
Ana hampir shock mendengar pengakuan dari Rani kalau ayahnya pernah mencintainya tapi wanita itu hanya mencintai Darman. Ia hanya mengangguk saja, kenapa sampai wanita itu mengeluarkan Darman dari penjara.
"Tapi aku yakin kaku wanita itu belum menemukan ia Darman?" bisik hati Ana.
"Akhirnya aku jodohkan Hamdi dengan Ayu, kerena aku kenal dengan Ayu. Akhirnya mereka menikah dsn punya anak. Aku tahunya anak Hamdi yaitu Anindya saja nggak tahunya?" Wanita itu terus menceritakan kalau ia mengenal tiga orang yang disebutkan.
Ani hanya diam mendengarkan saja, begitu juga dengan Ana yang berada di teras, sedangkan keduanya di ruang keluarga.
Narti sudah tidak ada disana, entah kemana perginya itu art yang di percaya oleh Rani untuk menemaninya.
"Tapi, kamu pernah ketemu Zahra sebelumnya?" Tanya Ani.
"Aku sama sekali nggak pernah bertemu dengan Anin, aku kenal Anin setelah dewasa."
"Kenapa kamu sampai mau mengurus Anin?"
"Aku harus kehilangan Zahra, aku menemukan di tengah jalan pingsan. Mas Bram mengatakan ladanya kalau nama nya Zahra?"
"Kenal anak sekecil itu harus diganti menjadi Zahra?"
"Kerena ia takut kalau Darman menemukannya. Ia adalah saksi kematian Hamdi."
"Nggak mungkin daraman melakukan itu lada Hamdi!" Teriak Rani.
"Tapi kenyataannya seperti itu kak,"
"Aku nggak percaya kalau dia melakukan hal itu?'' sembur Rani ketus.
"Lalu siapa yang bunuh Hamdi Kaskus bukan dirinya?" Tany Ani heran.
"Jangan jangan ini hanya jebakan kaakin supaya Darman masuk penjara?"
"Jebakan? Maksud kakak?" Tanya Ani heran atas kata kata kakaknya.
"Kalian sengkongkol belain Hamdi! Apa jangan jangan kamu belaan Ayu kerena Zahra berada ditangan kamu!" Tuding Rani tajam.
"Mungkin salah satunya itu! Yang pasti aku nggak ingin Darman membahayakan Zahra! Bagaimana pun Darman mencari saksi kematian Hamdi!" Terang Ani.
"Kamu hanya ingin memiliki Zahra seorang diri tanpa memikirkan ayu!" Sembur Rani.
BRAK!
Rani dengan tiba tiba bangkit dan langsung memukul.mwja yang ada di hadapannya.
"Apa gara gara daraman di penjara kamu seperti ini? Kak, seharusnya kakak sadar apa yang di lakukan Darman itu sangat membahayakan semuanya, aku nggak ingin Zahra kenapa kenapa?" Ketus Ani menatap Rani dengan tajamnya..
"Kak perlu kakak tahu Darman hampir saja membunuh Zahara kalau saja Ana nggak menghalangi dirinya, entah jadinya apa nasib Zahra sekarang," cerita Ani pada Rani..
Rani terbelalak mendengar kalau Zahra akan dilukai oleh Darman.
"Kak jangan membutakan hati Kakak dengan cinta yang nggak pasti, biarpun kakak mencintai Darman dan sekarang buktinya apa?" Tanya Ani lada Rani.
Plak!
__ADS_1
Rani dengan herannya dan tanpa ampun lagi langsung melayangkan tanganya ke arah pipi Ani, wanita itu terpekik sangat keras saat tahu pipinya menjadi makana empuk oleh tangan Rani.
Saat hendak memukul kembali, tibantiba ada tangan yang memegang tanganya.
"Tante!" Terima Ana yang tiba tiba datang tanpa mereka ketahui.
"Kalau bicara jangan pakai kekerasan!" Teriak Ana geram.
"Kamu ngapain masih disin!" Ketus Rani menatap Ana dengan tajam..
"Tante nggak perlu bertanya,"
Bukan hanya Rani yang terkejut atas kedatangan Ana tapi Ani ku ga terkejut, ia tidak menyangka kalau Ana bakal datang lagi ke tempat itu.
Ani menatap wajah Ana dengan tajamnya, ia tidak menyangka sama sekali lada gadis itu!
"Jangan ikut campur ini urusan saya dengan Ani."
"Kalau kamu nggakain pukul mungkin saya nggak akan ikut campur urusan kamu!" Ceraca Ana.
"Mau kamu apa sebenarnya?" Rani benar benar emosi.
Apalagi dengan Ana dari kemarin ia selalu kalah oleh gadis di hadapannya. Ingin rasanya ia mengucek tubuh Ana supaya tidak ada bekasnya tapi itu thdka ia lakukankan apa lagi dihapan Ani.
"Aku nggak cari Maslah, tapi aku cari tahu saja tentang kamu dan mamanya kak Zahra!" Sengit Ana sinis.
"Kak! Hentikan!" Teriak Ani.
Saat ia melihat Ani akan memukul Ana, Ana yang menyadari itu langsung menghindar, tapi tangan Rani jaya mengantung diatas saja.
"Kalian sebenarnya komplotan!" Desak Rani geram.
Ia mendorong tubuh Ana, untung gadianigu tidak terjatuh. Ani yabgbada di belakang Ananmwnjaga tubuh Ana, Rani yang melihat itu langsung meninggalakan keduanya dengan hati tidak katiansama sekali.
"Tante!"
"Kak!"
Panggil keduanya serempak saat melihat Rani pergi di ruangan itu menuju dapur. Ana dan ibu Ani langsung mengikuti Rani yang langsung menuju teras belakang.
Wanita itu langsung mebghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada disana, Ana dan ibu Ani.menyusul Rani.
"Mengapa kalian mengikuti aku!" Teriak Rani entah keduanya saling bergantian..
Wanita itu thdka menduga kalau kedua wanita yang berbeda umur itu mengikuti dirinya sampai teras dapur.
"Tante, seharusnya Tante berpikir jernih. Kenapa Tante Ani menjebloskan uwa Darman itu ke penjara!" Kata Ana ingin menjelaskan..
"Iya kerena Ani hanya ingin Zahra berada di pelukannya!" Dengus Rani kesal.
Ia asal bicara. Tapi hati aAni berdetak kerena apa yang dikatakan Rani memang apa adanya.
"Wajar sih! Seorang ibu melakukan itu lada anaknya, memangnya Tante nggak pernah melakukan itu?" Tanya Ana memojokan Rani.
__ADS_1
"Lebih baik kalian.oulang! Aku sudah nggak mood lagi sama kalian," usir wanita itu.
Rani langsung beranajak dari duduknya dan menarik tangan Ana dan Ani menuju luar, keduanya berontak tapi Rani tidak mengubrisnya.
Setelah berada di luar Rani mendorong keduanya keluar. Setelah itu ia.menutup pintu rumahnya, Ana dan Ani saling pandang satu sama lainnya..
"Kamu lagi mengapa nggak pulang bareng Zahra!" Teriak Ibu Ani gemes.
"Seharusnya ibu Tante bersyukur aku bantuin Tante!" Ketus Ana.tidak senang mendengar teriakan dari ibu Ani.
"Kamu lagi menguping apa yang kami bicarakan?" Tanya ibu Ani.
"Kalau iya Tante mau mengapa begitu?" Tanya Ana mwncipirkan bibirnya.
PLAK!
Wanita itu langsung memukul lengan Ana dengan keras sekali, gadis itu yang meringis kesakitan saat tangan wanita itu memukul.
"Sakit tahu!"
"Ya sudah kita pulang. Kamu cari angkot sana!" Perintah ibu Ani."
Di lain tempat.
Ibu Ayau sangat gelisah kerena Ana belum pulang ke rumah, jam sudah menunjukan pukul 18.00 tapi Ana belum datang ke rumah membuat hatinya khwatir kalau Ana kenapa kenapa apalagi tidak ada kabar sam sekali.
Akhirnya ibu Ayu ingat Zahra dan Jang mengambil hp nya untuk telpon rumah Zahra.
Zahra yang berada di kamarnya langsung menuju ruangan keluarga merna ia mendengar suara telpon berdering.
📱Ya dengan siapa?
Tanya Zahra dengan sopan..
📱Ra, ini ibu. Ibu mau tanya Ana bareng kamu nggak masalahnya ia belum pulang sampai sekarang.
Terdengar suar ibu Ayu dari sebrang sana menanyakan keberadaan Ana. Zahra yang mendengar hanya mengkerutkan wajahnya sambil hari kepala tidak gatal.
📱Ana nggak pulang?
Zahra kaget saat ia mendaoatkan kabar kalau Ana belum pulang, seingat ya ia dan Ana pulang bareng dan sama sama turun di tempat yang sama.
📱Iya, Ra. Ana belum pulang sama sekali, kita kira kamu tahu Ana dimana ya?
Tanya ibu Ayu.
📱Tadi pulang bareng Zahra, Bu.
Zahra mengatakan yang sebenarnya lada ibu Ayu. Kini bagian wanita itu terdiam mendengar pengakuan dari Zahra.
📱Bu, ibu masih disana'kan?
Zahra langsung bertanya lada ibu Ayu, kerena wanita itu hahyandiam saja tidak bersuara apa pun juga.
__ADS_1
Akhirnya Zahra mematikan hubungan telponnya dan mematung di tempat mendengar kalau Ana belum pulang.*