
"Ma, lebih baik mama, papa, ibu dan Ana pulang saja ke kota. Rara mungkin akan lama di desa ini, " kata Zahra mengingatkan mama dan papanya untuk pulang ke kota.
Ana, dan ibu Ayu hanya diam saja. Ya keduanya mengerti apa tujuan Zahra dan uwa iyan membiarkan Rani dan Zahra di desa itu.
"Mama nggak. mau pulang! Pokoknya sebelum. kamu pulang mama nggak mauniukang, mama mau disini sam kamu! " protes Ibu Ani menolak untuk kembali ke kota.
"Ma, apa yang dikatakan Rara bwnar ma, buat apa kita disini lama lama lebih baik kita pulang, apalagi kantor ada pertemuan dengan pak Hadi, " kata Pak Bram memberitahukan pada istrinya masalh ketemuan dengan pak Hadi.
"Kalau begitu papa pulang saja, mama mau disini dengan Rara. " ceutus ibu Ani.
"Terserah mama, papa hanya ingin jangan bikin rusuh! " kata pak Bram.
"Siapa yang bikin rusuh! "
Zahra tu dia bisa berbuat apa apa lagi.wkihat mamanya bwgitu kekeh untuk di desa itu! Sebenarnya hati nya ingin kakau mama pulang bersama dengan papanya. Taoi ibu Ani hanya mwngelangkan kepala saja, Zahra habya pasrah.
"Kak, boleh dong Ana sam jbu disini juga? Ana masih kangen di desa ini! " kata Ana memberankkan diri untuk buka suara.
Zahra mwnghela nafas panjang mendengar apa yang Ana katakan. Akhirnya Zahra mwngangguk setuju, masalahnya kalau Ana dan ibu disini kemungkinan bisa membantu dirinya untuk mempercepat semuanya.
Hari itu juga pak Bram berangkat ke kota untuk menyelesaikan kee kerjaannya, sedangkan ibu Ani masih tinggal di desa itu.
"Tapi, nak Zahra tidur di rumah ibu ya? " tanya ibu Ayu menatap wajha Zahra dengan tajam.
Zahra tidak langsung mengangguk ia mwnatao dia wanita yang ada dihadapannya. Ibu Ayu dan ibu Ani.
"Iya Zahra ikut tidur di rumah ibu, " kata Zahra mengangguk. Wajah ibu Ayu ceria dan bibirnya ada senyuman manis menghiasi.
🦋
PLAK
Sebuah tangan dengan gesitnya langsung mengecap pipinya Ani dengan kerasnya, wanita itu tidak bisa mengelak. Ia hanya bisa meringis kesakitan
"Aku nggak suka ya kalau kamu ikut campur urusan orang! "
Teriak Rani menatap Ani dengan tajam. Pagi ini emosinya seperti diaduk aduk oleh Ani.
"Aku nggak ikut campur tapi hanya, "
"Hanya apa? Pokoknya aku nggak suka ya kamu ikut campur masalah yang aku hadapi sekarang! Kamu sebenarnya kesini buat apa? " cerca Rani tajam.
Ia benar benar marah dan emosi saat Ani datang ke depan rumah hanya bicara masalah Narti. Ia tahu kalau Ani pasti tahu kematian Narti, dan dengan gampangnya menyuruh dirinya untuk menyerahkan diri pada polisi.
"Kak, mas Bram yang lihat sendiri kalau kakak pelakunya. Kakak yang harus bertangungjawab atas kematian Narti! " teriak Ani keras.
"Aku hanya ingin kakak mengakuin semuanya supaya polisi bisa meringankan beban masa tahanan! " lanjut Ani.
"Kak, sadar apa yang kakak lakukan itu salah! "
__ADS_1
Ani dengan lantangnya menyuruh Rani menyerahkan diri supaya dirinya dioertimbangkan masa tahanan, mendengar itu Rabi bukannya menyadari semuanya malah menjadi jadi marahnya. Ia sama sekali tidak bisa. menerima apa yang disarankan oleh Ani.
BRAK!
Rani memukul amben!
"Kalian lebih baik pulang saja dari pada kamu seperti ini! "
"Pulang! seharusnya kamu yang sadar sendiri kak, kakak salah tapi mengaku benar saja! "
Ani bukannya mengalah tapi malah menjadi jadi menasehatin Rani. Wanita itu benar benar tidak tahan lagi atas apa yang dibicarakan oleh Ani yang ada dihadapan.
"Pergi! "
"Aku nggak akan pergi! Aku bakal mendampingi Zahra untuk menyeret kakak ke penjara! "
"Bajingan juga kamu ya, sudah jangan berbicara lagi eh malah seperti ini! "
Cerca Rani. Wanita itu langsung mendekati Ani yang ada di hadapannya, dengan sekali tarik tubuh Ani terangkat,
PLAK!
Dengan bengis nya Rani langsung memukul wajah Ani bertubi tubi, biarpun Ani berteriak tapi Rani tidak memperdulikan nya dan Rani dengan geramnya mendorong tubuh Ani ke depan. Sampai tubuh Ani terjelembab jatuh ke lantai!
"Awhh!
Ani dengan histeris nya menjerit kesakitan saat tubuhnya terbentur kursi yang ada di dekat amben. Wajah Rani merah padam menahan marah dan didihan darah yang siap tumpah.
"Ya Allah uwa, mama kalian. ini apa apaan? " tanya Zahra sambil bertanya. Kerena melihat kedua berkorban mempertahankan perinsip masing masing.
Zahra langsung menarik tangan ibu Ani tapi wanita itu langsung menepiskan tangan Zahra.
"Kalian ini kenapa sih! Kaya anak kecil saja! " Terima Zahra langsung mendorong keduanya dengan kasar.
Ia tidak peduli bersikap kasar juga kerena melihat keduanya malah bertengkar.
"Ma, Uwa apa yang terjadi! "
"Mama kamu tuh! " Teriak wanita itu kasar.
"Kamu ya! "
Ya sudah kalau mau bertengkar silahkan Rara yang lihat kalian siapa yang jadi pemenang! " akhirnya Zahra memerintahkan keduanya melanjutkan perselisihannya.
Keduanya akhirnya berhasil berhenti mendengar kata kata Zahra, keduanya menghentikan adegan bertengkar nya. Menatap Zahra.
"Kalian kenpa sih! Pagi pagi sudah ribut kaya Tom and Jerry? " tanya Zahra heran.
"Ma, kenapa sih ma? " tanya Zahra kerena melihat ibu Ani diam saja langsung Zahra mengalihkan pertanyaan pada mamanya..
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Zahra, wanita itu hanya mendengus, sedangkan Ibu Ani melirik wanita itu.
"Mama hanya ingin uwa kamu menyerahkan ke polisi, kerena apa yang dilakukan oleh nya melanggar aturan."
PLAK!
Sebelum ibu Ani menyelesaikan perkataannya tiba tiba dengan tanpa di duga sama sekali, tangan wanita itu melayang dan mengenai pipi ibu Ani dengan kerasnya.
"Sakit tahu! Jangan memukul! " teriak ibu Ani dengan kasarnya membalas apa yang dilakukan oleh wanita itu kada dirinya.
Melihat itu Zahra langsung menjadi penengah.
"Uwa!
"Jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan! " Zahra berteriak saat melihat wanita itu memukuk mamanya.
"Ma lanjutkan! "
Zahra masih menatap wajah wanita itu sambil mulutnya menyuruh mamanya melanjutkan perkataannya.
"Bukannya menyadari apa yang dilakukannya malah diingatkan marah dan memukul! " bela ibu Ani.
Zahra tidak langsung berbicara pada ibu Ani, ia menarik tangan mamanya agak menjauh dari wanita itu!
Wanita itu hanya menatap kepergian ibu dan anak dengan tatapan penuh dengn kecurigaan di dalam hatinya, ia ingin sekali menguping pembicaraan mereka tapi Ana datang menghampiri wanita itu.
Mau tidak mau wanita itu mengikuti Ana kerena wanita itu di panggil oleh ibunya Ana yang sedang berada di belakang lapangan. Tapi hati dan pikirannya masih bersama Zahra dan ibu Ani.
"Ada apa sih!"
"Makanlah, singkong rebus!" perintah ibu Ayu menatap wajah wanita itu.
"Aku kira apa? " dengus wanita itu.
Wanita itu langsung duduk di samping ibu Ayu dengan wajah di tekuk, sedangkan ibu Ayu menatap wajah Ana dengan herannya melihat wajah wanita itu ditekuk.
"Na, ada apa? " tanya ibu Ayu menatap putrinya heran.
"Ana nggak tahu, tadi waktu Ana menyusul tante Rani, Ana lihat kak Zahra dan tante Ani meninggal kan tante Rani, " Ana jujur.
Kan sama sekali tidak tahu apa yang terjadi antara wanita itu dengan Zahra maupun ibu Ani. Ibu Ayu hanya mengangkat kedua bahunya tudak mengerti.
Sedangkan Zahra yang membawa ibu Ani ke tempat yang sepi langsung membuka percapakan nya.
"Ma! "
"Biarkan semuanya, jangan bikin onar. Ma, Rara kesini juga buat itu. Rara hanya ingin kalau uwa Rani menyadari semuanya, dan nggak ada pertikaian satu sama lain." ujar Zahra memberikan pengertian.
"Ma, mama lebih baik diam saja jangan bicara apa apa pada uwa Rani, kalau sama mama mengulang lagi bisa bisa uwa Rani bakal kabur dan jadi buron! " tekan Zahra..
__ADS_1
Ibu Ani hanya diam saja mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Zahra ia baru menyadari apa yang dikatakan oleh Zahra. Ya sebenarnya Zahra dan uwa Iyan sedang mwnyusun rencana buat meringkus uwa Rani kalau misal wanita itu benar benar bersalah. *