ana menghampiri kedua wanita itu. Zahra sengaja memotong kata kata Rani yang ia akan ucapkan di depan Ani.
"Semuanya sudah diatur. Rara juga nggak bisa berbuat apa apa, dan Rara nggak mumgkin menyalahkan siapapun juga. " lanjut Zahra duduk di antaranya kedua wanita itu.
"Kita lebih baik duduk yuk! Disana? "
Zahra menunjukan sebuah gubug yang tidak jauh dari sana, kedua wanita itu akhirnya beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Zahra, ia beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ke gubug.
Zahra mengajak tiga orang yang ada disana, akhirnya ketiga orang yang ada disana mengikuti Zahra yang menghampiri tempat duduk yang terbuat dari bambu.
__ADS_1
Ya sebuah saung terbuat dari daun ilalang buat menghalangi sinar matahari maupun hujan. Tapi ibu Ani malah mwraih tangan Ana. Gadis itu. langsung melihat pada ibu Ani dengan perasaan heran.
"Ada apa? "
"Kita cari tempat. lain saja, yuk! Biarkan meraka berdua. " kata ibu Ani.
Wanita itu hanya bisa melihat keakraban Zahra dengan Rani, sebenarnya bukan itu sih ia lakukan kerena ia juga ingin tahu Zahra dan Ana.
Ana akhirnya mwngerti ajakan dari ibu Ani.
"Kak! " panggil Ana.
"Ya, ada apa? " tanya Zahra menghentikan jalannya.
"Kami mau pulang saja, kaka sama tante berdua saja ya. " kata Ana menatap Zahra.
Zahra mengangguk saja .
Ibu Ani dan Ana langsung pergi. meninggalkan bukit itu meninggalkan Zahra dan Rani, mereka hanya ingin memberikan peluang pada Zahra dan ibu Rani berduaan di perbukitan sana.
"Na, kamu mengertikan apa yang kakak katakan pada kamu? " tanya Zahra tadi di perpustakaan.
"Iya kak, Ana mengerti apa yang kakak katakan, "
"Jadi bantulah kakak bisa mengungkapkan semuanya, "
"Iya kak, Ana akan bantu kakak. Apa yang lwelu Ana bantu buat kakak. "
"Jangan semua tahu masalah ini, pokoknya biarkan kakak dengan nya. "
"Iya kak. Tenang saja, Ana bakal bantu kakak kok!"
"Terimakasih ya de. "
Ana masih ingat percakapan tadi dengan Zahra. Jadi waktu melihat kakaknya dengan Rani berjalan kearah gubug. Ia. memutuskan ikut dengan ibu Ani.
"Apa yang kau pikirkan tentang kakak kamu? " tanya ini Ani sambil berjalan beriringan dengan Ana.
"Nggak ada. Ada sih satu. mungkin banyak, ia terlalu semngat dan menyebarkan kebaikan."
"Bersyukurlah kerena ibumu berhasil mendidik nya. "
"Kok ibu? Kan tante juga.
"Tante mungkin hanya membantu saja, "
__ADS_1
Keduanya berbicara tentang Zahra sampai di rumah uwa Iyan.*