
Rani hanya bisa menghela nafas panjang. Pertengkaran dengan Vito terbayang dengan jelas, ada perasaan kecewa mendengarkan apa yang Vito katakan. Ia sama sekali tidak percaya kalau anak yang ia melahirkan malah seperti itu, dan itu yang membuat dirinya terbuang jauh jauh seperti di tendang oleh anakny sendiri.
Ia menarik nafas panjang. Tidak menyangka semuanya bakal hancur seperti ini, ia sama sekali tidak bisa membayangkan kalau Vito sampai memihak pada keluarga Hamdi, disisi lain ia benci sama Anin tapi disisi lain ia ingin dekat dengan Anin..
Dan Rani tidak menyangka kalau Darman yang ia sayangi telah membunuh Zahra, pantas saja ia selalu bertanya tanya keberadaan Zahra dimana sampai ia berpikir kalau anak Ani itu benar benar Anin.
Awalnya sih ia tidak menyangka kalau Zahra itu Anin tidak ada sepercikpun kalau Ani mengangkat Anin. Ya Rani awalnya berpikir kalau misalkan Zahra itu Anin mustahil sekali kerena jarak antara desa tempat Anin tinggal dan tempat Ani tinggal jauh banget ada kita kita 5 jam perjalanan kalau ingin sampai ke desa itu!
Dan Rani juga pernah bertanya tanya kenapa sampai Anin diangkat anak oleh Ani sampai namanya sama dengan anaknya Ani. Awalnya sih ia menyangka kalau Ani memang tidak punya anak terus menemukan Anin. Tapi mereka menemukan Anin dimana? Pertanyaan demi pertanyaan selalu ada di hatinya.
Dan sekarang pertanyaan itu terjawab sudah. Ia percaya apa yang diceritakan oleh Ani tentang apa yang terjadi pada Ani. Pantas kalau Ani mengangkat Anin sebagai anaknya kalau memang Anin dan Bram melewati jalan utama dimana Anin berada.
Ia menghela nafas beberapa kali. Ia tidak menyangka kalau keluarga kecil itu yang berhasil menemukan dirinya Anin sampai nama anaknya Zahra tersematkan oleh Ani dan Bram sendiri. Tapi Zahra sendiri untungnya masih mengingat namanya sendiri.
"Aku juga nggak tahu kalau Zahra itu Anin, aku nggak menyangka kalau Anin bakalan sayang kembali. Aku menyesal tidak menerima dirinya dengan baik. " ujar Ayu yang tiba tiba datang menghampiri Rani yang duduk di gardu.
Ayu sengaja datang untuk bicara beberapa kalimat dengan wanita itu, sebenarnya Zahra sudah meminta supaya ibu Ayu tidak menemui Rani wanita itu keukeuh ingin mendatangi Rani.
"Kamu juga pernah bicara sekali dengan uwa Darma jadi izinkan lah ibu ini bicara sebelum semuanya terlambat." kata ibu Ayu menatap wajah Zahra.
"Sebagai sahabat, Ra." pinta ibu Ayu.
Zahra tidak biasa menggelak lagi, akhirnya ia dengan berat hati mengizinkan ibu nya pergi menemui Rani.
"Kamu tahu saja apa yang aku pikirkan, " ujar Rani mendengus.
Ia tidak menyangka kalau Ayu dapat tahu apa yang ia pikirkan tentang Anin, ia hanya bisa memanyunkan bibirnya pada Ayu.
"Bolehkan aku duduk di sini? " tanya Ayu sopan.
"Boleh silahkan. " riang Rani.
__ADS_1
Rani mengizinkan Ayu untuk duduk di hadapannya. Tadi ia memang menelpon Ani untuk meminta bicara sama Ayu di sebuah gardu yang tidak jauh dari pemukiman penduduk. Tempatnya teduh sekali, apalagi di pinggirnya ada jajanan kuliner yang banyak di gemari anak anak muda.
"Oke nanti aku bilang sama ibu nya Ana." kata Ani
Ani tidak pernah menyebut ibu Ayu dengan sebutan ibu Anin, ia selalu menyebutkan ibu Ayu dengan sebutan ibu Ana saja.
Ibu Ani langsung menyampaikan pesan itu pada ibu Ayu.
"Kak Rani ingin ketemu di gardu tempat jajanan kuliner dekat perkampungan itu! " kata ibu Ani pada ibu Ayu yang sedang membaca majalah.
"Kenapa nggak datang saja ke sini? " tanya Ibu Ayu menatap ibu Ani.
"Entahlah. Mungkin ia pengen di tempat nyaman saja. " kata wanita itu.
"Ya sudah nanti kesana," ujar ibu Ayu mengangguk dan mengucapkan terimaksih pada ibu Ani telah menyampaikan pesan dari Rani.
"Apa sih yang kamu pikirkan? " tanya Ayu menatap Rani.
"Maksudmu? "
Tanya Ayu heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rani. Tanp sadar sebenarnya wanita itu malah mengingatkan pada kejadian dimana Anin menghilang. Rani masih belum percaya
"Nggak apa apa kok! " Rank mwgalihkan bicaranya.
"Kamu membicarakan Anin yang kabur? " Ayu mulai fokus.
Rani hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Ayu.
"Iya, sedangkan waktu kejadian itu sebenarnya aku berasa di tempat itu!" sesal Rani.
Wanita itu mengingat malam itu ia berjalan mencari Tio dan ia tidak menyangka kalau malam itu Hamdi meninggal dunia akibat Darman yang melindunginya.
__ADS_1
Ia juga tidak tahu sebenarnya kalau malam itu Tio mengikuti Darman, dan ia juga tidak tahu kalau Karya jga malam itu meninggal. Ia hanya tahu kalau Darman akan mendatangi rumah Hamdi kerena malam itu Hamdi pulang dari penjara dan akan bertemu dengan Karya.
"Kamu ada di tempat itu?" tanya Ayu sedikit berkerut.
"Tapi aku nggak melihat Anin atau mobil Ani di jalan itu! Apa mungkin Ani duluan atau aku yang terlambat datang? "
Rani berpikir keras, kalau bisa mengulang waktu ia ingin sekali mengulang waktu itu terjadi lagi. Mungkin kalau ada waktu yang bisa si putar ke masa lalu ia sekali menemukan Anin.
"Sudah takdir kamu nggak bisa menemukan Anin, Anin nggak pernah ditakdirkan hidup bersama kamu, Ran. Tuhan sebenarnya tahu rencana lain antara kamu, aku dan Anin. Tuhan tahu." kata Ayu menasehati.
"Orang yang nggak pernah berpikir untuk mengurus Anin mah ia di takdirkan mengurus Anin sampai lulus kuliah sampai dewasa seperti sekarang. " lanjut Ayu.
"Aku juga hanya ditakdirkan untuk melahirkan Anin dan mengurus sampai ia berusia 6 tahun. Aku juga nggak bisa membayangkan kalau Anin masih hidup bersama aku. "
Ayu masih bicara sedangkan Rani hanya diam mendengar yang dibicarakan oleh Ayu. Ia sebenarnya ingin tahu seberapa jauh Ayu tahu tentang kehilangan Anin.
"Ya aku nggak bisa membayangkan kalau Anin hidup di tengah tengah aku tanpa seorang suami? Mungkin kang Darman mengincar Anin. Bisa jadi kamu yang mengambil Anin di tangan aku."
Wanita itu membayangkan kalau misal Anin tidak menghilang di malam itu, mungkin semua cerita hilangnya Anin tidak bakalan viral, dan Anin berada ditangan Rani kerena wanita itu benar benar ingin memiliki Anin sepenuhnya.
Rani hanya mendengus saja mendengar apa yang dikatakan oleh Ayu, ia juga membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita yang ada dihadapannya. Kemungkinan kalau Anin tidak menghilang ia lah yang menculik Anin kerena niat nya itu seperti itu!
"Kamu bisa berpikir begitu, tapi kamu tahu aku harus berjuang melahirkan dan membesarkan Vito seorang diri. " kata Rani.
"Kamu yang melakukan perbuatan keji itu! Semua nya ada jalannya Ran. Kang Hamdi nggak tahu kan kalau kamu berbadan dua? Kalau tahu juga mungkin ayah Anin nggak bakal mengakui kalau Vito anaknya. " sudut Ayu tajam
Rani hanya menelan ludah mendengar kata kata pedas dari Ayu. Apa yang dikatakan Ayu memang benar, tapi menurut Rani jangan berkata begitu secara terus terang. Jadi ia hanya diam saja tidak membalas apa yang dikatakan oleh Ayu.
"Aku nggak menyangka kalau kamu yang melakukan itu, yang kusesali sekarang kenapa harus kamu yang melakukannya pada Hamdi, dan diriku? " tanya Ayu.
Tapi wanita itu tidak menunggu jawabnya dari Rani, ibu Ayu tanpa pamit langsung beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan Rani. Melihat Ayu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban darinya, Rani hanya bisa terdiam saja.*
__ADS_1