
Di desa X ibu Ani termenung, pikirannya keman mana mengingat Rani. Ingat percakapan dengan Rani di bukit itu. Saat tangan kakaknya menyentuh tangannya.
"Dek, kalau terjadi apa apa pada kakak, maafkan kakak ya jangan benci kakak. Dan kamu harus melanjutkan hidupmu, " Kata Rani, masih terhiang dalam ingatannya percakapan dengan Rani.
"Kenapa bicara begitu sih kaya nggak bakalan ketemu lagi! " Sembur Ani ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rani.
"Ya takutnya terjadi apa apa padaku, kamu sabar ya jangan sesali semuanya. Mungkin apa yang kakak lakukan memang salah. Tapi kamu tetap seperti ini ya sama kakak. "
"Kak apa sih yang kakak kakak bicarakan! " Ketus Ani menepiskan tangan Rani yang mengelus tanganya.
"Nggak apa apa kok! Kakak ingin kamu bisa ketemu dengan Darman ya. " Tanya Rani.
"Darman? Pacar masa lalu kakak?" Tanya Ani heran.
"Iya, sampaikan kata maaf kakak buat dirinya, dan kamu harus ngomong kalau kamu adik kakak. " Kata Rani menatap Ani tajam.
"Kak sebenarnya kakak bicara ala sih! Kakak mau kemana? Apa yang sebenarnya yang terjadi? " Brondong pertanyaan dari Ani untuk Rani.
Tapi wanita itu hanya diam saja, ia hanya menggelengkan kepalanya, Ani menyapa heran pada Rani yang hanya diam tidak bicara apa apa.
"Kamu bakal tahu semuanya, aku nggak mau bicara apa apa dulu, insha Allah semuanya bakal terbuka."
"Maafkan kakak kalau selama ini kakak salah sama kamu dan Bram. Kebenaran bakal teeungkap dek. Dan kakak mungkin untuk saat ini nggak akan bisa mengelak lagi."
Rani melanjutkan kata katanya pada Ani. Ani. Hanya diam dan tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Rani. Ya Ani masih bertanya tanya tapi Rani malah diam saja tidak menjelaskan apa apa pada dirinya yang sebenarnya.
"Kak! " Panggil Ani sambil meraih tangan Rani.
Ani menahan langkah Rani, karena wanita itu bukannya menjawab malah mau meninggalkan nya . Rani yang makan pergi menatap wajah Ani dengan lembut sekali.
"Kak, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi pada kakak? Kak, maaf benarnkah kakak yang membunuh Narti? " Tanya Ani.
Ani masih memegang tangan Rani, wanita itu langsung berdiri di hadapan Rani.
Mendengar pertanyaan Ani, Rani tidak langsung marah ia hanya menghela nafas panjang. Di tatap nya wajah Ani dengan tajamnya.
"Aku tahu kalau villa itu sebenarnya milik kakak. Mas Bram mengatakan itu, tapi mas Bram mengatakan kalau itu diriku sendiri kasi mas Bram mengangap kamu adalah aku. " Ujar Ani tajam
"Kak, apa benar kakak yang melakukan ya? Kenapa kak kalau misal kakak melakukannya? " Kejar Ani.
"Maaf aku nggak bisa menjawab leetanyan kamu. Tapi kalau misal benar jangan sampai sesali semuanya. "
"Jadi benar kakak yang lakukan itu? " Kejar Ani.
"Sudah ya kakak cape! " Potong Rani.
Wanita itu melepaskan tangan Ani dengan lembut. Rani langsung meninggalkan Ani yang masih di tempat itu.
"Ma, kok melamun disini? " Tanya Zahra mwngusap bahu ibu Ani yang duduk di amben sambil memendang kearah depan.
"Eh! Kamu ada apa? " Tanya ibu Ani gugup.
Ia tidak menyadari kedatangan zahra di sampingnya, tiba tiba gadis itu ada disampingnya.
__ADS_1
"Mama kenapa melamun? Ada sesuatu nyang menganggu pikiran mama? " Tanya Zahra lembut.
"Mama nggak menyangka kalau uwa Darman yang dipanggil oleh kamu itu adalah kakak dari mama, " Kata ibu Ani terpukul.
"Apalagi cerita dari uwa iyan, dan ibu marni tentang uwa Darman. " Lirih Ani pelan.
Zahra hanya diam saja, ia tidak menyangka kalau mamanya bakal merasakan perasaan tjdak enak seperti itu.
"Ma, sudahlah."
"Mungkin ini jalan yang harus Zahra lakukan pada uwa Darman dan uwa Rani.
Memang di dalam hatinya Zahra berontak karena harus berhadapan dengan uwa Rani dan uwa Darman. Ditambah lagi di sisinya ada mama, pasti mama tidak bakal tega menyakiti kakak kandungnya sendiri.
"Ma, papa sudah tahu kalau uwa d
Darman? " Tanya Zahra hati hati.
Wanita itu hanya menggelengkan kepala, sebenarnya ia ingin sekali memberitahukan suaminya tapi ragu, takut Bram tidak bakal percaya.
"Telpon papa, kasih tahu ma. " Pinta Zahra.
"Kamu saja yang telpon papa, Ra. " Kata ibu Ani menatap wajah Zahra.
"Mama saja, Rara mau ke rumah ibu dulu ya. Nanti mama kalau mau ke rumah menyusul saja. " Kata Zahra.
Gadis itu meninggalkan wanita yang telah mengurusnya. Sedangkan ibu Ani langsung mencari nomor hanpon suaminya di hpnya.
Tiba tiba hpnya yang berada di atas meja berteriak dengan kertasnya seperti ingin dielus oleh pemiliknya. Pak Bram langsung mengambil dan melihat siapa yang telpon ke hpnya.
📱Halo pa, papa sekarang lagi dimana? Mama ingin bicara sesuatu pada papa.
Tanya ibu Ani menanyakan keberadaan suaminya.
📱Aku lagi di ruangan sendirian kok, bicaralah mumpung papa juga nggak ada kerjaan yang berat kok!
Pak Bram mengatakan bahwa ia hanya diam saja di tuanganya. Ia penasaran apa yang akan dikatakan istrinya, pak Bram tahu kalau istrinya tidak akan telpon kalau dirinya bweada di ruangan rapat maupun hal yang pentingnya.
📱Kemarin aku bertemu dengan Mirna istri almarhum pak Rohman.
Ibu Ani tanpa menunggu waktu lagi menceritakan apa yang pernah di ceritakan oleh Mirna ketika mereka bertemu.
Pak Bram hanya diam saja mendengarkan apa yang diceritakan oleh istrinya kadang terdengar helaan nafas panjang dari bibir pak Bram.
📱Jadi, Rani yang melakukan itu!
Pak Bram terkejut mendengar pengakuan dari istrinya. Tentang pembunuhan yang terjadi pada pak Rohman kalau semuanya adalah dari Rani.
📱Iya pa, mama juga nggak menyangka kalau Rani yang melakukannya, sedangkan ia begitu akrab dengan Rara.
Adu ibu Ani pada suaminya tentang kejahatan Rani. Pak Bram sangat terkenjt sekali sekali mendengar berita yang disampaikan oleh istrinya.
📱Berarti yang membunuh nanti juga Rani!?
__ADS_1
Tanya pak Bram, kerena kasus nanti juga belum selesai malah mengandung. Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Bram, sang istri membenarrkannya.
📱Kalau pak Hamdi di bumih oleh uwa Darman, sedangkan uwa daan katanya saudara Rani termasuk saudara aku juga mas.
Cerita Ani pada suaminya.
📱Kok bisa kalian bersaudara?
Pak. Bram berteriak keras mendemgar pengakuan dari istrinya. Kulit wajahnya menegang sekali. Ia hanya bisa menghela nafas panjang mendengar cerita dari istrinya tentang Darman dan Rani.
Sambungan telpon putus. Pak Bram yang berada di dalam ruangannya hanya bisa terdiam beberapa saat, ia benar benar tidak menyangka kalau Darman dan Rani saudara.
"Zahra! " Bisik hati pak Bram miris.
Ya ia miris sekali, memikirkan Zahra yang harus beehadapn secara langsung dengan orang orang yang pernah dekat dengannya.
"Suh! Ra kasihan sekali. Papa akan sekuat tenang membantu kamu sayang. Jangan. Sampai menyerah ya sayang, " Tatap pak Bram pilu mengingat Zahra dalam hidupnya.
Kalau dipikirkan sih ia lebih baik membela Zahra dibandingkan Rani dan Darman bagaiamana pun keduanya biarpun saudara hanya sebatas saudara tidak terlalu dekat.
Pak Bram terkejut ketika mendengar ketukan pintu di ruangannya.
"Ya masuk! " Teriak nya.
Seseorang masuk.
"Ya ada apa? " Tanya pak Bram menatap hansip yang bekerja di kantor itu masuk.
"Ada seseorang yang ingin ketemu dengan bapak. "
"Ya silahkan! "
Hansip itu langsung keluar dan masuk kembali sambil membawa seseorang yang asing buat pak Bram.
Pak Bram mengingat orang yang telah masuk ke ruangannya seorang wanita dengan dandanan sederhana tersenyum manis kearah pak Bram.
"Silahkan duduk! " Pak Bram beranjak dari kursinya menuju sofa yang ada di ruangan sana.
Wanita itu berjalan mengikuti pak Bram dan duduk agak jauh dari pak Bram, sedangkan pria itu duduk di dekat kursi dengan lemari.
"Maaf anda siapa ya, anda kenal saya dari mana? " Tanya pak Bram heran atas kesayangan wanita yang ada di hadapannya.
"Saya Nining, istri dari pak Karya. " Ujar wanita itu mengenalkan dirinya pada pak Bram.
"Nining? Maaf anda sebenarnya kesini mau bertemu dengan siapa ya? " Tanya pak Bram heran atas kedatangan tamu nya.
Hati pak Bram mulai gelisah, ia menyangka kalau kedatangan wanita itu pasti ada sesuatu yang bakal diceritakan atau sesuatu yang ia tidak pernah diketahui olehnya.
"Saya kesini hanya ingin mencari Zahra Anindya! " Uajrnya sopan.
"Dia putri saya, anda sudah membuat janji dengan Zahra? " Tanya pak Bram terkejut!
Wanita itu tersenyum mendengar kata kata dari pak Bram tapi wanita itu tidak membantah apa yang dikatakan oleh pak Bram hanya mengangguk saja.*
__ADS_1