
Rani tidak menduga kalau Darman bakal meninggalakan dan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Ia langsung mengejar Darman dengan cepat ia langsung memeluk tubuh Darman.
Sebenarnya Darman masih mencintai Rani tapi orang tua angkatnya lah yang tidak pernah merestui pernikahan darman dan Rani. Ini lah penyebab kenapa Darman melakukan sesuatu yang melanggar.
"Bu, apa salahnya Darman mencintai Rani?"
"Nggak kamus harus menyetujui apa yang bapak katakan!"
"Kalau Darman nggak mau bagaimana?"
"Lebih baik kamu pergi dari sini, bapak nggak Sudi melihat kamu lagi!"
"Bapak jahat! Apa salahnya Rani!" terima Darman menatap wajah Bapak angkatnya.
Dalam pelukan Rani, Darman menghempaskan tubuh Rani dengan kasar. Ia tidak mungkin bisa memiliki Rani kalau ia sendiri terusir dari rumah itu..
"Kang! Kenapa seperti ini?" lirih Rani perih.
"Maafkan akang Ran, akang nggak bisa mempertahankan kamu. Akang nyakin kalau kamu suatu waktu nanti akan mendapatkan yang terbaik dari akang " Darman pergi meninggalkan Rani.
Sebenarnya hati Darman hanya untuk Rani, tapi demi keluarganya Darman memilih keluarganya.
Ketika Rani memeluk tubuh Darman, ia memasukan alamat villa yang bakal menjadi rumah mereka nantinya. Tapi Darman malah melupakan alamat yang diberikan oleh Rani, dsn sampai sekarang pria itu tidak pernah merasakan kalau ada alamat yang diterima olehnya.
"Aku nggak akan pernah melupakan itu." kata Rani sambil memandang gambar Darman di kamarnya.
"Kamu sekarang dimana?"
"Apa kamu mencari aku?"
Rani hanya menghela nafas panjang. Setelah tahu Darman menikah, ia pun akhirnya bertemu dengan pria yang menjadi suaminya.
"Nggak aku nggak akan menikah dengan kamu!" ujar Rani awalnya menolak saat laki laki itu mengajak menikah.
"Kenapa?"
"Apa kamu masih mencintai Darman? Darman telah bahagia dengan kehidupannya, lebih baik kamu lupakan saja Darman dan menikah denganku."
Lama kelamaan ia akhirnya tidak punya pilihan lagi, akhirnya menerima lamaran pria itu! pria yang tidak pernah membuat dirinya nyaman dan tidak membuat dirinya bahagia.
"Kita cerai!" teriak Arto
Pria yang dulu pernah mengajak Rani menikah.
"Apa? Kalau aku nggak mau ceria!"
"Aku tetap menalak kamu, Ran!"
"Kang! Terus anak anak sama siapa?" tanah Rani.
"Urus sendiri atau biang juga nggak apa apa?" terima Arto tega sekali.
__ADS_1
Sejak itu Rani memilih membesarkan anak anak nya. Anaknya ada tiga satu laki laki dua perempuan.
"Kenapa aku yang diberi takdir seperti ini?" tanya Rani dalam hati.
Ia hanya bisa menarik nafas Kaskus mengingat semuanya. Awalnya ia mengurus tiga anak itu untuk dibesarkan lalu menjadikan ia sahabat kenyataannya tidak.
"Ma, coba sih jangan ikut campur!" teriak Wenny anak keduanya menatap Rani dengan sinis nya.
Wenny anak Rani dan Arto berteriak keras saat melihat ibunya sedang membawa cucunya ke luar.
Wenny marah kerena ia tidak ingin kalau anaknya main di luar, sedangkan Rani membawa cucunya ke luar.
"Wen, kasihan kalau di dalam terus, seharusnya kamu ajak main anak kam UU. keluar, ke taman."
"Sudah jangan bicara lebih baik mama pulang saja ke rumah mama," hardik Wenny.
Rani hanya bisa menangis mendengar ocehan anaknya, akhirnya ia ke rumah amak laki laki yang sudah menikah juga tapi anak pertamanya juga memperlakukan dirinya tidak baik.
"Ma, kalau mau masak jangan sayur terus ganti ganti dong menunya!" teriak Ardi pada mamanya.
Ya kerena ia melihat mamanya kaku masak harus ada sayur bening, ikan asin dan sambel sedangkan ia tidak suka makanan seperti itu. Akhirnya ia pulang ke rumahnya sendiri, kerena pulang ke anak bungsunya yang sebaya dengan Zahra, perilaku nya sama saja dengan kedua kakaknya.
🦋
Cuaca hari itu hujan dengan derasnya. Tapi Rey sengaja mendatangi rumah Zahra yang berada di jalan XxXx, Zahra pagi itu sedang menyuapi pak Bram sarapan bubur buatan Zahra.
Ya kemari sore pak Bram sudah oulangbdari rumah sakit, keadaannya berangsur angsur baik dan sehat. Zahra terkejut saat Rey datang ke kamar papanya, untung ia sudah beres menyuapi pak Bram.
"Rey kita jangan gegabah mengambil keputusan!" teriak Zahra.
Gadis itu keget saat Rey mengutarakan supaya kasus Narti harus dibuka kembali, ia mengatakan kalau pembunuhan itu membuka tabir pembunuhan yang pernah terjadi.
"Bukan gegabah Ra, aku hanya penasaran saja dan pembunuhan sebelumnya."
"Maksudnya?"
"Kamu nggak ngerti apa yang aku bicarakan?"
"Maksudku, bagaimana kalau polisi menyelidiki pembunuhan Narti, aku nyakin pembunuhan ini ada sangkut pautnya dengan pembunuhan pak Hamdi, pak Rohaman, dan pak Karya."
"Nggak mungkin lah, ayah, pak Rohaman dan pak Karya di bunuh oleh Rani!" seru Zahra kaget!
"Tapi semua korban pembunuhan hampir sama dengan korban pak Rohman, itu yang anehnya."
"Rey, kamu kata siapa?"
Rey menceritakan, Zahra yang mendengarkan alasan Rey hanya mengelengkan kepala, melihat gelangan kepala Zahra, Rey langsung terdiam.
"Jangan seperti ini Rey, ini suer lebih rumit dibandingkan kejadian dari awal." Zahra langsung angkat bicara.
"Tapi semua kasus pembunuhan belum selesai semua nya langsung menutup tanpa ada kepastian."
__ADS_1
"Aku nggak pernah menutup kematian ayah kok Rey, hanya butuh waktu yang tepat, aku juga masih belum bisa memastikan siapa yang dalang dari semuanya."
"Rani, aku menduga kalau Rani dalang dari semuanya."
"Alasannya?"
"Alasannya sepele, kerena cinta tidak pernah bersatu maka Rani melakukan semua nya atas perintah Darman."
"Dan yang aku tanyakan Darman dan Rani bertemu dimana setelah mereka sama sama memiliki kehidupan yang lain."
"Aku nggak pernah mendengar nama Rani waktu aku masih disana?" lanjut Zahra menatap Rey.
Seingat nya memang Zahra sama sekali tidak pernah mendengar ada nama Rani yang pernah diam di desa itu!
"Mungkin kamu terlalu kecil waktu itu Ra, jadi nggak semua diingat." kata Rey.
"Entah lah Rey."
"Seharusnya bukan ke aku sih kamu tanya ini, Dengus Zahra.
"Masa Rey Darman mau mau nya membantu Rani?" Zahra penasaran.
"Semuanya kerena cinta."
"Cinta yang membutakan. Apalagi mendengar cerita mereka yang nggak pernah bersatu, jadi Darman melakukan itu sebagai tanda cinta nya pada Rani.
"Kalian masih membicarakan Rani atau Narti?" tanah Ibu Ani menghampiri mereka..
Wanita itu menyodorkan dua gelas air teh manis dan goreng pisang krispy.
"Mama dengar polisi menutup kasus pembunuhan Narti?"
"Iya ma, sebenarnya kalau diusut secara tuntas. Pasti semuanya terbongkar, seperti nya semua tahu siapa pembunuhnya tapi sengaja di tutup." Rey bicara lirih.
"Ra, lebih baik.kamu buka kasus pembunuhan ayahmu?" tanya Rey meminta pada Zahra..
"Uwa Darman juga kabur sendiri, keberadaan nya juga sampai sekarang nggak tahu. Ditambah lagi polisi seperti diam seribu bahasa," keluh Zahra.
"Rara hanya ingin kalau uwa Darman ditemukan kembali, dan Rara bakal melakukan sesuatu supaya ia di penjara dan nggak keluar lagi." Zahra geram mengingat Darman kabur.
Keduanya diam seketika. Rey hanya mengusap tangan Zahra dengan lembut sekali.
"Semuanya pasti terungkap, Ra."
"Rey aku hanya penasaran sama Rani kenapa ia malah mengeluarkan Darman di penjara?" tanya Zahra heran.
"Mungkin kerena Rani masih mencintai Darman," tebak Rey.
"Nggak mungkin lah, uwa Darman juga nggak pernah mencari Rani." kata Zahra.
"Siapa tahu? Tanpa sepengetahuan kita mungkin uwa Darman mencari Rani," kata Rey memastikan.
__ADS_1
Rani hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia sama sekali tidak tahu apa apa masalah hubungan antara Darman dan Rani.