
"Ma, dengarkan Rey! Dengarkan Rey, apa mama akan seperti ini saja? Dikejar kejar hukum tanpa mempertanggungjawabkan semua pada hukum. "
"Ma, kalau mama seperti ini Zahra dan yang lainnya nggak akan bnda bantu mama, kalau misal mama kenapa kenapa?"
"Apa dulu mama berpikir dulu sebelum memenangkan melakukan sesuatu, nggak kan? Kalau buat apa mam seperti ini? "
"Mama sadarkan apa yang mama lakukan? Mama berpikir nggak sih orang orang yang mama bunuh secara keji itu? Bagaimana kalau mama yang jadi mereka? "
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan begitu saja oleh Rey. Ia juga sebenarnya merasa gemas melihat Rani seperti apa nyang diceritakan. Rey sengaja membrondong pertanyaan biarpun ia tahu kalau Rani bakal marah pada dirinya.
"Kamu diam! Kamu ikut campur urusan mama? Seharusnya kamu bantu mama keluar dari masalah yang mama hadapi bukan menurut mama menyerahkan diri! " teriak Rani emosi.
"Tapi ma, dengan cara mama seperti ini bakal menyulitkan pemeriksaan penegak hukum! "
"Rey! Mama nggak mau kamu bicara seoeri itu! Kamu nggak ngerti mama! "
Rani menatap tajam ke arah Rey wanita itu benar benar geram saat Rey membrondong semua pertanyaan yang di lontarkan pada dirinya semuanya.
Pria itu langsung teediam membalas tatapan matanya wanita yang ada di hadoan nya, sebenarnya Rey membrondong pertanyaan itu kerena ia hanya ingin tahu kenapa sampai wanita itu tidak mau menyerahkan ke polisi pria itu nyakin ada alasan yang masuk akal.
Dan ia ingin tahu dari Rani tentang alasan yang akan di bicarakan oleh wanita itu! Memang kemarin Zahra menelpon dirinya menceritakan kalau Rani datang ke rumahnya, tapi papa mengusirnya.
"Kami hanya ingin uwa Rani sadar apa yang ia lakukan tapi uwa banyak alasan, otomatis apa yang dibicarakan tidak menyambung sama sekali apalagi Ana." adu Zahra pada Rey waktu itu!
"Kalian mendengarkan alasan yang mama katakan pada kalian? " tanya Rey ingin tahu.
Zahra hanya menggelengkan kepala saja, apa yang dipertanyakan oleh Rey hanya dibalas oleh gelengan kepala gadis itu. Percakapan yang dilakukan oleh Rey dan Zahra via HP, vidiocall.
"Alasannya sih Vito ya ia datang ke rumah itu kerena ingin bicara kalau misal dirinya di penjara siapa yang menjaga Vito, itu yang dikatakan." kata Zahra jujur.
"Tapi Ana malah tidak bisa menerima alasan dari uwa Rani, ditambah papa yang mendengarkan pembicaraan itu langsung menarik tangan uwa Rani. " lanjut Zahra.
__ADS_1
"Ana bicara begini, itu cuma alasan tante kerena tante nggak mau di penjara. Sebenarnya Vito bisa saja tinggal dengan kami," ulang Zahra.
Zahra dengan detilnya menceritakan kedatangan Rani ke rumahnya. Rey yang mendengarkan via vidiocall hanya diam memandang wajah Zahra.
"Salah Ana sih!"
Akhirnya gadis itu mengakui nya, kalau disisi lain Ana ada kesalahan kerena ikut campur dan tidak mendengarkan lebih jelas lagi,
"Kamu sudah menegur Ana? Masalah mama?"
"Iya, tapi papa malah bela Ana!" dengus Zahra.
Pria itu hanya diam saja. Ia hanya menghela nafas panjang, kini dihadapannya berdiri Rani. Dan ia ingin sekali mendengar alasan yang akan dikemukakan oleh Rani.
Wanita yang ada dihadapannya hanya memandang Rey dengan tajamnya, akhirnya ia menarik Rey untuk duduk kerena tidak jauh dari mereka ada kursi panjang.
"Mama sebenarnya sudah bilang pada Anin kalau mama di penjara siapa yang bakal menjaga Vito, apalagi sekarang Vito lagi ujian pasti ia terpuruk kalau misal mama di penjara." Rani mengeluarkan uneg uneg hatinya.
Rey hanya mengangguk apa yang dikatakan Zahra kemarin benar, Vito yang jadi masalah Rani untuk thdak di penjara.
Suara Zahra terhiang hiang di telinganya.
"Ra, sebenarnya apa yang dibicarakan oleh mama benar kok! Ya kalau kita memandang sudut dirinya, kecuali kalau memandang sudut kita. " kata Rey.
Rey hanya mengangguk anggukan kepalanya saja sepertinya mengiyakan apa yang dikatakan oleh wanita yang baca dihadapannya.
"Ma,mama jangan takut Vito dengan siapa. Vito bisa dengan ibu Ayu atau ibu Ani keduanya juga keluarga Vito, disana juga ada Ana dan Zahra, Rey nyakin kalau Ana dan Zahra bakal menerima Vito. " kata Rey berlahan.
Ia mengatakan itu secara berlahan lahan takut menyinggung hati Rani. Rey berusaha untuk melunakan hati Rani supaya bisa menyerahkan diri dengan sukarela seperti keinginan Zahra.
"Rey, aku hanya ingin kalau saja uwa Rani menyerahkan diri atas kemauan dirinya sendiri,"
__ADS_1
Rey hanya bisa mengangguk saja mendengar apa yang dikatakan oleh Zahra.
"Kamu berdoa saja ya biar mama bisa menyerahkan diri pada polisi, kamu doain saja mama, Ra."
Rey memberikan motivasi buat gadis itu! Supaya gadis yang ada dihadapannya biarpun di vidio bisa berpikir positif.
Gadis itu hanya mengangguk saja saat Rey mengatakan itu pada dirinya.
"Nggak Rey mama nggak mau. Vito anak mama jangan dikasih ke siapa siapa pokoknya! " teriak wanita itu kasar.
Itu yang jadi pikiran Rani sebenarnya, kalau ia masuk. Penjara pasti Vito bakal tinggal di rumah orang tua angkatnya atau tinggal dengan Ayu, apalagi identitas Vito sudah ketahuan oleh mereka otomatis mereka pasti mau kalau Vito tinggal disana.
"Kenapa, ma? Nggak salahkan ini untuk sementara saja nggak selamanya kok Vito tinggal dengan, "
Plak!
Sebuah tambahan langsung mengenai pipinya Rey dengan kerasnya. Sampai Rey yang tidak menduga hanya bisa merintih kesakitan kerena merasa sakit dan perih di pipinya.
"Ma, mama apa apaan sih main pukul saja! " Teriak Rey.
"Kamu enak saja bilang Vito diberikan pada orang lain, mama nggak mau memberikan pada orang lain! "
"Mama bisa bilang seperti itu! Tapi kenapa mama dulu merencanakan menculik Anin, apa mama pikir ibu bakalan mengizinkan Anin diutus sama mama? " tanya Rey menatap tajam kearah Rani.
Rey langsung membalikan apa yang dibicarakan oleh Rani, ya pria itu pernah mendengar kalau sebelum terjadi pristiwa pembunuhan terhadap Handi, Rani telah merencanakan untuk mengambil Anin yang masih kecil untuk diurus oleh dirinya.
"Mama sekarang nggak mau memberikan Vito pada ibu Ani atau ibu Ayu maupun ibu angkatnya tapi kenapa mama malah merencanakan sesuatu pada Anin? Lanjut Rey berdecak heran.
Deg!
Hati Rani tersindir seketika juga oleh apa yang dikatakan Rey pada dirinya. Ada helaan nafas di bibir wanita itu, apa yang dikatakan oleh Rey memang benar sekali.
__ADS_1
"Maksudmu apa berkata seperti itu? Kamu menyindir mama? " tanya Rani ketus.
"Rey nyakin kalau mama mengerti apa yang dikatakan oleh Rey. Jadi tanyakan pada diri mama tentang apa nyang Rey bicarakan pada mama sekarang. " ujar Rey tegas.*