
Apa yang dikhawatirkan oleh Zahra memang benar sekali, tanpa pak Bram tahu tindak tanduk sang istri. Sebenarnya secara diam diam ibu Ani mengunjungi rumah sakit tempat Ana di rawat tapi mendengar apa yang dikatakan membuat wanita itu geram seketika juga.
Wanita itu mendatangi Ana dan ibu Ayu yang dipikirkannya masih di rumah sakit, tanpa sepengetahuan dirinya sebenarnya Ana telah pulang.
"Maaf Bu, nona Ana sudah pulang."kata repsesionis ketika ibu Ani menanyakannya.
"Kapan?" Tanah wanita itu terkejut.
"Ya sudah lama kira kira seminggu yang lalu," jawab nya.
Ibu Ani hanya mendengus mendengar wanita repsisonis itu. Akhirnya wanita itu langsung pulang dengan hati yang kecewa.
Ia tidak menyangka kalau Ana dan keluarganya telah pulang seminggu yang lalu. Itu yang membuat ibu Ani geram seketika juga.
Kerena ia tahu apa yang terjadi pada Ana, akhirnya ia minta bantuan pengacara dirinya untuk membuka kasus penusukan Ana. Bukan itu saja ibu Ani juga mengusut. pembunuhan yang akan di rencanakan oleh Zahra.
"Saya ingin yang bernama Darman di hukum seberat berat nya jangan sampai dia kabur!" Ujar ibu Ani geram.
"Oke, saya bakal mengusut kejahatan pak Darman."
Sebenarnya yang dilakukan ibu Ani hanya ingin Zahra balik lagi ke rumah itu, jangan sampai tinggal disana, ia takut kalau misal Zahra akan tinggal disana pasti Zahra bakal betah itu yang ditakutkan wanita itu.
Ketakutan wanita itu sangat beralasan, ia takut kalau Zahra bakal menatap di desa itu meninggalakan dirinya di kota bersama papanya. Itu yang tidak ingin ibu Ani terjadi, sebenarnya apa yang ditakutkan oleh ibu Ani, hanyalah dirinya saja. Menurutnya wanita yang bernama Ayu adalah wanita yang tidak seharusnya memiliki Zahra.
Siang itu! Desa xxx gempar seketika juga. Penangkapan Darman tersiar ke desa yang lain, dan warga bisik bisik terdengar.
"Bukan pak Hamdi yang bunuh pak Rohman tapi pak Darman,"
"Kasihan pak Hamdi ya,"
"Tuh kan dulu juga aku ngomong kalau pak Hamdi nggak mungkin membunuh.
"Jahat banget ya!"
"Pak Darman nggak punya hati,"
"Benar juga, nggak tahu diutung!"
Ocehan ocehan warga terdengar dengan nyaring dan jelas sekali, membuat sebagian orang heran kerena baru kali ini kasus pembunuhan terungkap dengan jelas.
"Ya Tuhan kasihan banget ya pak Hamdi nggak salah malah di fitnah,"
"Apalagi yang memitnahnya saudaranya sendiri,"
__ADS_1
"Benar benar iblis si Darman itu!"
"Bukan manusia kali,"
"Mahluk berdarah dingin!"
"Iblis juga nggak sejahat itu,"
"Nggak tahu malu tuh pak Darman, dengar dengar pak Darman katanya hanya anak angkat dari orang tua dari pak Hamdi?"
"Memang kaya gitu, anak angkat nggak tahu malu,"
"Masih untung ada orang yang sudi mengutusnya."
Guncingan demi guncingan terdengar begitu jelas dan terdengar nyaring sekali. Entin yang tidak menduga sama sekali, kalau suamianya melakukan hal yang tidak diduga, sekatika juga tubuhnya ambruk pingsan mendengar kalau suaminya yang telah membunuh adik angkatnya.
"Entin nasib mu begitu banget, punya suami nggak bermoral!" Teriak.ibunya histeris apalagi melihat putrinya pingsan.
"Aku nggak nyangka sama sekali, Darman telah melakukan pembunuhan di tahun yang sama," geram bapaknya Entin terlihat malu.
"Pak lebih baik Entin jadi janda dari pada lanjut dengan Darman!" Jerit ibunya Entin sambil memukul tubuh suaminya.
Sang suami hanya diam terduduk. Ia masih ingat ketika ia memaksa Entin harus menikah dengan Darman. Di hatinya sekarang ada penyesalan yang terdalam kerena terbuai oleh kekayaan Darman.
Semuanya terungkap semua milik Darman yang sekarang adalah milik Hamdi. Mendengar semua itu Entin tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia langsung jatuh.
"Pak sekarang bagaimana? Entin anak kita kenapa nasibnya seperti ini?" Isak wanita itu sambil menggoyangkan tubuh Entin yang pingsan.
Zahra yang mendengar terkejut sekali, ia sebenarnya sudah ada niatan untuk membuka kasus itu! Tapi ia malah keduluan sama orang lain, setelah diselidiknya, ia shock sekali kalau mamanya yang melaporkan semuanya.
"Siapa?" Tanya Zahra.
"Katanya orang dari kota," jawab Ana..
"Orang kota, memangnya ia tahu darimana?"
"Atau itu kak Anin!" Seru Ana gembira..
"Nggak mungkin Anin yang melakukannya!" Sanggah Zahra.
"Kenapa nggak mungkin? Kan kak Anin tahu semuanya kejadian ayah meninggal?" Ujar Ana.
"De, kamu nyakin itu Anin?" Tanya Zahra menatap wajah Ana.
__ADS_1
"Aku nyakin kak, kak Anin masih hidupa kak!" Teriak Ana girang..
Zahra hanya diam dan menghela nafas panjang mendengar teriakan Ana. Ia melihat wajah Ana begitu bahagia sekali, Zahra hanya garuk kepala saja.
"Kalau bukan?" Tanya Zahra..
"Nggak mungkin, kalau bukan kak Anin. Lalu siapa?" Tanya Ana balik tanya.
Tanpa pikir panjang lagi Ana malah meninggalkan Zahra yang sedang membereskan buku, sebenarnya Zahra ingin kesana menyusul Ana tapi buku masih terlihat tidak karuan. Akhirnya Zahra membiarkan Ana untuk ke sana sendirian.
Ana yang telah sampai di rumah terkejut melihat ibu Ani yang sedang bicara dengan ibunya.
"Saya kesini hanya meminta Zahra pulang," ujar ibu Ani menatap ibu Ayu..
"Kenapa anda meminta kesaya untuk Zahra pulang ke rumahnya? Zahra anak anda kan kenapa anda meminta pada saya?" Tanya ibu Ayu tersenyum sinis.
"Kalau memang Zahra putri mu seharusnya ia akan mengikuti perintah anda bukan anda yang meminta pada saya," lanjut ibu Ayu.
"Pokonya nggak ada orang yang berani mengajak kak Zahra ke kota, kak Zahra kerja disini!" Teriak Ana yang tiba tiba menghampiri mereka berdua.
"Kamu siapa yang berani melarang Zahra pulang?" Tanya ibu Ani berang.
"Jangan bentak Ana, ia putri saya!" Teriak ibu Ayu tudka suka.
"Siapa yang bentak! Saya hanya mengingatkan pada anak ini? Siapa yang berani melarang Zahra?" Balas ibu Ani menatap tajam ke wajah ibu Ayu.
Setelah selesai membereskan buku buku, Zahra langsung menuju rumah ibu Ayu, ia takut kalau ibu Ani disana membuat keributan dengan ibu Ayu dan Ana. Apa yang ditakutkan oleh Zahra memang benar ibu Ani sedang bertengkar dengan Ana.
"Ma, sudah!" Teriaknzahra menghalangi mamanya yang akan memukul Ana.
"Kamu bela gadis itu!"
"Ma, Rara bukan bela Ana tapi jangan bertengkar seperti ini!" Ujar Zahra menjauhkan mamanya dari Ana.
Ibu Ayu mengajak Ana masuk kedalam rumah, biarpun Ana tidak mau tapi wanita itu menyeret tangan Ana untuk masuk. Akhirnya mau tidak mau Ana masuk ke rumah.
Setelah Ana masuk dan ibu Ayu keluar lagi, wanita itu mendengar pembicaraan dirinya dengan ibu Ani.
"Mama, jadi mama yang lakukan ini?"
"Iya mama yang lakukan ini, mama lakukan ini hanya ingin kamu kembali ke rumah."
"Ma, Rara disini kerja bukan.."
__ADS_1
"Nggak, kalau kerja tapi mencari bukti kan kalau kamu."
"Ma, wajar kalau Zahra mencari bukti. Zahra hanya ingin menegakkan kebenaran kalau pak Hamdi dan dua rekannya nggak bersalah!" Terang Zahra*