TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 165


__ADS_3

Rani dengan geramnya langsung membalas apa yang dilakukan oleh Zahra padanya tapi Ani dengan cepat memegang tangan Rani, yang akan memukul wajah Zahra. 


"Jangan coba coba memukulnya! " 


"Kalian sama sama. mengesalkan semuanya,"


"Kak, jangan sampai pukul Zahra! Bagaimana pun juga ia, " Ujar Ani menatap kakaknya. 


" Ponakan? Ponakan darimana? Neneknya saja yang saja yang nggak pernah menganggap aku ada di dunia ini! " Sambur Rani sewot mendengar apa yang diucapkan oleh Ani. 


"Kak! Tolong jangan jelekan neneknya Zahra!"


"Kenapa? Kenapa malah kamu yang marah saat aku bicara neneknya Zahra! Itu kenyataan yang ada. 


"Kak, biarpun Zahra bukan ponakan asli kakak, tapi ia tetap anakku! Kamu nggak mau menganggap Zahra  ponakan? " 


"Oh! Ngomong dari tadi?" Sembur Rani. 


Wanita itu seperti baru menyadari kalau Ani mengatakan kalau Zahra memang ponakan dari pihak Ani, bukan dari siapa siapa. 


Melihat itu Zahra geram dan kesal mendengar apa yang Rani katakan di hadapannya karena menurutnya itu bukan salah neneknya karena persaudaraan lebih penting daripada sebuah pernikahan yang harus dengan saudara. 


"Uwa, aku nggak suka ya kalau uwa selalu menjelekan nenek aku! " Sembur Zahra suka. 


"Aku juga nggak suka sama nenek kamu! " 


"Uwa! Dengar ya nenek sebenarnya melakukan itu kerena ia sayang sama uwa dan uwa darman supaya nggak ada pernikahan sedarah." 


Nenek lakukan itu kerena nenek sayang sama uwa, tapi uwa malah seperti ini? Uwa bilang nggak adil? Yang tidak adil yaitu uwa yang membuat ibu harus kehilangan orang yang disayangi! " Tekan Zahra. 


Ia benar benar marah dan hampir saja membuat Rani babak belur kalau tidak dihalangi oleh Ani. Wanita itu berusaha untuk menarik tubuh Zahra untuk menjauhi Rani. 


"Kak, lebih baik kakak pergi sini! Apa yang dikatakan Zahra benar juga kak, neneknya Zahra hanya ingin kalian nggak mengalami pernikahan sedarah! " Usir Ani pada Rani. 


Mendengar keributan antara Rani dan Ani Darman yang masih diluar langsung masuk kembali ke dalam rumah dan menarik tangan Rani. Darman melihat Zahra yang ditarik oleh Ani masuk kedalam rumah, sedangkan ia langsung menarik Rani keluar. 


"Kalian kenapa harus ribut selalu kalau kalian ribut lebih baik keluar! " Seru Darman memandang wajah Rani dan Zahra


Hati pria itu bergetar saat menatap wajah Zahra, ia seperti mengenal seseorang yang telah tiada. Tapi hatinya menepiskan. 

__ADS_1


"Hamdi! " Bisik hatinya. 


Darman langsung menarik tangan Rani. Wanita itu menepiskan tangan Darman dengan kasarnya, tapi pria itu menatap wajah Rani, ia tahu kalau di hati wanita itu masih ada tempat untuknya. 


Zahra dan Ani langsung masuk ke dalam kamar, sedangkan Darman dan Rani langsung menuju luar rumah. 


"Kang! " Teriak Rani langsung memeluk tubuh Darman. 


Vito yang berada di teras rumah hanya melonggo melihat adegan antara mamanya dengan pria itu! Tapi diam diam Ani yang di dalam kamar langsung keluar melihat adegan Rani dan Darman. 


Darman yang mendapatkan pelukan dari Rani terkejut sekali taoi ia berusaha  untuk melupakan semuanya kenangan indah antara diri nya dengan Rani, ya biarpun pahit sekali. 


"De, sudahlah! Apa yang kita lakukan itu hanya masa lalu saja ya. Kamu adikku! " Ucap Darman melepaskan pelukan Rani. 


Hati Darman sebenarnya sakit sekali, kerena tidak bisa menikahi Rani dan menjadikan Rani ratu dalam hidupnya. 


"Hapus airmatamu dek, jangan menangis ya ada akang disini. Sekarang kita saudara dek!" Suara Darman terdengar sendu dan sedih. 


Tapi dalam lubuk nya ia bersyukur tidak menikah dengan Rani, ya awalnya ia frustasi dan marah saat tahu kalau ia saudara! Akhirnya ia mencari tahu kebenaran tentang berita itu! 


"Kalian bernostalgia melupakan aku yang masih disini? " Tanya Vito cemberut. 


Rani langsung menyadari kalau di teras rumah itu bukan hanya dirinya dan Darman tapi ada Vito juga. 


"Ma, terus kenapa harus mama sama pria ini yang melakukannya? " Tanya Vito menatap keduanya. 


"Maafkan mama sayang. " 


"Ma, mama hanya bilang maafkan maafkan saja, kemoa harus Vito yang merasakan semuanya kenapa? " Teriak Vito keras. 


"Vito!" Panggil Darman emosi melihat Vito berteriak keras. 


Zahra terkejut mendengar teriakan Vito yang masih ada di rumah itu! Ia sama sekali tidak menyangka kalau Vito masih ada di sana, akhirnya Zahra langsung ke luar. 


"Mama! " Panggil Zahra terkejut saat melihat mamanya yang melihat ke arah ketiga orang yang ada di teras. 


Zahra menghampiri mamanya. Ibu Ani terkejut saat melihat Zahra berada disampingnya. 


"Mereka kenapa? " Tanya Zahra pada mamanya dengan perasaan heran. 

__ADS_1


Ibu Ani hanya mengangkat kedua bahunya saja kerena memang ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada ketiga otang itu! Bertengkar di depan rumah orang tanpa di ketahui oleh dirinya. 


"Jangan ikut campur! Kamu siapa yang berani melarang aku? " Tanya Vito kasar pada Darman. 


"Vito janga bicara kamu! Dia uwa kamu? " Ujar Rani tegas. 


"Uwa? Uwa yang telah menjerumuskan saudaranya! " Sembur Vito tidak kalah sengitnya. 


"Maksudmu apa? " Tantang Darman belum mengerti. 


"Menjerumuskan mama atas keegoisan sendiri, kamu kan yang telah membuat papa aku meninggal taoi menyalahkan orang lain demi egoismu!" Cerca Vito garang. 


Plak!


Darman tersulut amarah oleh kata kata Vito, dengan spontan ia langsung melayangkan tangannya dan mendarat tepat di pipi Vito. Pemuda itu terpekik kesakitan saat tangan Darman menyentuh pipinya. 


Rani terkejut melihat kelakuan Darman yang tiba tiba memukul anaknya di hadapan dirinya. 


"Kang! Apa yang kamu lakukan pada Vito! " Teriak Rani yang tidak terima melihat anak di pukul oleh Darman. 


"Rani! Dia begitu lancang padaku! Aku nggak terima sekali kalau dia mengatakan itu padaku! " Sembur Darman pada Rani.. 


Ia membela diri pada Vito, kerena apa yang dikatakan Vito tidak sepenuhnya benar, kalau mau jujur bukan Rani yang terjerumus olehnya. Tapi ia yang harus ikut terjerumus oleh Rani. 


"Kang sudahlah! " 


"Kamu bilang sudah, semuanya gara gara kamu! " Tuding Darman marah. 


Brak! 


Pria itu langsung memukul meja yang ada dihadapannya. Untung meja itu tidak pecah kalau pecah bisa brabe deh. 


"He! Anak ingusan kalau aku nggak mengikuti perintah mama kamu nggak mungkin aku seperti ini! " 


"Sudah! Kalian bisa diam nggak sih! Aku yang salah semuanya aku yang salah, kalau saja aku jujur pada hukum nggak mungkin semuanya seperti ini, " Gumam Rani. 


Wanita itu langsung menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di sama. Ya kemarin kemarin ia tidak mau di penjara juga kerena adanya Vito dalam hidupnya, kalau saja dulu ia tidak hamil mungkin ia bakal mempertangungjawabkan semuanya pada polisi, hidup nya sudah hancur saat Hamdi meninggal karena kecerobohan  Darman. 


Ani dan Zahra yang melihat ketiganya di ruangan keluarga hanya bisa menghela nafas panjang, percakapan mereka terdengar dengan jelas. Zahra bukanya  tidak ingin ke sana mendengarkan apa yang mereka katakan, tapi ia ragu kerena ia pasti tidak pernah digubris nya. 

__ADS_1


"Jadi semuanya Rani yang merencanakannya! " Hela ibu Ani getir. 


Zahra mengangguk seketika juga mendengar sebuah pengakuan dari Darman. *


__ADS_2