
"Uwa, benar dugaan uwa tentang uwa Rani. " Kata Zahra setelah iwa iyan dan Marni duduk.
"Dugaan apa? "
"Rani sebenarnya yang jadi biang keladi pembunuhan suami saya, saya dan mang Karya yang melihat kejadian itu! " Cerita Marni menatap wajah iwa iyan.
Laki laki itu menarik nafas dan lalu dihembuskan begitu saja.
"Saya juga saksi kematian suami saya. Awalnya saya yang menyuruh mang Karya untuk membuntuti suami saya, kerena suami saya mengatakan kalau ia bakal ketemu dengan Darman dan Rani di perkebunan itu! "
Marni menceritakan kembali kisah kalau ia salah satu saksi kematian suaminya. Uwa lyan dan yang lain nya menahan nafas sambil mendengarkan kembali cerita Marni.
Apalagi Zahra yang begitu detil mendengarkan Mirna menceritakan kembali kisahnya.
"Tapi saya akhirnya mengikuti mang Karya kerena saya penasaran pada apa yang akan dibicarakan oleh keduanya. Saya menyangka kalau suami saya akan bertemu dengan Darman nyatanya nggak."
"Rani juga berada disana bersama Darman dan Rani lah yang pertama menusukan pisau ke perut suami saya lalu Darman menebaskan arit ke leher suami saya. "
Mirna menceritakan detik-detik Rani menusukan pisau dan Darman menebaskan arit ke leher setelah itu Rani berlari setelah Darman menebaskan aritnya.
"Pas itu! Hamdi datang dan melihat Darman berlumuran darah."
BRAK!
Uwa lyan langsung memukulkan tinjunya ke meja yang ada di hadapannya dengan keras sekali. Sampai Zahra yang diam mendengarkan terkejut sekali. Langsung memandang wajah uwa lyan.
"Aku sudah menduga begitu! Sebenarnya aku tahu kenapa Rani selalu mendatangi perbukitan kerena ia menginginkan tanah dekat perbukitan itu! " Cerca Uwa iyan sewot.
"Kang kamu tahu? "
"Sebenarnya sebelum Hamdi meninggal ia sudah mengatakan itu padaku, Mir. Tapi itu hanya dugaan sementara saja, Rani dan Darman bukan mencari saksi kematian suamimu tapi mencari saksi dugaan Hamdi tentang kecurigaan Hamdi pada Rani. " Jelas uwa iyan.
"Jadi ayah tahu kalau Rani ingin tanah yang ada di. Perbukitan itu? " Tanya Zahra heran.
"Iya tanah itu sebenarnya milik sah Darman tapi Darman mempertahankan sampai sekarang itu lah yang membuat Rani frustasi ingin memilikinya."
"Ditambah lagi ia merasa disepelekan oleh orang tuanya Darman yang nggak merestui hubungannya."
"Awalnya aku ingin diam masalah ini. Tapi kalau aku diam mungkin semuanya bakal penasaran kenapa orang tua angkat Darman nggak pernah merestui nya. "
"Uwa kenapa Rani ingin menguasai tanah itu, seharusnya ia sadar kalau tanah itu milik nya uwa Darman? Kenapa ia begitu serakah? " Tanya Zahra.
"Awalnya Rani dan Darman saling berhubungan dan berniat menikah dan tanah yang dekat perbukitan itu memang dari awal mau diberikan pada Darman tapi kerena Darman gagal menikah dengan Rani. Maka Rani berontak!"
__ADS_1
"Apa.benar kata ini Marni dan ua Darman saudara? Kejar Ana menatap wajah uwa iyan.
Laki laki itu bukan langsung menjawab pertanyaannya yang dilontarkan oleh Ana, di tatap wajahnya Ana dengan lembut sekali. Ia menghela nafas panjang lalu mengangguk.
" Uwa kenapa nggak cerita klau Rani dan Darman saudara? " Tanya Ana.
"Uwa sebenarnya baru tahu dari Nining. kemarin uwa ketemu dengan Nining. " Kata uwa iyan melirik Marni orang yang diliriknya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan uwa Iyan.
"Uwa ingin bicara masalah ini tapi kalian masih berada bersama Rani jadi uwa nggak cerita apa apa pada kalian, " Lanjut uwa iyan menatap Ana dan Zahra.
"Uwa benar kah Rani punya anak dari ayah? " Tanya Ana tiba tiba menanyakan pertanyaan itu.
Bukannya menjawab uwa Iyan. Laki laki itu melotot menatap wajah Ana dengan tajamnya. Ia seperti mendengar halilintar di panasnya siang hari.
"Saya yang mengatakan itu, kerena saya pernah mendengar percakapan Darman dan Rani yang sedang merencanakan membunuh mang karya. " Kata Marni menjelaskan.
"Lalu anak itu sekarang dimana? " Tanya uwa iyan menatap wajah Mirna dengan tajam.
"Aku nggak tahu keberadaan anak Rani sampai sekarang juga. "
"Jadi dia bohong kalau ia punya anak tiga," Celetuk uwa iyan.
"Rani memang nggak bohong kalau ia punya anak tiga, aku pernah mendengar kalau Rani telah menikah dan punya anak. Entah punya anak berapa juga, tapi ia bercerai. " Mirna menjelaskan.
"Sudah kerena waktu Hamdi meninggal ia nggak bisa menerima kematian Hamdi dan ia kabur meninggalkan desa ini? " Kata Mirna.
"Jadi Rani yang sengaja membunuh Hamdi? " Kejar uwa Iyan.
"Nggak kayanya kerena waktu Hamdi mwninggal Rani terpukul sekali. "
"Intinya Darman yang membunuh Hamdi hanya ingin melindungi Rani dan jabang bayi yang di kandungan Rani. "
Uwa Iyan terpekur mendengar berita nyang ia tidak duga sama sekali.
"Kamu tahu keberadaan anak anak Rani? " Tanya uwa iyan.
"Aku.nggak pernah mendengar lagi sejak Rani menikah dan cerai."
"Tujuan kamu kesini buat apa? " Selidik uwa Iyan.
"Aku mendangar kalau Darman dipenjara tapi ada seseorang yang membantu ia keluar dari penjara. Aku juga mendengar kalau Anin masih hidup. " Kata Marni menjelaskan kenapa ia muncul.
🦋
__ADS_1
Pertemuan antara Zahra dan Marni yang membuat gadis itu memutar otak supaya berita itu tidak sampai pada ibunya. Ya bagaimana pun pasti ibunya bakalan terpukul akibat kelakuan dari Rani.
Zahra tidak habis pikir kenapa harus Rani yang melakukannya? Apa. Yang dikatakan oleh uwa Iyan. Memang masuk akal orang tua Darman tidak mengizinkan Rani menikah juga bukan sebab lain. Menurut Mirna mereka saudara, tapi Zahra bakalan cari tahu kebenarannya.
Setelah Mirna pamit untuk pulang kerena ia tidak ingin Rani bertemu dengan nya, maka Mirna pulang dan menunggu Zahra kalau butuh bantuan apa.
"Aku minta maaf apa yang tadi aku lakukan pada kamu! " Kata Mirna akrab pada Ani.
"Aku kira kamu Rani jadi aku tanpa menunggu lagi langsung memukul kamu, " Kata Marni memeluk tubuh Ani dengan. Akrabnya.
"Iya sama sama. Aku juga minta maaf atas yang kakak aku lakukan pada kamu. " Kata Ani tulus.
Marni mengangguk dan pamit. Sedangkan uwa iyan pulang bersama Ani menuju rumah dengan perjanjiannya Rani. Tidak boleh tahu kalau Mirna telah menceritakan semuanya pada Zahra, kerena bagaimana pun uwa Iyan ingin melindungi Zahra dari Rani, apalagi dengan Ani yang tahu kondisi Zahra sekarang.
"Kak, ibu harus tahu semuanya kelakuan temannya itu, dasar pelakor! " Caci Ana.
Ana menghampiri Zahra yang sedang membereskan perpustakaan. Zahra langsung menghentikan aktifitas membereskan buku ketika ia mendengar Ana mengajak ngobrol.
"Na, kamu harus tenang! Ingat apa yang dikatakan oleh uwa lyan. Kita harus tenang menghadapi masalah yang ada. " Zahra berusaha untuk menenangkan hati Ana yang terlihat rusuh.
"Tapi kak, kenapa ia harus melakukan itu pada ayah dan ibu? Kenapa? Pokoknya nggak ada alasan lagi! " Sembur Ana marah.
Kalau saja ia tidak dihalangi oleh Zahra mungkin ia bakal melakukan sesuatu pada Rani sekarang juga.
"Na dengarkan kakak. Please jangan gegabah kita lakukan ini buat kemenangan kita oke!"
Ana diam saja. Zahra langsung membawa Ana ke kursi.
"Na, kita lakukan ini bersama sama ya jangan sampai uwa Rani tahu, kemarin ayah gagal untuk mengungkap kan kebenaran, masa kita harus gagal lagi? " Tanya Zahra.
"Kakak tahu kalau Ana pasti dendam ingin membalaskan semuanya tapi berlahan ya jangan bergesa gesa. " Lanjut Zahra pada Zahra.
Ia lakukan ini kerena mendengar kalau Rani dari cerita Mirna begitu peka hal hal yang melukai dirinya. Jadi Zahra berusaha untuk tidak menampakan diri kalau ia telah tahu semuanya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Itu yang ia lakukan waktu ingin menangkap Darman hanya ibu Ani menurutnya tergesa-gesa sekali, akhirnya seperti ini ceritanya. Tapi ia tidak menyesali semuanya kerena ia juga menemukan dalang pembunuhan Rohman.
"Kamu tenang saja Na, ada ibu Mirna yang bakalan membela kita kerena ia menjadi saksi pembunuhan suaminya. "
"Kak, apa tante Rani nggak bakal kabur, bagaimanapun kan kata ibu Marni mereka task. ketemu? "
"Ya kalau tante Rani bertanya pada kita jawab saja kita nggak tahu siapa ibu Marni? "
"Pokoknya jangan sampai ketahuan deh rencana kita. " ujar Zahra.
__ADS_1
Ana hanya mengangguk. Melihat anggukan Ana., Zahra menepuk bahu Ana dengan. lembut, hatinya berdoa supaya Ana bisa diajak kerja sama.*