TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 86


__ADS_3

Ketiga orang itu hanya melihat apanyang dilakukan oleh Zahra dan Ana dihadpan mereka, Zahra menyadari itu ia datang kesini ada tujuan lain.


Zahra langsung menghampiri wanita itu. 


"Ma, maafkan Rara ya. Kerena Rara nggak tahu apa yang terjadi pada mama dan saudara mama, sekarang Rara ingin mengenalkan seseorang pada mama." Kata Zahra sambil menatap wanita itu..


"Maksudnya?" Tanya wanita itu ragu. 


"Ini mama Ani, ma." Ujar Zahra menarik tangan wanita itu dan mendekatkan wanita itu pada ibu Ani. 


Ibu Ani langsung menghampiri dan memeluk tubuh Rani dengan erat.


“Kakak!”


“Ani!” panggil wanita itu terharu.


Sedangkan Ana dan Zahra hanya saling tetap satu sama lainnya.


Ana akhirnya pergi begitu saja, tapi Zahra mengikuti Ana yang meninggalkan rumah itu!


“N, kamu tahu tempat ini dari siapa ?” tanya Zahra mengejar Ana.


“Aku mengikuti kalian sampai ke rumah ini.”jawab Ana.


“Aku kesal sama wanita itu, aku tahu kalau wanita itu sebenarnya ingin menjelekan mama kamu!” sembur Ana.


Dari kata kata Ana, gadis itu benar benar masih marah dsan kesal dengan kelakuan wanita itu apalagi dengan kelakuan dua pada dirinya dan ibunya.


“Kak, Ana nyakin kalau wanita itu yang mengeluarkan uwa Darman!” lanjut Ana sambil mendengus.


“Motifnya?”


“Wanita itu suka sama uwa Darman, tapi uwa Darman menolaknya. Akhirnya uwa darman menikahi wanita lain,”cerita Ana.


“Kamu tahu dari mana?”


“Dari ibu, ibu cerita banyak padaku kak,”


“Kok sama kakak nggak cerita apa apa?”


“Entahlah!” Ana langsung mengangkat kedua bahunya. 


 Ana hendak pulang tapi Rey dsn Dio datang menghampiri mereka berdua. Akhirnya mereka berempat pulang ke kantin tempat dimana ibu Ayu berada.


Tapi sebelum mereka pulang, keempatnya mampir ke sebuah cafe yang tidak jauh dari sana.


"Aku ingin sekali mengirim uwa Darman ke panjara lagi!"


"Itu gara gara wanita itu sih! main di keluarkan saja." Dengus Ana.


"Kalau saja wanita itu nggak mengeluarkan uwa Darman mungkin semuanya sudah beres." lanjut Ana kembali .

__ADS_1


"Kita harus sds bukti keterlibatan wanita itu dengan uwa Darman."


"Sudah ada bukti, yaitu kekerasan dan penculikan." tekan Ana kembali .


"Kak, lebih baik kembali ke desa." kata Ana.


"Na, kalau kembali ke desa bagaimana dengan ibu Ani. Bagaimanapun ia juga orang tua dari Rara." cetus Dio.


"Kalau masalah itu nanti di pikirkan lagi sih!" Zahra angkat bicara.


Tidak lama kemudian pesanan mereka datang, ayam goreng mentega, dan cumi bakar sambel terasi.


Semua menggugah selera. Apalagi perut keroncongan minta diisi. Mereka langsung makan dengan lahap dan nikmat menghabiskan pesanan masing masing.


"Aku nggak rela sih uwa Darman harus keluar dari penjara, apalagi aku nggak pernah melihat wajah ayah!" kata Ana sedih.


"Mungkin kalau uwa Darman nggak pernah membunuh ayah, ayah masih ada dsn kak Anin juga nggak pergi dari rumah." lanjut Ana melirik Zahra yang ada di depannya.


"Kak Anin bagaimanapun masih tetap disamping mu, Na. Nggak akan berubah, ya hanya ayah yang nggak akan pernah ada." hibur Dio cepat.


Sebenarnya Zahra ingin bicara, tapi keburu Dio yang bicara duluan, akhirnya Zahra hanya menatap wajah Ana.


"Apa yang dikatakan oleh Dio benar Na, kamu masih bisa ketemu dengan kakak kamu. Syukuri yang ada." ujar Rey.


"Iya, sih! Ana hanya ingin kami bertiga hidup bersama biarpun ayah nggak ada juga, kerja itu yang jadi harapan ibu dari dulu juga. Sampai kamar yang akan ditempati oleh kak Zahra untuk kost juga di larang sama ibu." lirih Ana.


DEG!


Hati Zahra bergetar saat Ana mengatakan itu, ia masih ingat kejadian itu.


"Kenapa Bu?"


"Saya punya anak dua, itu kamarnya Anin!"


"Tapi kak Anin nggak kembali, Bu. Kak Zahra hanya sementara di desa ini!" protes Ana.


"Ibu katakan kalau nggak, ya nggak sama sekali!" teriak ibunya melotot pada Ana.


"Ibu nyakin kalaau kakak kamu bakal kembali, dan bisa mengisi kamar ini dengan segera!"


"Bu, kapan kak Anin pulang?" tanya Ana teriak.


Zahra yang melihat pemandangan itu hanya diam saja, tidak bisa melakukan apa apa sama sekali.


Rey yang melihat Zahra diam menyentuh tangan Zahra.


"Kenapa?" tanya Rey.


"Aku ingat ya apa yang dikatakan Ana benar. Ibu nggak mau memberikan kamar depan padaku, ia hanya ingin Anin yang mengisinya." ujar Zahra tersenyum.


Ia tidak menyangka kalau ibu Ayu masih mempertahankan apa yang bisa dipertahankan olehnya, sampai orang lain tidak diperbolehkan mengisi kamar kecuali Anin.

__ADS_1


"Jadi kakak mengingatnya?" tanya Ana tersenyum.


"Ya kakak mengingatnya, ibu sampai rela kalau kamar itu diisi sama kakak," tawa Zahra.


Iya tertawa saat mengingat semuanya tentang ibu. Waktu itu wajah ibu benar benar serius sekali, dan marah saat tahu Zahra menginginkan salah satu kamar yang akan ditempati.


"Tapi tetap saja aku belum menempati kamar itu, biarpun tahu kalau aku Anin," senyum kecut Zahra.


Ya kerena ia langsung disuruh balik lagi ke kota oleh mama.


"Kapan kapan kalian bisa kumpul lagi!"


"Tapi nggak sama ayah!"


"Na, ayah sudah tenang disana, kakak juga rindu ayah kok," hibur Zahra menyentuh tangan Ana.


Setelah mereka makan, akhirnya mereka berempat pulang. Zahra pulang ke rumah mamanya, sedangkan Ana pulang ke kantin.


Kedua gadi itu berpisah kerja Zahra ada yang ingin dilakukan nya.


Zahra langsung masuk rumah dsn menghampiri bi Inah yang sedang beberes rumah.


"Bi Inah!" panggil Zahra.


Gadis itu memanggil bi Inah.


"Ya non ada apa?" tanya bi Inah menatap wajah Zahra dengan herannya.


Zahra mengajak wanita muda itu ke teras belakang, Inah mengikuti Zahra ke teras.


"Kita bicara disini saja bi," kata Zahra sambil duduk di kursi.


"Biz jangan duduk di bawah, lebih baik bibi duduk disini aja," kata Zahra dengan sopan nya.


Zahra melarang bi Inah untuk duduk di bawah dan menyeret kursi lainnya untuk tempat duduk bi Inah. Mau tidak mau akhirnya bi Inah duduk di kursi itu.


"Bi, kira kira bibi tahu nggak papa pergi kemana?" tanya Zahra menghampiri bibi.


"Nggak non, sebenarnya ibu juga mencari bapak sih!" ujar Inah.


"Tapi sebelum bapak pergi, mereka bertengkar gara gara ibu melarang nin Rara ketemu dengan ibu." kata Inah mengingatkan Zahra pada kejadian itu.


Gadis itu mengangguk. Ia ingat kejadian itu, tapi las di tanyakan lada mamanya, mama sama sekali tidak pernah mengaku, ia nyakin kalau wanita itu yang melakukannya.


"Bi, tapi sebelum papa pergi papa pernah bilang apa sama bibi?" tanya Zahra ingin tahu.


"Ya takut papa bilang gitu, bi." lanjut Zahra kembali.


"Nggak bilang apa apa sih non seingat bibi." ujar bi Inah.


Wanita itu berpikir kalau ia lupa sama sekali.

__ADS_1


""Ya sudah lah bi, kalau papa nggak bilang apa apa sama bibi." kata Zahra bernajak dari tempat duduk dana meninggalakan wanita itu di teras belakang.


Bi Inah hanya bisa melihat kepergian anak majikannya, memang kalau pak Bram pergi sih sellau bilang lada dirinya. Taoinsekarang ia sama sekali tidak bilang apa apa.*


__ADS_2